Rahasia Putri Mahkota yang Suka Mengunci Diri di Kamar Mandi

Bab 2: Satu Jam yang Menyelamatkan Nyawa

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Satu Jam yang Menyelamatkan Nyawa**

Begitu pintu besar ruang rias tertutup, Kathleen langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Bahunya yang tegap dan kaku langsung merosot lemas. Dia tidak membuang waktu lagi. Dengan setengah berlari, Kathleen mengabaikan para dayang junior yang sudah bersiap di luar ruangan untuk mengiringinya ke kamar tidur utama.

"Yang Mulia? Anda mau ke mana? Biarkan kami membantu Anda melepas—"

"Nggak usah! Jangan ada yang ngikutin gue!" potong Kathleen setengah berteriak tanpa menoleh. Dia bahkan tidak peduli jika tata bahasanya agak melenceng dari etika kerajaan. Pers**** dengan etika. Saat ini, otaknya sudah berada di ambang batas *overload*.

Kathleen mempercepat langkahnya, setengah menyeret gaun sutra birunya yang super berat menyusuri lorong kastel yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu kamar pribadinya, dia langsung menerobos ma**k dan mengunci pintu ganda kayu ek tersebut dari dalam. Tapi itu belum c**up. Kamar tidurnya yang seluas lapangan futsal itu masih terlalu besar dan terasa sunyi yang mengintimidasi. Dia butuh tempat yang lebih sempit, lebih hangat, dan benar-benar tidak terjangkau oleh siapa pun.

Tujuannya hanya satu: kamar mandi pribadinya.

Begitu kakinya melangkah ma**k ke dalam kamar mandi berlapis marmer putih itu, Kathleen langsung mengunci pintunya rapat-rapat. Bunyi klik dari anak kunci emas yang berputar memberikan rasa aman yang luar biasa.

*Klik.*

Seketika itu juga, Kathleen merasa beban seberat satu ton di pundaknya terangkat. Di sinilah satu-satunya tempat di mana kamera pengawas tak kasatmata—yang berupa mata-mata Countess Olivia dan para bangsawan kepo—tidak bisa menjangkaunya. Di ruangan ini, tidak ada kamera, tidak ada protokol, dan tidak ada tuntutan untuk menjadi sempurna.

Ruangan itu sudah dipenuhi uap hangat yang mengepul tipis, menciptakan atmosfer yang buram namun sangat menenangkan. Di tengah ruangan, sebuah bak mandi raksasa dari marmer putih utuh telah terisi penuh oleh air hangat yang permukaannya ditutupi oleh busa melimpah dan taburan kelopak bunga mawar merah serta minyak aroma terapi lavender. Aromanya yang menenangkan langsung merayap ma**k ke indra penciuman Kathleen, perlahan mengendurkan saraf-saraf kepalanya yang tegang setengah mati.

"Oke, mari kita singkirkan semua sampah kerajaan ini," gumam Kathleen pada dirinya sendiri.

Dengan gerakan kasar yang jauh dari kata anggun, Kathleen mulai mempreteli dirinya sendiri. Pertama, dia mencopot mahkota safir berharga jutaan koin emas itu dari kepalanya dan meletakkannya begitu saja di atas meja rias marmer, menimbulkan bunyi dentang keras yang tak peduli jika itu tergores. Selanjutnya, tangannya bergerak cepat mencabuti puluhan jepit rambut tajam yang menusuk kulit kepalanya. Begitu rambut pirangnya tergerai bebas ke bawah bahu, Kathleen mendesah lega. Rasanya luar biasa nikmat.

Berikutnya adalah bagian tersulit: gaun pengantin dan korset terkutuk itu. Kathleen harus memutar tubuhnya dengan posisi aneh demi menjangkau tali-tali korset di punggungnya. Dengan napas terengah-engah, dia menyentak tali itu hingga longgar.

*Zuuup.*

Paru-paru Kathleen seolah langsung mengembang maksimal untuk pertama kalinya setelah berjam-jam. Dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sampai dadanya naik turun dengan cepat. Kulit di sekitar pinggangnya tampak memerah akibat tekanan korset yang terlalu ketat.

