"Revisi."
Satu kata, enam huruf, tapi efeknya jauh lebih mematikan daripada bom atom buat kesehatan mental gue.
Gue menatap cowok di depan gue dengan mata mengerjap lambat, berusaha menahan kedutan di kelopak mata kiri gue yang udah mulai tremor. Di balik meja kerjanya yang rapi nan minimalis estetik, Devanoβsi *Senior Creative Director* yang dijuluki monster berwajah malaikatβbahkan nggak repot-repot mendongak dari layar MacBook-nya yang super mahal.
"Mas Dev, tapi ini udah revisi kelima," cicit gue, berusaha menjaga nada suara gue tetap sopan meskipun dalam hati gue udah menyusun rencana pembunuhan berencana menggunakan kabel *charger* iPhone. "Dan konsep yang ini udah sesuai sama *brief* awal yang Mas Devano kasih kemarin sore."
Devano menghela napas panjang. Dia akhirnya mendongak, menatap gue dengan sepasang mata tajam di balik kacamata berbingkai hitam tipisnya. "Alana," suaranya terdengar sangat tenang, tapi justru ketenangan itu yang bikin bulu kuduk gue merinding. "Gue minta konsep *fresh*, modern, dan *out of the box*. Bukan draf desain yang kelihatan kayak bikinan anak magang SMP yang baru belajar pakai Canva gratisan. Lo paham bedanya?"
*Jleb.*
Nyelekit banget, aseli. Dada gue langsung berasa sesak kayak dihantam palu godam. Rasa percaya diri gue yang setinggi langit di hari pertama kemarin, mendadak kempes tanpa sisa.
"Gue kasih waktu sampai jam lima sore nanti," lanjut Devano, melirik jam tangan Rolex-nya dengan dingin. "Kalau draf keenam masih se-membosankan ini, mending lo cari agensi lain buat lanjutin magang lo. *Get it?*"
Gue mengepalkan tangan di balik saku kulot putih gue. "Baik, Mas Dev. Permisi."
Begitu keluar dari ruangan Devano, gue rasanya mau pingsan. Kepala gue berdenyut-denyut parah, rasanya mau pecah. Seluruh sel di otak gue seperti korsleting massal. Tingkat stres gue udah mencapai puncaknya. Gue butuh pelarian. Sekarang juga. Detik ini juga.
Gue nggak mungkin nangis di kubikel gue yang bersebelahan dengan Sasha, bisa-bisa gue dicap anak manja yang nggak kuat mental. Gue juga nggak mungkin lari ke kantin karena area itu selalu ramai.
Tiba-tiba, gue teringat bisik-bisik dari anak magang sebelah kemarin siang. *βKalau lo butuh waktu buat nangis atau sekadar bengong, pergi ke toilet lant** tiga. Di sana super sepi karena lant**nya cuma dipakai buat gudang arsip lama dan ruang server.β*
Tanpa pikir panjang, gue langsung melangkah cepat menuju lift, menekan tombol angka tiga dengan brutal.
Begitu pintu lift terbuka di lant** tiga, hawa sunyi langsung menyergap gue. Lorongnya agak remang-remang, jauh dari kesan modern dan sibuk seperti lant** lima belas. Langkah kaki gue bergema di koridor yang sepi saat gue berjalan mencari papan petunjuk toilet.
Gue mendorong pintu toilet kaca buram yang tebal. Begitu ma**k, aroma lavender yang menenangkan langsung menyapa indra penciuman gue. Tempat ini bersih banget, mewah, dan yang paling penting: kosong melompong. Nggak ada suara bising obrolan gosip karyawan, nggak ada suara keran air yang menyala. Benar-benar sunyi seperti kuburan ber-AC.
Ada empat bilik toilet yang berjejer rapi di sana. Entah kenapa, mata gue langsung tertuju pada pintu bilik paling ujung.
Bilik Nomor Tiga.
Gue melangkah ma**k, lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Gue menurunkan penutup kloset duduk, lalu duduk di atasnya sambil memeluk lutut. Air mata gue setitik demi setitik mulai jatuh. Stres, capek, kesal, marah, semuanya bercampur jadi satu.
Gue memejamkan mata, mencoba mengatur napas yang memburu. Napas gue terasa panas. Efek tertekan dan stres berat ini anehnya malah bikin tubuh gue terasa gerah secara tidak wajar. Jantung gue masih berdegup kencang, menyebarkan sensasi mendebarkan yang aneh ke seluruh tubuh gue.
Tiba-tiba, sebuah dorongan impulsif yang sangat liar muncul di kepala gue.
Gue butuh pelepasan. Bukan sekadar nangis. Gue butuh dopamin instan untuk meredakan saraf-saraf otak gue yang tegang.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa takut dan penasaran yang membuncah, gue menyentuh kancing blazer *sage green* gue, membukanya perlahan, membiarkan udara dingin AC toilet menyentuh kulit leher dan dada atas gue yang terasa panas membara.
*G***. Gue beneran mau ngelakuin ini di sini?* batin gue menjerit, ketakutan sekaligus tertantang.
Namun, rasa frustrasi yang menumpuk selama berhari-hari mengalahkan akal sehat gue. Toko obat paling ampuh untuk stres saat ini adalah tubuh gue sendiri.
Gue meraba bagian bawah tubuh gue, menyelipkan jari-jari gue di balik celana dalam berenda yang gue pakai. Sentuhan pertama yang dingin langsung membuat gue tersentak kecil, memicu sensasi geli yang merambat cepat ke sumsum tulang belakang. Gue menggigit bibir bawah gue kuat-kuat, bertekad untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.
"Ah..." desah gue tertahan, sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin.
Gue memejamkan mata erat-erat, mulai menggerakkan jari-jari gue dengan ritme yang perlahan tapi pasti. Bayangan wajah dingin Devano yang menyebalkan tiba-tiba melintas di kepala gue. Anehnya, alih-alih membuat gue ilfeel, bayangan dominasi cowok itu justru membuat adrenalin gue terpacu dua kali lipat. Pikiran gue melantur ke mana-mana, membayangkan bagaimana jadinya jika cowok sekaku Devano kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Ritme jari gue semakin cepat. Sensasi panas yang menyenangkan mulai menjalar di area sensitif gue. Napas gue semakin pendek-pendek dan memburu. Keringat dingin mulai tampak di dahi gue. Gue terus bergerak, mencari pelepasan instan yang sangat gue butuhkan demi kewarasan gue.
*Dikit lagi... plis...* batin gue memohon dalam hati.
Di tengah kepungan sensasi nikmat yang mulai memuncak, indra pendengaran gue yang mendadak super sensitif menangkap sebuah suara sayup-sayup dari luar.
*Cklek.*
Pintu utama toilet lant** tiga terbuka.
Jantung gue rasanya mau copot. Gerakan jari gue langsung terhenti seketika. Tubuh gue menegang kaku, keringat dingin yang mengalir kini murni karena rasa panik yang luar biasa.
Gue menahan napas sedalam-dalamnya, bahkan tidak berani mengembuskan napas saking takutnya ketahuan.
Langkah kaki terdengar berat dan mantap. Itu bukan langkah kaki cewek yang memakai *high heels* atau *flat shoes*. Itu adalah suara pantofel kulit pria yang mengetuk lant** marmer dengan ritme yang sant** tapi tegas.
*Tunggu. Ini toilet cewek atau toilet umum sih?!* pekik gue dalam hati, merutuki kebodohan gue yang tidak melihat papan petunjuk dengan jelas di depan pintu tadi karena terlalu panik.
Langkah kaki itu semakin mendekat, lalu berhenti tepat di depan... Bilik Nomor Dua. Bilik persis di sebelah gue.
Pintu bilik sebelah terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi klik halus saat dikunci.
Gue masih membeku di atas kloset, tangan gue bahkan masih berada di balik celana dalam gue yang sekarang sudah terasa lembap. Jantung gue berdegup begitu keras sampai-sampai gue takut orang di bilik sebelah bisa mendengarnya.
Hening sejenak.
