"Jadi, rencana kita udah fix, kan?" Kathleen menatap pantulan dirinya dan Julian di cermin besar kamar mandi.
Di permukaan kaca yang sedikit berembun itu, Kathleen baru saja menyelesaikan coretan skema silsilah para menteri oposisi menggunakan spidol merah. Kamar mandi mewah yang biasanya cuma jadi tempat pelarian Kathleen untuk makan keripik pedas, pagi ini mendadak berubah fungsi menjadi markas strategi perang mereka.
Julian, yang sedang duduk sant** di atas penutup kloset duduk dengan kemeja putih khas kerajaan yang kancing atasnya sengaja dibuka, mengangguk sant**. Cowok itu mengunyah sisa keripik pedas dari semalam dengan watak tanpa dosa.
"Aman. Skenarionya udah ma**k otak gue semua. Lo tinggal main cantik aja di depan, biar gue yang jadi tameng di belakang," kata Julian dengan nada super yakin.
"Inget ya, Jul. Target utama kita hari ini itu Menteri Danuarta. Dia pasti bakal nyerang mental gue pakai isu 'Putri Mahkota yang nggak stabil secara mental karena hobi ngurung diri di kamar mandi'. Klasik banget serangannya, tapi lumayan bikin repot kalau nggak langsung kita potong sejak awal," sahut Kathleen seraya menghapus tulisan di cermin menggunakan tisu.
Julian bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang tenang membawanya tepat ke belakang Kathleen. Melalui pantulan cermin, mata mereka saling bertab**kan. Tatapan Julian yang semalam terasa hangat dan teduh, kini berubah menjadi tatapan tajam penuh determinasi. Dia mengulurkan tangan, merapikan sedikit anak rambut Kathleen yang keluar dari tatanan rambut formalnya, lalu membenarkan posisi tiara kecil di atas kepala istrinya.
Sentuhan tiba-tiba itu membuat jantung Kathleen berdegup dua kali lebih cepat.
"Lo tenang aja," bisik Julian, suaranya terdengar rendah dan sangat menenangkan tepat di dekat telinga Kathleen. "Gue nggak bakal biarkan satu orang pun di ruangan itu merendahkan istri gue. Hari ini, kita tunjukin ke mereka kalau mereka salah besar udah cari masalah sama kita."
Kathleen menelan ludah, mencoba menstabilkan dadanya yang mendadak bergemuruh. Sambil membalikkan badan menghadap Julian, dia tersenyum menantang. "Oke, *Hubby*. Ayo kita acak-acak sidang dewan hari ini."
***
Suasana di dalam Ruang Sidang Utama Istana terasa sangat mencekam. Puluhan pasang mata dari para tetua kolot berkumpul di sekeliling meja bundar besar dari kayu jati kuno. Di ujung barisan oposisi, Menteri Danuarta duduk dengan senyum pongah yang sangat menyebalkan. Dia merasa di atas angin, yakin bahwa hari ini adalah hari kejatuhan sang Putri Mahkota yang rumornya aneh dan tidak kompeten itu.
"Yang Mulia Putra Mahkota Julian dan Putri Mahkota Kathleen mema**ki ruangan!" seru penjaga pintu dengan lantang.
Pintu ganda yang besar itu terbuka lebar. Seluruh ruangan mendadak hening seketika ketika Julian dan Kathleen berjalan ma**k.
Alih-alih berjalan dengan jarak formal layaknya pasangan pernikahan kontrak yang dingin, Julian justru menggandeng tangan Kathleen dengan sangat erat. Jari-jari mereka saling bertautan rapat. Tidak hanya itu, Julian sesekali menunduk untuk membisikkan sesuatu di telinga Kathleen, membuat gadis itu tersenyum manis dengan rona merah alami di pipinya.
Pemandangan super mesra dan penuh *chemistry* itu langsung membuat para tetua kolot saling berbisik heboh. Mereka mengharapkan pasangan yang canggung dan retak, tapi yang mereka dapatkan justru visual pasangan paling harmonis abad ini.
Julian menarik kursi khusus untuk Kathleen terlebih dahulu dengan sangat sopan. "Silakan duduk, Sayang," ucap Julian dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
Kathleen menahan tawa setengah mati mendengar pangg***n "Sayang" yang terdengar begitu mulus keluar dari bibir Julian. Dia pun langsung membalas dengan senyuman paling menawan. "Makasih, Sayang."
Setelah semua orang duduk, Menteri Danuarta langsung berdehem keras, tidak sabar untuk memulai aksi busuknya.
