**Bab 6: Sisi Lain Si Cowok Sempurna**
Sisa-sisa lembur semalam masih sukses bikin kepala gue rasanya mau pecah. Baru jam sepuluh pagi, tapi rasanya energi gue udah terkuras habis kayak baterai HP jadul yang bocor. Di kubikel, gue berkali-kali menguap lebar sambil menatap layar laptop dengan pandangan kosong.
Sementara itu, cowok yang semalam bikin gue begadang sampai jam dua pagi—siapa lagi kalau bukan Devano Adiputra—malah kelihatan segar bugar tanpa cela sedikit pun. Dia baru aja lewat di depan kubikel gue dengan kemeja flanel abu-abu yang disetrika super rapi, rambut klimis yang tertata sempurna, dan aroma parfum *sandalwood* bercampur mint-nya yang masih sewangi semalam. Menyebalkan banget. Kenapa fisik dia selalu kelihatan *perfect* di saat gue udah mirip zombi kurang gizi gini?
"Alana, ke ruangan saya sebentar."
Suara dingin Devano memecah lamunan gue. Dia bahkan nggak berhenti melangkah, langsung ma**k ke dalam ruang kerjanya yang berpintu kaca buram.
Gue menghela napas pasrah. Dengan langkah gont**, gue berdiri dan berjalan mengekor di belakangnya. "Iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?" tanya gue sesopan mungkin pas ma**k ke ruangannya. Gue masih ingat status gue: asisten pribadi dadakan akibat ketahuan mengumpat di bilik toilet nomor tiga kemarin.
Devano meletakkan iPad-nya di meja, lalu menatap gue datar. "Tolong ambilkan map kulit warna biru dongker di atas meja kerja di ruangan dalam saya. Ada berkas laporan keuangan Wardhana Group yang harus saya tanda tangani sekarang."
Ruangan dalam yang dimaksud Devano adalah semacam ruang kerja pribadi yang lebih privat, terletak di balik pintu kayu tebal di dalam ruang utamanya. Biasanya cuma orang-orang tertentu yang boleh ma**k ke sana.
"Oh, oke. Map biru dongker ya, Mas?" tanya gue memastikan.
"Iya. Jangan salah ambil. Di sana banyak dokumen penting," pesannya dengan nada bossy yang biasa.
Gue mendengus pelan dalam hati. *Iya, Tuan Sempurna. Nggak usah diingetin juga gue tahu.*
Gue langsung memutar knop pintu kayu tersebut dan melangkah ma**k. Ruangan dalam Devano ternyata c**up luas, tapi atmosfernya terasa dingin banget. Desainnya minimalis dengan dominasi warna hitam, putih, dan abu-abu. Hampir nggak ada hiasan personal di sini, cuma ada rak buku besar yang penuh dengan buku-buku tebal seputar bisnis dan manajemen, serta sebuah meja kayu jati berukuran besar di sudut ruangan.
Gue mendekat ke meja kerja itu, mata gue langsung memindai tumpukan dokumen untuk mencari map biru dongker yang dia maksud. Nah, ketemu. Map itu terletak tepat di samping laptopnya yang tertutup.
Baru aja tangan gue mau meraih map tersebut, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa ma**k ke ruang utama Devano, disusul suara pintu kayu yang gue lewati tadi ditutup dengan agak keras.
Gue tersentak. Refleks, gue mengurungkan niat untuk keluar dan malah berdiri mematung di balik pintu kayu yang nggak tertutup rapat sepenuhnya. Ada celah kecil yang membuat gue bisa mendengar dengan jelas apa yang terjadi di luar.
*Bzzz... Bzzz...*
Suara getaran ponsel di atas meja kaca di ruang luar terdengar nyaring.
"Halo, Pa," suara Devano terdengar. Nadanya langsung berubah drastis. Nggak ada lagi nada dingin berwibawa yang biasa dia pakai ke gue atau anak-anak magang lain. Suaranya terdengar... tegang. Sangat tegang, bahkan cenderung defensif.
"Devano! Kamu itu gimana sih kerjanya?!"
Suara bentakan dari seberang telepon itu begitu keras sampai memantul di dinding ruangan. Devano tampaknya tidak memakai *earphone*, dan saking kerasnya suara si penelepon, gue yang berdiri di ruangan sebelah pun bisa mendengar setiap kata yang terucap dengan sangat jelas. Itu suara seorang pria paruh baya, terdengar sangat tegas, berwibawa, tapi penuh dengan kemarahan yang meluap-luap. Ayah Devano.
