Gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang berkilau di bawah sengatan matahari Jakarta, lobi beraroma kopi arabika mahal, dan seliweran orang-orang berpakaian *stylish* dengan lanyard neon yang melingkar di leher mereka.
Ini adalah Skyline Media. Agensi kreatif paling hits, paling viral, dan paling diincar oleh seluruh mahasiswa tingkat akhir se-I****esia.
Dan di sinilah aku sekarang.
Alana Syarafina. Berdiri tegak dengan blazer linen berwarna sage green yang kupilih dengan saksama sejak semalam, dipadukan dengan celana kulot putih dan *flat shoes* senada. Rambutku yang bergelombang sengaja kuurai rapi, menyebarkan aroma parfum vanila lembut setiap kali aku melangkah. Di tanganku, sebuah iPad terbaru sudah siap sedia.
Aku tersenyum lebar, menatap pantulan diriku di dinding lift yang berlapis cermin. *This is it,* batinku penuh semangat. Hari pertama magang sebagai *creative planner* di tempat impian. Bayangan tentang rapat-rapat seru sambil menyeruput es kopi susu, *b**instorming* sant** di atas *bean bag*, dan melahirkan ide-ide genius yang bakal didebatkan di media sosial langsung menari-nari di kepalaku. Aku merasa seperti karakter utama di drama Korea bertema perkantoran modern yang siap menaklukkan dunia.
*Ting!*
Pintu lift terbuka di lant** lima belas. Begitu melangkah keluar, aku langsung disambut oleh logo raksasa "SKYLINE MEDIA" yang menyala dengan lampu neon putih estetik. Musik lo-fi terdengar lamat-lamat dari speaker di sudut ruangan. Beberapa karyawan tampak sedang tertawa di area bar mini, sementara yang lain sibuk menatap layar iMac besar dengan ekspresi serius tapi sant**.
*Vibe*-nya sangat anak muda. Sangat gue banget.
"Alana, kan? Anak magang baru untuk tim kreatif?"
Seorang perempuan berambut bob dengan kacamata berbingkai bulat tiba-tiba menghampiriku. Di lanyard-nya tertulis nama 'Sasha - HR'.
"Ah, iya, Kak! Pagi," sapaku ramah, lengkap dengan senyum termanis yang kupunya.
"Pagi. Yuk, langsung ikut gue. Gue anter ke meja lo sekalian ketemu sama mentor lo," kata Sasha sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya melewati lorong-lorong kubikel yang tampak dinamis.
"Mentor saya siapa ya, Kak kalau boleh tahu?" tanyaku penasaran. Dalam hati, aku berharap mentorku adalah seseorang yang asyik, yang bisa kuajak curhat tentang sulitnya mencari referensi visual, atau minimal yang sabar membimbing anak magang polos sepertiku.
Langkah Sasha mendadak agak melambat. Dia menoleh sedikit, memberikan senyuman yang... jujur saja, terlihat agak prihatin. "Mentor lo namanya Devano. Panggil aja Mas Devano. Dia *Senior Creative Director* di sini."
"Oh, oke. Mas Devano," aku mengangguk-angguk, masih mempertahankan senyumanku.
"Satu tips dari gue, Al," Sasha berbisik setengah bergumam saat kami berbelok ke area kubikel yang agak lebih tenang di sudut ruangan. "Siapin mental. *Heβs a genius, but... a total nightmare for interns.*"
Sebelum aku sempat mencerna kalimat "total nightmare" itu, Sasha sudah berhenti di depan sebuah meja kerja yang sangat rapi. Tidak ada tumpukan mainan *action figure* atau gelas kopi berserakan seperti meja lainnya. Di sana hanya ada satu iMac, sebuah tablet grafis, buku catatan hitam premium, dan satu cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis.
Dan di balik meja itu, duduklah seorang pria.
Dia mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kulit hitam yang terlihat mahal. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan rambut hitamnya ditata dengan gaya *undercut* yang rapi namun terkesan acak-acakan secara sengaja. Secara visual, pria ini sangat tampan. Tipe-tipe cowok dingin yang biasa jadi rebutan di aplikasi fiksi remaja.
Namun, aura yang dipancarkannya sama sekali tidak bersahabat. Dingin, menusuk, dan sangat mengintimidasi.
"Dev," panggil Sasha pelan. "Ini Alana, anak magang baru yang bakal asistenin lo selama tiga bulan ke depan."
Pria bernama Devano itu tidak langsung mendongak. Jemari panjangnya masih menari lincah di atas keyboard mekanisnya yang bersuara *clicky* cepat. Setelah menekan tombol *enter* dengan ketukan keras, barulah dia mengalihkan pandangannya.
Netra matanya yang tajam dan gelap langsung mengunci mataku. Tidak ada senyuman. Tidak ada binar ramah. Kosong dan dingin.
"Alana?" suaranya berat, bariton, tapi terdengar sangat datar.
"I-iya, Mas. Pagi, saya Alana. Mohon bimbingannya ya, Mas," kataku agak terbata, mendadak kehilangan rasa percaya diri yang kupupuk sejak subuh tadi. Aku mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Devano melirik tanganku yang menggantung di udara selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya mengabaikannya begitu saja. Dia kembali menatap layar iMac-nya.
Jantungku rasanya seperti merosot ke perut. Tanganku perlahan turun dengan canggung. *Sial, dingin banget,* rutukku dalam hati.
"Sasha, lo bisa tinggalin dia," kata Devano tanpa mengalihkan pandangan.
Sasha memberikan tepukan simpati di pundakku sebelum melangkah pergi, meninggalkanku berdiri sendirian bagai patung selamat datang di depan meja Devano.
"Duduk," perintah Devano singkat, menunjuk kursi kosong di sebelah mejanya dengan gerakan kepala.
Aku segera duduk, merapatkan kedua lututku, dan memeluk iPad-ku erat-erat.
"Gue nggak suka basa-basi, dan gue nggak punya waktu buat ngajarin hal-hal dasar yang harusnya udah lo pelajarin di kampus," kata Devano langsung, suaranya terdengar sangat tajam meski nadanya biasa saja. "Tugas lo di sini bukan buat haha-hihi atau bikin konten TikTok 'a day in my life'. Paham?"
"P-paham, Mas."
"Bagus." Devano memutar layar iMac-nya ke arahku. Di sana terpampang sebuah *deck* presentasi dengan puluhan slide yang penuh dengan coretan merah. "Ini draf kampanye buat *launching* produk baru CleanGlow Skincare. Klien minta konsep 'natural tapi futuristik'. Konseptor sebelumnya bikin sampah kayak gini. Gue mau lo revisi semuanya."
Aku mengerutkan kening, mencoba membaca poin-poin di layar. "Revisi... semuanya, Mas?"
"Iya. Semuanya. Cari referensi visual baru, bikin *copywriting* alternatif buat *tagline*-nya, dan susun ulang *storyboard* untuk video komersialnya. Gue butuh draf pertamanya di meja gue sebelum jam makan siang."
Aku melirik jam tangan pintarku. Sekarang sudah jam sepuluh lewat lima belas menit.
"Tapi Mas... ini kan jam sepuluh lewat. Berarti saya cuma punya waktu kurang dari dua jam?" tanyaku, mencoba menuntut logika.
Devano menumpukan sikunya di meja, menautkan jari-jarinya, lalu menatapku dengan pandangan meremehkan yang membuat bulu kudukku meremang.
"Di Skyline, waktu itu relatif. Kalau lo ngerasa nggak sanggup kerja di bawah tekanan dengan tempo cepat, pintu keluar ada di sebelah lift yang lo naikin tadi. Gue nggak butuh beban tambahan di tim gue."
Kalimat itu rasanya seperti tamparan keras tepat di wajahku. Panas dan menyakitkan. Kata-kata kasarnya begitu tenang, namun sanggup meremukkan harga diriku seketika. Aku, yang selalu menjadi mahasiswa berprestasi dan kesayangan para dosen di kampus, baru saja disebut sebagai "beban tambahan" di hari pertama magangku. Oleh seorang pria yang bahkan belum tahu namaku dengan benar.
