**BAB 13: Melawan Gosip, Menangkan Proyek**
...dalam. Bunyi *klik* kecil dari slot kunci pintu itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan ruangan.
Mas Devano langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya yang biasanya tenang kini memancarkan kepanikan yang jarang dia tunjukkan. "Alana, lo g***? Buka kuncinya. Kalau ada yang lihat, gosip di luar sana bakal makin liar!"
"Biarin!" seru gue, agak setengah berteriak tapi buru-buru menahan volume suara gue begitu sadar kami masih di lingkungan kantor. Gue melangkah mendekat, memotong jarak di antara kami sampai hanya tersisa meja kerja kayu jati besar milik Mas Devano yang membatasi kami. "Mau dikunci atau nggak, mereka tetep bakal ngomongin kita yang aneh-aneh, Mas. Mereka udah mikir gue cewek murahan yang dapet nilai magang instan dengan cara ngegoda mentornya. Dan mereka mikir lo memanfaatkan kekuasaan lo."
Mas Devano menghela napas berat. Dia memijat pangkal hidungnya, lalu menatap gue dengan sepasang mata elangnya yang malam ini terlihat sangat lelah. "Gue nggak peduli mereka mau ngomong apa tentang gue, Alana. Gue udah biasa sama politik kantor. Tapi lo... lo itu masih anak magang. Masa depan lo masih panjang. Gue nggak mau reputasi lo hancur bahkan sebelum lo bener-bener lulus kuliah."
"Makanya, kita harus lawan!" tantang gue, menatap lurus ke dalam matanya.
"Caranya gimana?" Mas Devano tersenyum sinis, senyum yang lebih ditujukan untuk menertawakan keadaan kami yang rumit ini. "Gue minta maaf. Kejadian di bilik toilet nomor tiga hari itu... harusnya gue bisa nahan diri. Gue yang salah di sini. Gue mentor lo, harusnya gue profesional."
Mendengar kata-kata itu, dada gue rasanya seperti dicubit. "Jadi... lo nyesel?" tanya gue lirih. Ada rasa perih yang mendadak menyusup ke sela-sela hati gue.
Mas Devano terdiam. Dia menatap gue lama sekali, lalu berjalan memutari meja kerjanya. Kini dia berdiri tepat di depan gue. Wangi parfum *woody* maskulinnya yang khas langsung menyeruak, membuat pertahanan gue agak goyah. Dia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh bahu gue dengan lembut.
"Gue nggak pernah nyesel suka sama lo, Alana," ucapnya dengan suara rendah yang begitu tulus, membuat jantung gue langsung berdetak dua kali lebih cepat. "Gue beneran punya perasaan sama lo. Tapi justru karena gue suka sama lo, gue nggak mau ego gue malah bikin lo dinilai buruk sama orang lain. Gue nggak mau prestasi kerja keras lo selama ini dianggap cuma karena belas kasihan atau 'hubungan khusus' kita."
Gue menelan ludah. Mendengar pengakuan jujur dari mulutnya secara langsung membuat emosi gue yang tadinya meluap-luap perlahan mencair. Namun, itu juga sekaligus memberikan gue kekuatan baru.
Gue memegang tangan Mas Devano yang masih berada di bahu gue. "Kalau gitu, dengerin gue, Mas. Kita hadapi ini secara profesional. Dua minggu lagi ada presentasi proyek akhir magang terbesar di depan Pak Baskara dan seluruh jajaran direksi Skyline Media, kan?"
Mas Devano mengangguk pelan. "Iya. Proyek kampanye digital untuk klien otomotif terbesar kita tahun ini."
"Bagus. Kasih gue kesempatan buat ngerjain proyek itu secara mandiri. Lo bimbing gue, tapi tanpa kompromi. Perlakukan gue seolah-olah lo nggak kenal gue di luar jam kantor. Kritik kerjaan gue sekejam mungkin kalau emang jelek. Dan saat presentasi nanti, gue bakal buktiin ke semua orang—terutama ke Mbak Maya dan Mas Rian—kalau ide-ide gue layak dihargai karena kualitasnya, bukan karena gue 'dekat' sama mentor gue."
Mas Devano menatap gue dengan pandangan tidak percaya, yang kemudian perlahan berubah menjadi binar kekaguman. Senyum tipis yang sangat menawan akhirnya terukir di bibirnya. "Lo yakin sanggup? Proyek ini nggak gampang, Alana. Direksi Skyline Media itu terkenal sangat pelit pujian. Salah sedikit, lo bisa didepak hari itu juga."
