Jam dinding di kubikel divisi kreatif sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Satu per satu karyawan mulai membereskan barang-barang mereka, mengucapkan salam perpisahan yang terdengar hambar, lalu bergegas pulang. Sementara gue? Gue masih duduk mematung di depan layar monitor yang sengaja gue biarkan menyala, menampilkan *spreadsheet* kosong yang sama sekali nggak gue sentuh selama tiga jam terakhir.
Pikiran gue kacau. Benar-benar acak-acakan.
Mbak Maya dan Mas Rian sudah pulang sejak jam lima sore tadi dengan senyum kemenangan yang sangat kentara di wajah mereka. Sementara Mas Devano, sejak keluar dari ruangan Pak Baskara dua jam yang lalu, langsung mengunci diri di dalam ruang kerjanya. Dia bahkan nggak keluar untuk sekadar mengambil minum.
Gue melirik ke arah pintu kaca buram ruangan Mas Devano. Lampu di dalam sana masih menyala, memantulkan bayangan siluet tubuhnya yang sedang bersandar di kursi kerja.
Gue menghela napas panjang, merasakan dadaka sesak yang luar biasa. Gosip di kantor ini menyebar lebih cepat daripada koneksi Wi-Fi. Sepanjang sore tadi, setiap kali gue ke pantry atau sekadar lewat di lorong, tatapan-tatapan sinis dan bisikan tajam selalu mengikuti langkah gue. Mereka menatap gue seolah-olah gue adalah cewek gampangan yang rela melakukan apa saja demi nilai magang yang bagus. Dan yang paling bikin gue sakit hati, mereka menganggap Mas Devano memanfaatkan posisinya untuk melecehkan gue.
"Gue nggak bisa kayak gini terus," bisik gue pada diri sendiri. Tangan gue mengepal erat di atas paha.
Gue nggak mau dicap sebagai korban, dan gue juga nggak mau hidup dalam bayang-bayang kesalahpahaman yang nggak ma**k akal ini. Hubungan gue dan Mas Devano memang aneh, penuh rahasia, dan ya... agak nakal kalau diingat-ingat lagi soal kejadian di bilik toilet nomor tiga itu. Tapi, dituduh melakukan nepotisme atau bahkan pelecehan? Itu sudah keterlaluan.
Dengan sisa keberanian yang gue punya, gue berdiri. Langkah kaki gue terdengar menggema di area kantor yang sudah sepi dan agak remang-remang. Begitu sampai di depan pintu ruangan Mas Devano, jantung gue berdegup kencang, saking kencangnya sampai terasa menyakitkan di dada.
Gue menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu itu dua kali.
"Mas Devano? Ini Alana. Gue mau ngomong."
Tidak ada jawaban dari dalam.
Nekat, gue langsung memutar kenop pintu dan mendorongnya terbuka. Mas Devano tersentak. Dia sedang duduk di kursi kebesarannya dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, lengan kemeja digulung sampai siku, dan rambutnya yang biasa rapi kini tampak sedikit berantakanβseolah-olah dia baru saja frustrasi dan mengacak-acak rambutnya sendiri berkali-kali.
"Alana? Gue kan udah bilang, kalau jam kantor selesai, lo harus langsung pulang," ucap Mas Devano dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan datar. Tapi kali ini, gue bisa mendengar ada nada lelah yang sangat jelas di sana.
Gue menutup pintu di belakang gue rapat-rapat, bahkan menguncinya dari dalam agar tidak ada orang luar yang tiba-tiba ma**k.
"Pulang? Mas pikir gue bisa pulang dengan tenang setelah semua kekacauan hari ini?" tanya gue dengan suara yang mulai bergetar. Gue berjalan mendekat ke arah mejanya, menatapnya langsung di kedua matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi.
"Nggak ada kekacauan yang perlu lo khawatirin. Semuanya udah gue selesaikan sama Pak Baskara," jawab Mas Devano sant**, meskipun dia langsung mengalihkan pandangannya dari gue, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas di mejanya.
"Diselesaikan gimana, Mas? Dengan cara Mas nanggung semuanya sendiri?" Air mata yang sejak tadi gue tahan di pelupuk mata akhirnya jatuh juga, membasahi pipi gue. "Mbak Maya sama Mas Rian nyebarin gosip kalau Mas manfaatin jabatan Mas buat ngedeketin gue. Mereka bilang kita punya hubungan nggak sehat. Dan sekarang, seisi kantor natap gue kayak gue ini cewek murahan! Gue nggak tahan, Mas!"
Mendengar suara gue yang pecah karena tangis, gerakan tangan Mas Devano langsung terhenti. Bahunya menegang. Dia perlahan mendongak, menatap gue yang berdiri di depan mejanya dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Alana, jangan nangis..." gumamnya lirih. Nada dingin yang biasanya dia pakai mendadak lenyap, digantikan oleh nada panik yang belum pernah gue dengar sebelumnya dari mulut seorang Devano yang terkenal jaim.
"Gimana gue nggak nangis, Mas?!" pekik gue, tidak peduli lagi kalau suara gue terdengar sampai luar. "Dari awal ma**k magang di sini, Mas selalu dingin sama gue. Mas selalu ngasih tugas yang banyak, terus Mas tiba-tiba mergokin gue di bilik nomor tiga. Setelah itu, Mas selalu ngancem gue pake rahasia itu! Mas bikin gue bingung, Mas bikin gue takut, tapi di sisi lain..." Gue menjeda kalimat gue, menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokan gue terasa sangat sakit. "...di sisi lain, Mas kadang bersikap manis banget sampai bikin gue baper. Maksud Mas itu apa sebenarnya? Kenapa Mas harus ngegantungin perasaan gue kayak gini?!"
Gue menutupi wajah gue dengan kedua tangan, bahu gue terguncang hebat karena tangis yang semakin histeris. Semua tekanan dari tugas magang, gosip rekan kerja, dan perasaan tidak menentu yang gue pendam sendiri selama berminggu-minggu akhirnya tumpah malam ini.
Terdengar suara kursi yang digeser dengan cepat. Detik berikutnya, gue merasakan langkah kaki yang mendekat, lalu sepasang tangan yang hangat dan kokoh perlahan menarik kedua tangan gue dari wajah gue.
Gue mendongak dan menemukan wajah Mas Devano sudah berada sangat dekat. Matanya tidak lagi memancarkan kehangatan yang palsu atau kebekuan yang biasa dia tunjukkan. Matanya terlihat sangat frustrasi, penuh penyesalan, dan... rapuh.
"Maaf..." kata kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang tipis.
Gue menggelengkan kepala, mencoba menarik tangan gue dari genggamannya, tapi dia menahannya dengan lembut namun erat.
"Lepasin, Mas. Gue mau pulang."
"Alana, dengerin gue dulu. *Please*," pintanya dengan nada memohon yang sangat tulus. Ini pertama kalinya dia tidak menggunakan kata 'saya' saat berbicara berdua dengan gue di luar konteks pekerjaan formal. Dia memakai kata 'gue'.
Gue terdiam, menatapnya dengan mata yang sembap dan hidung yang memerah.
Mas Devano menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang dia punya untuk meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini dia bangun tinggi-tinggi. Dia menatap lurus ke dalam mata gue, dan untuk pertama kalinya, gue melihat telinga dan pipinya merona merah.
"Semua ancaman soal bilik nomor tiga itu... itu cuma bohong, Alana," aku Mas Devano dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.
Gue mengernyitkan dahi, bingung. "Maksud Mas? Mas mau bilang kalau Mas nggak punya bukti apa-apa?"
"Gue nggak pernah punya niat buat ngelaporin lo ke HRD atau Pak Baskara soal lo yang sering telat atau nangis di bilik toilet nomor tiga itu. Gue juga nggak pernah rekam apa-apa," jelasnya, terdengar sangat bersalah. Dia mengusap tengkuknya dengan tangan kirinya yang bebas, gestur tubuh yang menunjukkan kalau dia benar-benar salah tingkah dan malu setengah mati.
"Terus? Kenapa Mas terus-terusan nekan gue pake hal itu? Kenapa Mas bikin gue ngerasa bersalah dan harus nurutin semua perintah Mas?" tanya gue, menuntut penjelasan lebih.
Mas Devano memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya lagi. Kali ini, tatapannya begitu intens sampai membuat jantung gue berdegup dua kali lebih cepat.
"Karena itu satu-satunya cara kikuk yang bisa gue pikirin supaya gue bisa deket sama lo, Alana."
Gue mematung. Otak gue mendadak *blank*. "Hah? Maksudnya?"
"Gue... gue sebenarnya udah naksir lo sejak hari pertama lo ma**k magang di divisi gue," aku Mas Devano akhirnya. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, membuat pertahanannya runtuh sepenuhnya. "Lo yang pakai kemeja kegedean, kelihatan gugup banget pas ngenalin diri, tapi matanya berbinar penuh semangat. Hari itu juga, lo udah menarik perhatian gue."
Gue mengerjapkan mata berkali-kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja gue dengar. Cowok dingin, kaku, bermulut tajam, dan selalu dipuja-puja sebagai *rising star* di divisi kreatif ini... naksir gue? Sejak hari pertama?
"Tapi gue nggak tahu cara deketin cewek dengan normal, Alana," lanjut Mas Devano, suaranya terdengar sangat frustrasi sekaligus lucu karena dia terlihat begitu gemas dengan kebodohannya sendiri. "Gue terbiasa hidup kaku, fokus sama karier, dan selalu jaga jarak sama semua orang biar kelihatan profesional. Pas gue tahu gue suka sama anak magang di tim gue sendiri, gue panik. Gue gengsi setengah mati kalau sampai ketahuan orang kantor, apalagi ketahuan sama lo."
Mas Devano menatap gue dengan pandangan yang sangat lembut. Perlahan, ibu jarinya bergerak mengusap sisa air mata yang ada di pipi gue. Sentuhannya begitu hangat, membuat bulu kuduk gue merinding saking manisnya.
"Pas hari itu gue nggak sengaja denger lo lagi mengeluh dan merapikan lipstik di bilik nomor tiga, gue ngerasa dapet kesempatan. Otak bodoh gue malah mikir kalau gue pura-pura ngancem lo, lo bakal terus perhatian sama gue. Lo bakal selalu ada di dekat gue, dan gue punya alasan buat terus interaksi sama lo tanpa dicurigai orang lain sebagai mentor yang tebar pesona. Gue tahu cara gue br****** dan kekanak-kanakan banget. Gue minta maaf."
Gue masih diam seribu bahasa, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. Jadi, semua kepanikan gue selama ini, semua ketakutan gue bakal dikeluarkan dari tempat magang, dan semua momen mendebarkan yang terjadi di antara kita... itu semua karena seorang Devano terlalu gengsi untuk mengajak gue kenalan secara normal?
"Mas... Mas beneran aneh banget, tahu nggak?" ucap gue akhirnya, setengah tertawa dan setengah menangis karena merasa situasi ini sangat absurd.
Melihat gue yang mulai tersenyum tipis di sela-sela tangis gue, wajah Mas Devano langsung terlihat lega. Senyum tipis yang sangat menawan terukir di bibirnya.
"Iya, gue tahu. Gue emang bodoh banget kalau soal ginian," ujarnya pelan, kini berani menggenggam kedua tangan gue dengan lebih erat. "Soal Pak Baskara tadi... lo nggak usah khawatir lagi. Gue udah jelasin ke dia kalau ini murni kesalahan gue yang terlalu keras mendidik anak magang sampai timbul salah paham. Gue juga udah pastiin kalau posisi magang lo di sini aman, dan nggak ada satu pun orang yang bakal berani ganggu atau ngomongin lo lagi besok. Kalau ada yang macem-macem, mereka harus berhadapan langsung sama gue."
Gue menatap wajahnya yang kini tampak begitu tulus, tanpa ada lagi topeng dingin yang biasa dia pakai sehari-hari. Rasa kesal dan sedih yang sejak tadi memenuhi dada gue perlahan menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Jadi... Mas beneran suka sama gue?" tanya gue lagi, sengaja ingin menggoda cowok yang sekarang pipinya makin memerah ini.
Mas Devano berdehem pelan, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sudah runtuh total. "Gue nggak bakal ngakuin hal memalukan kayak tadi dua kali, Alana."
Gue terkekeh pelan. "Ih, gengsinya masih ada aja!"
"Tapi kalau lo butuh bukti..." Mas Devano menggantung kalimatnya. Dia melangkah selangkah lebih dekat, memperikis jarak di antara kami hingga gue bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan wangi kopi yang menenangkan. Dia menundukkan kepalanya, menatap bibir gue sekilas sebelum kembali menatap mata gue dengan intensitas yang membuat lutut gue lemas. "...gue bisa tunjukin sekarang juga kalau kita cuma berdua di sini."
Jantung gue berdegup kencang, kali ini bukan karena takut atau sedih, melainkan karena sensasi mendebarkan yang selalu berhasil dia ciptakan di setiap kedekatan kami. Rahasia nakal kami mungkin sudah bukan rahasia lagi di antara kami berdua, tapi malam ini, di dalam ruang kerja yang remang-remang ini, gue tahu hubungan kami baru saja dimulai dengan lembaran yang baru.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!