"Selamat pagi, Yang Mulia berdua," buka Danuarta dengan nada bicara yang dibuat-buat ramah namun sarat akan sarkasme. "Langsung saja ke intinya. Sidang dewan hari ini digelar untuk membahas kelayakan Putri Mahkota Kathleen dalam mengemban tugas negara. Kami menerima banyak laporan dari para pelayan istana bahwa Putri Kathleen memiliki perilaku yang sangat... tidak biasa. Beliau sering sekali mengunci diri di kamar mandi selama berjam-jam setiap harinya."
Danuarta menjeda kalimatnya, melemparkan pandangan meremehkan ke arah Kathleen. "Kami khawatir, perilaku aneh ini merupakan indikasi bahwa Putri Mahkota mengalami gangguan mental atau depresi berat yang sengaja disembunyikan. Istana tidak bisa dipimpin oleh seseorang yang tidak stabil dan punya kebiasaan aneh seperti itu. Rakyat butuh pemimpin yang waras, bukan yang hobi sembunyi di toilet."
Beberapa menteri korup yang menjadi pengikut Danuarta langsung mengangguk-angguk setuju, memprovokasi suasana agar semakin tegang.
Kathleen tidak tampak gentar sedikit pun. Alih-alih menangis atau panik, dia justru meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan sant**, lalu melempar senyum tipis yang sangat meremehkan ke arah Danuarta.
"Terima kasih atas perhatian Anda yang luar biasa terhadap kesehatan mental saya, Menteri Danuarta," kata Kathleen dengan suara yang jernih, tenang, namun sangat menusuk. "Saya sangat tersentuh karena Anda sampai repot-repot menyuruh orang untuk menghitung durasi saya berada di kamar mandi. Tapi jujur saja, saya agak bingung. Apakah Anda memang tidak punya pekerjaan lain yang lebih penting? Misalnya... mengurus laporan dana subsidi wilayah selatan yang kabarnya mendadak menguap begitu saja?"
*Boom.*
Pertanyaan sant** dari Kathleen langsung membuat wajah Danuarta berubah pucat pasi. Beberapa tetua kolot mulai saling pandang dengan ekspresi tegang.
"Itu... itu masalah yang berbeda! Jangan mengalihkan pembicaraan, Putri Kathleen!" potong Danuarta dengan nada suara yang mulai meninggi, berusaha menutupi kepanikannya.
Sebelum Danuarta sempat melanjutkan omongannya, Julian langsung mengambil alih. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Danuarta dengan tatapan dingin sedingin es yang sanggup membuat siapa saja merinding.
"Kenapa dialihkan? Menurut saya itu pertanyaan yang sangat relevan, Menteri Danuarta," sahut Julian dengan nada malas yang mematikan. "Tapi oke, mari kita bahas tentang hobi 'mengunci diri' istri saya yang menurut Anda aneh itu."
Julian menjangkau tangan Kathleen di atas meja, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari di depan mata semua orang. Tindakan protektif yang begitu nyata.
"Asal Anda semua tahu, kamar mandi di paviliun kami bukan sekadar tempat mandi. Di era modern ini, inspirasi bisa datang dari mana saja. Saya dan Kathleen sengaja menggunakan ruangan itu sebagai ruang kerja pribadi kami yang paling aman," jelas Julian tenang.
"Ruang kerja?!" sahut salah satu tetua dengan dahi berkerut heran.
"Tepat sekali," lanjut Kathleen, mengambil alih estafet argumen dengan sangat cerdas. "Istana ini terlalu besar dan... katakanlah, terlalu banyak telinga yang suka menguping serta mata-mata yang berniat buruk. Kamar mandi adalah satu-satunya tempat yang benar-benar bersih dari alat penyadap. Di sanalah saya dan Julian merumuskan berbagai strategi penting untuk kerajaan, tanpa perlu takut bocor ke tangan orang-orang yang salah. Terma**k rencana audit besar-besaran untuk kementerian Anda, Menteri Danuarta."
Kathleen membuka tablet tablet yang dibawanya, lalu menggeser layarnya dengan anggun. "Julian, tolong tunjukkan dokumennya ke para tetua."
Julian tersenyum miring, lalu mengetuk layar tabletnya untuk memproyeksikan sebuah dokumen digital ke layar besar di ruang sidang. Dokumen itu berisi rincian aliran dana mencurigakan yang ditandatangani oleh Menteri Danuarta dan beberapa kroninya.
"Ini adalah draf reformasi anggaran agraria yang kami susun bersama di dalam kamar mandi yang Anda sebut 'tempat persembunyian' itu," ujar Julian dengan nada menyindir yang sangat kental. "Sebagian besar ide brilian di dalam dokumen ini lahir dari analisis tajam istri saya saat dia sedang mencari ketenangan di sana. Jadi, kalau Anda menyebut hobi istri saya itu aneh, menurut saya itu hanyalah kejeniusan tingkat tinggi yang tidak sanggup dipahami oleh otak Anda yang... yah, agak lambat."
