Sejak rapat siang itu berakhir, hidup gue resmi berubah menjadi simulasi neraka bocor.
Christian Wardhanaβklien muda yang songongnya sebelas dua belas sama Mas Devanoβternyata meminta konsep *reb**nding* yang super det**l dalam waktu tiga hari saja. Dan tebak siapa yang harus membuat draf kasarnya dari nol? Tentu saja gue, si anak magang teladan yang nasibnya sedang berada di ujung tanduk karena rahasia memalukan di bilik nomor tiga.
"Alana, draf analisis kompetitornya belum ma**k ke email saya. Kamu kerja pakai tangan atau pakai sistem batin?"
Suara Mas Devano terdengar dingin dari balik interkom di meja gue. Gue menghela napas berat, buru-buru menekan tombol interkom untuk menjawab.
"Iya, Mas. Lima menit lagi saya kirim. Ini lagi *export* PDF," jawab gue dengan nada seprofesional mungkin, padahal tangan gue sudah gemetaran di atas *mouse*.
Gue melirik jam di sudut kanan bawah layar laptop. Sudah jam tujuh malam. Kantor Skyline Media sudah sepi. Rekan-rekan magang gue yang lain sudah pulang dari jam lima sore tadi setelah pamit dengan senyum tanpa dosa, meninggalkan gue yang harus lembur sendirian demi memenuhi standar kesempurnaan Mas Devano yang tidak ma**k akal itu.
Punggung gue rasanya mau patah. Mata gue juga sudah perih karena terlalu lama menatap layar monitor. Begitu tombol *send* di email berhasil gue klik, gue langsung menyandarkan punggung ke kursi kerja, memejamkan mata sambil memijat pelipis yang berdenyut kencang.
*Kenapa sih hidup gue jadi sekacau ini?* batin gue meratap.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki mendekat dari arah koridor ruangan Mas Devano. Gue buru-buru menegakkan posisi duduk, pura-pura kembali sibuk mengetik agar tidak kena semprot lagi. Namun, langkah kaki itu berhenti tepat di samping kubikel gue.
Sebuah bayangan tinggi besar runtuh menutupi cahaya lampu di atas meja gue. Gue mendongak dan menemukan Mas Devano sedang berdiri di sana. Dia sudah melepas jas formalnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang entah kenapa terlihat sangat maskulin. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini agak berantakan, memberikan kesan ka**al yang jarang gue lihat.
"Masih belum selesai?" tanyanya. Nada suaranya tidak sedingin tadi siang. Agak... sant**?
"Baru aja saya email drafnya, Mas," jawab gue pelan. "Saya tinggal nunggu revisi dari Mas Devano, baru setelah itu saya rapikan lagi."
Mas Devano tidak menjawab. Dia malah menarik kursi kosong milik anak magang di sebelah gue, lalu duduk di sana. Jarak kami sekarang sangat dekat, sampai-sampai gue bisa mencium aroma parfum *woody* maskulin miliknya yang bercampur dengan wangi kopi hitam yang samar.
"Geser dikit," perintahnya lembut sambil menarik laptop gue mendekat ke arahnya.
Gue tertegun. "Hah? Kenapa, Mas?"
"Nggak usah banyak tanya. Sini, saya tunjukin bagian mana yang perlu diperbaiki secara langsung. Kalau lewat email, kamu bakal butuh waktu semalaman buat paham," ujarnya tanpa menoleh ke arah gue, jemarinya sudah lincah bergerak di atas *touchpad* laptop gue.
Gue cuma bisa melongo. Ini beneran Mas Devano yang kejam itu? Yang biasanya cuma bisa mengkritik draf gue dengan coretan tinta merah tanpa mau menjelaskan di mana letak salahnya?
"Lihat ini," panggilnya, membuat gue refleks mendekatkan wajah ke layar laptop. "Analisis kamu untuk Wardhana Group ini terlalu umum. Christian itu tipe orang yang suka data visual yang langsung *to the point*. Jangan pakai banyak teks bertele-tele di *slide* awal. Kamu ganti pakai grafik perbandingan pasar yang ini."
Dia menjelaskan semuanya dengan sangat runut. Suaranya yang berat dan beratmosfer tenang itu terdengar seperti musik latar yang anehnya bikin gue merasa nyaman. Selama hampir tiga puluh menit, Mas Devano membimbing gue memperbaiki seluruh draf presentasi itu. Tidak ada bentakan, tidak ada sindiran tajam. Dia bahkan sangat sabar ketika gue beberapa kali salah mema**kkan rumus Excel untuk grafik data.
"Kamu paham sekarang?" tanyanya tiba-tiba, memalingkan wajah ke arah gue.
Karena jarak kami yang terlalu dekat, begitu dia menoleh, hidung kami hampir saja bersentuhan. Gue bisa melihat dengan sangat jelas iris mata cokelat gelapnya yang dalam, bulu matanya yang lentik untuk ukuran seorang cowok, dan bibirnya yang tipis. Napas gue mendadak tercekat. Jantung gue mulai berdetak dengan ritme yang tidak sehat.
"P-paham, Mas," jawab gue terbata-bata, buru-buru memundurkan kepala beberapa sentimeter demi menyelamatkan kewarasan gue.
Mas Devano tampaknya menyadari kepanikan gue. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang hampir tidak kelihatan, tapi sukses membuat perut gue terasa seperti diaduk-aduk oleh ribuan kupu-kupu.
Dia berdiri dari kursinya. "Tunggu di sini. Jangan pulang dulu."
Sebelum gue sempat bertanya mau ke mana, dia sudah melangkah pergi meninggalkan area kubikel. Gue cuma bisa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi gue tahan. Gue memegang dada sebelah kiri, mencoba menenangkan debaran yang berisik banget ini.
*Gue nggak boleh baper,* bisik gue pada diri sendiri. *Inget, Alana! Dia itu cowok manipulatif yang pegang rahasia memalukan lo. Dia cuma lagi main-main sama lo.*
Sekitar sepuluh menit kemudian, Mas Devano kembali. Di tangannya, dia membawa sebuah kantong plastik putih dari minimarket bawah dan satu kantong kertas berlogo kafe kopi terkenal. Dia meletakkan kedua barang itu di atas meja kerja gue dengan gerakan ka**al.
"Makan dulu. Otak kamu nggak bakal jalan kalau perutnya kosong," katanya datar.
Gue menatap kantong-kantong itu dengan bingung, lalu memberanikan diri untuk membukanya. Detik berikutnya, mata gue membulat sempurna. Di dalam kantong plastik itu ada satu bungkus ramen instan rasa pedas yang biasa gue makan kalau lagi stres, dan di dalam kantong kertas itu ada segelas *Iced Matcha Latte* ukuran *grande* dengan tambahan *extra shot espresso*.
Itu minuman favorit gue kalau lagi butuh a**pan kafein ekstra. Dan yang bikin gue merinding... dari mana dia tahu menu sedet**l ini?
"Mas... ini kok tahu saya suka matcha dicampur espresso?" tanya gue dengan tatapan penuh curiga sekaligus heran.
Mas Devano berdeham kecil, sedikit membuang muka ke arah lain. "Kemarin saya nggak sengaja lihat kamu pesan itu di kantin bawah waktu jam makan siang. Dan soal ramen itu... saya cuma tebak aja. Perempuan kalau lagi stres biasanya suka makan yang pedas-pedas, kan?"
Gue terdiam. Sumpah, otak gue mendadak *loading* lama banget.
Seorang Devano yang super sibuk, yang dunianya cuma berputar di sekitar angka-angka target perusahaan dan presentasi klien, ternyata memperhatikan apa yang gue minum saat makan siang? Ini bener-bener di luar nalar.
"Makasih, Mas," kata gue dengan suara yang tiba-tiba mencicit pelan.
"Sama-sama. Cepetan dimakan, setelah itu saya antar kamu pulang. Sudah terlalu malam untuk anak magang pulang sendirian naik ojek online," katanya sant**, lalu berjalan kembali ke ruangannya tanpa menunggu jawaban dari gue.
Gue menatap punggungnya yang menjauh dengan perasaan yang campur aduk bagai es campur.
Batas yang selama ini gue buat di antara kami berdua rasanya mulai kabur secara perlahan. Kemarahan gue atas ancaman pemerasan yang dia lakukan di awal-awal magang kini mulai terkikis oleh perhatian-perhatian kecil yang dia tunjukkan akhir-akhir ini.
Dulu, gue yakin banget kalau Mas Devano adalah sosok antagonis paling menyebalkan dalam hidup gue. Tapi sekarang, kenapa dia malah terlihat seperti seorang pelindung yang sangat hangat?
Gue menusukkan sedotan ke dalam gelas *matcha latte* gue, menyesapnya perlahan. Rasa pahit dari kopi dan manis dari matcha berpadu di lidah gue, mirip banget dengan perasaan gue saat ini. Manis, tapi di saat yang sama juga bikin gue cemas setengah mati.
Apakah semua kebaikan ini adalah bagian dari taktik barunya untuk membuat gue semakin tunduk di bawah kendalinya? Ataukah... Mas Devano memang bener-bener peduli sama gue?
Satu hal yang pasti, pertahanan di dalam hati gue sekarang sedang berada dalam kondisi siaga satu. Karena kalau sampai gue jatuh cinta pada bos gue yang penuh rahasia ini, hidup gue di Skyline Media dipastikan bakal jauh lebih rumit dari sekadar revisi draf dari Christian Wardhana.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!