Jari-jari mereka saling bertautan erat, seolah-olah mengirimkan pesan tak terlihat kepada semua orang di ruangan itu bahwa mereka adalah satu paket yang nggak bisa dipisahkan.
Langkah kaki Julian dan Kathleen terdengar mantap, menggema di ruangan rapat yang mendadak sunyi senyap. Kathleen bisa merasakan tatapan sinis dari beberapa menteri tua, terutama dari Menteri Danuarta yang duduk di ujung meja dengan senyum meremehkan yang amat sangat menyebalkan.
Tapi anehnya, Kathleen nggak merasa takut sama sekali. Genggaman tangan Julian yang hangat dan kokoh di jemarinya seolah menyalurkan energi instan yang membuat rasa gugupnya menguap begitu saja.
"Selamat pagi, para anggota dewan yang terhormat," suara Julian terdengar bariton, tenang, namun memiliki otoritas yang mutlak. Dia menarik kursi untuk Kathleen terlebih dahulu dengan sangat sopanβsebuah gestur manis yang langsung membuat beberapa menteri berbisik-bisik kagetβsebelum akhirnya dia duduk di kursinya sendiri yang tepat berada di sebelah Kathleen.
Menteri Danuarta berdeham keras, mencoba memecah dominasi yang baru saja dibawa oleh pasangan muda itu. "Selamat pagi, Yang Mulia Putra Mahkota. Dan... Putri Mahkota Kathleen. Kami senang melihat Anda akhirnya bersedia keluar dari... kamar mandi pribadi Anda dan bergabung di ruang sidang yang penting ini."
Sindiran itu langsung memicu senyum sinis dari beberapa menteri sekutu Danuarta. Mereka pikir Kathleen bakal langsung ciut dan panik.
Namun, Kathleen justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan sant**. Dia menatap Danuarta lurus-lurus, lalu tersenyum manis. "Terima kasih atas perhatiannya yang luar biasa terhadap rutinitas harian saya, Menteri Danuarta. Tapi saya rasa, kita semua di sini untuk membahas masa depan kebijakan ekonomi wilayah perbatasan, bukan membahas berapa lama saya menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Kecuali... Anda memang lebih tertarik pada urusan domestik saya dibanding kesejahteraan rakyat?"
Skakmat. Senyum di wajah Danuarta langsung luntur. Beberapa menteri lain tampak menahan tawa, sementara sekutu Danuarta langsung salah tingkah.
"Tapi, Putri Mahkota," Danuarta mencoba menyerang lagi, tidak mau kalah begitu saja. "Sebagai calon ratu masa depan, kestabilan mental Anda sangat krusial. Rumor yang beredar di luar sana mengatakan Anda sering mengunci diri karena depresi berat dan tidak mampu menghadapi tekanan istana. Bagaimana kami bisa mempercayakan masa depan kerajaan pada seseorang yang..."
"Yang berhasil membongkar ka**s korupsi dana pembangunan pelabuhan selatan yang melibatkan keluarga Anda?" potong Julian dengan nada dingin yang langsung membekukan atmosfer ruangan.
Julian melempar sebuah map dokumen tebal ke tengah meja jati kuno itu. Suara hantamannya terdengar nyaring, membuat beberapa orang tersentak kaget.
"Silakan buka halaman lima belas, Menteri Danuarta," lanjut Julian, sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap sang menteri dengan pandangan meremehkan. "Di situ ada rincian aliran dana yang ma**k ke rekening pribadi Anda dari perusahaan cangkang di luar negeri. Istri sayaβyang Anda sebut 'nggak stabil secara mental' iniβmenghabiskan waktunya di kamar mandi bukan untuk menangis, tapi untuk menganalisis data yang sengaja Anda sembunyikan selama lima tahun terakhir. Jadi, siapa sekarang yang punya masalah mental di sini?"
Wajah Danuarta mendadak pucat pasi seperti kertas. Tangannya gemetar saat mencoba membuka map tersebut. Begitu melihat dokumen di dalamnya, dia langsung kehilangan kata-kata. Seluruh menteri oposisi yang tadinya mendukung Danuarta kini langsung memalingkan wajah, pura-pura tidak tahu dan mencoba menyelamatkan diri masing-masing.
