**Bab 4: Asisten Pribadi Dadakan**
Dengan sisa-sisa keberanian yang nggak seberapa, gue melangkah mendekati pintu ruangan Devano. Pintu kayu jati solid dengan plakat nama "Devano Adiputra β Senior Graphic Designer & Mentor" itu mendadak kelihatan kayak gerbang menuju akhirat di mata gue.
Gue menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mengetuk pintu itu tiga kali. Tok, tok, tok.
"Ma**k," terdengar suara berat dari dalam. Suara yang kemarin siang sukses bikin gue nangis bombay di bilik toilet nomor tiga.
Gue memutar kenop pintu dengan tangan yang gemetaran parah. Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari AC sentral langsung menusuk kulit gue. Devano lagi duduk sant** di kursi kerjanya yang ergonomis, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta.
Cowok itu nggak langsung menoleh ke gue. Dia sibuk memutar-mutar sebuah benda di jemari tangannya yang lentik.
Dan begitu mata gue menangkap benda apa yang lagi dia putar, jantung gue rasanya copot dan gelinding sampai ke lant** dasar gedung ini.
Itu gantungan kunci stroberi rajutan gue!
*Mampus. Tamat riwayat gue.*
"Duduk, Alana," kata Devano, akhirnya menoleh dan menatap gue dengan senyum tipis yang... jujur, kelihatan licik banget. Dia meletakkan gantungan kunci stroberi itu tepat di tengah meja kerjanya, seolah-olah benda itu adalah barang bukti kejahatan kelas berat.
Gue menyeret langkah kaki gue dengan lemas, lalu duduk di kursi kosong di hadapannya. Gue menunduk, nggak berani menatap matanya yang tajam kayak elang.
"Punya kamu?" tanya Devano sant**, sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke gantungan kunci stroberi itu.
"I-iya, Mas," cicit gue pelan banget, mirip suara anak kucing kejepit pintu.
"Kemarin siang jatuh di toilet lant** tiga. Di depan bilik nomor tiga, lebih tepatnya," lanjut Devano. Nada suaranya kedengaran tenang, tapi justru ketenangan itu yang bikin gue makin merinding disko. "Kamu tahu kan, Al? Toilet lant** tiga itu ventilasinya tersambung langsung ke lorong luar. Suara di dalam... bisa kedengaran c**up jelas kalau ada orang yang lagi berdiri di depan wastafel."
Gue memejamkan mata erat-araf. Pengen rasanya gue ng***ng saat ini juga pake kantong ajaib Doraemon.
"Mas, saya..." Gue mencoba membela diri, tapi tenggorokan gue mendadak kering kayak gurun Sahara. "Saya minta maaf banget. Kemarin saya bener-bener emosi, stres gara-gara draf revisi keenam, terus saya..."
"Terus kamu menyumpahi saya?" potong Devano cepat. Dia mencondongkan badannya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja. "Apa aja kemarin istilahnya? 'I**** berkedok mentor'? 'Cowok perfeksionis kurang belaian'? Terus... yang paling parah, kamu nyumpahin saya mandul?"
Gue menelan ludah dengan susah payah. Muka gue pasti udah merah padam kayak kepiting rebus karena malu setengah mati. "Sumpah, Mas, saya khilaf! Mulut saya emang kadang suka korsleting kalau lagi panik. Tolong jangan laporin saya ke HRD..."
Pikiran gue langsung traveling ke mana-mana. Kalau Devano melaporkan gue ke HRD atas tuduhan pencemaran nama baik atau perilaku tidak profesional, magang gue bisa gagal. Kalau magang gue gagal, gue nggak bisa lulus semester ini. Dan kalau gue nggak lulus, nyokap di kampung halaman pasti bakal mencoret nama gue dari Kartu Keluarga.
"Lapor ke HRD?" Devano mengetuk dagunya, pura-pura berpikir. "Hmm, sebenarnya itu opsi pertama saya sih. Lagian, bukti-buktinya lengkap. Ada rekaman suara kamu yang saya rekam pakai HP dari luar toilet, plus barang bukti stroberi ini."
Gue membelalakkan mata. *G***, ini cowok dendam kesumat banget sampai ngerekam segala!*
"Tapi..." Devano menjeda kalimatnya, membuat gue menahan napas. "Lapor ke HRD itu ribet. Saya harus bikin kronologi tertulis, bolak-balik dipanggil buat klarifikasi, buang-buang waktu saya yang berharga. Jadi, saya punya penawaran lain."
Gue langsung menegakkan punggung. "Penawaran apa, Mas?"
Devano tersenyum lebar. Dan untuk pertama kalinya, gue melihat sisi lain dari mentor gue yang biasanya super dingin dan jaim ini. Senyumnya itu... licik, menyebalkan, tapi sekaligus bikin dia kelihatan sepuluh kali lipat lebih ganteng. Ah, lupakan pikiran terakhir gue! Fokus, Alana!
"Kesepakatan damai," kata Devano pelan. "Sebagai ganti karena saya nggak akan melaporkan kamu ke HRD dan mengembalikan gantungan kunci stroberi kesayangan kamu ini, kamu harus jadi asisten pribadi saya. Selama sisa masa magang kamu."
Gue melongo. "Hah? Asisten pribadi?"
"Iya. *Personal assistant*," ulang Devano dengan penekanan di setiap katanya. "Tugas kamu adalah melayani semua kebutuhan saya selama di kantor. Dari urusan kerjaan, sampai urusan privat saya yang nggak berhubungan sama desain."
