**Bab 9: Satu Ciuman di Lift Mati**
Satu jam setelah Mas Devano mengoreksi draf gue secara langsung di kubikel, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit. Di luar, suara gemuruh petir sesekali terdengar menyambar, disusul oleh deru angin kencang yang melempar butiran air hujan dengan kasar ke kaca jendela kantor Skyline Media. Badai malam ini benar-benar tidak main-main.
"Udah selesai. Kamu bisa kirim file finalnya besok pagi sebelum rapat," ujar Mas Devano sambil menutup laptop gue dengan gerakan pelan.
Gue mengembuskan napas lega yang langsung terdengar begitu kentara. "Makasih banyak, Mas. Kalau nggak dibantu, mungkin saya bakal telantar di sini sampai subuh."
Mas Devano melirik gue sekilas, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat—sebuah senyum tipis yang hampir tidak kelihatan, tapi sukses membuat jantung gue berdetak tidak keruan. "Jangan lebay. Sana beres-beres, kita pulang bareng."
Gue sempat mematung selama beberapa detik. *Pulang bareng?*
"Nggak usah geer," lanjut Mas Devano cepat, seolah bisa membaca isi pikiran gue. "Di luar badai besar. Nyari taksi online jam segini bakal mustahil. Saya cuma nggak mau anak magang saya mati konyol karena kehujanan lalu besok nggak ma**k kerja."
"Iya, Mas, iya," gumam gue sambil buru-buru mema**kkan laptop, *charger*, dan dompet ke dalam tas ransel.
Kami berdua berjalan beriringan menyusuri koridor kantor yang sudah sepi dan remang-remang karena sebagian lampu sudah dimatikan untuk menghemat energi. Keheningan di antara kami terasa sangat canggung, hanya diiringi oleh ketukan sepatu pantofel Mas Devano dan flat shoes gue yang beradu dengan lant** marmer.
Begitu sampai di depan lift, Mas Devano menekan tombol turun. Tidak butuh waktu lama sampai pintu lift berdenting terbuka. Kami ma**k ke dalam kotak logam berlapis cermin itu. Pintu tertutup rapat, menyisakan kami berdua dalam ruang sempit yang mendadak terasa begitu minim oksigen.
Gue berdiri agak di belakang, memeluk tas ransel erat-erat di depan dada. Dari pantulan cermin lift, gue bisa melihat Mas Devano yang berdiri tegap di depan gue. Kemeja hitamnya yang digulung, rahangnya yang tegas, dan aroma parfum *woody* yang begitu maskulin... semuanya benar-benar mengacaukan konsentrasi gue. Sejak kejadian memalukan di bilik nomor tiga tempo hari, berada terlalu dekat dengan cowok ini selalu sukses membuat seluruh sensor di tubuh gue mendadak hiperaktif.
*Tenang, Alana. Sebentar lagi sampai lobi. Tarik napas, buang napas,* bisik gue dalam hati mencoba menenangkan diri.
Namun, keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak pada gue malam ini.
Saat lift baru saja bergerak turun beberapa lant**, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari atas. Lift berguncang hebat, membuat keseimbangan gue goyah.
"Ah!" gue menjerit spontan saat tubuh gue terhuyung ke depan.
Sebelum gue sempat jatuh tersungkur, sepasang lengan yang kuat dengan sigap menangkap pinggang gue. Mas Devano menarik tubuh gue mendekat ke arahnya. Detik berikutnya, *jepret!*
Lampu di dalam lift langsung mati total. Keadaan menjadi gelap gulita, menyisakan kegelapan pekat yang langsung mengepung kami tanpa ampun. Lift itu berhenti bergerak. Macet total di tengah-tengah entah lant** berapa.
"Mas... Mas Devano?" suara gue bergetar hebat. Jantung gue langsung berdegup kencang seperti genderang perang.
"Tenang, Alana. Jangan panik," suara berat Mas Devano terdengar tepat di atas kepala gue. Tangannya masih memegang erat pinggang gue, memberikan sedikit rasa aman yang sayangnya langsung tergerus oleh rasa takut yang mulai menjalar.
