Hari ini adalah hari terakhir gue di Skyline Media. Dan jujur, gue masih nggak percaya kalau semua drama yang menguras emosi dan air mata selama beberapa minggu terakhir ini akhirnya selesai dengan akhir yang sangat plot twist. Mirip banget sama akhir drama Korea romantis yang biasa gue tonton di kamar kosan sambil makan ramyun.
Presentasi proyek akhir magang kemarin bener-bener jadi titik balik yang luar biasa. Di depan Pak Baskara selaku pemilik Skyline Media dan seluruh jajaran direksi, gue habis-habisan memaparkan konsep kampanye digital yang udah gue rancang siang malam. Tentu saja, dibantu dengan bimbingan tanpa lelah dari Mas Devanoβeh, maksud gue Devano, mentor galak kesayangan gue yang sekarang statusnya sudah berubah.
Gosip-gosip miring tentang gue yang dapet nilai instan lewat jalur "belakang" langsung lenyap seketika waktu Pak Baskara sendiri yang berdiri paling pertama dan memberikan *standing ovation* setelah presentasi gue selesai. Nggak ada satu pun orang di ruangan itu yang bisa mengelak kalau konsep yang gue bawa bener-bener brilian. Gue membuktikan dengan telak kalau gue ada di posisi ini karena kemampuan gue, bukan karena belas kasihan siapa pun.
Hasilnya? Sempurna tanpa cela. Nilai evaluasi magang gue dapet A mutlak. Nilai seratus yang tertera di lembar penilaian dari divisi kreatif itu bener-bener terasa seperti piala Oscar buat gue.
Bukan cuma itu kejutannya. Tadi pagi, pihak HRD memanggil gue ke ruangan mereka di lant** lima. Bukan buat dimarahi atau diberi teguran, tapi buat disodori sebuah map cokelat tebal berlogo Skyline Media. Isinya adalah surat penawaran kerja tetap alias *offering letter*. Begitu gue lulus kuliah beberapa bulan lagi, kursi sebagai *Social Media Strategist* di kantor agensi periklanan ternama ini sudah resmi jadi milik gue tanpa perlu melewati proses seleksi yang super ketat lagi.
"Selamat ya, Lan. Dari awal gue emang udah yakin lo punya potensi besar. Jangan dengerin omongan sirik anak-anak divisi lain kemarin, ya. Mereka cuma iri aja," kata Mbak Siska, senior di kubikel sebelah gue, sambil menepuk pundak gue dengan ramah.
Gue cuma bisa tersenyum lebar sampai mata gue menyipit. "Makasih banyak ya, Mbak Siska. Makasih juga udah banyak bantu bimbing aku selama tiga bulan ini."
Meskipun hati gue lagi berbunga-bunga, ada satu hal yang dari pagi mengganjal di pikiran gue. Mata gue berulang kali melirik ke arah ruangan kaca di ujung lorong lant** tiga. Ruangan kerja Devano. Pintunya tertutup rapat, dan gordennya juga diturunkan setengah, menandakan si pemilik ruangan bener-bener lagi nggak mau diganggu.
Sejak pagi, cowok itu sibuk banget sama rapat direksi yang diadakan berturut-turut. Dia bahkan cuma sempat mengirim satu pesan singkat di WhatsApp tadi siang: *Congrats buat nilai sempurna dan offering letter-nya. Nanti sore kita ngobrol.*
Cuma itu. Singkat, padat, dingin, dan bikin gue agak kembung karena menahan rasa penasaran setengah mati. Masa iya di hari terakhir gue magang di sini, dia malah bersikap seformal dan sedingin ini? Apa dia mendadak mau jaga jarak lagi setelah semua masalah gosip kemarin mereda? Pikiran buruk itu sempat mampir di kepala gue, bikin senyum gue agak memudar.
Jam di dinding kantor akhirnya menunjukkan pukul lima sore. Teman-teman magang gue yang lain sudah pada pulang setelah sesi foto-foto perpisahan yang heboh dan penuh air mata di lobi tadi siang. Gue sengaja pulang paling terakhir karena harus membereskan sisa-sisa barang pribadi yang berserakan di meja kerja gueβbeberapa mug lucu bermotif kucing, catatan *sticky notes* warna-warni yang menempel di pembatas meja, dan kabel *charger* ponsel yang kusut.