Satu per satu, semua pakaiannya luruh ke lant** marmer yang dingin. Kini, Kathleen berdiri sepenuhnya tanpa sehelai benang pun di depan cermin besar yang buram karena uap air. Dia menghapus sedikit uap di permukaan cermin dengan telapak tangannya, menatap pantulan dirinya sendiri.

Tubuh ini sangat indah. Kulitnya seputih porselen, matanya sebiru langit musim panas, dan lekuk tubuhnya sangat proporsional. Namun, selama ini tubuh ini hanya diperlakukan seperti pajangan estetik untuk memuaskan ego Kekaisaran dan suaminya, Julian.

Kathleen melangkah mendekati bak mandi dan perlahan menurunkan tubuhnya ke dalam air hangat yang berbusa.

"Ahhh... g***, ini enak banget..." bisik Kathleen, memejamkan matanya rapat-rapat saat air hangat mulai memeluk seluruh tubuhnya. Rasa lelah yang menusuk hingga ke tulang perlahan-lahan mencair. Dia menyandarkan kepalanya di tepi bak mandi yang dilapisi bantal busa empuk.

Pikiran Kathleen melayang ke kehidupan ranjangnya bersama Julian, sang Putra Mahkota. Menikah dengan Julian ternyata tidak seindah cerita fiksi romantis yang sering dia baca di dunia lamanya sebelum bereinkarnasi ke sini. Julian adalah sosok pria yang dingin, kaku, dan sangat menjunjung tinggi formalitas—bahkan saat berada di atas ranjang.

Bagi Julian, aktivitas intim di malam hari hanyalah sebuah kewajiban biologis demi menghasilkan pewaris takhta. Tidak ada foreplay yang manis, tidak ada bisikan manja, dan tidak ada kehangatan emosional. Julian hanya akan melakukannya dengan cepat, efisien, dan dingin, lalu berbalik memunggungi Kathleen untuk tidur atau bahkan langsung kembali ke ruang kerjanya. Kathleen tidak pernah merasakan apa yang dinamakan kepuasan seksual. Dia selalu dibiarkan tergantung dengan rasa hampa yang mengganjal di dadanya setiap kali Julian selesai menunaikan "tugas"-nya.

*Gue capek jadi boneka yang cuma bisa diam dan pasrah,* batin Kathleen, matanya perlahan terbuka dan menatap langit-langit kamar mandi yang berhias lukisan awan.

Rasa frustrasi yang menumpuk selama berbulan-bulan tiba-tiba berubah menjadi rasa penasaran yang menggelitik. Sebagai wanita modern dari abad ke-21 yang terjebak di tubuh Putri Mahkota ini, Kathleen tahu betul tentang konsep *self-plea**re*. Namun, kesibukan dan tekanan protokol istana membuatnya tidak pernah memiliki waktu atau privasi untuk memikirkan hal itu.

Tapi malam ini berbeda. Malam ini dia punya waktu satu jam penuh sebelum ada yang berani mengetuk pintunya.

Dengan jantung yang mulai berdegup sedikit lebih kencang, Kathleen menggerakkan tangan kanannya di bawah air hangat yang tertutup busa tebal. Air hangat itu terasa seperti sutra yang mengusap kulit sensitifnya. Dia mulai menyentuh perlahan kulit lengannya, turun ke area leher, lalu berlanjut ke dadanya.

Setiap sentuhannya sendiri terasa sangat berbeda. Sentuhan ini lembut, penuh perhatian, dan dikendalikan sepenuhnya oleh dirinya sendiri. Kathleen menarik napas dalam-dalam, membiarkan uap hangat memenuhi paru-parunya saat jemarinya terus menjelajah turun, melewati perutnya yang rata, hingga ma**k ke sela-sela pahanya.

Begitu jarinya menyentuh titik paling sensitif di antara kedua pahanya, Kathleen tersentak kecil. Sensasi kesetrum yang halus langsung menjalar ke seluruh saraf tubuhnya.

"Oh..." desah Kathleen pelan, suaranya teredam oleh gemercik air di dalam bak mandi.

