Bab 1: Penjara Berlapis Emas
"Turunkan dagu Anda sedikit, Yang Mulia. Seorang Putri Mahkota tidak boleh mendongak terlalu tinggi, itu tidak sopan dan memberikan kesan sombong kepada para tamu undangan."
Suara melengking Countess Olivia sukses membuat Kathleen menahan napas. Rasanya ingin sekali Kathleen melempar sepatu hak tinggi berbahan beludru yang dipakainya langsung ke wajah keriput wanita tua berambut sanggul super tinggi itu. Tapi, tentu saja, dia tidak bisa melakukannya. Kenapa? Karena dia adalah Kathleen de Arandell, Putri Mahkota Kekaisaran Arandell yang selalu disebut-sebut sebagai wanita paling beruntung di dunia dalam artikel majalah sosialita kelas atas.
Beruntung dari mana, coba?
Kathleen melirik pantulan dirinya di cermin besar berlapis emas murni di hadapannya. Dia memakai gaun sutra berat berwarna biru tua dengan ratusan payet berkilau yang dijahit manual. Korset di balik gaun itu ditarik sangat kencang sampai Kathleen merasa paru-parunya menyusut setengah ukuran. Tulang rusuknya berderit protes setiap kali dia mencoba menarik napas dalam-dalam. Rambut pirang panjangnya disanggul rumit, ditahan oleh puluhan jepit rambut tajam yang menusuk kulit kepalanya, dan mahkota perak bertahtakan safir bertengger kokoh di atasnya. Berat mahkota itu tidak main-main, c**up untuk membuat leher Kathleen pegal luar biasa setelah lima jam berdiri tegak.
"Dan senyum Anda, Yang Mulia. Tolong, jangan terlalu lebar. Senyum seorang putri harus anggun, tipis, dan berkelas. Bukan menyengir lebar seperti gadis desa yang tidak berpendidikan," kritik Countess Olivia lagi sambil memperbaiki lipatan gaun Kathleen dengan gerakan kasar.
*G***. Ini senyum, bukan takaran micin di kuah bakso yang harus pas miligramnya,* batin Kathleen, mengumpat habis-habisan dalam hati.
"Saya mengerti, Countess," jawab Kathleen dengan nada datar yang sudah dia latih ratusan kali di depan cermin. Suaranya terdengar lembut, tenang, dan tanpa emosi. Sebuah topeng sempurna yang menyembunyikan fakta bahwa di dalam kepalanya, dia sudah berteriak histeris ingin pulang ke dunia lamanya sebelum terjebak di tempat terkutuk ini.
Hari ini adalah malam perayaan penobatan Kaisar, dan Kathleen baru saja melewati siksaan berdiri selama lima jam penuh di aula utama istana. Dia harus menyapa ratusan bangsawan bermuka dua yang tidak lelah-lelahnya menilai penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Salah sedikit sajaβmisalnya matanya berkedip terlalu sering atau jalannya sedikit goyahβmaka besok pagi rumor buruk tentang dirinya yang "tidak kompeten" akan langsung menjadi topik hangat di kalangan sosialita ibu kota.
"Bagus. Ingat posisi Anda, Yang Mulia. Anda adalah wajah dari kekaisaran ini. Jangan sampai membuat kesalahan kecil yang bisa mempermalukan Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Countess Olivia untuk terakhir kalinya sebelum membungkuk hormat dengan formalitas kaku, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Begitu pintu besar ruang rias tertutup, Kathleen langsung mengembuskan napas panjang. Punggungnya yang semula tegak lurus langsung melorot. Dia memegangi pinggangnya yang terasa mau patah. Dia melirik jam dinding berlapis berlian yang berdetak lambat di sudut ruangan. Baru jam sepuluh malam. Acara pesta dansa baru saja selesai, dan sekarang dia harus menghadapi 'siksaan' berikutnya: kembali ke kamar tidur utama yang dia bagi bersama sang suami tercinta.