"Gue nggak takut," jawab gue mantap, dagu gue terangkat tinggi. "Daripada gue nangis di pojokan karena digosipin, mending gue bikin mereka semua bungkam pakai prestasi. *So*, gimana? *Deal*?"
Gue mengulurkan tangan kanan gue ke arahnya.
Mas Devano menatap tangan gue, lalu menyambutnya dengan genggaman yang erat dan hangat. "Oke. *Deal*. Mulai besok, siap-siap aja lo bakal gue bant** habis-habisan di meja kerja."
"Siapa takut!" tantang gue sambil tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya setelah seharian penuh tekanan, gue akhirnya bisa bernapas lega.
***
Dua minggu berikutnya benar-benar menjadi ujian terberat sekaligus paling g*** dalam hidup gue.
Mas Devano membuktikan kata-katanya. Dia sama sekali tidak memberikan gue kelonggaran. Justru, dia menjadi mentor paling menyebalkan, paling teliti, dan paling menuntut yang pernah ada.
"Alana, visual di *slide* kelima ini berantakan banget. Anak magang desain grafis aja bisa bikin yang lebih bagus dari ini. Ganti."
"Alana, proyeksi *budget* lo nggak ma**k akal. Lo mau kita rugi sebelum proyeknya jalan? Hitung ulang dari awal."
"Alana, konsep kampanyenya terlalu biasa. Nggak ada nilai jualnya buat anak muda zaman sekarang. Cari referensi lain. Gue tunggu revisinya jam sembilan malam ini."
Setiap hari, kubikel gue dipenuhi dengan tumpukan kertas referensi, coretan tinta merah dari Mas Devano, dan gelas-gelas kopi instan yang sudah kosong. Gue bekerja siang dan malam. Jam tidur gue berkurang drastis, hanya sekitar tiga sampai empat jam sehari.
Gosip di kantor masih terus berembus. Mbak Maya beberapa kali sengaja menyindir gue saat kami berpapasan di *pantry*.
"Ciye, yang akhir-akhir ini sering pulang malam bareng mentor kesayangan. Lagi lembur ngerjain proyek... atau ngerjain yang lain nih?" sindir Mbak Maya dengan nada sarkastik yang kental, disusul tawa cekikikan dari Mas Rian yang berdiri di sebelahnya.
Gue yang saat itu sedang menyeduh kopi hitam tanpa gula hanya tersenyum manis. "Lagi ngerjain proyek besar yang bakal dipresentasiin di depan Pak Baskara minggu depan, Mbak. Doain ya, biar Skyline Media makin maju dan nggak cuma jalan di tempat gara-gara karyawannya sibuk ngurusin hidup orang lain."
Wajah Mbak Maya langsung berubah masam seketika. Dia mendengus kesal lalu melengos pergi. Mas Rian juga mendadak pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Di dalam hati, gue bersorak. Tapi gue tahu, sindiran verbal saja tidak c**up. Kemenangan mutlak hanya bisa didapat di ruang rapat nanti.
Selama proses pengerjaan proyek itu, hubungan gue dan Mas Devano di kantor benar-benar murni profesional. Tidak ada tatapan genit, tidak ada sentuhan fisik, dan tentu saja... tidak ada kunjungan rahasia ke bilik toilet nomor tiga. Kami berdua sepakat untuk menahan diri demi tujuan yang lebih besar. Namun, di balik semua ketegasan dan sikap dinginnya di depan karyawan lain, Mas Devano selalu meninggalkan pesan-pesan kecil yang manis di email kerja gue, disisipkan di antara tumpukan file revisi.
*“Revisi lo yang terakhir udah jauh lebih baik. Lo pinter banget, Alana. Jangan lupa makan malam, gue udah pesenin sushi favorit lo lewat ojol, ambil di lobi ya.”*
Pesan-pesan kecil seperti itulah yang menjadi bahan bakar gue untuk terus bertahan di tengah gempuran rasa lelah yang luar biasa.
***
Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba.
Ruang rapat utama Skyline Media terlihat sangat mengintimidasi. Meja oval besar di tengah ruangan dikelilingi oleh kursi-kursi kulit mewah yang kini diduduki oleh para petinggi perusahaan. Pak Baskara, CEO Skyline Media yang terkenal tegas dan bermata tajam, duduk di ujung meja dengan aura kepemimpinan yang kuat. Di sebelah kirinya ada Mas Devano yang tampak sangat tampan dan karismatik menggunakan setelan jas formal abu-abu gelap.