"Tapi, Mas! Saya kan magang di sini sebagai *graphic designer*, bukan OB atau sekreβ"
"Mau draf desain kamu saya *approve* tanpa banyak revisi, atau mau saya kirim rekaman suara ini ke grup WhatsApp divisi HRD sekarang juga?" ancam Devano sambil mengangkat ponselnya yang bermerek Apple itu dengan sant**.
Gue mengepalkan tangan di bawah meja. Si****. Ini namanya pemerasan! Ini namanya penindasan terhadap hak asasi anak magang yang lemah dan tidak berdaya!
Tapi, pilihan apa yang gue punya? Nggak ada. Nol besar.
"Oke," jawab gue akhirnya dengan helaan napas pasrah yang sangat berat. "Saya setuju."
"Bagus. Keputusan yang pintar," ujar Devano puas. Dia mema**kkan kembali ponselnya ke dalam saku kemeja. "Karena kesepakatan kita udah sah secara verbal, kita mulai dari tugas pertama kamu hari ini."
"Apa, Mas?" tanya gue, mencoba terdengar seprofesional mungkin meski dalam hati udah pengen ngelempar vas bunga di pojokan ruangan ini ke mukanya.
Devano bersandar di kursinya, melipat kedua tangannya di dada. "Saya haus. Belikan saya kopi di kafe *Brew & Co* di seberang jalan."
"Oke, gampang. Mas mau kopi apa? Nanti saya pesenin lewat ojol aja ya biar cepetβ"
"Nggak boleh pakai ojol," potong Devano cepat. "Kamu harus jalan kaki ke sana dan beli sendiri. Catat takarannya, karena saya nggak suka kopi yang nggak pas. Saya mau *Iced Americano*, tapi es batunya tepat lima biji. Jangan kurang, jangan lebih. Dan gulanya... setengah sendok teh aja. Oh, satu lagi, minta barista-nya pakai gelas kertas, jangan gelas plastik. Saya ramah lingkungan."
Gue melongo lagi untuk kesekian kalinya hari ini. *Es batunya tepat lima biji?! Dia ini mau minum kopi apa mau main bekel?!*
"Mas, serius? Es batunya dihitung?" protes gue, nggak tahan untuk nggak berkomentar.
"Serius. Dan kalau es batunya cair di jalan sebelum sampai di meja saya, kamu harus balik lagi ke sana buat beli yang baru," ancam Devano dengan wajah tanpa dosa. "Waktu kamu lima belas menit dari sekarang. Oh, dan ini uangnya."
Devano meletakkan selembar uang seratus ribu di meja.
Gue menyambar uang itu dengan gerakan cepat, menahan diri setengah mati agar tidak meremasnya menjadi bola kertas. "Baik, Mas Devano yang terhormat. Ada tugas lain sebelum saya jalan?"
"Setelah beli kopi, beresin meja kerja saya. Susun semua dokumen di laci kanan berdasarkan abjad nama klien, terus kelompokkan per bulan. Dan pastikan keyboard saya bebas dari debu. Saya paling nggak bisa kerja kalau ada debu sekecil apa pun di meja."
Gue menarik napas panjang, mencoba mempraktikkan terapi kemarahan yang pernah gue tonton di YouTube. "Siap, Mas. Dilaksanakan."
"Satu lagi, Alana."
Gue yang baru aja mau berbalik arah langsung menoleh lagi. "Apa lagi, Mas?"
Devano menunjuk ke arah kepalanya sendiri. "Cepolan rambut kamu itu... berantakan banget. Lain kali kalau ke kantor, sisiran yang bener. Kamu itu asisten pribadi saya sekarang, penampilan kamu mencerminkan reputasi saya."
Sumpah, di detik itu juga, gue pengen banget melempar jedai rambut gue langsung ke jidatnya yang mulus itu.
"Baik, Mas Devano. Terima kasih atas ma**kannya," kata gue dengan senyum paling palsu yang pernah gue buat sepanjang hidup gue.
Gue langsung berbalik dan keluar dari ruangan jahanam itu dengan langkah cepat. Begitu pintu tertutup, gue langsung menyandarkan punggung gue ke dinding lorong, mengusap wajah gue dengan kasar.
"G***... ini mah namanya keluar dari mulut harimau, ma**k ke dalam mulut buaya darat!" bisik gue frustrasi.
"Gimana, Al? Aman?" tanya Sasha yang tiba-tiba muncul dari arah pantry sambil membawa secangkir teh hangat. Dia menatap gue dengan pandangan kasihan. "Muka lo kok makin kayak zombi sih? Habis diomelin habis-habisan ya sama Mas Dev?"
"Lebih parah dari sekadar diomelin, Sha," gumam gue lemas.
"Hah? Maksudnya?"
"Gue... gue sekarang resmi jadi babu pribadinya si i**** itu," jawab gue dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Hah?! Serius lo?!" Sasha membelalakkan matanya, hampir menumpahkan teh hangatnya. "Kok bisa?!"
"Ceritanya panjang. Nanti gue cerit**n pas makan siang. Sekarang gue harus lari ke seberang jalan sebelum es batu pesanan si bos mencair dan gue kena hukum pancung!"
Tanpa menunggu jawaban Sasha, gue langsung ngacir menuju lift, siap menghadapi babak baru kehidupan magang gue yang dipastikan bakal penuh dengan penderitaan lahir dan batin.
Ternyata, rahasia nakal di bilik nomor tiga kemarin bukan cuma membawa petaka, tapi juga membawa gue langsung ke dalam pusaran hidup seorang Devano Adiputra yang super duper menyebalkan. Dan gue? Gue cuma bisa pasrah menerima takdir sebagai asisten pribadi dadakan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!