...saling mengunci. Keheningan malam di dalam kamar mandi mewah itu mendadak terasa begitu pekat dan intim. Suara detak jantung Kathleen rasanya berdentum begitu keras sampai dia takut Julian bisa mendengarnya.
Julian, yang biasanya selalu memasang wajah menyebalkan dan sok cool, malam ini menatapnya dengan tatapan yang sangat berbeda. Teduh, hangat, dan... sedikit intens.
"Lo... ngapain sih?" gumam Kathleen akhirnya, memecah kecanggungan dengan suara yang agak serak. Dia buru-buru memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang mendadak terasa panas membara. "Main pegang-pegang aja. Modus lo, ya?"
Julian menarik kembali tangannya. Bukannya kesal karena dituduh modus, cowok itu malah terkekeh pelan. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding marmer, menatap langit-langit kamar mandi dengan senyum tipis yang belum pudar dari bibirnya.
"Geer banget lo," sahut Julian sant**, meski telinga cowok itu sebenarnya juga tampak sedikit memerah. "Gue cuma nggak tahan liat muka lo yang belepotan bumbu keripik begitu. Estetika Putri Mahkota lo langsung anjlok bebas ke kerak bumi."
"Si**** lo!" Kathleen spontan melempar bantal kecil yang biasa dia gunakan untuk sandaran duduk ke arah Julian.
Julian dengan cekatan menangkap bantal itu sambil tertawa lepas. "Tapi serius, Kath. Makasih, ya."
Kathleen mengernyitkan dahi. Dia menoleh ke arah Julian yang kini sedang menatapnya dengan ekspresi tulus. "Makasih buat apa?"
"Buat kamar mandi ini. Buat keripik pedas ini. Dan... buat lo yang nggak se-menyebalkan dugaan gue," kata Julian pelan. Suaranya terdengar tulus, tanpa ada nada sarkasme sama sekali. "Di luar sana, semua orang menuntut gue buat jadi sempurna. Gue harus jadi Putra Mahkota yang tanpa cela. Cuma di sini, di sebelah lo yang lagi makan micin sambil selonjoran, gue bisa napas lega."
Mendengar ucapan jujur Julian, pertahanan Kathleen runtuh seketika. Dinding es yang selama ini dia bangun di sekeliling hatinya perlahan meleleh. Ternyata, di balik statusnya yang mentereng dan sikapnya yang angkuh, Julian hanyalah seorang cowok biasa yang kesepian dan kelelahan memikul beban ekspektasi dunia.
Kathleen tersenyum tipis, lalu menepuk pundak Julian pelan. "Sant** aja, Jul. Selama lo rajin nyelundupin jajanan micin ke kamar mandi gue, lo boleh sembunyi di sini kapan aja lo mau."
Mereka berdua saling melempar senyum. Di dalam ruang tertutup bernuansa marmer itu, sebuah ikatan baru yang hangat mulai terjalin di antara mereka. Sesuatu yang jauh lebih nyata daripada status pernikahan kontrak mereka di atas kertas.
Namun, di saat hubungan mereka mulai menghangat, badai besar justru sedang mengint** dari balik bayang-bayang pilar istana yang dingin.
***
Keesokan harinya, di sebuah ruangan kerja yang megah di sudut barat kompleks istana, suasana terasa sangat tegang.
Menteri Senior Danuarta, salah satu tokoh politik paling berpengaruh sekaligus pemimpin faksi oposisi, sedang duduk di balik meja kayu jati besarnya. Di hadapannya, berdiri beberapa orang kepercayaannya dengan kepala tertunduk hormat.
"Jadi, apa yang kalian temukan?" tanya Danuarta dengan suara berat yang penuh intimidasi. Dia menyesap teh hangatnya perlahan.
"Lapor, Pak. Kami sudah mengawasi paviliun Putri Mahkota selama satu minggu terakhir," salah satu mata-mata mulai menjelaskan dengan gugup. "Hubungan antara Putra Mahkota Julian dan Putri Mahkota Kathleen tampaknya sangat aneh. Di depan publik mereka terlihat serasi, tapi di dalam paviliun, mereka bahkan tidak pernah tidur di kamar yang sama. Putri Mahkota selalu mengunci diri di kamar mandinya selama berjam-jam setiap malam."
