**Bab 9: Ibu Kos Mulai Curiga**
"Buset, ini air WC apa kuah boba varian galaksi?"
Arka menatap nanar ke dalam lubang kloset jongkok di kamar mandinya. Air di dalam sana tidak lagi jernih, melainkan berwarna ungu pekat dengan kerlipan keemasan yang berkilau layaknya bubuk gliter kosmetik mahal. Sesekali, muncul gelembung kecil yang pecah dan mengeluarkan asap tipis beraroma belerang menyengat.
Ini pasti efek samping dari Kristal Mana yang dia bawa dari Goa Kristal kemarin lusa. Rupanya, sisa-sisa energi sihir dari dunia Solaria merembes lewat sela-sela portal toilet kosannya, lalu bereaksi dengan air PDAM lokal.
Arka buru-buru menekan tombol *flush*. *Wushhh!* Air berputar, tapi warnanya bukannya hilang malah makin glowing. Di saat yang sama, terdengar suara gemuruh pelan dari bawah lant**, mirip suara perut naga yang lagi keroncongan.
*DUG! DUG! DUG!*
Pintu kayu kamar kos nomor 3 digedor dengan kekuatan setara hantaman palu Thor. Arka hampir saja melompat saking kagetnya. Jantungnya langsung marathon.
"ARKAAA! KELUAR KAMU! KAMU LAGI NYIAPIN BOM ATAU GIMANA SIH?!"
Suara cempreng berfrekuensi tinggi itu sangat familier di telinga Arka. Siapa lagi kalau bukan Bu Sunarti, ibu kos pemilik "Kosan Barokah" yang terkenal galak, bermulut tajam, dan punya radar kecurigaan setara intel BIN.
"I-iya, Bu! Bentar, lagi tanggung!" teriak Arka panik.
Dia buru-buru menutup pintu toilet erat-erat, menguncinya dari luar, lalu menyambar kaus oblong kusut yang tergeletak di ka**r untuk mengelap keringat dingin di dahinya. Sebelum membuka pintu kamar utama, dia menyemprotkan pengharum ruangan instan aroma jeruk sebanyak lima kali.
Begitu pintu dibuka, sosok Bu Sunarti sudah berdiri kokoh dengan kedua tangan di pinggang. Rambutnya yang masih dipasangi rol plastik warna-warni tampak bergoyang seiring napasnya yang memburu. Beliau memakai daster motif daster macan tutul andalannya, lengkap dengan sapu ijuk hijau yang digenggam erat seperti tombak siap lempar.
"Kamu ngapain sih di dalem, Ar? Kamar kamu ini kos-kosan mahasiswa, bukan pabrik petasan!" semprot Bu Sunarti langsung, matanya melotot tajam menembus kacamata bulatnya.
"Eh, Bu Sunarti... Pagi, Bu. Ada apa ya? Kok mukanya tegang banget kayak belum bayar cicilan?" Arka mencoba tersenyum selebar mungkin, sok akrab demi menutupi kepanikannya.
"Gak usah ngalihin pembicaraan! Kamu denger gak tadi? Ada suara *BUM!* pelan dari kamar kamu. Udah gitu, ini bau apa?!" Bu Sunarti mengendus-endus udara koridor kosan dengan hidungnya yang mendadak kembang kempis. "Bau belerang pekat banget! Kayak kawah Tangkuban Perahu pindah ke kamar kamu. Ditambah ini... bau jeruk? Bau macam apa ini? Malah kayak kentut i**** habis makan asinan!"
Arka meringis dalam hati. Perpaduan bau belerang Solaria dan Stella jeruk emang beneran bikin pusing.
"Oh, itu... anu, Bu. Masalah bau belerang sama suara bising itu..." Arka memutar otak secepat prosesor Intel Core i9. Dia harus cari alasan rasional yang ma**k akal bagi seorang ibu kos paruh baya. "Itu karena saya lagi dapet tugas kuliah, Bu!"
"Tugas kuliah? Tugas kuliah macam apa yang bikin seisi kosan getar kayak diguncang gempa skala 3 Richter?" tanya Bu Sunarti sinis, matanya menyipit penuh selidik.
"Saya kan... lagi ngambil kelas praktikum Teknik Kimia Organik, Bu! Iya, itu!" Arka berbohong tanpa berkedip. "Jadi, dosen saya nyuruh bikin simulasi reaksi katalisator belerang buat bahan pembuat sabun ramah lingkungan. Nah, suara ledakan kecil tadi itu cuma efek gas hidrogen yang bereaksi sama oksigen di dalam wadah kedap udara. Maklum lah, Bu, namanya juga eksperimen mahasiswa tingkat akhir."
Bu Sunarti menatap Arka dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan tidak percaya. "Teknik Kimia dahi kamu peyang! Arka, kamu itu anak Sistem Informasi! Sejak kapan anak komputer ngurusin belerang sama sabun?!"
Sial. Arka lupa kalau saat daftar kos dulu dia menyerahkan fotokopi KTM-nya.
"E-eh... itu, Bu! Ini proyek kolaborasi lintas jurusan!" Arka langsung berkelit cepat, gaya bicaranya mendadak mirip sales MLM profesional. "Iya, betul! Anak Teknik Kimia yang bikin formulanya, nah saya yang bikin aplikasi buat ngitung kadar kepekaannya. Biar dapet data riil, mereka numpang eksperimen di kamar saya karena kosan mereka gak boleh pake kompor portable. Jadi kita bagi tugas, Bu. Kerja sama tim demi IPK!"
Bu Sunarti tampak mangut-mangut sedikit, tapi kecurigaannya belum sepenuhnya sirna. "Terus, kenapa bau belerangnya sampai ke kamar sebelah? Si Joko kamar nomor 4 tadi komplain ke saya. Katanya dia lagi mandi, terus air kerannya mendadak berubah warna agak keunguan gitu! Kamu jangan-jangan buang limbah kimia sembarangan ya ke saluran air?!"
*Mampus,* batin Arka. Ternyata rembesan portalnya sudah sampai ke kamar mandi Joko. Kalau ketahuan WC-nya bisa tembus ke dunia fantasi penuh elf dan naga, bisa-bisa kamar kosnya disegel pemerintah atau malah dijadikan objek wisata religi.
"Oh, soal air ungu itu!" Arka tertawa canggung, mencoba bersikap sant** padahal lututnya sudah gemetaran. "Itu... sebenarnya bukan limbah berbahaya, Bu. Itu pewarna makanan premium! Temen saya itu salah ma**kin formula pigmen warna pas nyoba bikin sabun aroma lavender. Karena panik, dia malah nge-flush eksperimennya ke toilet. Tapi aman kok, Bu! Itu organik, bisa dimakan malah kalau Ibu mau coba."
"Kamu pikir saya g*** mau minum air WC?!" bentak Bu Sunarti, wajahnya memerah. "Pokoknya saya gak mau tahu. Saya mau periksa kamar mandi kamu sekarang juga! Saya mau mastiin kamu gak ngerusak instalasi pipa kosan saya. Minggir!"
Bu Sunarti melangkah maju, siap menerobos ma**k ke kamar Arka dengan sapu ijuknya teracung.
"JANGAN, BU! JANGAN!" Arka langsung merentangkan kedua tangannya di depan pintu, menghalangi jalan Bu Sunarti dengan tubuhnya.
"Kenapa?! Kamu beneran nyembunyiin bahan peledak ya? Atau jangan-jangan... kamu bawa cewek ke dalem?!" tuduh Bu Sunarti, matanya berkilat curiga maksimal.
"Bukan, Bu! Demi Allah bukan cewek!" Arka memeras otaknya keras-keras. Alasan apa yang bisa menghentikan langkah ibu kos yang super nekat ini? Kalau Bu Sunarti membuka pintu toilet sekarang, beliau bakal melihat pusaran portal dimensi berwarna ungu keemasan yang masih aktif di atas lubang kloset. Dan kalau itu terjadi, tamatlah riwayatnya.
"Terus kenapa saya gak boleh ma**k?!"
"Ada... ada kucing gaib di dalem toilet saya, Bu!" teriak Arka spontan.
Suasana koridor kos mendadak hening.
Bu Sunarti menghentikan gerakannya. Beliau menatap Arka dengan pandangan aneh, seolah-olah mahasiswanya ini baru saja kehilangan beberapa sekrup di kepalanya akibat kebanyakan begadang ngerjain skripsi.
"Kucing... apa?" tanya Bu Sunarti lambat-lambat.
"Kucing gaib, Bu. Kucing hitam mistis titipan dari mbah saya di kaki Gunung Merapi," ujar Arka, wajahnya mendadak berubah sangat serius dan misterius. Dia merendahkan nada suaranya menjadi bisikan yang sengaja dibikin merinding. "Mbah saya bilang, kucing ini lagi dalam masa... karantina spiritual. Dia gak boleh liat cahaya matahari langsung, dan sama sekali gak boleh didekati oleh orang yang bukan pemiliknya."
Bu Sunarti menelan ludah. Sebagai orang tua yang masih memegang teguh beberapa kepercayaan mistis Jawa, kata "spiritual" dan "Gunung Merapi" sukses membuat pertahanannya sedikit goyah. "Kucing kok di dalem toilet? Yang bener aja kamu!"
"Justru itu, Bu! Kucing ini kan gaib, dia butuh tempat yang lembap dan dingin buat meditasi. Kenapa air toiletnya bisa berubah warna ungu keemasan? Itu karena urine kucing gaib ini emang mengandung zat fosfor gaib yang bersinar kalau kena air biasa. Dan suara ledakan kecil tadi? Itu suara dia lagi... bersin gaib, Bu. Kalau dia bersin, emang ngeluarin percikan api kecil dari hidungnya."
"Kamu... kamu gak lagi bohongin saya kan, Ar?" tanya Bu Sunarti, suaranya mulai agak ragu. Sapu ijuk yang tadi dipegang erat kini mulai diturunkan sedikit.
"Asli, Bu! Saya gak berani bohong soal ginian. Mbah saya pesen keras banget kemarin," lanjut Arka, makin gencar melancarkan aksi mengada-adanya. "Kata Mbah, kalau sampai ada orang luar yang nekat membuka pintu toilet itu sebelum malam Jumat Kliwon selesai... sialnya bakal nular ke pemilik rumah kos ini. Dagangan atau usaha kosannya bisa seret, terus nanti bakal sering dapet teror ketukan pintu misterius tengah malam."
Mendengar kata "usaha kosannya seret", wajah Bu Sunarti langsung pucat pasi. Uang kosan adalah sumber kehidupan utama beliau. Menghadapi mahasiswa nakal beliau berani, tapi kalau sudah urusan kutukan mistis pembawa sial, Bu Sunarti milih mundur teratur.
"B-beneran begitu?" Bu Sunarti mundur satu langkah, menatap pintu toilet Arka yang tertutup rapat dengan pandangan ngeri.
"Iya, Bu. Makanya dari kemarin saya gak berani buka pintunya lama-lama. Saya cuma ma**k buat kasih makan sesajen bunga melati sama ikan asin aja," tambah Arka dengan ekspresi sedih yang sangat meyakinkan. "Saya juga pusing, Bu. Tapi ya gimana, namanya juga amanah orang tua."
Bu Sunarti bergidik ngeri. Beliau memeluk sapu ijuknya erat-erat, seolah benda itu bisa melindunginya dari serangan kucing gaib bersin api.
"Ya... ya sudah! Pokoknya kamu urus itu kucing aneh kamu! Jangan sampai dia keluar kamar! Dan itu bau belerang... kamu semprot pake pengharum ruangan yang banyakan! Kalau besok-besok si Joko komplain lagi airnya warna ungu, kamu yang saya suruh kuras toren air di atas!" ancam Bu Sunarti, meskipun nadanya tidak segarang tadi karena sudah diselimuti rasa takut.
"Siap, Bu! Dijamin aman. Nanti saya pasang menyan... eh, maksudnya pengharum ruangan tambahan," jawab Arka buru-buru.
"Satu lagi! Bilang sama mbah kamu, jangan titip hewan aneh-aneh lagi di kosan saya! Kemarin ada yang melihara cupang aja saya omelin, ini malah melihara kucing gaib Gunung Merapi!" gerutu Bu Sunarti sambil berbalik arah, berjalan cepat setengah berlari meninggalkan koridor kamar Arka.
Begitu sosok daster macan tutul itu menghilang di belokan tangga, Arka langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya. Dia menyandarkan punggungnya di pintu, lalu merosot jatuh ke lant** sambil mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang.
"G***... jantung gue hampir copot," gumam Arka sambil memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.
Dia menatap ke arah pintu toiletnya yang masih menguapkan aroma sulfur samar. Alasan "kucing gaib" itu mungkin berhasil menyelamatkannya hari ini, tapi Arka tahu dia tidak bisa terus-terusan mengandalkan taktik kocak seperti ini. Dia harus segera menemukan cara untuk menyegel aroma dan energi sihir dari portal kamar mandinya sebelum Bu Sunarti sadar kalau dia baru saja dibohongi mentah-mentah oleh anak kuliahan semester lima.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!