Dia mulai menggerakkan jarinya dengan ritme yang lambat dan lembut, mencoba merasakan setiap sensasi baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Berbeda dengan sentuhan Julian yang tergesa-gesa dan kasar, Kathleen memperlakukan tubuhnya dengan sangat hati-hati. Dia mempercepat gerakannya sedikit demi sedikit seiring dengan rasa hangat yang mulai menjalar dan memusat di perut bagian bawahnya.

Napas Kathleen mulai memburu. Wajahnya yang semula pucat karena kelelahan kini merona merah muda yang cantik. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan suara desahan yang ingin lolos dari tenggorokannya. Sensasi ini sangat intens, sangat murni, dan begitu memabukkan. Otaknya yang tadinya dipenuhi oleh bayang-bayang Countess Olivia, tumpukan dokumen kerajaan, dan wajah dingin Julian, kini mendadak kosong. Yang ada hanya rasa hangat, nyaman, dan letupan-letupan kesenangan kecil yang terus membesar.

"Julian... dia nggak pernah bisa bikin gue ngerasa kayak gini," gumam Kathleen di sela napasnya yang putus-putus. Sungguh ironis. Suaminya yang dig***i oleh separuh wanita di kekaisaran ini ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jemarinya sendiri di dalam bak mandi beruap.

Sentuhan Kathleen menjadi semakin cepat dan menuntut. Dia memejamkan mata erat-erat, membayangkan dirinya bebas terbang tinggi di atas awan, jauh dari istana terkutuk ini. Tubuhnya melengkung kencang di dalam air saat ketegangan di dalam dirinya mencapai puncaknya.

Dan kemudian, ledakan itu datang.

Sebuah gelombang kepuasan yang luar biasa dahsyat menyapu seluruh tubuh Kathleen. Rasanya seolah-olah ada kembang api yang meledak di dalam kepalanya, menyisakan sensasi hangat yang menjalar dari ujung kepala hingga ujung kakinya yang meremang kencang. Kathleen mendesah pasrah, membiarkan tubuhnya melemas dan tenggelam lebih dalam ke dalam air hangat yang menenangkan.

Air di sekitarnya bergoyang pelan, beriak seiring dengan napasnya yang perlahan-lahan mulai kembali teratur.

Kathleen membuka matanya yang kini tampak sayu namun berbinar cerah. Ada senyum tulus yang mengembang di bibirnya—bukan senyum palsu yang diajarkan oleh Countess Olivia, melainkan senyum kepuasan yang murni dari dasar hatinya. Dia merasa seolah-olah jiwanya yang sempat mati karena tekanan istana kini hidup kembali.

Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu luar kamar tidurnya memecah keheningan.

*Tok! Tok! Tok!*

"Yang Mulia Putri Mahkota? Apakah Anda berada di dalam?" Suara Mary, salah satu dayang pribadinya, terdengar cemas dari balik pintu kamar tidur. "Yang Mulia Putra Mahkota Julian baru saja mengirim pesan. Beliau meminta Anda untuk segera bersiap karena ada pertemuan mendadak dengan delegasi asing dalam waktu setengah jam lagi."

Mendengar nama Julian dan kata "pertemuan mendadak," Kathleen langsung memutar bola matanya malas. Kebahagiaannya seolah ingin direnggut kembali oleh realitas yang menyebalkan.

Namun, kali ini mental Kathleen berbeda. Dia tidak lagi merasa stres atau tertekan seperti satu jam yang lalu. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya jernih, dan energinya telah terisi penuh kembali. Satu jam mengunci diri di kamar mandi ini benar-benar telah menyelamatkan nyawanya dari keg***an istana.

Kathleen bangkit dari bak mandi dengan gerakan anggun, membiarkan air dan busa mengalir turun dari tubuh indahnya. Dia mengambil selembar handuk sutra tebal dan melilitkannya ke tubuhnya.

"Gue siap," bisik Kathleen pada pantulan dirinya di cermin yang kini tampak jauh lebih segar dan bercahaya. "Bawa sini semua masalah lo, Julian. Gue nggak takut lagi."

Dengan langkah mantap dan penuh percaya diri, Kathleen berjalan menuju pintu, siap memakai kembali topeng Putri Mahkotanya dengan rahasia kecil yang kini tersimpan rapat di dalam kamar mandi pribadinya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca