Detik berikutnya, seluruh lampu di dalam lift padam total. Gelap gulita menelan kami dalam sekejap, menyisakan kesunyian mencekam yang hanya diinterupsi oleh deru napas kami yang memburu.
Dalam kegelapan itu, gue bisa merasakan dekapan hangat Mas Devano di pinggang gue makin mengencang. Jantung gue berdegup begitu keras, sampai-sampai gue takut Mas Devano bisa mendengarnya. Posisi kami begitu dekat, tanpa jarak. Aroma parfum *wood* bercampur mint miliknya langsung menyerbu indra penciuman gue, membuat kepala gue mendadak pening karena kombinasi rasa takut dan debaran aneh yang familier.
"Mas Devano..." bisik gue lirih, hampir tidak terdengar. Suara gue bergetar.
"Sstt, tenang. Ada saya di sini," jawabnya dengan suara berat yang terdengar sangat dekat di telinga gue. Hembusan napasnya yang hangat menyapu permukaan kulit leher gue, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduk gue meremang.
Gue mencoba mendorong dadanya pelan, berniat memberi jarak. Tapi bukannya menjauh, Mas Devano justru menangkup pipi gue dengan sebelah tangannya yang hangat. Sentuhannya begitu lembut, tapi penuh dengan dominasi yang tidak bisa dibantah.
Dalam kegelapan yang pekat, ketika ego dan akal sehat kami melebur bersama kepanikan, bibir Mas Devano menemukan bibir gue.
Satu ciuman yang awalnya terasa ragu-ragu, dengan cepat berubah menjadi pagutan yang dalam, menuntut, dan penuh gairah yang selama ini kami tekan di balik profesionalitas palsu di kantor. Gue mencengkeram kemeja hitamnya erat-erat, membiarkan diri gue tenggelam dalam sensasi memabukkan yang salah ini. Di dalam lift mati yang terjebak di tengah badai, kami melupakan segalanya. Melupakan status kami, melupakan fakta bahwa kami berada di lingkungan kantor, dan melupakan konsekuensi yang mengint** di balik pintu lift ini.
Ketika pintu lift tiba-tiba berdenting dan lampu darurat menyala, kami langsung melepaskan diri dengan panik. Pintu terbuka di lant** lobi, menampilkan sosok satpam malam yang menatap kami dengan cemas.
"Malam, Pak, Mbak. Nggak apa-apa? Barusan gensetnya sempat telat nyala," tanya satpam itu.
Gue hanya bisa mengangguk kaku, merapikan rambut gue yang berantakan dengan tangan gemetar, sementara Mas Devano berdeham kecil, mencoba mengembalikan ekspresi wajahnya yang dingin dan berwibawa.
Sejak malam itu, segalanya berubah. Dan sayangnya, perubahan itu sama sekali tidak berjalan ke arah yang baik.
***
Tiga hari setelah kejadian di lift, atmosfer di kantor Skyline Media mendadak terasa berbeda bagi gue.
Gue yang biasanya berjalan sant** menyusuri koridor kubikel sambil menyapa staf lain, kini mulai menyadari adanya perubahan tatapan dari orang-orang di sekitar gue. Setiap kali gue lewat, bisik-bisik tetangga langsung terdengar. Beberapa anak magang dari divisi lain yang biasanya ramah dan sering mengajak gue makan siang bareng di kantin bawah, sekarang mendadak bersikap dingin.
Puncaknya terjadi siang ini, saat gue berniat merapikan diri di toilet lant** empat—toilet yang sama dengan bilik nomor tiga yang menyimpan rahasia pertama kami.
Gue baru saja selesai mencuci tangan di wastafel ketika mendengar suara tawa tertahan dari arah pintu ma**k. Dua anak magang dari divisi kreatif, Keysha dan Cindy, ma**k sambil asyik bergosip. Mereka tidak menyadari keberadaan gue yang tertutup oleh sekat dinding toilet.
"Eh, lo seriusan? Jadi proyek kampanye kosmetik baru itu di-acc karena dia?" suara Keysha terdengar sangat jelas di telinga gue.
"Ya iyalah, siapa lagi kalau bukan si anak kesayangan?" sahut Cindy dengan nada sinis yang kental. "Gue sih udah curiga dari awal. Masa anak magang baru kayak Alana bisa langsung dapet *project leader*? Mana mentornya Mas Devano lagi. Lo tahu sendiri kan Mas Devano itu standar nilainya tinggi banget? Tapi kalau sama Alana, kok kayaknya gampang banget dapet nilai A."