Napas gue mulai memburu. Dada gue terasa menyempit, seolah dinding-dinding lift ini perlahan-lahan bergerak maju untuk menjepit tubuh gue sampai hancur. Keringat dingin mulai keluar di pelipis gue. Gue menderita claustrophobia—ketakutan ekstrem pada ruang sempit dan tertutup. Dan terjebak di dalam lift mati yang gelap gulita di tengah badai adalah skenario terburuk yang pernah gue bayangkan seumur hidup.
"Mas... gue... gue nggak bisa napas," bisik gue, mulai kehilangan kendali atas pangg***n formal kami. Napas gue menjadi pendek-pendek dan putus-putus. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata gue. "Mas, tolong... buka pintunya... sempit banget... gue nggak kuat..."
"Alana, hei, dengerin saya." Mas Devano melepaskan satu tangannya untuk merogoh saku celana, menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya putih yang redup itu setidaknya memberikan sedikit penerangan di antara kami.
Dia menatap wajah gue yang sudah pucat pasi. Begitu melihat mata gue yang berkaca-kaca dan napas gue yang semakin kacau, raut wajah dinginnya langsung runtuh, digantikan oleh kecemasan yang teramat sangat.
"Alana, lihat gue. Tatap mata gue," ujarnya, kini sepenuhnya menggunakan bahasa sant**, menanggalkan sekat formalitas bos dan anak magang yang selama ini kami pertahankan.
Gue mencoba menatap matanya yang tajam dan gelap di bawah temaram cahaya ponsel. Tapi rasa takut di dada gue terlalu mendominasi. Tubuh gue gemetar hebat, lutut gue lemas sampai rasanya tidak sanggup lagi menopang berat badan sendiri. Gue mulai merosot turun ke lant** lift.
Melihat hal itu, Devano langsung ikut berlutut di depan gue. Tanpa aba-aba, dia menarik tubuh gue ke dalam dekapannya. Dia memeluk gue dengan sangat erat, menyembunyikan wajah gue di ceruk lehernya yang hangat.
"Ssst... ada gue di sini. Lo aman, Alana. Lo nggak bakal kenapa-napa," bisiknya lembut di dekat telinga gue, sambil tangannya yang besar mengusap-usap punggung gue dengan gerakan naik-turun yang menenangkan. "Fokus sama napas gue. Ikutin napas gue, oke?"
Aroma tubuh Devano yang hangat dan maskulin langsung memenuhi indra penciuman gue. Sentuhan fisiknya yang begitu protektif perlahan-lahan mengirimkan gelombang ketenangan yang aneh ke dalam tubuh gue yang sedang terguncang. Gue mencengkeram kemeja hitamnya dengan erat, menyalurkan seluruh rasa takut gue ke sana.
"Tarik napas pelan-pelan... buang..." tuntun Devano lembut.
Gue mencoba mengikuti ritme napasnya yang teratur. Dada kami yang menempel erat membuat gue bisa merasakan detak jantung Devano yang ternyata sama cepatnya dengan detak jantung gue. Entah karena dia ikut panik dengan keadaan lift, atau karena hal lain.
Perlahan tapi pasti, napas gue mulai stabil. Rasa sesak yang tadi mencekik dada gue perlahan-lahan menguap, digantikan oleh sensasi lain yang jauh lebih berbahaya.
Kehadiran fisik Devano yang begitu dekat membuat gue menyadari betapa intimnya posisi kami saat ini. Gue terduduk di lant** lift dengan kaki yang saling bertautan, berada sepenuhnya di dalam kurungan pelukan hangat seorang Devano—pria dingin yang selama ini paling gue hindari di kantor, tapi juga pria yang diam-diam selalu hadir dalam mimpi-mimpi malam gue sejak kejadian di bilik toilet nomor tiga itu.
Ketika menyadari napas gue sudah mulai tenang, Devano tidak langsung melepaskan pelukannya. Dia justru mengembuskan napas panjang, lalu melonggarkan sedikit dekapannya agar bisa menatap wajah gue.
Jarak wajah kami sekarang tidak lebih dari beberapa sentimeter. Dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh pantulan cahaya ponsel di lant**, mata Devano tampak berkilat penuh dengan emosi yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat. Napas hangatnya menerpa permukaan bibir gue, membuat bulu kuduk gue meremang seketika.
Ketegangan seksual yang sudah lama tertahan di antara kami—yang menumpuk setiap kali kami tidak sengaja berpapasan di koridor kantor, setiap kali mata kami bertemu dalam rapat, dan setiap kali dia mengoreksi pekerjaan gue dengan jarak yang terlalu dekat—malam ini mendadak mencapai titik jenuhnya. Atmosfer di dalam lift mati ini terasa sangat panas dan bermuatan listrik.
Gue menelan ludah dengan susah payah, mata gue tanpa sadar turun menatap bibir tegas Devano.
Devano menyadari arah pandangan gue. Ibu jarinya yang hangat perlahan naik, mengusap sisa air mata di pipi gue dengan sangat lembut, sebelum jemarinya beralih menyisipkan anak rambut gue ke belakang telinga. Sentuhannya yang pelan mengirimkan sengatan listrik yang membuat tubuh gue meremang.
"Alana..." suara Devano terdengar sangat serak, jauh dari nada bicaranya yang biasa terdengar berwibawa di kantor. "Lo tahu nggak, seberapa keras gue mencoba buat bersikap biasa aja di depan lo setiap hari?"
Gue terpaku, tidak bisa mengeluarkan suara sepatah kata pun.
Devano mendekatkan wajahnya lagi, hingga ujung hidung kami saling bersentuhan. Napasnya yang memburu terasa begitu intim di kulit gue.
"Gue bisa g***, Alana," bisiknya lirih, suaranya terdengar begitu frustrasi sekaligus penuh damba. "Setiap kali gue lihat lo, setiap kali lo ada di dekat gue... otak gue selalu balik ke hari itu. Ke bilik nomor tiga. Si****, gue nggak bisa berhenti mikirin lo."
Jantung gue rasanya mau copot mendengar pengakuan jujur yang meluncur langsung dari bibir cowok sedingin es ini. Sebelum gue sempat mencerna semuanya, Devano menatap mata gue lekat-lekat, seolah meminta izin—atau mungkin menegaskan bahwa dia tidak akan menerima penolakan lagi malam ini.
"Gue udah nggak tahan lagi," gumamnya rendah.
Detik berikutnya, Devano memiringkan kepalanya dan langsung mengeliminasi jarak yang tersisa di antara kami.
Dia mencium gue.
Sentuhan pertama bibirnya terasa sangat hangat dan menuntut. Gue tersentak kecil, namun tidak ada sedikit pun niat dalam diri gue untuk menjauh. Malahan, seperti ada tombol magnet yang ditarik, gue secara refleks memejamkan mata dan menyambut ciumannya.
Ciuman itu tidak dimulai dengan kelembutan yang lambat, melainkan sebuah ledakan gairah yang sudah lama dipendam setengah mati. Devano mencium gue dengan sangat intens, seolah-olah dia sedang menyalurkan seluruh rasa frustrasi, keinginan, dan keg***an yang dia rasakan selama berminggu-minggu ini ke dalam satu pagutan itu.
Tangan Devano berpindah ke tengkuk gue, jari-jarinya menyusup ke sela-sela rambut gue untuk memperdalam ciuman, memastikan gue tidak bisa melarikan diri ke mana pun. Dan sejujurnya, gue memang tidak ingin pergi. Gue justru semakin merapatkan tubuh gue ke tubuhnya, melingkarkan kedua lengan gue di leher kokohnya.
Suara desah napas kami yang memburu bersahut-sahutan di dalam ruang lift yang sunyi dan gelap. Ciuman Devano terasa begitu mendominasi, menuntut, namun di saat yang sama juga terasa begitu memabukkan sampai-sampai kepala gue rasanya berputar hebat. Setiap sentuhan bibirnya membuat seluruh akal sehat gue terbang melayang keluar dari lift ini.
Gue tidak peduli lagi tentang status kami sebagai bos dan anak magang. Gue tidak peduli lagi tentang risiko apa yang akan kami hadapi besok pagi di kantor jika ada yang tahu tentang hal ini. Untuk saat ini, di dalam kotak logam yang gelap dan terisolasi dari dunia luar ini, yang ada hanya gue, Devano, dan rasa haus yang akhirnya terpuaskan setelah sekian lama tertahan di ujung batas kesabaran.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!