Danuarta meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan pelan yang terdengar mengerikan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman licik.
"Oh? Jadi rumor tentang ketidakharmonisan mereka itu nyata?" gumam Danuarta dengan mata berbinar licik. "Mereka hanya berpura-pura mesra untuk mempertahankan dukungan publik dan mengamankan takhta Julian. Bagus sekali."
"Apakah kita harus menyebarkan rumor ini ke media, Pak?" tanya anak buahnya yang lain.
"Tidak, itu terlalu murahan," potong Danuarta cepat. "Julian itu pintar. Kalau cuma rumor media, dia bisa dengan mudah mengatasinya dengan mengadakan konferensi pers atau pemotretan mesra palsu lainnya. Kita butuh sesuatu yang langsung menghancurkan reputasi mereka secara permanen. Sesuatu yang akan membuat Dewan Istana mendesak agar takhta Julian dicopot."
Danuarta mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, berpikir keras. Sesaat kemudian, sebuah ide busuk melintas di kepalanya.
"Kalian tahu tentang *Aturan Kesucian Istana*, kan? Undang-undang kuno yang menyebutkan bahwa seorang calon ratu atau Putri Mahkota dilarang keras membawa atau bertemu dengan pria asing secara privat di dalam kamarnya tanpa izin resmi?" tanya Danuarta dengan nada penuh kemenangan.
"Ya, Pak. Pelanggaran terhadap aturan itu dianggap sebagai penghinaan besar terhadap kesucian takhta, dan hukumannya adalah pengasingan atau pencopotan gelar," jawab sang mata-mata.
"Tepat sekali," seringai Danuarta melebar. "Kita akan menjebak Kathleen. Malam ini, selundupkan salah satu pengawal muda baru ke dalam paviliun pribadinya saat Julian sedang ada rapat malam dengan kaisar. Pastikan pengawal itu ditemukan di dalam area kamar mandi atau kamar pribadi Kathleen. Setelah itu, kita akan melakukan penggerebekan atas nama 'menjaga kesucian istana'."
"Tapi Pak, bagaimana jika Putra Mahkota mengetahuinya?"
"Dia tidak akan tahu sampai semuanya terlambat. Begitu Kathleen tertangkap basah bersama pria lain di dalam kamarnya, reputasi Julian sebagai calon kaisar akan hancur lebur. Dia akan dianggap tidak becus memimpin istrinya sendiri, apalagi memimpin negara. Takhta itu akan jatuh ke tangan kita!" Danuarta tertawa terbahak-bahak, membayangkan kemenangan politik yang sudah di depan mata.
***
Malam pun tiba. Angin dingin berembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon di sekitar paviliun Kathleen. Suasana malam ini terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya.
Kathleen baru saja selesai membersihkan diri. Seperti biasa, dia langsung mengunci pintu kamar mandinya, bersiap untuk menunggu Julian yang berjanji akan datang setelah rapatnya selesai. Namun, belum sempat Kathleen duduk di karpet bulunya, dia mendengar suara grasak-grusuk yang mencurigakan dari arah ruang tidurnya yang berada di luar kamar mandi.
*Srek... Srek...*
Kathleen mengernyitkan dahi. "Siapa di luar? Julian? Lo udah balik?" panggilnya setengah berbisik.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara langkah kaki yang tergesa-gesa, disusul oleh suara pintu luar paviliunnya yang digedor dengan sangat keras.
*B**KK! B**KK! B**KK!*
"Buka pintu! Atas perintah Dewan Istana dan Menteri Senior Danuarta, kami harus melakukan pemeriksaan darurat di paviliun Putri Mahkota!" suara lantang seorang komandan penjaga terdengar dari luar.
Kathleen langsung panik. Jantungnya berdegup kencang. "Ada apa ini? Kenapa mendadak ada pemeriksaan?" gumamnya dengan wajah pucat.
Sebelum Kathleen sempat keluar dari kamar mandi untuk membuka pintu, terdengar suara dob**kan keras. Pintu depan paviliunnya dijebol paksa. Kathleen buru-buru melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh gemetaran.