Aku mengepalkan jemariku di bawah meja, menahan gejolak emosi yang mulai naik ke dada. Aku tidak boleh menangis. Tidak di depan cowok arogan ini.
"Saya sanggup, Mas," jawabku dengan suara yang kuusahakan setegar mungkin, meski ada sedikit getaran yang tak bisa kusembunyikan.
Devano hanya mendengus tipis, seolah meragukan jawabanku. Dia memutar kembali layarnya ke posisi semula. "Link dokumennya udah gue kirim ke email magang lo. Mulai sekarang. Dan jangan ganggu gue kalau hasilnya belum selesai."
Tanpa membuang waktu, aku segera berpindah ke meja kerjaku yang terletak persis di depan mejanyaβhanya dibatasi oleh sekat kaca transparan yang buram di bagian bawah. Aku membuka laptopku dengan kasar, hampir saja membanting layarnya jika tidak ingat kalau ini barang pribadi.
"Si****," umpatku sangat pelan, nyaris tanpa suara.
Aku mulai membaca dokumen yang dikirimkan Devano. Begitu melihat isinya, kepalaku langsung berdenyut nyeri. Ini bukan sekadar revisi kecil. Ini adalah perombakan total! Konsep yang ada memang sangat berantakan, tapi meminta seorang anak magang hari pertama untuk merombak seluruh *campaign plan* produk nasional dalam waktu kurang dari dua jam adalah hal yang g***. Benar-benar g***!
Jariku mulai mengetik dengan cepat. Aku mencari referensi visual di Pinterest, membuka portofolio agensi luar negeri untuk mencari inspirasi, dan memeras otakku untuk memikirkan *tagline* yang menarik.
*CleanGlow: Pancarkan Cantik Alami Masa Depanmu?* Ah, terlalu klise.
*Masa Depan Kulit Sehat, Dimulai Hari Ini?* Kurang nendang.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Setiap kali aku mendongak, aku bisa melihat siluet Devano di balik sekat kaca, tampak begitu tenang dan fokus dengan pekerjaannya sendiri. Cowok itu sesekali menyesap kopinya tanpa beban, sama sekali tidak peduli bahwa di seberangnya, ada satu manusia yang sedang berjuang menahan tangis karena stres demi memenuhi tenggat waktu g***nya.
Pukul 11.55.
Dengan sisa-sisa tenaga dan otak yang sudah mendidih, aku menekan tombol *send* di emailku. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungku yang berpacu liar.
Aku berdiri dan melangkah ke meja Devano. "Mas Devano, draf revisinya sudah saya kirim ke email Mas."
Devano tidak menjawab. Dia hanya menggerakkan tetikusnya, membuka email ma**k, lalu mengeklik file PDF kirimanku.
Aku berdiri di sana, meremas-remas ujung blazerku dengan cemas. Aku memperhatikan ekspresi wajahnya saat membaca pekerjaanku baris demi baris. Berharap ada sedikit saja gurat kepuasan di sana. Satu anggukan kecil pun jadilah, sebagai tanda bahwa usahaku tidak sia-sia.
Namun, yang kulihat justru alis tebal Devano yang perlahan menyatu. Matanya menyipit, dan sudut bibirnya tertarik ke bawah, membentuk kurva sinis yang sangat tidak mengenakkan.
Dia menghentikan kursornya di halaman ketiga.
"Alana," panggilnya, suaranya terdengar sangat dingin hingga membuatku merinding.
"I-iya, Mas?"
Devano menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menatapku seolah-olah aku baru saja melakukan kejahatan kriminal terbesar abad ini.
"Lo bilang lo mahasiswa jurusan Komunikasi Strategis dengan IPK di atas tiga koma delapan, kan?"
Pertanyaannya membuatku bingung. "Iya, Mas. Benar."
