Ada celah kecil yang membuat gue bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan Mas Devano di dalam sana. Dia rupanya lagi menerima telepon penting dari salah satu direksi utama Skyline Media.
"Iya, Pak. Saya tahu hari ini perwakilan dari Wardhana Group akan datang untuk meninjau progres *campaign* baru," suara Mas Devano terdengar berat dan formal. "Christian Wardhana? Iya, saya sudah dengar dia yang ditunjuk sebagai penanggung jawab baru proyek ini. Tenang saja, semuanya sudah saya persiapkan."
Setelah hening beberapa saat, Mas Devano mengakhiri pangg***nnya. Gue buru-buru memundurkan langkah, pura-pura baru selesai mencari map biru dongker di atas meja kerjanya. Dengan jantung yang masih agak berdebar karena takut ketahuan menguping, gue melangkah keluar sambil memeluk map kulit tersebut.
"Ini mapnya, Mas," kata gue sambil menyerahkan map itu ke mejanya.
Mas Devano melirik gue sekilas, tatapannya sedingin es seperti biasa. "Lama banget. Kamu nyari map atau lagi semedi di dalam?"
Gue mendengus pelan dalam hati. *Sabar, Alana, sabar. Orang sabar disayang Tuhan, orang emosian cepat tua kayak bos lo ini.* "Maaf, Mas. Tadi saya harus mastiin dulu kalau dokumen di dalamnya nggak ada yang kurang," bohong gue lancar jaya sambil memamerkan senyum paling manis yang gue punya.
"Ya sudah. Sekarang kamu kembali ke kubikel kamu. Nanti jam dua siang, ikut saya ke ruang rapat utama. Kita ada pertemuan penting dengan klien dari Wardhana Group. Jangan sampai terlambat, dan pastikan penampilan kamu rapi. Jangan kusut kayak tadi pagi."
"Iya, Mas Devano yang paling sempurna sedunia," gumam gue sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin lalu.
"Kamu bilang apa?" matanya menyipit tajam.
"Nggak ada, Mas! Saya bilang, siap laksanakan!" sahut gue gercep sambil langsung melipret keluar dari ruangannya sebelum dia sempat mengeluarkan aura mengintimidasi yang biasa.
***
Siang harinya, ruang rapat utama Skyline Media sudah disulap jadi super rapi. Udara AC yang dingin menusuk kulit gue yang cuma dibalut kemeja rajut tipis berwarna krem. Di ujung meja rapat yang panjang, duduklah Christian Wardhana, klien muda yang tadi sempat dibicarakan Mas Devano di telepon.
Begitu pertama kali melihat cowok itu ma**k, gue harus mengakui satu hal: Christian emang ganteng beneran. Tipikal *rich kid* yang sering sliweran di fyp TikTok. Potongan rambutnya *undercut* kekinian, badannya tinggi tegap, dan dia memakai kemeja ka**al bermerek terkenal yang dua kancing teratasnya sengaja dibuka, memberikan kesan *bad boy* yang sant** tapi tetap kelihatan tajir melintir. Di pergelangan tangannya melingkar jam tangan mewah yang silau banget kalau kena lampu ruangan.
Gue duduk di sebelah kanan Mas Devano, siap dengan iPad dan buku catatan kecil gue untuk mencatat semua poin penting rapat.
"Jadi, untuk *digital campaign* kali ini, kami pengen konsep yang lebih *fresh*, berani, dan pastinya anak muda banget," Christian mulai berbicara, suaranya terdengar ka**al tapi penuh percaya diri.
Tapi, ada satu hal yang bikin gue mulai merasa nggak nyaman. Sepanjang dia berbicara, mata Christian sama sekali nggak fokus ke layar proyektor atau ke arah Mas Devano yang duduk di depannya. Matanya justru bolak-balik melirik ke arah gue dengan tatapan yang... yah, kalau boleh jujur, agak genit.
Gue yang sadar langsung menundukkan kepala, pura-pura sibuk mengetik sesuatu di iPad gue. Sumpah, risi banget dipandangi kayak gitu di depan banyak orang.
"Dan... saya rasa, proyek ini bakal berjalan jauh lebih lancar kalau tim kreatifnya punya visi yang sama kayak saya," lanjut Christian. Tiba-tiba, dia mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap gue langsung dengan senyuman manis yang sengaja dibuat-buat untuk memikat lawan jenis. "Btw, dari tadi saya belum kenalan sama kamu. Nama kamu siapa? Kamu manis banget kalau lagi serius nyatet gitu."
*Deg.*
Gue langsung kaku di tempat. Suasana di ruang rapat yang tadinya hangat mendadak berubah drastis. Di sebelah gue, gue bisa merasakan aura di sekitar Mas Devano langsung drop drastis jadi sedingin es kutub utara.
Gue melirik ke arah Mas Devano lewat sudut mata. Cowok itu lagi memutar-mutar pulpen Montblanc-nya dengan gerakan lambat, tapi rahangnya kelihatan mengeras. Tatapan matanya yang tajam seolah-olah bisa menusuk Christian hidup-hidup saat itu juga.
"Alana, Mas," jawab gue sesopan mungkin, berusaha tetap profesional demi menjaga nama baik perusahaan.
"Alana..." Christian mengeja nama gue dengan nada manja yang bikin gue merinding disko. "Nama yang cantik, secantik orangnya. Boleh saya minta kontak pribadi kamu? Buat koordinasi project ini ke depannya. Biar kalau saya butuh revisi cepat, saya bisa langsung hubungi kamu. Gimana?"
Modus banget. Padahal buat urusan revisi dan koordinasi kan sudah ada manajer proyek dan kepala tim kreatif. Ngapain juga dia harus langsung ke asisten pribadi?
Sebelum gue sempat menyusun kalimat penolakan yang halus, pulpen yang dipegang Mas Devano tiba-tiba diletakkan di atas meja dengan bunyi *tak* yang c**up keras, memotong keheningan ruangan.
"Maaf, Mas Christian," suara Mas Devano mengudara, terdengar sangat dingin, datar, dan tanpa ekspresi. "Untuk semua urusan koordinasi, revisi, maupun teknis lapangan, semuanya harus melalui satu pintu, yaitu manajer proyek kami. Alana adalah asisten pribadi saya. Tugasnya hanya mengurus keperluan internal saya, bukan melayani komunikasi langsung dengan klien."
Christian agak terkejut mendengar jawaban ketus dari Mas Devano, tapi sedetik kemudian dia malah terkekeh pelan, kelihatan nggak takut sama sekali dengan tatapan mematikan bos gue.
"Ah, sant** aja kali, Dev. Kaku banget sih lo," kata Christian sant**, beralih menggunakan gaya bahasa yang lebih informal karena mereka sepertinya seumuran. "Kan nggak ada salahnya kalau gue mau akrab sama asisten lo yang super *cute* ini. Biar kerjanya juga lebih semangat, ya kan, Alana?"
Tanpa diduga, Christian nekat mengulurkan tangannya di atas meja, berniat menyentuh ujung jemari gue yang lagi memegang pulpen.
Melihat hal itu, darah gue rasanya langsung berhenti mengalir karena kaget. Tapi sebelum kulit Christian sempat menyentuh kulit gue bahkan se-milimeter pun, Mas Devano tiba-tiba berdiri dari kursinya. Kursi kerjanya bergeser ke belakang dengan bunyi derit yang c**up nyaring, membuat seisi ruangan langsung terdiam seketika.
"Rapat siang ini kita tunda dulu sepuluh menit," ucap Mas Devano tegas, suaranya berat dan penuh wibawa yang nggak bisa dibantah oleh siapa pun di ruangan itu.
Dia langsung menatap gue dengan mata gelapnya yang berkilat marah. "Alana, ikut saya ke pantry sekarang. Ada dokumen penting yang harus segera kamu siapkan untuk saya."
"Eh? Tapi Mas, dokumen rapat yang ini kan belum selesaiβ"
"Sekarang, Alana," potong Mas Devano dengan nada suara yang lebih rendah, tapi penuh penekanan yang bikin bulu kuduk gue merinding.
Gue cuma bisa menelan ludah dengan susah payah. "Baik, Mas."
Gue buru-buru merapikan iPad dan buku catatan gue, lalu membungkuk sopan ke arah Christian yang kini menatap gue dengan ekspresi bingung sekaligus kecewa karena usahanya diganggu. Begitu gue melangkah keluar dari ruang rapat, Mas Devano sudah berjalan lebar-lebar mendahului gue.
Dan yang bikin gue makin kaget, begitu posisi kami agak tertutup dari pandangan orang-orang di luar ruang rapat, Mas Devano tiba-tiba berbalik, meraih pergelangan tangan gue dengan eratβnggak sampai bikin sakit, tapi c**up kuat untuk membuat gue nggak bisa melepaskan diriβdan menarik gue dengan langkah cepat menuju ke arah pantry kantor.
***
Pantry kantor Skyline Media siang itu benar-benar sepi melompong. Semua karyawan sedang sibuk di meja masing-masing atau masih terjebak di ruang rapat lain, menyisakan keheningan yang mendadak terasa mencekam begitu kami berdua melangkah ma**k.
Begitu pintu pantry tertutup rapat, Mas Devano langsung memutar tubuh gue. Dalam satu gerakan cepat yang sukses bikin jantung gue hampir lompat keluar dari rongga dada, dia mendorong tubuh gue pelan sampai punggung gue membentur dinding pantry yang dingin.
Sebelum gue sempat mencerna apa yang terjadi, kedua tangan Mas Devano sudah bertumpu di dinding, tepat di sisi kiri dan kanan kepala gue, mengunci pergerakan gue sepenuhnya.
Jarak di antara kami dekat banget. Dekat banget sampai gue bisa mencium dengan jelas aroma parfum *sandalwood* bercampur mint-nya yang maskulin dan menenangkan, tapi kali ini bercampur dengan hawa panas dari napasnya yang agak memburu akibat emosi.
Gue terengah-engah, menatap matanya yang biasanya selalu kelihatan tenang, angkuh, dan sok tahu. Tapi saat ini, sepasang mata gelap itu kelihatan... berantakan. Dan sangat kesal.
"M-Mas Devano... ini apa-apaan sih?" tanya gue dengan suara yang mendadak cicit kayak anak ayam. Sumpah, jantung gue udah kayak lagi konser musik rock di dalam dada. Dug-dug-dug nggak karuan sampai gue takut dia bisa mendengarnya.
Mas Devano nggak langsung menjawab. Dia justru menundukkan kepalanya sedikit, membuat wajahnya sejajar dengan wajah gue. Matanya yang tajam menatap intens ke arah bibir gue selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali naik dan mengunci pandangan mata gue.
"Kamu sengaja, ya?" tanyanya, suaranya terdengar serak, rendah, dan penuh intimidasi yang anehnya malah terasa... s****.
"Sengaja apa?!" gue se***, berusaha keras menutupi rasa gugup dan salah tingkah gue yang sudah di ambang batas maksimal. "Saya nggak ngapa-ngapain dari tadi!"
"Sengaja tebar pesona di depan Christian," tuduhnya dengan nada kesal yang terdengar sangat kekanak-kanakan untuk ukuran seorang bos besar. "Sengaja senyum-senyum nggak jelas biar dia tertarik sama kamu dan minta kontak pribadi kamu."
Gue melongo mendengar tuduhan absurd itu. "Hah? Siapa yang tebar pesona? Saya kan cuma bersikap sopan karena dia itu klien penting kita, Mas! Masa saya harus cemberut kayak kanebo kering di depan dia? Yang ada dia tersinggung terus batalin kontrak kerja sama!"
"Sopan nggak perlu pakai acara mau kasih nomor HP, Alana," potong Mas Devano cepat. Dia mengikis jarak di antara kami lagi, menyisakan jarak yang sangat tipis sampai gue bisa merasakan kehangatan napasnya menyapu kulit pipi gue. "Dan tadi dia mau menyentuh tangan kamu. Kenapa kamu diam aja? Kenapa nggak langsung ditarik tangannya?"