Begitu dia sampai di ruang tidurnya, matanya membelalak sempurna karena terkejut. Di sudut kamarnya, dekat lemari pakaian, ada seorang pengawal muda yang tampak ketakutan setengah mati dengan pakaian yang agak acak-acakan. Kathleen bahkan tidak pernah melihat wajah cowok itu sebelumnya.
"L-lo... lo siapa?! Kenapa bisa ada di kamar gue?!" pekik Kathleen panik.
Belum sempat pengawal itu menjawab, pintu kamar tidur Kathleen terbuka lebar. Menteri Danuarta ma**k dengan langkah tegap, didampingi oleh beberapa tetua istana dan puluhan penjaga bersenjata lengkap.
"Tangkap pria itu!" perintah Danuarta dengan nada tegas yang dibuat-buat, menunjuk ke arah pengawal muda yang langsung bersimpuh di lant** tanpa perlawanan.
"Apa-apaan ini?!" teriak Kathleen, mencoba bersikap tegar meski lututnya terasa lemas. "Menteri Danuarta, berani sekali Anda mendob**k kamar pribadi saya malam-malam begini! Ini adalah pelanggaran privasi!"
Danuarta tersenyum sinis, menatap Kathleen dengan pandangan merendahkan. "Pelanggaran privasi? Mohon maaf, Yang Mulia Putri Mahkota. Tapi kami di sini justru sedang menjalankan tugas suci untuk melindungi nama baik kekaisaran. Kami menerima laporan bahwa Anda telah menyembunyikan seorang pria asing di dalam kamar tidur Anda."
"Itu fitnah! Gue bahkan nggak kenal sama sekali sama cowok ini! Dia tiba-tiba ada di sini!" bela Kathleen dengan nada emosi yang meluap-luap. Gaya bicaranya yang sant** tak sengaja keluar karena saking paniknya.
"Bukti sudah ada di depan mata, Yang Mulia," sahut Danuarta dengan nada puas yang sulit disembunyikan. "Pria ini ditemukan di dalam kamar pribadi Anda pada jam malam. Berdasarkan Aturan Kesucian Istana pasal 12, Anda telah melakukan pelanggaran berat. Anda telah mengotori kesucian takhta. Dengan ini, kami harus membawa Anda ke hadapan Dewan Agung untuk diadili, dan pernikahan Anda dengan Putra Mahkota harus segera dibatalkan!"
Para tetua istana di belakang Danuarta mulai berbisik-bisik kecewa, menatap Kathleen dengan pandangan menghakimi. Kathleen merasa dunia di sekelilingnya runtuh. Dia dijebak. Dan dia tidak punya cara untuk membela diri karena semua bukti fisik menyudutkannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Siapa yang berani membatalkan pernikahan gue?"
Sebuah suara bariton yang dingin, berat, dan penuh wibawa tiba-tiba memotong perdebatan itu dari arah pintu kamar mandi yang terbuka lebar.
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh dengan ekspresi syok, terma**k Menteri Danuarta yang matanya hampir keluar dari rongganya.
Julian berdiri di ambang pintu kamar mandi. Dia hanya mengenakan kemeja putih ka**al yang sant** dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Rambut hitamnya sedikit basah, memberikan kesan bahwa dia baru saja selesai membersihkan diri bersama istrinya.
"P-Putra Mahkota?!" gagap Danuarta, wajahnya langsung memucat seketika. "Kenapa... kenapa Anda bisa ada di dalam kamar mandi Putri Mahkota?"
Julian berjalan mendekati Kathleen dengan sant**, lalu secara alami merangkul pinggang Kathleen erat, menarik tubuh cewek yang sedang gemetaran itu ke dalam dekapannya yang hangat dan protektif.
"Kenapa gue ada di kamar mandi istri gue sendiri?" Julian menaikkan satu alisnya, menatap Danuarta dengan pandangan dingin yang seolah bisa membunuh orang di tempat. "Pertanyaan lo bodoh banget, Menteri Danuarta. Menurut lo, apa yang dilakukan sepasang suami istri di dalam kamar mandi pribadi mereka pada malam hari?"
Pipi Kathleen langsung merona merah mendengar ucapan blak-blakan Julian, tapi dia tahu Julian sedang mencoba menyelamatkannya. Kathleen pun langsung berpegangan erat pada kemeja Julian, mencoba menyelaraskan permainan.
"T-tapi... tapi ada pria asing di kamar ini!" bantah Danuarta, mencoba menyelamatkan rencana busuknya yang mulai berantakan. "Pengawal ini... dia berada di kamar tidur Putri Mahkota!"
Julian melirik ke arah pengawal muda yang gemetaran di lant** dengan tatapan jijik. "Oh, dia? Tadi gue yang manggil dia ke sini buat membawakan beberapa dokumen penting dari kantor gue. Tapi sepertinya dia malah bertingkah mencurigakan di kamar istri gue. Dan sekarang, lo tiba-tiba mendob**k ma**k dengan pa**kan lengkap? Pas banget ya momentumnya?"
Julian melangkah maju, melepaskan rangkulannya pada Kathleen sejenak untuk mengintimidasi Danuarta secara langsung. Aura dominan dan berbahaya terpancar kuat dari tubuh sang Putra Mahkota.
"Menteri Danuarta," desis Julian dengan suara rendah yang sangat menakutkan. "Mendob**k kamar pribadi Putri Mahkota saat gue, Putra Mahkota sekaligus suaminya, sedang ada di dalam... apakah ini yang lo sebut sebagai 'menjalankan tugas'? Atau ini adalah bentuk upaya makar untuk menjatuhkan nama baik gue dan istri gue?"
Mendengar kata "makar", para tetua istana langsung ketakutan. Mereka buru-buru mundur selangkah, menjauhkan diri dari Danuarta.
Danuarta menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Rencananya yang sempurna hancur lebur hanya karena keberadaan Julian di dalam kamar mandi ituβsesuatu yang sama sekali tidak ada dalam kalkulasinya.
"M-mohon maaf sebesar-besarnya, Yang Mulia Putra Mahkota. Kami... kami hanya bertindak berdasarkan laporan palsu," kata Danuarta dengan suara gemetar, terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan kemarahan dan rasa malunya.
"Keluar dari paviliun istri gue. SEKARANG. Dan bawa sampah ini bersama kalian," perintah Julian dingin, menunjuk pengawal muda yang menjadi umpan itu. "Sebelum gue memutuskan untuk memenggal kepala lo atas tuduhan pelecehan terhadap keluarga kerajaan."
Tanpa membuang waktu lagi, Danuarta dan pa**kannya langsung berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan paviliun dengan kekalahan telak.
Begitu pintu paviliun ditutup kembali dan suasana kembali hening, Kathleen langsung terduduk lemas di lant**. Kakinya benar-benar tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga.
Julian buru-buru berlutut di hadapan Kathleen. Wajah dingin dan angkuhnya yang dia tunjukkan pada Danuarta tadi lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi panik dan khawatir yang teramat sangat.
"Kath, lo nggak apa-apa? Ada yang terluka?" tanya Julian cepat, memegang kedua bahu Kathleen dengan lembut.
Kathleen menggeleng cepat, lalu tanpa sadar langsung menubruk tubuh Julian, memeluk leher cowok itu dengan erat sambil menangis sesenggukan di dadanya. "Gue... gue takut banget tadi, Jul. Gue pikir gue bakal diusir dari sini... Gue pikir karir dan hidup gue bakal hancur..."
Julian tertegun sejenak menerima pelukan tiba-tiba itu. Namun perlahan, dia melingkarkan lengannya di punggung Kathleen, mengusapnya dengan gerakan lembut yang menenangkan.
"Sstt... tenang aja. Ada gue di sini. Nggak akan ada yang berani nyentuh lo selama gue masih bernapas," bisik Julian lembut di telinga Kathleen, mempererat pelukannya.
Di tengah keheningan malam dan sisa-sisa ketegangan yang mendebarkan, mereka berdua menyadari satu hal yang pasti. Badai politik yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan musuh-musuh mereka tidak akan berhenti sampai mereka jatuh. Namun malam ini, di dalam pelukan hangat satu sama lain, mereka juga menyadari bahwa mereka tidak lagi berjuang sendirian.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!