Rahasia Nakal di Bilik Nomor Tiga

Bab 3: Stroberi Pembawa Petaka

Pengaturan Membaca

**Bab 3: Stroberi Pembawa Petaka**

Gue nggak tahu harus pura-pura mati atau beneran mati aja sekalian pagi ini.

Sepanjang malam, gue nggak bisa tidur nyenyak. Mata gue melek sampai jam tiga subuh, menatap langit-langit kamar kost dengan pikiran yang traveling kemana-mana. Setiap kali gue memejamkan mata, memori memalukan kemarin siang langsung berputar otomatis di otak gue kayak video TikTok yang di-*loop* tanpa henti.

Gue, Alana, mahasiswi semester akhir yang manis dan (biasanya) sopan, kemarin siang nangis bombay sambil mencak-mencak di toilet lant** tiga. Dan yang paling parah, gue menyumpahi Devano—bos sekaligus mentor magang gue yang super duper menyebalkan itu—dengan segala kebun binatang dan sumpah serapah yang bisa dipikirkan oleh otak gue yang lagi korsleting.

Tapi, penderitaan gue nggak berhenti sampai di situ.

Tadi pagi, pas gue lagi panik mencari kunci kosan di dalam tas, gue baru sadar kalau gantungan kunci stroberi rajutan kesayangan gue hilang. Gantungan kunci rajutan warna merah menyala dengan daun hijau kecil di atasnya itu adalah barang yang selalu nempel di ritsleting tas ransel gue. Gue ingat banget, kemarin siang benda itu masih ada waktu gue lari ke toilet lant** tiga.

"Mampus gue," gumam gue pelan, menatap pantulan diri gue di cermin wastafel kantor pagi ini.

Muka gue bener-bener kayak zombi di film *All of Us Are Dead*. Kantung mata hitam menyala, kulit pucat, dan rambut yang cuma gue cepol asal-asalan pake jedai. Sumpah, tingkat kepercayaan diri gue hari ini berada di titik minus sepuluh.

"Al, lo kenapa sih? Muka lo lecek banget kayak cucian belum disetrika seminggu," tegur Sasha, teman sesama anak magang, begitu gue duduk di kubikel kerja gue.

Gue menghela napas berat, lalu menyandarkan jidat gue ke permukaan meja kayu yang dingin. "Sha, kalau gue tiba-tiba menghilang dari bumi ini, tolong bilang ke nyokap gue kalau gue sayang banget sama dia, ya."

Sasha tertawa kencang, mengira gue cuma lagi bercanda. "Sakit jiwa lo! Pasti gara-gara revisi dari Mas Devano kemarin, kan? Tenang, Al. Hari ini pawang kita itu kayaknya lagi agak sant** kok. Dari pagi dia belum ngamuk-ngamuk."

"Bukan itu masalahnya, Sha..." bisik gue lirih. Masalahnya jauh lebih besar daripada sekadar revisi draf desain keenam. Masalahnya adalah harga diri gue yang terancam hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba, laptop di depan gue berbunyi. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari aplikasi Slack internal kantor muncul di pojok kanan layar.

**Devano Adiputra:**

*Alana, ke ruangan gue sekarang. Bawa draf revisi lo yang kemarin.*

Jantung gue langsung berdisko dengan tempo paling cepat. Dada gue mendadak sesak, persis kayak orang yang lupa cara bernapas. Gue menelan ludah dengan susah payah.

"Mati gue," cicit gue.

"Eh, dicariin tuh sama si ganteng tapi sadis," bisik Sasha sambil menyenggol lengan gue. "Semangat, Al! Jangan nangis lagi!"

*Nangis?* Gue bahkan nggak tahu apa gue masih punya air mata buat ditumpahin sekarang. Dengan langkah kaki yang terasa seberat masing-masing sepuluh ton, gue berdiri dari kursi. Gue mengambil iPad gue yang berisi draf revisi terbaru—yang gue kerjain setengah sadar semalam—lalu berjalan menuju ruangan privat Devano yang ada di sudut lant** lima belas ini.

Setiap langkah gue menuju ruangan itu rasanya kayak berjalan di atas karpet merah menuju tiang gantungan. Begitu sampai di depan pintu kaca buram dengan papan nama logam bertuliskan *Senior Creative Director*, gue menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali.

*Tok! Tok!*

"Ma**k," sahut suara bariton dari dalam. Dingin, tegas, dan sangat familier.