Lalu, terdengar suara helaan napas berat dari bilik sebelah. Suara helaan napas yang sangat, sangat familiar di telinga gue. Suara bariton yang berat, dalam, dan selalu sukses membuat gue merinding ketakutan setiap kali dia mulai mengkritik pekerjaan gue.
*Nggak mungkin.*
Gue membekap mulut gue sendiri dengan kedua tangan. Mata gue membelalak lebar, menatap dinding pembatas bilik dengan horor.
*Devano.*
Itu suara Devano! Bos monster gue sendiri ada di bilik sebelah!
Kepanikan gue naik ke level maksimal. Bagaimana kalau dia mendengar suara napas gue yang memburu tadi? Bagaimana kalau dia tahu ada orang di Bilik Nomor Tiga?
Gue berusaha bergerak selembut mungkin untuk menarik tangan gue keluar dari dalam celana, membetulkan pakaian gue yang berantakan dengan gerakan super lambat agar tidak menimbulkan suara gesekan kain sekecil apa pun.
Namun, karena gerakan gue yang terburu-buru dan gemetaran, siku gue tanpa sengaja menyenggol tas kerja yang gue letakkan di atas tangki air kloset.
*Praaakk!*
Tas gue bergoyang, dan meskipun gue berhasil menangkapnya sebelum jatuh ke lant**, gantungan kunci logam di tas gue sempat menghantam dinding partisi bilik dengan c**up keras.
Bunyi nyaring itu menggema di dalam toilet yang sunyi.
Gue langsung memejamkan mata, merutuki kebodohan gue setengah mati. Seluruh tubuh gue mendadak dingin bagai es.
Dari bilik sebelah, keheningan total kembali tercipta. Namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara dehaman pelan yang terdengar sangat dingin dan penuh selidik.
"Siapa di sebelah?" tanya suara berat Devano dari balik dinding pembatas.
Gue tidak menjawab. Gue bahkan tidak berani bernapas. Air mata panik gue rasanya mau keluar lagi.
Mendengar tidak ada jawaban, terdengar suara gerak-gerik dari bilik sebelah, disusul suara kunci pintu yang diputar. Devano tampaknya memutuskan untuk keluar dari biliknya untuk memeriksa.
Menyadari situasi yang super darurat ini, insting bertahan hidup gue langsung mengambil alih. Dengan gerakan secepat kilat yang didorong oleh rasa panik luar biasa, gue meraih tas gue, membuka kunci pintu Bilik Nomor Tiga selembut mungkin, lalu langsung menghambur keluar dari bilik sebelum Devano sempat membuka pintu biliknya sepenuhnya.
Gue berlari setengah berjinjit menuju pintu keluar toilet, mendorong pintu kaca tebal itu, dan langsung melesat menuju tangga darurat, mengabaikan lift karena takut berpapasan dengannya. Gue berlari menuruni anak tangga satu per satu dengan jantung yang berdetak seperti genderang perang.
Di dalam toilet lant** tiga yang kembali sunyi, Devano melangkah keluar dari Bilik Nomor Dua. Sepasang matanya yang tajam menatap ke sekeliling toilet yang sudah kosong melompong, menyisakan keheningan dan aroma parfum vanila lembut yang sangat familiar di hidungnya.
Pandangan Devano kemudian turun ke lant** marmer abu-abu di depan wastafel, tepat beberapa langkah dari pintu Bilik Nomor Tiga.
Di sana, tergeletak sebuah benda kecil yang tampak kontras dengan lant** toilet yang bersih.
Devano melangkah mendekat, lalu membungkuk untuk memungut benda tersebut. Di telapak tangan lebarnya, kini bertengger sebuah gantungan kunci berbahan silikon berbentuk buah stroberi merah yang lucu dengan daun hijau kecil di atasnya.
Devano menatap gantungan kunci itu dengan dahi berkerut. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang sarat akan arti, saat memori visualnya mengingat dengan jelas benda yang sama persis selalu menggantung manis di ritsleting tas ransel kulit milik anak magang barunya yang paling merepotkan.
"Alana..." gumam Devano pelan, menyebut nama itu dengan nada suara yang terdengar begitu berbahaya di dalam toilet yang sunyi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!