Saat gue baru aja menyampirkan tas ransel di bahu dan bersiap melangkah ke arah lift, sebuah tangan dengan urat-urat yang kentara di punggung tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan gue. Pegangannya lembut, tapi sangat tegas, membuat langkah gue terhenti seketika.
Gue tersentak kaget, hampir aja menjerit kalau aroma parfum *woody* maskulin yang sangat familiar nggak langsung menyergap indra penciuman gue.
"Ikut gue sebentar," bisik suara berat nan rendah itu tepat di dekat telinga gue, mengirimkan sensasi menggelitik yang aneh di sepanjang tengkuk gue.
Gue menoleh cepat dan menemukan Devano sedang menatap gue dengan sepasang mata elangnya yang tajam namun terlihat lelah. Dia nggak pakai jas rapi seperti biasanya hari ini. Kemeja hitam polosnya dibiarkan terbuka dua kancing teratasnya, dan lengannya digulung kasar sampai ke siku, menampilkan lengan kokohnya yang selalu sukses membuat fokus gue buyar dalam waktu satu detik.
"Mas... eh, Dev? Mau ke mana? Ini kan jalan ke..." Kata-kata gue terputus saat menyadari dia malah menarik tangan gue menjauh dari area lift utama, berbelok ke arah koridor belakang lant** tiga yang terkenal sangat sepi.
Koridor ini adalah area mati. Di ujung lorong yang temaram ini hanya ada sebuah toilet yang jarang dilewati oleh karyawan karena letaknya yang agak menjorok ke dalam dan berdekatan dengan gudang penyimpanan berkas lama.
"Kita mau ke toilet lagi?" bisik gue setengah panik, setengah deg-degan parah. Jantung gue langsung melakukan maraton tanpa aba-aba. Memori tentang malam-malam "nakal" dan panas yang pernah kami lakukan di tempat ini langsung berputar otomatis di kepala gue seperti cuplikan film sensor yang sangat jelas.
Devano nggak menjawab. Dia terus menarik gue ma**k ke dalam toilet yang sore itu untungnya bener-bener kosong melongpong. Keheningan langsung menyambut kami, hanya menyisakan suara dengung pelan dari *exhaust fan* yang berputar di langit-langit ruangan.
Langkah kaki kami akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna abu-abu gelap. Di tengah pintu itu, ada angka kuningan kecil yang sudah agak memudar warnanya.
Bilik Nomor Tiga.
Gue menatap pintu itu lama, lalu perlahan beralih menatap Devano yang sekarang sudah melepaskan pegangannya di tangan gue. Dia menyandarkan punggungnya di pinggiran wastafel marmer, melipat kedua tangannya di depan dada, sambil menatap gue dengan senyum tipis yang kelihatan super s**** sekaligus misterius.
"Masih inget tempat ini, Alana?" tanya Devano, suaranya terdengar serak-serak basah yang khas, jenis suara yang selalu berhasil bikin lutut gue mendadak lemas.
Gue mendengus pelan, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rona merah yang pasti sudah menjalar di kedua pipi gue sekarang. "Ya kali gue lupa. Di sini kan tempat lo pertama kali menyudutkan gue gara-gara gue nggak sengaja menumpahkan es kopi susu ke dokumen penting proyek lo. Dan di sini juga..." Gue menggantung kalimat gue, nggak sanggup melanjutkannya karena terlalu malu membayangkan kelanjutan memori itu.
"Dan di sini juga gue pertama kali mencium lo," lanjut Devano tanpa beban sama sekali. Cowok itu malah kelihatan bangga banget, matanya berkilat jahil. "Di dalam bilik sempit yang pengap itu, sambil lo ketakutan setengah mati kalau ada orang luar yang ma**k dan denger suara kita."
"Devano, ih! Jangan dibahas lagi, dong! Malu tahu!" Gue reflex mencubit lengan berototnya pelan, yang cuma dibalas dengan tawa rendah yang terdengar sangat s**** di telinga gue.
Tawa Devano perlahan mereda. Tatapan matanya yang tadi penuh candaan kini berubah drastis menjadi luar biasa hangat, dalam, dan fokus sepenuhnya pada gue. Dia melangkah maju satu langkah besar, memangkas jarak di antara kami sampai gue bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuhnya.
Kedua tangannya bergerak naik dengan sangat lembut, menangkup pipi gue yang terasa hangat. Ibu jarinya yang kasar namun menenangkan mengusap kulit pipi gue dengan perlahan.
"Hari ini hari terakhir lo sebagai anak magang gue, Alana," ucapnya dengan suara lirih yang begitu tulus. "Artinya, mulai besok, gue bukan lagi mentor lo di kantor ini. Gue nggak punya hak lagi buat ngatur-ngatur lo, marahin lo kalau kerjaan lo telat, atau memberikan penilaian di atas kertas."
Gue menatap matanya yang berwarna cokelat gelap itu, mendadak merasa ada kepedihan kecil yang menyelinap di dada gue. "Terus? Hubungan kita juga selesai? Kita bakal balik jadi orang asing lagi kayak sebelum magang?" tanya gue lirih, hampir seperti bisikan putus asa.
Devano tersenyum sangat manis. Tipe senyuman tulus yang jarang bangetβbahkan hampir nggak pernahβdia tunjukkan ke orang lain di kantor. Senyuman yang selama ini hanya disimpan khusus buat gue.
"Nggak akan pernah, Alana," jawabnya dengan nada tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Gue sengaja bawa lo ke sini lagi. Tepat di depan Bilik Nomor Tiga ini."
"Kenapa harus di sini? Ini kan... tempat yang agak memalukan kalau diingat-ingat," tanya gue heran, sedikit mengernyitkan dahi.
"Karena di tempat ini semuanya dimulai," kata Devano, tatapannya begitu mengunci mata gue sampai rasanya gue mau meleleh ke lant** saat itu juga. "Dulu kita memulai hubungan ini dengan cara yang salah. Ada rahasia yang harus kita tutupi, ada ancaman konyol dari gue, ada rasa takut ketahuan yang bikin kita selalu waswas, dan ada status mentor-anak magang yang nahan kita buat bener-bener jujur sama perasaan masing-masing. Tapi sekarang..."
Devano menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan seolah sedang membuang seluruh beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya. Dia menurunkan tangannya dari pipi gue, lalu menggenggam kedua tangan gue dengan sangat erat, menyalurkan kehangatan yang membuat hati gue mendadak damai.
"Sekarang, semua batasan itu udah nggak ada lagi. Lo udah lulus magang dengan nilai sempurna atas usaha dan kerja keras lo sendiri. Nggak ada satu pun orang di Skyline Media yang bisa meremehkan atau ngegosipin lo lagi karena lo emang sehebat itu. Dan gue... gue berdiri di sini bukan sebagai mentor galak lo lagi."
Jantung gue rasanya mau copot dari tempatnya. Gue tahu persis arah pembicaraan ini, tapi tetap saja gue nggak bisa menahan debaran dada gue yang luar biasa kencang. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang mendadak beterbangan di dalam perut gue.
"Alana," panggil Devano, menatap lurus ke dalam mata gue dengan kesungguhan yang luar biasa. "Gue mau kita mulai semuanya dari awal. Tanpa rahasia lagi. Tanpa perlu sembunyi-sembunyi di bilik toilet sempit kalau kita mau ketemu atau sekadar bicara. Gue mau semua orang tahu kalau lo punya gue, dan gue punya lo."
Dia menjeda kalimatnya sebentar, menelan ludah, dan untuk pertama kalinya gue melihat seorang Devano yang biasanya selalu percaya diri dan penuh kendali, kini terlihat sangat gugup dan cemas.
"Mau nggak lo jadi pacar gue? Pacar resmi seorang Devano. Bukan sebagai rahasia, bukan sebagai hubungan terlarang di belakang kantor. Tapi pacar yang sesungguhnya."
Mendengar kata-kata itu keluar langsung dari bibirnya, rasanya ada kembang api raksasa yang meledak di dalam dada gue. Semua rasa lelah, stres karena revisi tugas yang menumpuk, dan ketakutan akan gosip jahat yang beredar selama beberapa bulan terakhir ini mendadak menguap tanpa sisa. Digantikan oleh rasa bahagia yang begitu membuncah sampai mata gue terasa sedikit berkaca-kaca.
Gue menatap pintu Bilik Nomor Tiga di belakang tubuh Devano, lalu kembali menatap wajah tampannya yang sekarang kelihatan sangat tegang menunggu jawaban dari mulut gue.
"Hmm... gimana ya?" Gue sengaja memasang wajah berpikir, menggigit bibir bawah gue untuk menjahilinya sedikit. "Tapi lo itu galak banget kalau lagi mode mentor. Suka bikin gue pengen nangis di kubikel."
"Gue janji nggak bakal galak lagi kalau jadi pacar," sahutnya dengan sangat cepat, ekspresi wajahnya kelihatan cemas yang malah membuat dia kelihatan menggemaskan di mata gue. "Gue bakal turutin apa aja kemauan lo. Makan siang bareng tiap hari, anter jemput lo kuliah sampai lo wisuda nanti, apa aja bakal gue lakuin."
Gue nggak bisa menahan tawa gue lagi mendengar kepanikannya. Sebuah senyuman lebar yang sangat bahagia akhirnya terukir di wajah gue. "Janji, ya? Nggak boleh galak-galak lagi?"
"Janji, Sayang," bisik Devano dengan nada suara yang begitu lembut dan penuh perasaan, membuat bulu kuduk gue meremang indah mendengar pangg***n "Sayang" pertamanya yang terasa begitu pas di telinga gue.
"Kalau gitu... iya. Gue mau jadi pacar lo, Dev," jawab gue dengan mantap dan penuh keyakinan.
Seketika itu juga, senyum lega yang amat sangat lebar terbit di wajah tampan Devano. Tanpa membuang waktu satu detik pun, dia langsung menarik tubuh gue ke dalam pelukannya. Dekapan hangat dan erat yang langsung membuat gue merasa sangat aman. Gue membenamkan wajah gue di dada bidangnya yang kokoh, menghirup dalam-dalam aroma parfumnya yang selalu sukses menenangkan jiwa gue. Kami berpelukan c**up lama di depan Bilik Nomor Tiga yang kini nggak lagi terasa sebagai tempat yang memalukan atau kotor, melainkan tempat paling bersejarah yang menjadi saksi awal mula cinta kami yang sebenarnya.
Devano merenggangkan pelukannya sedikit, lalu kembali menangkup wajah gue dengan kedua tangannya. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya. Gue memejamkan mata dengan sukarela saat merasakan sapuan lembut dan hangat dari bibirnya di atas bibir gue.
Ciuman kali ini rasanya sangat berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Nggak ada lagi ketergesaan yang didorong rasa takut ketahuan orang lain, nggak ada lagi rasa bersalah yang membayangi pikiran kami. Ciuman kali ini begitu manis, penuh dengan luapan perasaan cinta yang tulus, lambat, dan seolah menegaskan bahwa kami akhirnya berhasil melewati badai itu bersama-sama.
Saat tautan bibir kami akhirnya terlepas dengan perlahan, kami berdua sama-sama tersengal-sengal dengan dahi yang saling menempel erat. Devano terkekeh pelan, mengusap sisa basah di bibir gue menggunakan ibu jarinya yang hangat dengan tatapan yang sangat memuja.
"Jadi, sekarang kita resmi keluar dari status rahasia di Bilik Nomor Tiga ini?" bisik Devano dengan nada menggoda, matanya mengerling jenaka ke arah pintu kayu di samping kami.
Gue tersenyum manis, lalu menggenggam tangannya dengan erat, menautkan jari-jemari kami yang terasa begitu pas dan saling melengkapi satu sama lain.
"Iya. Hari ini kita keluar dari bilik ini, dan kita jalanin hubungan kita di tempat yang terang. Di depan semua orang, tanpa ada yang perlu kita takuti lagi," jawab gue dengan mantap.
Devano mengecup kening gue sekali lagi dengan sangat lama dan penuh sayang, sebelum akhirnya kami berdua berbalik dan melangkah keluar dari koridor toilet lant** tiga itu bersama-sama. Kami berjalan berdampingan dengan tangan yang saling menggenggam erat, siap menyongsong masa depan baru yang kini nggak perlu kami sembunyikan lagi dari dunia.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!