Sidang hari itu berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Julian dan Kathleen. Tuduhan bahwa Kathleen tidak kompeten hancur lebur seketika. Sebaliknya, Kathleen justru dipuji sebagai sosok jenius yang berhasil menyelamatkan keuangan negara dari tikus-tikus berdasi seperti Danuarta.
***
Beberapa minggu setelah badai politik itu mereda, atmosfer di Istana bener-bener berubah total. Nggak ada lagi bisik-bisik miring tentang Putri Mahkota yang aneh. Sebaliknya, setiap kali Kathleen berjalan melewati koridor istana, para pelayan dan pengawal menunduk dengan rasa hormat yang tulus, bukan sekadar formalitas belaka.
Sore itu, matahari mulai tenggelam, memancarkan warna jingga keemasan yang cantik lewat jendela-jendela besar kamar utama mereka.
Kathleen merebahkan tubuhnya di atas ka**r king size yang super empuk. Dia mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang. "G***... akhirnya semua ini kelar juga. Gue ngerasa kayak baru aja lolos dari ujian skripsi paling horor seumur hidup."
Julian yang baru saja ma**k ke kamar sambil melonggarkan dasinya tertawa kecil mendengar ucapan istrinya. Dia berjalan mendekati ka**r, lalu mendudukkan diri di pinggir tempat tidur, menatap Kathleen dengan tatapan yang sangat lembut.
"Capek banget, ya?" tanya Julian, tangannya terulur untuk mengusap pelan dahi Kathleen, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata cewek itu.
"Banget, Jul! Lo nggak tahu aja betapa pegelnya senyum palsu di depan kamera para wartawan tadi siang," keluh Kathleen manja. Dia meraih tangan Julian yang ada di dahinya, lalu menggenggamnya erat. "Tapi... gue senang. Akhirnya posisi kita aman. Nggak ada lagi yang bisa ngancam lo atau gue di istana ini."
Julian tersenyum, lalu menunduk dan mengecup kening Kathleen dengan lembut dan lama. Sentuhan itu membuat jantung Kathleen kembali berdebar kencang, persis seperti saat mereka pertama kali menyadari kalau hubungan pernikahan paksa ini sudah berubah arah menjadi sesuatu yang sangat nyata dan mendalam.
"Semua ini berkat lo, Kath. Kalau lo nggak nekat nyari bukti-bukti itu, mungkin sekarang kita masih sibuk bertahan dari serangan mereka," bisik Julian hangat. Tatapannya turun ke bibir Kathleen, membuat suasana kamar mendadak terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
Kathleen tersenyum jail. "Yah... sebenarnya semua ide brilian itu kan munculnya dari markas rahasia gue."
"Oh, ya?" Julian menaikkan satu alisnya, senyum menggoda terukir di wajah tampannya. "Markas rahasia yang baunya wangi sabun lavender dan penuh sama bungkus keripik pedas kosong itu?"
"Heh! Jangan menghina ya! Kamar mandi itu tempat bersejarah tahu!" Kathleen mendengus kesal tapi matanya berbinar jenaka.
Julian terkekeh. Dia tiba-tiba bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya ke arah Kathleen. "Kalau gitu, gimana kalau kita kunjungi markas bersejarah itu sekarang? Merayakan kemenangan kita di tempat yang paling pas."
Kathleen menatap tangan Julian, lalu tersenyum lebar. Dia menyambut uluran tangan suaminya dan bangkit dari ka**r. "Ide bagus. Lagian gue emang butuh berendam air hangat biar stresnya hilang."
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju pintu kamar mandi pribadi mereka yang terletak di sudut kamar utama. Kamar mandi mewah berukuran luas yang dulunya sering dikunci Kathleen rapat-rapat dari dalam untuk menghindari Julian, kini menjadi tempat paling nyaman bagi mereka berdua.
Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Kathleen langsung mengunci pintunya dengan bunyi klik yang khas.
"Kebiasaan," goda Julian sambil bersandar di dekat wastafel, melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan Kathleen yang mulai menyalakan keran bathtub mewah mereka, mencampurkan garam mandi beraroma mawar dan busa-busa sabun yang melimpah.
"Kan refleks, Jul. Lagian sekarang kan yang dikunci di dalam ada lo juga, jadi nggak masalah," sahut Kathleen sant** sambil mengibaskan tangannya di dalam air hangat untuk meratakan busanya.