Gue menelan ludah dengan susah payah, mendadak merasa sangat haus. Pandangan gue tanpa sadar terpaku pada garis rahang tegasnya yang masih mengeras karena menahan amarah. "Kan... kan belum sempat kena juga, Mas. Lagian, kenapa sih Mas Devano yang se*** banget dari tadi? Mas... cemburu?" tanya gue, mencoba menantangnya padahal dalam hati gue udah gemetaran setengah mati.
Mendengar kata 'cemburu' keluar dari mulut gue, netra hitam Mas Devano tampak sedikit bergetar. Dia terdiam selama beberapa detik, menatap gue lekat-lekat seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepalanya.
Sedetik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah seringai tipisβsebuah senyuman nakal dan penuh kemenangan yang belum pernah dia tunjukkan di depan siapa pun di kantor ini.
Dia memajukan wajahnya lagi, membuat ujung hidung kami kini hampir bersentuhan. Napasnya yang hangat berembun di bibir gue.
"Kalau iya saya cemburu, kamu mau apa?" bisik Mas Devano lambat-lambat, suaranya bergetar penuh provokasi yang langsung membuat seluruh pertahanan gue runtuh seketika.
Gue langsung lupa cara bernapas. *Oh my god*, ini beneran Devano Adiputra yang terkenal dingin, kaku, dan perfeksionis itu? Kenapa dia bisa se-flirty ini?!
"M-Mas..." kata-kata gue mendadak hilang di tenggorokan.
"Dengar ya, Alana," potong Mas Devano lagi dengan nada suara yang mendadak melembut, tapi terdengar sangat posesif dan mendominasi. "Kamu itu asisten pribadi saya. Di bawah tanggung jawab saya. Jadi, saya nggak suka ada cowok lain yang coba-coba main mata, merayu, atau menyentuh kamu di depan saya. Apalagi cowok gatel kayak Christian."
"Tapi kan saya bukan barang milik Mas Devano..." cicit gue lemah, berusaha membela diri yang tersisa.
"Nggak ada tapi-tapi," sela Mas Devano dengan nada bossy-nya yang khas. Dia mengangkat satu tangannya dari dinding, lalu dengan sangat perlahan dan lembut, dia merapikan seunt** rambut gue yang jatuh menghalangi wajah, menyelipkannya ke belakang telinga gue.
Sentuhan ujung jarinya yang hangat di kulit telinga dan pipi gue seketika mengirimkan sengatan listrik yang membuat seluruh tubuh gue meremang. Jantung gue makin mengg***, berdegup kencang seolah mau melompat keluar.
"Mulai sekarang, fokus kamu cuma ke saya. Di kantor, di luar kantor, mata kamu cuma boleh lihat ke saya. Paham, Alana?" bisiknya tepat di depan bibir gue, membuat pertahanan gue benar-benar hancur lebur tanpa sisa.
Gue cuma bisa mengangguk pelan kayak orang b*** yang kena hipnotis. Sumpah, pesona cowok di depan gue ini kalau lagi mode posesif kayak gini bener-bener ilegal dan berbahaya banget buat kesehatan jantung gue!
Melihat reaksi gue yang pasrah dengan wajah yang pasti sudah memerah padam mirip kepiting rebus, seringai di bibir Mas Devano makin melebar. Dia kelihatan sangat puas karena berhasil membuat gue mati kutu dan tidak berdaya dalam kukungannya.
"Pintar," bisiknya lembut, ibu jarinya sempat mengusap pipi gue sekali dengan gerakan yang sangat sensual, membuat lutut gue rasanya mau lemas saat itu juga.
Tepat saat suasana intim dan mendebarkan di antara kami semakin memanas, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat ke arah pantry dari koridor luar, disusul suara gagang pintu besi pantry yang mulai bergerak turun.
*Cklek.*
"Eh, ada Alana sama Pak Devano..."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!