Seluruh ruangan mendadak riuh rendah. Wajah Danuarta kini sudah berubah menjadi merah padam menahan malu sekaligus murka. Rencana awalnya untuk menjatuhkan mental Kathleen justru berbalik menjadi senjata makan tuan yang siap menghancurkan karier politiknya dalam sekejap.
"Ini... ini tidak mungkin! Dokumen ini pasti palsu!" teriak Danuarta frustrasi, mencoba melakukan pembelaan terakhir yang sia-sia.
"Palsu?" Kathleen menaikkan satu alisnya, menatap Danuarta dengan pandangan kasihan. "Semua tanda tangan digital dan stempel verifikasi bank di sana sangat valid, Pak Menteri. Kami bisa langsung memanggil tim audit independen siang ini juga jika Anda merasa keberatan."
Kathleen kemudian menatap ke arah para tetua dewan satu per satu. Dengan gaya bicara seorang calon Ratu yang berwibawa namun tetap modern dan tegas, dia berkata, "Kami berdua bekerja siang dan malam demi kemajuan kerajaan ini, bahkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun. Jadi, saya harap sidang dewan ini bisa fokus pada masalah nyata seperti korupsi yang merugikan rakyat, alih-alih mengurusi urusan domestik kamar mandi kami."
Keheningan yang luar biasa langsung melanda ruangan itu. Tidak ada satu pun menteri atau tetua yang berani membuka suara. Argumen Kathleen begitu solid, bukti yang diajukan begitu nyata, dan perlindungan Julian di sampingnya begitu kokoh tidak tertembus.
Menteri Danuarta akhirnya terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa hari ini dia tidak hanya kalah, tapi juga telah tamat.
Kepala Tetua Istana berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Ehem... baiklah. Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan, dewan menyatakan tuduhan terhadap Putri Mahkota tidak berdasar. Dan mengenai dokumen aliran dana mencurigakan ini... kami akan segera melakukan penyelidikan resmi terhadap Kementerian Agraria."
Julian berdiri dari kursinya, diikuti oleh Kathleen. "Kalau begitu, sidang hari ini selesai. Kami berdua masih banyak urusan yang lebih penting."
Julian merangkul pinggang Kathleen dengan posesif, menuntun istrinya berjalan keluar dari ruang sidang dengan langkah tegap layaknya pemenang. Meninggalkan para musuh politik mereka yang kini mati kutu di dalam ruangan yang sunyi senyap.
Begitu pintu ganda ruang sidang tertutup rapat di belakang mereka dan koridor istana sepi dari penjaga, Kathleen langsung melepaskan napas lega yang panjang. Bahunya yang tadinya tegang seketika merosot sant**.
"G***, Jul! Tadi itu beneran menegangkan banget!" seru Kathleen dengan suara tertahan, wajahnya memancarkan binar kegembiraan yang luar biasa. "Lo liat nggak muka si Danuarta pas gue sebut soal dana subsidi? Langsung pucat kayak mayat!"
Julian terkekeh pelan, melepaskan rangkulannya di pinggang Kathleen tapi tetap berjalan beriringan dengan sangat dekat. "Gue liat. Dan bagian lo nyebut kamar mandi sebagai ruang kerja anti-sadap? *Savage* banget, Kath. Gue hampir aja kelepasan ketawa di depan para tetua."
"Tapi akting lo juga oke banget tadi. Pangg***n 'Sayang'-nya dapet banget, dapet penghargaan aktor terbaik deh lo," goda Kathleen sambil menyenggol lengan Julian jahil.
Julian menghentikan langkahnya mendadak, membuat Kathleen ikut berhenti dan menatapnya bingung. Cowok itu menatap Kathleen dengan senyum tipis yang sarat akan makna lain.
"Siapa bilang tadi itu cuma akting?" tanya Julian dengan nada bercanda yang setengah serius, membuat jantung Kathleen sekali lagi berpacu tidak karuan.
Sebelum Kathleen sempat membalas, Julian sudah berjalan mendahuluinya sambil melambaikan tangan tanpa menoleh. "Yuk, balik ke kamar mandi. Kita rayain kemenangan hari ini pakai keripik pedas level maksimal. Gue yang traktir!"
Kathleen terpaku sejenak di tempatnya berdiri, menatap punggung Julian yang menjauh dengan senyum lebar yang tidak bisa dia sembunyikan lagi. Sambil berlari kecil menyusul cowok itu, Kathleen membatin bahwa mulai hari ini, kamar mandi mewahnya tidak akan pernah terasa sepi lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!