Gue mendorong pintu itu perlahan. Hawa dingin dari AC sentral langsung menusuk kulit gue yang sudah telanjur merinding. Di balik meja kerjanya yang rapi nan minimalis estetik, Devano tengah duduk dengan posisi sant**. Dia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku, menampilkan jam tangan Rolex peraknya yang berkilau mewah. Kacamata berbingkai hitam tipis bertengger di hidung mancungnya. Dia kelihatan... kelewat ganteng untuk ukuran cowok yang punya sifat kayak dajjal.

"Siang, Mas Devano. Ini draf revisi keenam yang—"

"Tutup pintunya, Alana," potong Devano tanpa mendongak dari layar monitornya.

Gue tertegun sejenak. "Hah? Oh, iya, Mas."

Gue berbalik dan menutup pintu kaca itu rapat-rapat. Seketika, keheningan di dalam ruangan itu terasa berlipat ganda. Hanya ada suara dengung halus AC dan detak jantung gue yang makin mengg***.

"Duduk," perintahnya lagi.

Gue duduk di kursi kulit di hadapannya, merapatkan kedua lutut gue, dan memeluk iPad gue erat-erat di depan dada. Mirip kayak tameng pelindung dari serangan verbal yang mungkin akan segera diluncurkan oleh cowok di depan gue ini.

Devano meletakkan pulpen montblanc-nya ke atas meja. Dia akhirnya mendongak, menatap gue langsung ke manik mata. Tatapannya itu... tipikal Devano. Tajam, menyelidik, dan seolah-olah bisa membaca semua dosa-dosa yang pernah gue lakuin seumur hidup.

"Gimana tidur lo semalam? Nyenyak?" tanya Devano dengan nada suara yang kelewat ramah. Dan itu justru bikin alarm bahaya di otak gue berbunyi super nyaring. Nggak biasanya seorang Devano berbasa-basi nanyain kualitas tidur anak magangnya.

"E-eh... lumayan nyenyak, Mas," dusta gue, berusaha tersenyum sekaku mungkin.

"Oh, ya? Bagus deh," Devano mengangguk-angguk kecil. Dia membuka laci meja kerjanya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat dramatis. "Soalnya, kemarin siang gue denger ada yang tidurnya—maksud gue, harinya—nggak begitu tenang."

Tangan Devano bergerak di atas meja kayu hitamnya. Dan di sanalah benda itu berada.

*Clack.*

Sebuah gantungan kunci stroberi rajutan warna merah terang diletakkan dengan sant** di tengah meja. Kondisinya sedikit kotor di bagian daun hijaunya, tapi gue kenal banget sama bentuk rajutan yang agak miring di bagian bawahnya itu.

Napas gue langsung tercekat di tenggorokan. Mata gue melebar menatap mainan rajutan kecil itu.

"Punya lo?" tanya Devano, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap gue dengan seringai tipis yang nyaris nggak kelihatan.

Gue mati kutu. Sumpah, rasanya saat itu juga gue pengen punya kekuatan gaib buat menghilang atau langsung tenggelam ke dasar bumi yang paling dalam.

"M-Mas... itu..." lidah gue mendadak kelu. Suara gue cuma keluar berupa cicitan lemah kayak anak tikus kejepit pintu.

"Gue nemuin ini kemarin siang. Di lant** toilet lant** tiga. Tepat di depan bilik nomor tiga," lanjut Devano. Nada suaranya sant** banget, kayak lagi mendiskusikan cuaca hari ini, tapi tatapan matanya mengunci gue sepenuhnya. "Gue tadinya mau langsung balikin. Tapi, gue pikir... pemiliknya pasti lagi sibuk banget kemarin."

"Sibuk apa, Mas?" tanya gue polos, yang langsung gue sesali sedetik kemudian karena itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah gue tanyakan seumur hidup.

Devano menaikkan satu alisnya. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada. "Sibuk teriak-teriak di dalam bilik toilet, misalnya? Atau sibuk ngat**n mentor magangnya sendiri dengan sebutan... apa ya kemarin? Ah, iya. 'Monster kulkas sepuluh pintu yang nggak punya hati nurani'. Oh, dan ada satu lagi yang c**up kreatif... 'Semoga laptopnya kema**kan virus dan dia kena diare seminggu'."

*JEDARRRR!*

Gue bersumpah gue mendengar suara petir khayalan menyambar tepat di atas kepala gue. Seluruh darah di tubuh gue rasanya langsung naik ke wajah. Muka gue panas banget, merah padam kayak udang rebus yang baru diangkat dari wajan.

Ternyata... orang yang ada di toilet lant** tiga kemarin siang, orang yang denger semua teriakan histeris gue, orang yang denger semua sumpah serapah kotor gue... adalah Devano!

"M-Mas Dev... saya... itu..." Gue megap-megap kayak ikan koki kekurangan oksigen. Tangan gue yang memegang iPad mulai gemetaran parah. "Saya nggak bermaksud... saya cuma stres banget kemarin..."

"Stres?" Devano memotong kalimat gue dengan tawa kecil yang terdengar sangat dingin di telinga gue. "Stres sampai harus merusak fasilitas kantor dengan nendang-nendang pintu toilet bilik nomor tiga? Lo tahu nggak, Alana, tindakan lo itu nggak cuma kekanak-kanakan, tapi juga sangat tidak sopan."

Dia memajukan tubuhnya, menatap gue dengan intensitas yang bikin gue makin ciut. "Gue bisa aja langsung bawa ka**s ini ke HRD hari ini juga. Tindakan *verbal abuse* terhadap atasan, perusakan fasilitas kantor, ditambah lagi sikap yang sangat tidak profesional. Lo tahu apa konsekuensinya buat anak magang kayak lo?"

Gue menelan ludah dengan susah payah. Air mata yang dari tadi gue tahan rasanya mau tumpah karena panik luar biasa. "Surat rekomendasi magang saya... bisa dibatalkan?" tanya gue dengan suara bergetar.

"Tepat sekali," sahut Devano cerdas. "Gue tinggal bikin satu laporan tertulis ke HRD, dan masa magang lo di agensi ini selesai detik ini juga. Lo nggak akan dapat nilai, lo harus mengulang mata kuliah magang semester depan, dan nama lo bakal di-*blacklist* dari seluruh jaringan agensi kreatif di bawah naungan grup kami. *Simple*, kan?"

Mendengar ancaman itu, rasanya seluruh dunia gue runtuh seketika. Air mata yang dari tadi gue tahan akhirnya lolos juga, membasahi pipi gue. Sumpah, gue menyesal setengah mati. Kenapa juga kemarin gue harus sekreatif itu menyumpahi dia keras-keras di toilet? Kenapa gue nggak nangis dalam diam aja kayak orang normal pada umumnya?

"Mas Devano, tolong jangan laporin saya ke HRD," mohon gue dengan suara serak, menyatukan kedua telapak tangan gue di depan dada. "Saya bener-bener minta maaf. Saya khilaf. Kemarin saya bener-bener pusing sama revisinya, tapi saya tahu itu bukan alasan buat bersikap nggak sopan sama Mas Devano. Tolong kasih saya kesempatan satu kali lagi, Mas. Saya janji nggak akan kayak gitu lagi. Saya bakal kerjain revisinya sampai bener, saya bakal nurut semua kata Mas Dev..."

Gue terus meracau, memohon belas kasihan dari cowok yang selama ini dijuluki monster tanpa belas kasihan. Gue pasrah kalau dia mau ngasih gue tugas lembur sebulan penuh, atau menyuruh gue bikin kopi buat dia setiap pagi, asal nama baik gue nggak hancur di mata HRD.

Devano menatap gue yang lagi nangis sesenggukan tanpa ekspresi. Dia meraih gantungan kunci stroberi itu, lalu memainkannya di sela-sela jarinya yang panjang dan lentik.

"Nurut semua kata gue, ya?" gumam Devano pelan, seolah-olah dia lagi menimbang-nimbang sebuah tawaran yang sangat menarik.

Gue mengangguk dengan cepat, menghapus air mata di pipi gue dengan punggung tangan. "Iya, Mas. Apa aja. Asal jangan lapor ke HRD. Tolong, Mas."

Sebuah senyuman tipis—yang kali ini kelihatan lebih misterius dan berbahaya—muncul di sudut bibir Devano. Dia mema**kkan kembali gantungan kunci stroberi milik gue ke dalam saku kemeja hitamnya, alih-alih mengembalikannya ke gue.

"Oke," kata Devano, mengetukkan jarinya ke meja kerja. "Gue pegang janji lo, Alana. Gantungan kunci stroberi ini... bakal gue simpan dulu sebagai jaminan. Dan buat hukuman pertama lo..."

Devano menjeda kalimatnya, menatap draf draf di layar iPad gue dengan pandangan menilai yang dingin. "Bawa draf revisi lo ke ruangan gue nanti malam jam delapan. Kita bakal lembur berdua di sini sampai gue bener-bener puas sama hasilnya. Dan oh, satu lagi..."

Dia menatap gue dengan seringai jail yang bikin bulu kuduk gue merinding disko. "...panggil gue 'Mas Devano yang ganteng' setiap kali lo mau konsultasi draf desain lo ke gue. Paham?"

Gue melongo seketika. Hah? Sumpah, cowok ini bener-bener sakit jiwa!

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca