...toilet yang selalu jadi tempat andalan gue buat sekadar merapikan *liptint* atau menghela napas pas kerjaan lagi numpuk.
Baru saja gue menutup pintu bilik toilet nomor tiga, terdengar suara langkah sepatu berhak tinggi dan tawa sinis yang sangat gue kenal ma**k ke dalam toilet. Itu suara Mbak Maya, staf senior divisi marketing yang terkenal bermulut tajam, bersama Mas Rian, senior kreatif yang sejak awal memang selalu bersaing sengit dengan Mas Devano.
"Gue nggak salah lihat, Yan. Kemarin pas lift mati, mereka berduaan di dalem lama banget. Pas pintu lift akhirnya kebuka, muka si anak magang itu merah padam, lipstiknya agak berantakan. Terus si Devano yang biasanya sok jaim langsung kelihatan tegang banget," ujar Mbak Maya dengan nada menggebu-gebu, terdengar sangat puas dengan gosip yang dia bawa.
Gue langsung membeku di dalam bilik toilet. Napas gue tertahan di tenggorokan.
"Serius lo, May?" balas Mas Rian, terdengar sangat bersemangat. "Bagus deh. Gue udah muak banget sama gaya si Devano yang sok paling bener dan selalu dapet proyek bagus dari Pak Baskara. Mentang-mentang dia *rising star* di sini. Ternyata di belakang kelakuannya murahan juga, pakai ngedeketin anak magang."
"Makanya, tadi pagi langsung gue panasin situasinya. Gue laporin ke Pak Baskara secara resmi. Gue bilang, kedekatan Devano sama Alana itu udah di luar batas profesional. Takutnya ada unsur pelecehan, atau malah nepotisme terselubung karena Devano sering banget nge-back up kerjaan si Alana. Biar tahu rasa mereka!" Mbak Maya tertawa puas, disusul suara keran air yang dinyalakan.
Jantung gue serasa merosot sampai ke lambung. Tangan gue gemetar hebat sampai-sampai gue harus berpegangan pada dinding bilik toilet agar tidak jatuh. Ini benar-benar skenario terburuk yang pernah gue bayangkan. Rahasia kami—rahasia nakal yang selama ini kami sembunyikan rapat-rapat di bilik toilet nomor tiga dan di dalam lift yang mati itu—sekarang terancam hancur berantakan.
Setelah suara langkah kaki mereka menjauh dan pintu toilet tertutup rapat, gue baru berani keluar dari bilik dengan tubuh lemas. Di depan cermin, gue melihat wajah gue yang pucat pasi.
Gue harus gimana?
Dengan langkah gont**, gue kembali ke kubikel kerja gue di divisi kreatif. Suasana kantor mendadak terasa begitu menyesakkan. Setiap kali gue berpapasan dengan staf lain, mereka langsung berbisik sambil melirik gue dengan tatapan menghakimi. Gue merasa te******* di tengah keramaian.
Tak lama setelah gue duduk, pintu ruang kaca Pak Baskara—Kepala Divisi Kreatif—terbuka. Sekretarisnya, Mbak internal, berjalan menuju kubikel Mas Devano.
"Mas Devano, dipanggil Pak Baskara ke ruangannya sekarang. Penting," ucap sekretaris itu dengan nada formal yang tidak biasa.
Dari tempat duduk gue, gue bisa melihat Mas Devano mengangguk pelan. Dia berdiri, merapikan kemeja hitamnya yang selalu tampak sempurna, lalu berjalan menuju ruangan Pak Baskara tanpa menoleh sedikit pun ke arah gue. Wajahnya datar, dingin, dan tidak terbaca.
Selama hampir tiga puluh menit, gue cuma bisa menatap layar monitor komputer gue dengan pandangan kosong. Pikiran gue melayang ke mana-mana. Apa yang sedang mereka bicarakan di dalam sana? Apa Mas Devano akan dipecat? Atau gue yang akan langsung dipulangkan ke kampus dengan nilai magang yang c****?
Gue meremas ujung rok gue, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. Rasa bersalah mulai menggerogoti dada gue. Semua ini karena gue yang terlalu lemah dan membiarkan diri gue hanyut dalam pesona Mas Devano.
Tiba-tiba, pintu ruangan Pak Baskara terbuka. Mas Devano keluar dengan langkah tegap, ekspresi wajahnya jauh lebih dingin dari biasanya. Dia langsung berjalan menuju ruang rapat kecil yang ada di sudut lant** empat.
*Ting.*
Ponsel gue di atas meja bergetar. Sebuah pesan singkat dari Mas Devano ma**k di aplikasi Slack kantor.
**Devano:** *Ke ruang rapat kecil sekarang. Ada yang mau saya bicarakan.*
Gue menelan ludah dengan susah payah. Dengan kaki yang terasa seberat timbal, gue berdiri dan berjalan menuju ruang rapat kecil tersebut. Gue mencoba menguatkan hati, berharap Mas Devano akan menenangkan gue seperti yang dia lakukan di dalam lift malam itu. Gue berharap dia akan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja.
Saat gue membuka pintu ruang rapat, Mas Devano sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca yang menampilkan pemandangan jalanan Jakarta yang macet.
"Mas..." bisik gue lirih setelah menutup pintu rapat-rapat.
Mas Devano berbalik. Tatapan matanya yang biasanya menatap gue dengan kehangatan tersembunyi, kini benar-benar kosong. Seperti menatap orang asing yang tidak dia kenal.
"Duduk, Alana," katanya, suaranya terdengar sangat formal dan berjarak.
Gue menurut, duduk di salah satu kursi dengan perasaan waswas. "Mas, tadi Pak Baskara bilang apa? Soal gosip itu ya? Aku minta maaf, Mas. Gara-gara aku—"
"Panggil saya Pak Devano di kantor," potongnya dengan tegas dan cepat, membuat kalimat gue terputus di udara.
Gue tertegun. Dada gue rasanya seperti dihantam benda tumpul. "Mas... kenapa?"
"Mulai hari ini, bimbingan magang kamu akan dialihkan ke Mas Rian. Saya sudah bicara dengan Pak Baskara dan dia menyetujuinya," ucap Mas Devano tanpa ekspresi, seolah-olah dia sedang membacakan laporan cuaca yang membosankan.
Gue langsung berdiri dari kursi, tidak percaya dengan apa yang baru saja gue dengar. "Mas Rian? Tapi dia kan nggak suka sama Mas—maksudku, Pak Devano! Kenapa harus dia? Terus kenapa Mas tiba-tiba kayak gini?"
Mas Devano menghela napas panjang, lalu menatap gue lurus-lurus. Tatapannya begitu menusuk, membuat gue merasa sangat kecil.
"Ini keputusan terbaik untuk kita berdua, Alana. Kedekatan kita di kantor sudah menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. Laporan dari staf senior hampir saja membuat reputasi saya rusak. Dan yang lebih penting, posisi kamu sebagai anak magang di sini sedang terancam."
"Tapi kita bisa jelasin, Mas! Kejadian di lift itu cuma—"
"Kejadian di lift itu adalah kesalahan terbesar saya," potong Mas Devano lagi, kali ini suaranya terdengar lebih dingin dan menusuk. "Saya khilaf karena panik akibat situasi darurat saat itu. Dan saya harap kamu juga c**up dewasa untuk menganggap itu cuma reaksi impulsif sesaat yang tidak berarti apa-apa."
Kata-kata itu keluar dari mulutnya begitu mudah. *Kesalahan terbesar. Khilaf. Tidak berarti apa-apa.*
Bibir gue bergetar. Air mata yang sejak tadi gue tahan akhirnya luruh juga, membasahi pipi gue. Gue menatap laki-laki di depan gue ini dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Laki-laki yang beberapa hari lalu memeluk gue begitu erat di kegelapan, yang mencium gue dengan begitu banyak gairah dan kelembutan, sekarang berdiri di sini dan membuang gue seolah-olah gue hanyalah kotoran yang mengotori sepatunya.
"Jadi... semua itu nggak ada artinya buat Mas?" tanya gue dengan suara serak, menahan tangis yang siap pecah. "Ciuman itu, perhatian Mas selama ini, semuanya cuma khilaf?"
Mas Devano memalingkan wajahnya sejenak ke arah jendela. Gue bisa melihat rahangnya yang mengeras, seolah-olah dia sedang menahan sesuatu. Namun saat dia kembali menatap gue, matanya tetap sedingin es.
"Iya. Hanya sebatas itu. Saya tidak ingin karier saya di perusahaan ini hancur hanya karena rumor tidak jelas dengan seorang anak magang. Dan saya rasa, kamu juga harus fokus menyelesaikan magang kamu tanpa membuat drama tambahan."
"Drama?" Gue tertawa getir di sela tangis gue. Rasa sakit di dada gue kini bercampur dengan rasa amarah yang membakar. "Hebat ya. Mas pintar banget membalikkan keadaan. Setelah apa yang kita lakuin, sekarang Mas bersikap seolah-olah aku yang jadi beban di sini?"
"Alana, jaga batasan kamu," tegur Mas Devano dengan nada memperingatkan.
"Batasan apa lagi, Pak Devano?!" seru gue, tidak peduli lagi jika ada orang di luar yang mendengar. "Dari awal, harusnya aku sadar kalau aku cuma mainan buat Mas. Di dalam bilik toilet, di dalam lift... Mas cuma memanfaatkan kepolosanku, kan? Dan sekarang, pas posisi Mas terancam, Mas langsung buang aku kayak sampah!"
Wajah Mas Devano sempat menegang sesaat mendengar ucapan gue. Tangannya yang berada di dalam saku celana tampak mengepal erat. Namun, dia tetap tidak memberikan pembelaan atau kata-kata penenang. Dia hanya diam, membiarkan gue tenggelam dalam rasa sakit hati yang luar biasa ini.
"Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, silakan kembali ke meja kamu. Beresin barang-barang kamu dan pindah ke kubikel dekat Mas Rian," ucap Mas Devano dingin, berbalik memunggungi gue kembali.
Gue menghapus air mata di pipi gue dengan kasar. Rasa hangat yang sempat singgah di hati gue beberapa hari lalu kini benar-benar menguap, digantikan oleh rasa dingin yang membekukan. Gue merasa sangat bodoh. Sangat murah.
"Makasih, Pak Devano," ucap gue dengan penekanan yang sarat akan kebencian pada namanya. "Makasih karena udah sadarin aku kalau ada orang yang bisa sejahat dan seegois ini demi menyelamatkan dirinya sendiri."
Tanpa menunggu jawabannya, gue berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat dengan setengah berlari. Gue tidak peduli lagi pada tatapan orang-orang di kantor saat gue berjalan cepat menuju tangga darurat, tempat di mana gue akhirnya bisa menumpahkan seluruh tangis dan rasa patah hati gue yang hancur berkeping-keping.
Hari ini gue belajar satu hal penting di dunia kerja: skenario terburuk bukanlah ketika pekerjaan kita berantakan, melainkan ketika kita menyadari bahwa orang yang kita percayai sepenuhnya ternyata hanyalah seorang pengecut yang menggunakan kita sebagai tameng pelindungnya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!