"Terus ini apa?" Devano mengetuk layar monitornya dengan ujung pulpen logamnya hingga menimbulkan suara *ting ting* yang nyaring. "Copywriting yang lo bikin di sini... *'Kulit Bersinar seperti Masa Depan'?* Ini apa? Lo lagi bikin iklan skincare atau lagi nulis ramalan zodiak di majalah remaja jadul?"
Wajahku langsung memanas. "Tapi Mas, konsepnya kan futuristik, jadi saya pikir kata 'masa depan' ituβ"
"Gue nggak butuh apa yang lo pikir kalau hasilnya se-sampah ini," potong Devano tanpa ampun. Suaranya tidak keras, tapi c**up tajam untuk membuat beberapa orang di kubikel sekitar kami mulai melirik ke arah kami. Aku bisa merasakan tatapan kasihan mereka tertuju padaku.
Air mataku mulai menggenang di pelupuk mata. Rasa malu, kesal, marah, dan lelah bercampur menjadi satu di dadaku, menyumbat tenggorokanku hingga aku kesulitan bernapas.
"Visual yang lo pilih juga berantakan," lanjut Devano, mengabaikan fakta bahwa aku sudah berada di ambang tangis. "Referensi palet warnanya terlalu kusam untuk produk *skincare glowing*. Desain *moodboard*-nya nggak estetik sama sekali. Ini kerjaan anak magang yang niat kerja, atau cuma mahasiswa malas yang pengen dapet sertifikat buat syarat kelulusan?"
*C**up.*
Kata-kata terakhirnya benar-benar menusuk tepat di jantungku. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos begitu saja, membasahi pipiku. Aku buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan, berusaha sekuat tenaga untuk tidak terisak di depannya.
Aku sudah bekerja keras. Aku bahkan tidak sempat minum air seteguk pun sejak duduk di mejaku. Aku memeras seluruh otakku untuk menyelesaikan tugas yang mustahil ini dalam waktu dua jam, dan semua yang kudapatkan hanyalah hinaan kasar yang merendahkan seluruh usahaku.
Devano menatap air mataku dengan pandangan datar, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di matanya. Dia melemparkan buku catatan hitamnya ke meja.
"Di sini, air mata nggak bakal bisa benerin draf yang salah, Alana," katanya kejam. "Gue kasih waktu sampai jam lima sore buat rombak total semuanya lagi. Pakai otak lo, bukan perasaan lo. Kalau jam lima sore ini masih sampah kayak gini... lo boleh angkat kaki dari meja lo sekarang juga."
Dia kembali berbalik menghadap layarnya, mengabaikanku sepenuhnya.
Aku berdiri mematung selama beberapa detik, merasakan dadaku yang sesak luar biasa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku berbalik dan setengah berlari meninggalkan area kubikel itu. Aku tidak peduli dengan pandangan orang-orang. Aku hanya butuh tempat untuk bersembunyi.
Aku berlari menyusuri lorong menuju toilet di ujung koridor, ma**k ke dalam bilik nomor tiga, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
Begitu pintu tertutup, pertahananku runtuh sepenuhnya. Aku terduduk di atas kloset yang tertutup, melipat lututku, dan menangis sejadi-jadinya di sana. Bahuku berguncang hebat seiring dengan tangisanku yang tertahan agar tidak terdengar ke luar.
Hari pertama magang yang kubayangkan akan penuh dengan tawa, kopi estetik, dan kesuksesan, berubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan. Mentor yang kuharapkan bisa membimbingku, ternyata adalah i**** berwujud manusia tampan yang siap mencabik-cabik mental dan harga diriku setiap hari.
Aku menatap layar ponselku yang meredup, memikirkan tiga bulan ke depan yang harus kulewati di tempat ini. Tiga bulan di bawah siksaan Devano Aditya.
Sambil menghapus air mataku yang terus mengalir, aku berbisik lirih pada diriku sendiri di dalam bilik toilet yang sunyi itu.
"Welcome to hell, Skyline Media!"
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!