Jantung gue rasanya seperti berhenti berdetak mendengar nama gue disebut. Gue mematung di depan cermin, menahan napas.
"G*** sih. Gue denger dari anak-anak divisi marketing, tempo hari mereka berdua sengaja lembur sampai malam pas badai besar. Pas lift mati, mereka berdua di dalem lift lama banget. Keluar-keluar mukanya pada merah semua, terus rambut si Alana berantakan banget. Lo pikir aja sendiri mereka ngapain di dalem sana," lanjut Keysha, diiringi tawa renyah yang terdengar sangat menyakitkan di telinga gue.
"Ih, murah banget ya caranya. Pantesan aja draf kerjaan dia selalu didekap erat sama Mas Devano. Ternyata oh ternyata... modal 'servis' di balik layar. Kasihan ya kita yang kerja setengah mati pakai otak, kalah sama yang pakai taktik gatel."
Air mata gue rasanya sudah mendesak ingin keluar. Dada gue sesak, rasanya seperti dihantam batu besar. Tuduhan-tuduhan keji itu berputar-putar di kepala gue, meremukkan seluruh rasa percaya diri yang selama ini gue bangun susah payah dengan belajar hingga larut malam demi proyek ini.
Tanpa berpikir panjang, gue langsung keluar dari balik sekat toilet.
*TAP.*
Langkah kaki gue sengaja gue buat berbunyi keras. Keysha dan Cindy langsung tersentak kaget melihat gue berdiri di sana dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Suasana toilet mendadak sunyi senyap, digantikan oleh kecanggungan yang luar biasa.
Gue menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan tajam, meskipun di dalam hati gue merasa hancur lebur. "Kalau mau ngomongin orang, minimal mastiin dulu orangnya nggak ada di tempat. Dan satu lagi... semua nilai dan proyek yang gue dapet itu murni karena hasil kerja keras gue, bukan karena hal murah yang ada di otak kotor kalian."
Setelah mengatakan itu dengan suara bergetar, gue langsung melangkah pergi meninggalkan toilet tanpa menunggu reaksi mereka. Gue berjalan cepat menyusuri koridor, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap gue dengan penuh rasa ingin tahu.
Begitu sampai di kubikel gue, gue langsung terduduk lemas. Air mata yang sejak tadi gue tahan akhirnya luruh juga. Gue buru-buru menghapusnya dengan tisu, tidak ingin ada orang lain yang melihat kerapuhan gue.
Pikiran gue kacau. Gosip di kantor itu kejam. Sekali reputasi lo c****, sekeras apa pun lo membuktikannya dengan prestasi, orang-orang hanya akan mengingat rumor buruknya. Gue memikirkan masa depan gue. Bagaimana kalau gosip ini sampai ke telinga HRD? Bagaimana kalau pihak kampus tahu dan magang gue dibatalkan? Wisuda gue, masa depan gue, semuanya dipertaruhkan di sini.
Dan semua ini karena keintiman gue dengan Mas Devano yang makin sulit disembunyikan.
*Gue harus jaga jarak,* batin gue tegas. *Ini harus dihentikan sebelum semuanya terlambat.*
***
"Lana, file analisis kompetitor kemarin tolong bawa ke ruangan saya sekarang."
Suara bariton Mas Devano terdengar dari arah kubikelnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kubikel gue. Biasanya, gue akan dengan senang hati langsung berdiri, melempar senyum manis, dan bergegas ke ruangannya. Tapi tidak untuk hari ini.
Gue menarik napas dalam-dalam, menekan rasa sesak di dada gue, lalu mengetik pesan di aplikasi chat internal kantor.
**Alana:** *Maaf, Pak Devano. Filenya sudah saya unggah ke Google Drive bersama. Bapak bisa langsung mengaksesnya lewat tautan yang saya kirim di email. Terima kasih.*
Sengaja gue menggunakan pangg***n "Pak", bukan "Mas" seperti biasanya saat kami hanya berdua atau saat suasana sant**. Gue juga sengaja menolak untuk mengantarkannya langsung.
Hanya butuh waktu beberapa detik sampai gue melihat status chat Mas Devano menjadi *typing*.
**Devano:** *Kenapa lewat Drive? Biasanya kamu jelasin langsung ke saya. Ma**k ke ruangan saya sekarang, Lana.*
Gue menelan ludah dengan susah payah. Dari sudut mata, gue bisa melihat Keysha yang duduk tidak jauh dari kubikel gue sedang melirik-lirik ke arah gue dengan senyum sinis. Si****. Mereka benar-benar mengawasi setiap gerak-gerik gue.
**Alana:** *Maaf sekali, Pak. Saya sedang sibuk mempersiapkan bahan presentasi untuk rapat besok sore. Semua det**l analisis sudah saya tulis lengkap di dokumen tersebut. Terima kasih atas pengertiannya.*
Setelah mengirim pesan itu, gue langsung menutup tab chat dan fokus menatap layar laptop, berpura-pura sibuk setengah mati meskipun fokus gue sebenarnya sudah buyar total.
Gue bisa merasakan tatapan tajam dari arah kubikel Mas Devano, tapi gue bersikeras untuk tidak mendongak. Gue harus konsisten. Jarak ini adalah satu-satunya pelindung yang gue miliki saat ini.
Sikap dingin dan menghindar ini terus gue lakukan selama dua hari berikutnya. Gue sengaja berangkat lebih pagi agar tidak berpapasan dengannya di parkiran. Gue selalu makan siang di luar kantor sendirian, menolak ajakan makan siang bersamanya dengan berbagai alasan klasik seperti "sudah janjian sama temen kuliah" atau "lagi diet". Bahkan saat rapat divisi, gue sengaja memilih kursi yang paling jauh dari posisinya dan sama sekali tidak memberikan kontak mata.
Gue pikir Mas Devano akan mengerti isyarat ini dan membiarkan gue tenang. Tapi gue lupa, Mas Devano bukanlah tipe cowok yang suka diabaikan.
Sore itu, sekitar pukul lima lewat, kantor mulai berangsur sepi karena jam kerja sudah selesai. Gue sengaja memperlambat gerakan gue merapikan meja, menunggu sampai sebagian besar staf divisi marketing pulang agar gue tidak perlu berpapasan dengan siapa pun.
Saat gue sedang mema**kkan botol minum ke dalam tas, sebuah bayangan tinggi tegap tiba-tiba menghalangi cahaya lampu di atas kubikel gue.
Gue mendongak, dan jantung gue langsung mencelos.
Mas Devano berdiri di sana. Kemejanya yang berwarna abu-abu gelap sudah sedikit kusut, dengan kancing paling atas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga siku—tampilan ka**alnya yang selalu sukses membuat gue salah tingkah. Namun, ekspresi wajahnya kali ini tidak bersahabat. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya begitu tajam menatap langsung ke manik mata gue.
"Ikut saya ke ruang arsip belakang. Sekarang," ujarnya dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.
"Maaf, Pak. Saya harus buru-buru pulang karena ada urusan kuliah—"
"Alana, saya tidak sedang meminta pendapat kamu. Ini perintah," potongnya cepat, lalu berbalik dan berjalan lebih dulu menuju koridor belakang yang sepi menuju ruang arsip.
Gue mengembuskan napas frustrasi. Dengan langkah berat dan hati yang diselimuti kecemasan, gue terpaksa melangkah mengikutinya dari belakang.
Begitu kami ma**k ke dalam ruang arsip yang dipenuhi oleh rak-rak tinggi berisi dokumen lama, Mas Devano langsung menutup pintu rapat-rapat. Keheningan ruangan ini terasa begitu mengintimidasi.
"Ada apa dengan kamu?" tanya Mas Devano tanpa basa-basi. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap gue menuntut penjelasan.
Gue mengepalkan tangan erat-air, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian gue. "Nggak ada apa-apa, Pak. Saya cuma sedang fokus kerja."
"Jangan panggil saya 'Pak' kalau kita lagi berdua, Lana. Dan jangan bohong sama saya," sahutnya dengan nada suara yang melembut, tapi justru itu yang membuat pertahanan gue goyah. "Kamu menghindar dari saya selama tiga hari ini. Chat saya cuma dibalas formal, kamu menolak makan siang, bahkan kamu nggak mau natap mata saya pas rapat kemarin. Apa salah saya?"
Mendengar pertanyaan itu, emosi yang selama beberapa hari ini gue pendam sendiri akhirnya meluap juga. Air mata yang sejak tadi gue tahan mulai menggenang di pelupuk mata gue.
"Mas nggak tahu? Atau Mas sengaja pura-pura nggak tahu?" suara gue meninggi, bergetar karena menahan tangis.
Mas Devano mengernyitkan dahi, tampak bingung. "Tahu soal apa?"
"Gosip di kantor ini, Mas!" air mata gue akhirnya luruh juga, membasahi pipi gue. "Semua orang di kantor ini lagi ngomongin kita! Mereka bilang aku cewek murahan yang sengaja ngegoda mentornya demi dapet nilai magang yang bagus! Mereka bilang proyek yang aku dapet itu hasil dari 'servis' di balik layar karena kita berduaan di lift malam itu!"
Mendengar penuturan gue, ekspresi wajah Mas Devano langsung berubah drastis. Matanya melebar, terkejut mendengar kenyataan yang baru saja gue sampaikan.
"Lana, itu nggak bener—"
"Memang nggak bener, Mas! Tapi orang-orang nggak peduli sama kebenaran!" potong gue dengan histeris, menyeka air mata gue dengan kasar. "Mereka cuma peduli sama bumbu-bumbu gosip yang bikin mereka seneng di atas penderitaan orang lain. Aku di sini berjuang setengah mati, belajar sampai kurang tidur demi dapet nilai bagus dan lulus proyek ini dengan terhormat. Tapi sekarang? Semua kerja keras aku dianggap sampah hanya karena mereka pikir aku dapet jalur belakang lewat Mas!"
Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dada gue yang naik turun tidak keruan.
"Aku takut, Mas... aku takut reputasiku hancur bahkan sebelum aku sempat lulus kuliah dan dapet ijazah. Aku nggak mau dicap sebagai cewek gatel di dunia kerja yang kejam ini. Aku nggak sekuat itu buat ngadepin tatapan sinis mereka setiap hari."
Mas Devano melangkah maju, mencoba meraih tangan gue. "Lana, saya bisa selesaikan ini. Saya bisa bicara sama HRD atau siapa pun yang menyebarkan rumor ini—"
"Jangan!" gue langsung menarik tangan gue ke belakang, menolak sentuhannya. "Kalau Mas turun tangan, mereka justru bakal makin yakin kalau gosip itu bener! Mereka bakal mikir Mas lagi ngelindungin 'simpanan' Mas!"
Kata-kata itu terasa sangat menyakitkan, baik bagi gue maupun bagi Mas Devano. Gue bisa melihat kilatan rasa bersalah dan terluka di matanya yang dalam.
"Jadi, apa mau kamu?" tanyanya dengan suara lirih, hampir berupa bisikan putus asa.
Gue menatapnya dengan mata yang basah, mencoba meneguhkan hati gue yang sebenarnya hancur berkeping-keping.
"Kita harus jaga jarak, Mas. Mulai sekarang, tolong jangan temui aku di luar urusan pekerjaan yang benar-benar penting. Tolong perlakukan aku sama persis kayak anak magang lainnya. Jangan ada lagi makan siang bareng, jangan ada lagi pulang bareng, dan... jangan pernah ada lagi kejadian seperti di lift malam itu."
Setiap kata yang keluar dari mulut gue rasanya seperti belati yang menusuk jantung gue sendiri. Tapi ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri gue sendiri dari kehancuran.
Mas Devano mematung di tempatnya. Dia menatap gue dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara kemarahan, rasa bersalah, dan kesedihan yang mendalam. Dia ingin membantah, gue tahu itu dari gerakan bibirnya, tapi dia juga sadar bahwa apa yang gue katakan adalah kebenaran yang pahit. Di dunia korporat yang kaku ini, reputasi seorang wanita jauh lebih rentan hancur dibanding pria.
"Baik," akhirnya suara itu keluar dari tenggorokannya, terdengar sangat berat dan dingin. "Kalau itu yang terbaik buat kamu, saya akan turuti."
Gue memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa sangat getir. "Terima kasih, Pak Devano."
Gue berbalik, membuka pintu ruang arsip, dan melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang lagi. Di lorong kantor yang remang-remang, gue membiarkan air mata gue mengalir bebas, meratapi kenyataan bahwa rahasia manis yang sempat kami bagi di bilik nomor tiga kini telah berubah menjadi racun yang siap menghancurkan segalanya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!