**Bab 5: Lembur, Kopi, dan Jantung yang Copot**
Jam dinding di ruang divisi kreatif sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit malam. Sunyi. Benar-benar sunyi sampai suara dengungan AC sentral kantor terdengar jelas banget di telinga gue.
Hampir semua kubikel di lant** ini sudah kosong dan gelap. Satu-satunya sumber cahaya yang terang benderang cuma berasal dari layar monitor komputer gue dan lampu meja kerja milik Devano Adiputra—i**** berkedok mentor yang sekarang lagi duduk sant** di kubikel sebelahnya sambil sibuk mencoret-coret draf di iPad-nya.
Dan di sinilah gue sekarang. Terjebak. Lembur paksa.
Gue menghela napas panjang, menopang dagu dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain sibuk menggeser *mouse*. Mata gue sudah terasa perih luar biasa. Kantuk berat mulai menyerang pertahanan diri gue. Rasanya kelopak mata ini beratnya sudah kayak ditindih beban beton seberat seratus kilo.
"Jangan keseringan mendesah gitu, Al. Nanti saya salah paham lagi," suara berat Devano memecah keheningan, terdengar begitu sant** tapi sukses bikin gue langsung menegakkan punggung seketika.
Gue menoleh perlahan, menatap cowok itu dengan tatapan dongkol setengah mati. Devano bahkan nggak mengalihkan pandangannya dari layar iPad-nya, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menyebalkan.
"Saya nggak mendesah ya, Mas! Saya itu menghela napas. Capek," ralat gue dengan nada ketus yang sengaja gue tahan biar nggak terdengar terlalu kurang ajar. Sadar diri, nasib gue masih ada di tangan dia.
"Sama aja di telinga saya," sahut Devano sant**. Dia akhirnya meletakkan iPad-nya, lalu memutar kursi kerjanya hingga menghadap penuh ke arah gue. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. "Lagipula, suara helaan napas kamu itu... mirip banget sama suara yang saya denger kemarin siang di bilik nomor tiga."
*Deg.*
Muka gue langsung terasa panas. Rasanya darah gue mendadak naik semua ke ubun-ubun. Kejadian memalukan kemarin siang di toilet lant** tiga itu benar-benar jadi senjata andalan Devano buat memeras gue secara halus. Alih-alih melaporkan sumpah serapah gue ke HRD—yang bisa berujung pada pemecatan gue sebagai anak magang—Devano malah memberikan hukuman alternatif: gue harus jadi asisten pribadi dadakannya selama satu bulan penuh. Terma**k menemani dia lembur malam ini buat merevisi proyek *re-b**nding* Wardhana Group yang tenggat waktunya besok pagi.
"Mas Devano, plis deh. Berhenti bahas toilet," cicit gue, mencoba fokus lagi ke layar monitor yang menampilkan barisan warna dan bentuk yang mulai kelihatan buram di mata gue.
"Kenapa? Kamu malu?" tanya Devano.
Terdengar suara gesekan kursi beroda di atas lant** karpet. Sebelum gue sempat menyadari apa yang terjadi, kursi Devano sudah bergeser mendekat ke arah meja gue. Jarak kami sekarang cuma tersisa kurang dari setengah meter. Aroma parfum *sandalwood* bercampur mint yang maskulin dan mahal dari tubuh Devano langsung menginvasi indra penciuman gue. Wanginya enak banget, tapi di saat yang sama bikin kepala gue makin pusing karena gugup.
"Minum dulu. Biar mata kamu nggak merem-melek kayak gitu," kata Devano sambil menyodorkan sebuah *mug* keramik bergambar karakter kartun kucing miliknya.
Gue menatap *mug* itu, lalu menatap Devano dengan ragu. "Apa ini, Mas?"
"Kopi hitam. Tanpa gula. Sengaja saya buatin biar kamu nggak tidur di sini," jawabnya tenang.
Gue menerima *mug* itu. Hangatnya menjalar ke telapak tangan gue yang dingin karena AC. Begitu gue sesap sedikit... *g***, pahit banget!* Gue refleks merem dan mengerutkan wajah saking pahitnya itu kopi.
Devano terkekeh pelan. Suara kekehannya yang rendah terdengar begitu s**** di tengah keheningan malam, bikin bulu kuduk gue meremang tanpa alasan yang jelas.
"Pahit kan? Makanya, biar manis, minumnya sambil liatin saya," celetuk Devano dengan nada kelewat sant**, seolah-olah dia baru saja mengatakan cuaca hari ini cerah, bukan kalimat gombalan receh yang sukses bikin jantung gue berdisko di dalam rongga dada.
"Mas Devano kalau mau bercanda tolong lihat situasi dan kondisi ya. Saya ini udah hampir mati saking ngantuknya," gerutu gue sambil meletakkan kembali *mug* kopi itu ke meja dengan agak kasar.
"Siapa yang bercanda, Alana?"
Devano tiba-tiba mencondongkan badannya ke arah gue. Dia meletakkan satu tangannya di sandaran kursi gue, sementara tangan satunya lagi bertumpu di atas meja kerja gue, tepat di samping *mouse*. Posisi ini otomatis mengunci tubuh gue. Gue mendadak merasa kerdil di bawah kungkungan tubuhnya yang tinggi dan tegap.
Gue menahan napas. Jarak wajah kami dekat banget, sampai-sampai gue bisa melihat dengan jelas bulu mata Devano yang lentik dan hitam, serta bayangan diri gue sendiri di dalam manik mata cokelat gelapnya yang intens.
"Mas... kejauhan," bisik gue dengan suara yang mendadak serak. Jantung gue mulai berdegup kencang, menab**k dinding dada gue bertubi-tubi sampai rasanya mau copot.
Devano nggak mundur semili pun. Malah, dia makin mendekatkan wajahnya ke telinga kiri gue. Hembusan napas hangatnya yang berbau kopi terasa menyapu kulit leher gue yang sensitif, membuat sekujur tubuh gue meremang hebat.
"Kamu tahu nggak, Al?" bisik Devano dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa desahan pelan yang terdengar sangat intim. "Kemarin di toilet... pas kamu lagi emosi dan menyumpahi saya mandul, suara kamu itu terdengar... menggemaskan."
Gue memejamkan mata erat-erat, meremas ujung kemeja gue sendiri karena saking salah tingkahnya. "Mas Devano, stop..."
"Apalagi pas kamu bilang... '*Hhh... capek banget gue, ini mentor maunya apa sih? I**** bener.*'" Devano menirukan nada bicara gue yang merengek manja kemarin di toilet, lengkap dengan helaan napas beratnya. "Suara helaan napas kamu yang kayak gitu... terus terang, bikin saya kepikiran terus sampai semalam nggak bisa tidur."
Mata gue langsung membelalak lebar. Gue menoleh cepat ke arahnya, membuat ujung hidung kami hampir saja bersentuhan. "M-maksudnya gimana?!"
Devano menatap bibir gue selama satu detik—yang rasanya kayak satu jam bagi gue—sebelum kembali menatap mata gue dengan binar jenaka yang menyebalkan.
"Maksudnya... saya jadi penasaran," gumam Devano, suaranya makin serak dan dalam. "Suara kayak gimana lagi yang bisa kamu keluarin kalau kamu lagi nggak frustrasi karena draf revisi?"
*G***. Ini orang bener-bener i****.*
Otak gue langsung *blank*. Semua kata-kata pembelaan yang sudah gue siapkan di kepala mendadak menguap entah ke mana. Jantung gue berdegup kencang banget, jenis degupan yang bisa terdengar jelas saking sunyinya ruangan ini. Gue yakin muka gue sekarang sudah semerah tomat matang, atau bahkan lebih parah lagi.
Melihat reaksi gue yang kaku kayak patung dengan muka merah padam, senyum kemenangan terukir jelas di wajah tampan Devano. Dia perlahan menarik badannya mundur, memberikan gue ruang untuk bernapas lega—meskipun paru-paru gue rasanya masih kekurangan oksigen akibat kedekatan kami tadi.
"Kerjain lagi, Alana. Jangan bengong," kata Devano, kembali ke mode mentor profesionalnya seolah-olah dia nggak baru saja membuat jantung asistennya hampir meledak karena serangan jantung mendadak. Dia menunjuk layar monitor gue dengan pulpennya. "Itu *grid line*-nya masih miring satu piksel. Rapikan."
Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran g*** di dada gue. Gue memegang *mouse* dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu mulai menggeser kursor. Tapi sialnya, karena fokus gue sudah buyar total, kursornya malah geser ke mana-mana.
"Bukan yang itu, Al. Sini, biar saya bantu."
Sebelum gue sempat protes, Devano tiba-tiba meletakkan telapak tangannya yang besar dan hangat tepat di atas punggung tangan gue yang lagi memegang *mouse*. Kulit kami bersentuhan langsung, mengirimkan sengatan listrik mini yang bikin gue tersentak kecil.
Devano mengabaikan reaksi terkejut gue. Dengan sant**, dia menggerakkan tangan gue, menuntun kursor di layar untuk merapikan desain yang miring tadi. Dada bidangnya bersandar ringan di bahu gue, membuat gue bisa merasakan kehangatan tubuhnya secara langsung.
"Nah, kayak gini. Gampang kan?" bisik Devano tepat di samping pelipis gue.
Gue cuma bisa menelan ludah dengan susah payah. Fokus gue sama sekali nggak ada di layar monitor lagi. Seluruh kesadaran gue terpusat pada tangan hangat Devano yang masih menggenggam erat tangan gue, pada aroma parfumnya yang memabukkan, dan pada kenyataan bahwa cowok menyebalkan ini punya kekuatan mutlak buat mengob**k-abrik pertahanan diri gue hanya dengan satu bisikan.
"M-mas..." panggil gue pelan.
"Hm?" Devano menyahut tanpa melepaskan tangannya dari tangan gue.
"Tangan saya... jangan dipegang terus. Saya nggak bisa fokus kalau diginiin," aku gue jujur, sudah terlalu lelah buat berpura-pura kuat lagi di depan dia.
Devano terdiam sejenak. Dia menoleh ke arah gue, menatap wajah gue yang masih memerah dari jarak sedekat ini. Untuk sesaat, gue melihat ada kilatan lain di matanya—sesuatu yang hangat, intens, dan... berbahaya bagi kesehatan jantung gue.
Kemudian, perlahan tapi pasti, Devano melepaskan genggaman tangannya. Dia menegakkan tubuhnya kembali, mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Ya sudah. Selesaikan dalam sepuluh menit. Setelah itu kita pulang," kata Devano dengan nada suara yang entah kenapa terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Dia berbalik dan berjalan kembali menuju mejanya sendiri.
Gue mengembuskan napas panjang yang sejak tadi gue tahan di dada. Sambil memegang dada kiri gue yang masih bergemuruh hebat, gue menatap punggung Devano yang membelakangi gue.
*Si****,* batin gue frustrasi. *Gue benci mengakuinya, tapi pesona i**** satu ini bener-bener mulai bikin gue g***.*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!