Begitu selesai menyiapkan bathtub, Kathleen berbalik dan mendapati Julian sedang menatapnya dengan pandangan yang sangat intens. Cowok itu sudah melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sedikit tulang selangkanya yang tegas.
Kathleen mendadak merasa tenggorokannya kering. "Kenapa... lo ngelihatin gue kayak gitu?"
Julian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah maju secara perlahan, memangkas jarak di antara mereka sampai Kathleen bisa merasakan kehangatan tubuh cowok itu. Kathleen terpaksa mundur selangkah sampai punggungnya membentur pinggiran wastafel yang dingin.
Julian menaruh kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Kathleen, mengurung cewek itu dalam dekapannya. Aromanya yang maskulin bercampur wangi sabun langsung memenuhi indra penciuman Kathleen, membuatnya agak pusing karena terlalu terpesona.
"Dulu, gue benci banget setiap kali lo ngunci diri di sini," bisik Julian, suaranya terdengar rendah dan serak, mengirimkan sensasi menggelitik di sepanjang tulang belakang Kathleen. "Gue selalu mikir, apa sih yang lo lakuin di dalam? Kenapa lo selalu nolak kehadiran gue?"
"Jul..." Kathleen berbisik pelan, tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Julian di bagian dada.
"Tapi sekarang," Julian mendekatkan wajahnya, hidung mereka saling bersentuhan dengan lembut. "Gue bersyukur banget lo suka ngunci diri di sini. Karena kalau nggak, gue nggak bakal pernah tahu seberapa keras kepalanya lo, seberapa lucunya lo kalau lagi panik, dan seberapa dalamnya gue bisa jatuh cinta sama lo."
Jantung Kathleen serasa mau copot. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata Julian yang berkilau penuh cinta dan gairah yang membara. Nggak ada lagi keraguan di sana. Semuanya murni, nyata, dan tanpa topeng protokol istana.
"Gue juga, Jul," ucap Kathleen tulus, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang meluap-luap. "Gue juga sayang banget sama lo. Makasih udah selalu jadi tameng gue, bahkan saat gue sendiri ngerasa nggak berharga buat dipertahankan."
Julian tersenyum hangat, lalu perlahan menundukkan kepalanya. Saat bibir mereka akhirnya bertemu, rasanya seperti semua beban yang mereka pikul selama berbulan-bulan ini luruh begitu saja. Ciuman itu dimulai dengan lembut, penuh rasa syukur dan kelegaan atas kemenangan mereka, sebelum perlahan-lahan berubah menjadi lebih dalam, menuntut, dan penuh gairah yang membara.
Kathleen mengalungkan lengannya di leher Julian, menarik cowok itu lebih dekat, sementara tangan Julian merayap ke pinggang Kathleen, mendekap tubuh istrinya dengan erat seolah tidak mau melepaskannya lagi. Busa di bathtub yang bergemericik pelan dan uap air hangat yang mulai memenuhi ruangan menciptakan atmosfer yang begitu intim dan privat.
Di sinilah mereka sekarang. Di dalam kamar mandi yang dulunya merupakan tempat pelarian Kathleen dari kenyataan hidup yang pahit. Tempat yang awalnya dipenuhi air mata keputusasaan, kini telah berubah menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang saling mencint**.
Saat Julian akhirnya melepaskan ciuman mereka untuk memberi ruang bernapas, dahi mereka masih saling menempel. Keduanya terengah-engah dengan senyum lebar yang menghiasi wajah masing-masing.
"Jadi," Julian berbisik di sela napasnya yang memburu, matanya berkilat jahil. "Mau berendam bareng sekarang, Putri Mahkota?"
Kathleen tertawa kecil, pipinya merona merah mengalahkan warna mawar di dalam air bathtub. Dia menepuk dada Julian pelan sebelum akhirnya mengangguk. "Boleh. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Nggak boleh ada yang bahas urusan politik atau kerjaan kerajaan lagi selama kita di sini. Kamar mandi ini cuma milik kita berdua."
Julian tersenyum sangat manis, tipe senyuman yang selalu sukses membuat Kathleen jatuh cinta berulang kali. "Setuju. Kamar mandi ini... cuma punya kita."
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!