Julian de Arandell.
Putra Mahkota, calon penguasa masa depan Kekaisaran Arandell, dan secara teknis adalah suaminya.
Kalau dinilai secara visual, Julian adalah definisi nyata dari karakter utama pria dalam komik fiksi romantis. Dia sangat tampan. Postur tubuhnya tinggi tegap dengan bahu lebar yang sempurna, rambut hitam legam yang selalu tertata rapi tanpa cela, rahang tegas, dan sepasang mata biru sedingin es kutub utara. Dia adalah tipe cowok yang bisa membuat perempuan mana saja pingsan hanya dengan sekali lirik.
Tapi kalau dinilai dari kepribadian? Nol besar. Julian adalah balok es berjalan yang tidak punya perasaan.
Saat Kathleen membuka pintu kamar tidur mereka yang super luas dan megah, dia langsung disuguhi pemandangan suaminya yang sedang duduk di sofa panjang dekat perapian. Julian sudah melepas jubah kebesarannya. Dia hanya mengenakan kemeja putih formal dengan dua kancing teratas yang sengaja dibuka, memperlihatkan sedikit tulang selangkanya yang kokoh. Si****, cowok itu memang kelihatan sangat s****, tapi Kathleen terlalu lelah untuk mengagumi visual suaminya malam ini.
Julian sedang fokus membaca tumpukan dokumen negara yang tebal, kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya.
"Kamu sudah kembali?" tanya Julian tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya sedikit pun. Suaranya berat, dingin, dan sangat datar.
"Ya," jawab Kathleen singkat. Dia berjalan lemas menuju meja riasnya, mulai melepas anting-anting berliannya yang terasa sangat berat hingga membuat daun telinganya merah. "Acaranya sangat melelahkan."
"Hm."
Hanya "hm".
Kathleen memutar bola matanya lewat pantulan cermin. *Bener-bener ya ini orang, irit banget kalau ngomong,* gerutu Kathleen kesal.
Mereka sudah menikah selama satu tahun, tapi interaksi mereka tidak pernah lebih hangat dari ini. Mereka tidak pernah mengobrol sant** tentang hobi, tidak pernah bercanda, apalagi bermesraan layaknya pengantin baru pada umumnya. Hubungan mereka murni transaksi bisnis. Kathleen adalah putri dari keluarga Duke terkuat di kekaisaran, dan Julian membutuhkan dukungan politik dari keluarganya untuk mengamankan takhta dari intrik perebutan kekuasaan para pangeran lain.
Mereka berdua hanyalah rekan kerja yang terpaksa tinggal satu atap, berbagi kamar tidur yang sama, dan tidur di ranjang king size yang samaβmeskipun mereka bahkan hampir tidak pernah bersentuhan fisik.
"Bagaimana pertemuanmu dengan para tetua istana tadi sebelum pesta dimulai?" tanya Julian akhirnya, beralih ke dokumen berikutnya. Nadanya sangat formal, seolah-olah dia sedang mewawancarai sekretaris pribadinya di kantor kekaisaran.
"Sama seperti biasanya. Mereka tidak suka dengan caraku menyapa tamu dari Kekaisaran Barat. Katanya aku kurang ramah dan tidak menunjukkan wibawa," jawab Kathleen sambil mulai melepas pin-pin rambutnya dengan kasar, membuat rambut pirangnya terurai bebas. "Oh, dan tentu saja, mereka juga kembali mengungkit masalah... pewaris."
Gerakan tangan Julian yang hendak membalik halaman dokumen langsung terhenti. Suasana di dalam kamar yang luas itu mendadak terasa semakin membeku, menyisakan suara gemeretak kayu bakar dari perapian.
"Abaikan saja mereka," kata Julian dingin. Dia meletakkan dokumennya di atas meja marmer, lalu melepas kacamatanya. "Kita sudah menyepakati hal itu sebelum menikah. Pernikahan ini hanya formalitas di atas kertas. Aku tidak akan memaksamu untuk memberikan pewaris jika kamu belum siap."
Kathleen tersenyum sinis, tapi dia menyembunyikan ekspresi itu dari suaminya. *Gampang banget ya dia ngomong.* Yang ditekan, diteror, dan disindir setiap hari oleh para tetua istana itu adalah Kathleen, bukan Julian. Julian aman-aman saja karena dia adalah garis keturunan langsung kaisar, sedangkan Kathleen selalu dianggap sebagai "orang luar" yang tidak berguna jika belum melahirkan anak laki-laki untuk kekaisaran ini.
"Tentu. Terima kasih atas pengertianmu yang sangat luar biasa, Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Kathleen dengan nada sarkasme yang sangat tipis, hampir tidak kentara bagi orang biasa. Tapi Kathleen tahu Julian mendengarnya.
Julian hanya menatap Kathleen sekilas dengan mata birunya yang datar dan tanpa emosi, lalu berdiri dari sofa. Dia berjalan menuju ranjang megah mereka yang terletak di tengah ruangan. "Aku akan tidur duluan. Besok pagi-pagi sekali aku harus memimpin rapat dewan."
"Silakan," jawab Kathleen acuh tak acuh.
Kathleen memperhatikan punggung lebar Julian yang kini merebahkan diri di sisi ranjang sebelah kanan, membelakangi sisi kiri tempat tidur seolah-olah kehadiran Kathleen di ruangan itu sama sekali tidak penting. Julian mematikan lampu meja di sisinya, membuat separuh kamar mereka tenggelam dalam kegelapan.
Kathleen menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Dadanya terasa sangat sesak. Tekanan dari para tetua yang tiada habisnya, ratusan aturan protokol istana yang kaku dan tidak ma**k akal, kelelahan fisik karena gaun ketat ini, ditambah dengan sikap suaminya yang sedingin kulkas dua pintu membuat Kathleen merasa tercekik. Dia merasa seperti sedang tenggelam di lautan dalam, perlahan-lahan kehabisan oksigen di dalam istana megah yang super mewah ini.
*Gue bisa g*** kalau terus-terusan kayak begini,* jerit Kathleen dalam hati. Jiwa modernnya yang terbiasa bebas meronta-ronta minta dilepaskan.
Ini bukan istana indah seperti di negeri dongeng. Ini adalah penjara berlapis emas yang sangat menyiksa batinnya.
Dia butuh kabur. Dia butuh tempat pelarian di mana dia tidak perlu menjadi "Putri Mahkota Kathleen" yang sempurna. Dia butuh tempat di mana dia bisa melepas semua topeng keanggunannya, duduk dengan posisi tidak sopan, mengumpat sepuasnya, atau bahkan menangis tanpa harus takut dinilai oleh orang lain.
Tapi ke mana dia bisa pergi? Istana ini dijaga ketat oleh ratusan prajurit bersenjata lengkap selama dua puluh empat jam penuh. Bahkan jika dia melangkahkan kaki keluar dari kamar ini di malam hari, para pelayan dan penjaga akan langsung mengetahuinya dan melaporkannya kepada Kaisar.
Pandangan Kathleen tiba-tiba tertuju pada sebuah pintu kayu ek besar berwarna putih dengan ukiran berlapis emas di sudut kamar mereka. Pintu menuju kamar mandi pribadi yang super mewah milik Putri Mahkota.
Kamar mandi itu adalah satu-satunya area di istana ini yang tidak boleh dima**ki oleh siapa pun tanpa izin tertulis dari Kathleen. Bahkan para pelayan pun hanya boleh ma**k pada jam-jam tertentu untuk membersihkannya. Kamar mandi itu adalah wilayah kekuasaan mutlaknya. Di sana tidak ada kamera pengawas, tidak ada pelayan yang menguping, tidak ada Countess Olivia yang cerewet, dan yang paling penting, tidak ada Julian yang dingin.
Seketika itu juga, sebuah ide cemerlang muncul di kepala Kathleen.
Dengan gerakan cepat, Kathleen langsung menyambar jubah tidur sutra longgar berwarna hitam dari dalam lemari pakaiannya. Dia membuka ritsleting gaun biru tuanya yang menyiksa, membiarkan gaun mahal berharga ribuan keping emas itu merosot begitu saja dan tergeletak berantakan di lant**βsebuah tindakan yang dijamin akan membuat Countess Olivia terkena serangan jantung seketika jika melihatnya.
Kathleen memakai jubah tidurnya dengan terburu-buru, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi.
*Cklek.*
Kathleen menutup pintu kayu ek tebal itu rapat-rapat. Dia segera memutar kunci pintunya sebanyak dua kali.
*Klak. Klak.*
Bunyi kunci yang mengunci pintu itu terdengar bagaikan melodi paling indah yang pernah didengar Kathleen sepanjang hidupnya. Begitu pintu benar-benar terkunci rapat, Kathleen langsung menyandarkan seluruh tubuhnya di balik pintu. Tubuhnya merosot perlahan-lahan sampai akhirnya dia terduduk lemas di atas lant** marmer kamar mandi yang dingin.
Dia mengembuskan napas sekencang-kencangnya, membuang semua beban berat yang menggelayuti dadanya sejak pagi tadi.
"Akhirnya... bebas juga," bisik Kathleen pada dirinya sendiri, suaranya bergetar karena rasa lega yang luar biasa.
Suasana kamar mandi pribadi itu sangat sunyi dan menenangkan. Hanya ada suara rintik air yang menetes pelan dari keran bathtub marmer berukuran raksasa di tengah ruangan. Kamar mandi ini sangat luas, bahkan lebih mirip seperti salon spa pribadi kelas atas, lengkap dengan pilar-pilar marmer putih, lilin-lilin aromaterapi beraroma lavender yang menenangkan, dan deretan botol parfum mahal yang tertata rapi di rak kaca.
Di tempat ini, tidak ada yang bisa melihatnya. Di tempat ini, dia tidak perlu menjaga imejnya.
Kathleen menekuk kedua lututnya ke dada, lalu menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Rambut pirangnya yang indah kini berantakan sepenuhnya, jatuh menutupi bahu dan wajahnya. Untuk pertama kalinya hari ini, dia tidak perlu menegakkan punggungnya. Dia bisa duduk meliuk, membungkuk, atau bahkan telungkup di lant** marmer yang dingin ini jika dia mau.
Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma lavender yang menenangkan memenuhi paru-parunya.
"Pers**** dengan semua protokol istana konyol itu. Pers**** dengan Countess Olivia yang bermulut racun. Dan pers**** dengan Julian si manusia es tanpa emosi," gumam Kathleen pelan.
Kata-kata kasar dan tidak pantas yang sangat dilarang diucapkan oleh seorang anggota keluarga kekaisaran itu meluncur begitu saja dari bibirnya dengan sangat lancar. Dan rasanya? Sangat-sangat memuaskan. Kathleen merasa beban berat di pundaknya menguap begitu saja setiap kali dia melontarkan umpatan di dalam ruangan ini.
Kathleen mendongak, menatap langit-langit kamar mandi yang dihiasi lukisan awan indah berlapis emas. Senyum lebar yang tulus dan tanpa beban akhirnya terukir di wajahnya yang cantik.
Di sinilah rahasia terbesarnya dimulai. Kamar mandi mewah ini bukan sekadar tempat untuk membersihkan diri, melainkan tempat suci pelariannya yang paling aman dari kenyataan hidup yang menyiksa. Di dalam kamar mandi yang terkunci rapat ini, dia bukan lagi boneka pajangan pajangan Kekaisaran Arandell.
Dia adalah dirinya sendiri. Dan Kathleen sama sekali tidak berniat untuk keluar dari ruangan ini dalam waktu dekat.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!