"Maaf, Pa. Ada apa?" tanya Devano, suaranya pelan, hampir mirip bisikan yang tertahan.
"Ada apa kamu tanya?! Papa baru dapat laporan dari tim audit! Kenapa profit proyek pengembangan di wilayah timur kuartal ini cuma naik empat persen? Kamu tahu kan target Papa itu minimal delapan persen?!"
"Pa, kenaikan empat persen itu sebenarnya udah pencapaian yang bagus di tengah kondisi pasar yang lagi nggak stabil kayak sekarang—"
"Jangan cari alasan!" potong ayahnya dengan kasar. Suara geb**kan meja terdengar dari seberang telepon, membuat gue spontan tersentak kaget di tempat gue berdiri. "Papa nggak butuh alasan sampah kayak gitu! Papa bayar kuliah kamu mahal-mahal di London bukan buat denger alasan! Adik kamu, si Dion, bulan lalu berhasil naikin profit divisi dia sampai sepuluh persen. Kenapa kamu yang anak pertama malah loyo begini?!"
Gue menahan napas. Jantung gue mendadak berdegup kencang. Rasanya salah banget ada di sini dan menguping obrolan pribadi ini, tapi kaki gue rasanya kayak terpaku ke lant**. Gue nggak bisa bergerak.
"Dion memegang divisi ritel yang pasarnya lebih stabil, Pa. Sementara divisi saya—"
"C**up, Devano! Papa nggak mau denger pembelaan diri kamu yang gak berguna itu," suara ayahnya terdengar dingin, menusuk hingga ke tulang. "Ingat ya, posisi kamu sebagai Direktur Operasional di sini itu belum aman. Kalau dalam bulan ini kamu nggak bisa membuktikan kalau kamu lebih baik dari Dion, Papa nggak akan segan-segan menggeser posisi kamu. Papa nggak butuh pecundang di keluarga ini. Kamu harus selalu jadi nomor satu. Ngerti?!"
Hening sejenak. Sunyi yang tercipta terasa begitu mencekam sampai-sampai gue bisa mendengar detak jarum jam dinding.
"Ngerti, Pa," jawab Devano akhirnya. Suaranya terdengar sangat amat datar, hampa, tanpa emosi sama sekali. Tapi gue bisa merasakan ada keputusasaan yang mendalam di balik dua kata itu.
"Bagus. Tunjukkan hasil kerja kamu, bukan cuma omong kosong. Papa tutup."
*Pip.*
Sambungan telepon terputus.
Gue masih berdiri kaku di balik pintu. Dada gue rasanya sesak, seolah-olah bentakan dari ayah Devano tadi juga diarahkan ke gue. Perlahan, gue memberanikan diri untuk mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka.
Di sana, di tengah ruangan yang luas itu, Devano berdiri membelakangi gue. Kedua tangannya bertumpu di atas meja kerja, kepalanya tertunduk dalam-dalam. Bahunya yang biasa tegak dan kokoh kini tampak merosot layu.
Gue bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua tangan cowok itu bergetar hebat. Dia mencengkeram pinggiran meja kayu itu dengan sangat erat, sampai-sampai buku-buku jarinya memutih. Dia menarik napas panjang berkali-kali, mencoba menenangkan diri, tapi helaan napasnya terdengar begitu berat dan menyakitkan.
Untuk pertama kalinya sejak gue mengenal Devano Adiputra, gue nggak melihat sosok "i****" yang menyebalkan, dingin, dan sok berkuasa.
Di depan gue saat ini, cuma ada seorang cowok biasa yang kelihatan sangat rapuh. Seorang anak laki-laki yang sedang memikul beban ekspektasi yang luar biasa berat di pundaknya. Ekspektasi yang menuntutnya untuk selalu menjadi sempurna, selalu menjadi nomor satu, tanpa boleh melakukan kesalahan sedikit pun.
Pantas saja dia sekaku itu. Pantas saja dia sekiller itu kalau memeriksa pekerjaan timnya. Pantas saja dia menuntut kesempurnaan dari semua orang di sekitarnya. Ternyata, itu semua adalah mekanisme pertahanan dirinya agar dia tidak dianggap sebagai "pecundang" oleh ayahnya sendiri. Dia seketat itu pada orang lain karena dia jauh lebih kejam dan ketat pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, rasa benci, dongkol, dan kesal yang selama ini menumpuk di hati gue menguap begitu aja. Digantikan oleh rasa iba yang teramat sangat.
Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan ekspresi wajah gue agar nggak kelihatan kasihan atau bersimpati berlebihan, karena gue tahu cowok seangkuh Devano pasti benci dikasihani. Gue sengaja mengetuk pintu kayu dari dalam dengan agak keras sebelum membukanya lebar-lebar.
*Tok! Tok!*
Devano langsung menegakkan tubuhnya seketika. Dalam hitungan detik, dia membalikkan badan dan memasang kembali topeng wajahnya yang dingin dan datar. Tapi dia nggak bisa membohongi gue; matanya yang biasanya tajam kini kelihatan sedikit memerah dan pancarannya tampak lelah luar biasa.
"Ini, Mas, map biru dongker yang dicari," kata gue selembut mungkin, sambil melangkah mendekat dan menyodorkan map tersebut ke arahnya.
Devano menatap map itu, lalu beralih menatap wajah gue. Dia menyipitkan matanya sedikit, seolah sedang menyelidiki apakah gue mendengar pertengkarannya tadi atau nggak.
"Kamu... sudah lama di dalam?" tanyanya dengan suara yang sedikit serak.
Gue memaksakan sebuah senyuman tipis yang kelihatan sealami mungkin. "Enggak kok, Mas. Tadi map-nya agak ketutup sama tumpukan buku, jadi saya butuh waktu agak lama buat nyari. Ini baru aja ketemu langsung saya bawa keluar."
Gue terpaksa berbohong. Gue nggak mau bikin dia merasa malu atau merasa harga dirinya jatuh di depan seorang anak magang kayak gue.
Devano tampak mengembuskan napas lega yang sangat tipis, hampir tak terdengar. Dia mengambil map itu dari tangan gue. "Oke. Makasih, Alana."
"Sama-sama, Mas."
Gue nggak langsung pergi. Gue menatap wajahnya yang kelihatan pucat. Kantung mata hitam di bawah matanya kelihatan jelas banget kalau dilihat dari jarak sedekat ini.
"Mas Devano," panggil gue pelan.
"Kenapa?"
"Mas udah s****an?" tanya gue spontan.
Devano kelihatan agak kaget mendengar pertanyaan gue yang di luar urusan pekerjaan itu. Dia menaikkan sebelah alisnya. "Belum sempat. Kenapa?"
"Mau saya beliin bubur ayam di depan kantor? Atau kopi susu anget?" tawar gue, kali ini benar-benar tulus tanpa embel-embel takut dihukum atau karena paksaan. "Saya juga belum s****an sih. Sekalian kalau Mas mau."
Devano menatap gue lekat-lekat untuk beberapa saat. Ada binar kebingungan di matanya, mungkin heran kenapa asisten pribadi dadakannya yang biasanya selalu merengut dan hobi menggerutu ini mendadak bersikap manis.
Perlahan, ketegangan di wajah cowok itu mulai mengendur. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang kali ini kelihatan... tulus. Bukan senyuman menyebalkan atau sinis seperti biasanya.
"Boleh," jawabnya pelan, suaranya terdengar jauh lebih hangat dari biasanya. "Tolong beliin bubur ayam aja. Nggak usah pakai kacang. Dan... kopi hitam tanpa gula satu ya, Al."
"Siap, Mas. Bubur ayam tanpa kacang, sama kopi hitam pahit kayak hidup," canda gue refleks, mencoba mencairkan suasana.
Devano terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar renyah di telinga gue, dan entah kenapa, hal itu bikin dada gue mendadak terasa sedikit hangat.
"Sembarangan kamu," sahutnya sambil menggelengkan kepala. "Ya sudah, ini uangnya." Dia merogoh dompetnya dan menyodorkan selembar uang seratus ribuan ke gue.
"Oke, Mas. Saya jalan dulu ya."
Gue berbalik dan melangkah keluar dari ruangannya dengan perasaan yang aneh. Rasa benci yang kemarin sempat menggebu-gebu di dada gue sekarang benar-benar hilang tanpa bekas. Di balik sosok cowok sempurna yang ditakuti satu kantor ini, ternyata ada sisi lain yang begitu rapuh dan kesepian. Dan entah kenapa, gue merasa mulai ingin mengenalnya lebih jauh lagi—bukan cuma sebagai bos yang menyebalkan, tapi sebagai Devano yang apa adanya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!