Mbak Maya, Mas Rian, dan beberapa staf senior lainnya juga hadir di barisan belakang sebagai penonton. Gue bisa melihat senyum meremehkan di wajah Mbak Maya. Dia pasti berharap gue bakal gugup dan mempermalukan diri gue sendiri di depan para bos.
"Baik, kita mulai saja presentasi proyek akhir magang dari Alana Syarafina," ucap Pak Baskara dengan suara baritonnya yang berat. "Alana, waktu kamu lima belas menit. Silakan."
Gue menarik napas dalam-dalam. Jantung gue berdegup kencang, tapi anehnya, ada rasa percaya diri yang sangat besar mengalir di dalam tubuh gue. Gue melirik ke arah Mas Devano. Dia menatap gue lurus-lurus, lalu memberikan anggukan kecil yang sangat tipis—sebuah isyarat bahwa dia percaya penuh pada kemampuan gue.
Gue melangkah maju ke depan layar proyektor. Gue pegang *clicker* di tangan kanan gue, tersenyum profesional, dan mulai berbicara.
"Selamat pagi, Pak Baskara dan jajaran direksi Skyline Media yang saya hormati. Hari ini, saya ingin mempresentasikan sebuah konsep kampanye digital terintegrasi yang kami sebut sebagai 'Drive the Future'. Sebuah kampanye yang tidak hanya fokus pada penjualan unit mobil, melainkan membangun ekosistem komunitas bagi generasi muda..."
Kata-kata mengalir dari mulut gue dengan sangat lancar. Semua data yang sudah gue pelajari di luar kepala selama dua minggu terakhir mengalir tanpa hambatan. Gue menyajikan analisis pasar yang tajam, target audiens yang spesifik, hingga strategi eksekusi di media sosial yang sangat relevan dengan tren masa kini. Visual presentasi gue yang bersih dan modern membuat mata semua orang di ruangan itu tidak bisa berpaling dari layar.
Gue memaparkan segalanya dengan energi yang positif dan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan, tidak ada kegugupan. Gue menguasai panggung sepenuhnya.
"...dengan proyeksi ROI sebesar 25% dalam tiga bulan pertama kampanye ini berjalan, saya yakin 'Drive the Future' akan menjadi standar baru bagi Skyline Media dalam menangani klien otomotif. Terima kasih," pungkas gue, menutup presentasi tepat waktu pada menit ke-14.
Suasana ruangan mendadak hening selama beberapa detik. Gue bisa merasakan ketegangan yang merayap di udara.
Lalu, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang nyaring.
Itu dari Pak Baskara.
"Luar biasa," ucap Pak Baskara sambil tersenyum lebar, sesuatu yang sangat jarang dia lakukan di ruang rapat ini. "Konsep yang sangat segar, analitis, dan eksekusinya sangat realistis. Jujur, saya tidak menyangka presentasi sekunder seperti ini bisa dibawakan dengan kualitas sekelas manajer senior oleh seorang anak magang."
Dada gue langsung membuncah oleh rasa lega dan bahagia yang luar biasa. Air mata rasanya hampir menetes, tapi gue berhasil menahannya.
"Terima kasih banyak, Pak," jawab gue dengan sopan.
Namun, Mbak Maya sepertinya tidak mau menyerah begitu saja. Dia tiba-kira mengangkat tangannya dari barisan belakang. "Maaf, Pak Baskara. Saya ingin bertanya."
Pak Baskara mempersilakan dengan anggukan kepala.
Mbak Maya berdiri dengan senyum sinisnya yang khas. "Presentasi Alana memang bagus secara teoretis. Tapi kita semua tahu, Alana ini masih magang dan dimentori langsung oleh Mas Devano. Saya hanya ingin memastikan, apakah ide-ide luar biasa ini murni dari Alana? Atau... apakah ada 'bantuan ekstra' yang sangat signifikan dari mentornya di luar jam kantor? Kita semua tahu mereka sangat dekat belakangan ini."
Pertanyaan itu bermuatan racun yang sangat jelas. Udara di ruangan itu mendadak mendingin. Beberapa direktur mulai saling berbisik.
Sebelum Mas Devano sempat membuka suara untuk membela gue, gue langsung mengambil alih mikrofon. Gue menatap Mbak Maya dengan tatapan tenang namun tajam.
"Terima kasih atas pertanyaannya, Mbak Maya," kata gue dengan nada suara yang sangat tenang. "Tentu saja saya mendapat bantuan dari Mas Devano selaku mentor saya. Tapi bantuan beliau murni berupa bimbingan, kritik objektif, dan koreksi data yang sangat ketat. Bahkan, kalau Mbak Maya mau memeriksa sejarah dokumen di Google Slides presentasi ini, seluruh revisi, desain, dan pembuatan strategi ini saya kerjakan sendiri dari laptop saya, sering kali hingga pukul dua pagi di meja kerja saya."
Gue menjeda sejenak, lalu beralih menatap Pak Baskara. "Jika ada keraguan mengenai keaslian ide saya, saya siap ditanya secara acak mengenai det**l teknis, algoritma media sosial yang saya gunakan dalam proyeksi ini, atau det**l pembagian anggaran yang ada di slide nomor lima belas sekarang juga."
Pak Baskara tertawa kecil melihat ketegasan gue. Dia melambaikan tangannya. "Nggak perlu, Alana. Saya bisa membedakan mana orang yang benar-benar menguasai materi dan mana yang cuma sekadar membaca teks. Kamu menguasai materi ini dengan sangat matang. Dan mengenai Devano..." Pak Baskara melirik ke arah Mas Devano yang sejak tadi diam dengan ekspresi bangga. "...saya rasa dia sudah melakukan tugasnya sebagai mentor dengan sangat baik tanpa melanggar batas profesionalisme apa pun. Prestasi kerja kalian berdua hari ini adalah buktinya."
Pak Baskara kemudian berdiri, yang langsung diikuti oleh seluruh jajaran direksi. "Proyek ini resmi disetujui. Dan untuk kamu, Alana... setelah masa magang kamu selesai bulan depan, saya pribadi ingin menawarkan posisi sebagai staf kontrak penuh di divisi kreatif Skyline Media. Bagaimana?"
Gue tertegun. Tawaran kerja langsung dari CEO? Ini bahkan jauh melampaui mimpi terliar gue.
"Saya... saya sangat terhormat, Pak. Dan saya dengan senang hati menerima tawaran itu," jawab gue dengan suara yang sedikit bergetar karena haru.
"Bagus. Selamat bekerja," kata Pak Baskara sambil menjabat tangan gue erat-erat.
Satu per satu direktur menyalami gue dan memberikan ucapan selamat sebelum meninggalkan ruangan rapat. Ketika ruangan mulai sepi, gue melirik ke arah Mbak Maya dan Mas Rian. Wajah mereka berdua tampak sangat pucat dan layu, seolah baru saja menelan buah pahit yang paling sepat di dunia. Mereka buru-buru keluar tanpa berani menatap mata gue lagi.
Gosip miring tentang gue dan Mas Devano seketika runtuh hari itu juga, hancur berkeping-keping oleh kenyataan bahwa gue berhasil memenangkan proyek terbesar musim ini dengan kemampuan otak gue sendiri.
Kini, di dalam ruang rapat yang luas itu, hanya tersisa gue dan Mas Devano.
Mas Devano berjalan mendekati gue. Dia melonggarkan dasinya sedikit, membiarkan senyum bangga dan penuh kelegaan merekah sepenuhnya di wajah tampannya.
"Gue bilang juga apa, kan?" bisik Mas Devano sambil menatap gue dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. "Lo itu hebat, Alana. Lo nggak butuh siapa-siapa buat buktiin kalau lo pantas ada di sini."
Gue tersenyum lebar, lalu tanpa peduli lagi dengan kamera CCTV di sudut ruangan, gue melangkah maju dan memeluk tubuhnya erat-erat. Mas Devano membalas pelukan gue dengan tidak kalah erat, menenggelamkan wajahnya di puncak kepala gue.
"Makasih ya, Mas. Makasih udah jadi mentor yang galak banget dua minggu ini," canda gue di balik dadanya yang bidang.
Mas Devano terkekeh pelan. Dia melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap bibir gue dengan tatapan yang sangat familiar—tatapan yang biasa gue lihat saat kami berada di bilik toilet nomor tiga.
"Sama-sama. Tapi sekarang... karena proyeknya udah selesai, gosipnya udah ilang, dan lo udah resmi dapet kerjaan di sini..." Mas Devano berbisik rendah tepat di dekat telinga gue, membuat bulu kuduk gue meremang indah. "...bisa kita kembali ke cara kita yang biasa buat merayakan kemenangan ini?"
Gue menggigit bibir bawah gue, merasakan sensasi mendebarkan yang sudah lama gue rindukan kembali merayapi tubuh gue. "Cara yang mana, Mas?" tanya gue pura-pura polos.
Mas Devano tersenyum nakal, sebuah senyuman yang membuat jantung gue langsung meleleh. "Pintu toilet lant** tiga kayaknya baru aja diperbaiki, Alana. Dan gue rasa... bilik nomor tiga masih jadi tempat favorit kita."
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!