Dengan sekali sentakan kuat, tali-tali korset yang melilit tubuh Kathleen akhirnya terlepas.
"Sumpah, siapa sih manusia purba yang nyipt**n korset kayak gini? Penyiksaan berkedok *fashion* banget!" gerutu Kathleen sambil melempar benda semi-baja itu ke lant** marmer dengan kasar.
Dia menarik napas sedalam-dalamnya. Paru-parunya yang seharian ini seperti dijepit akhirnya bisa mengembang sempurna. Rasanya luar biasa nikmat, bahkan mengalahkan rasa kenyang setelah makan steik wagyu. Kathleen melepaskan sisa pakaiannya hingga tak sehelai benang pun menempel di tubuhnya yang ramping dan mulus.
Tanpa membuang waktu, dia melangkah ma**k ke dalam bak mandi marmer raksasa yang dipenuhi uap hangat. Air hangat yang bertabur kelopak mawar itu langsung memeluk kulitnya, membuat seluruh ototnya yang tegang mendadak relaks.
Namun, rasa relaks itu belum c**up. Otak Kathleen masih terasa bising oleh sisa-sisa omelan Countess Olivia tentang bagaimana seorang putri harus berjalan, tersenyum, bahkan bernapas. Kathleen butuh sesuatu yang lebih kuat untuk mengusir semua stres itu. Sesuatu yang benar-benar bisa dia kendalikan sendiri.
Pandangan Kathleen turun ke tubuhnya sendiri di dalam air. Perlahan, tangannya bergerak di bawah permukaan air yang tertutup busa melimpah.
Begitu jemarinya yang lentik mulai menyentuh area-area sensitifnya, Kathleen refleks memejamkan mata. Sentuhan pertamanya membuat tubuhnya sedikit tersentak ringan. Hangat, sensitif, dan sangat menyenangkan.
Dia mulai menggerakkan jarinya dengan ritme yang perlahan namun pasti. Kathleen tidak perlu terburu-buru. Di ruangan ini, waktu sepenuhnya milik dia. Tidak ada dayang yang mengawasi, tidak ada Countess yang mendikte, dan tidak ada pangeran tunangan menyebalkan yang harus dia layani dengan senyum palsu. Di sini, dia adalah ratu atas tubuhnya sendiri.
"Ah..."
Satu desahan lolos begitu saja dari bibir ranum Kathleen, bergema pelan di antara dinding marmer kamar mandi yang kedap suara.
Imajinasinya mulai meliar, membawa pikirannya keluar dari dinding kastel yang mengekang ini. Dia membayangkan dirinya menjadi sosok yang bebas, liar, dan tak tersentuh oleh aturan-aturan kerajaan yang konyol. Setiap sentuhan jarinya memberikan sengatan kesenangan yang langsung menjalar ke tulang belakangnya. Napas Kathleen mulai memburu, dadanya naik turun dengan cepat seiring dengan ritme jarinya yang kian menuntut.
Saat gelombang kenikmatan itu mencapai puncaknya, tubuh Kathleen menegang hebat. Jari-jari kakinya mencengkeram udara, dan dia mendesah pasrah membiarkan sensasi luar biasa itu menyapu seluruh kesadarannya. Untuk beberapa detik yang berharga, Kathleen merasa melayang tinggi, benar-benar merdeka dari dunia nyata.
Ketika semuanya selesai, Kathleen menyandarkan kepalanya di tepi bak mandi dengan napas yang masih terengah-engah. Senyum puas terukir di wajahnya. Ini bukan lagi sekadar pelarian darurat. Mulai detik ini, aktivitas ini resmi menjadi ritual rahasia harian seorang Kathleen.
***
Satu minggu berlalu, dan ritual sore itu telah menjelma menjadi agenda wajib bagi Kathleen. Setiap jam empat sore tepatβsetelah semua kelas etiket dan pertemuan membosankan selesaiβKathleen akan langsung menghilang ke kamarnya dan mengunci diri di kamar mandi selama berjam-jam.
Efek dari ritual rahasia ini benar-benar luar biasa. Kathleen yang biasanya selalu kelihatan lelah, berwajah muram, dan bermata sayu, mendadak berubah total.
"Yang Mulia..." Lily, dayang pribadi setianya, menatap Kathleen dengan mata berbinar-binar keesokan paginya saat mereka sedang bersiap di ruang rias.
"Kenapa, Ly? Muka gue ada kotorannya?" tanya Kathleen sant** sambil mengoleskan selai stroberi ke rotinya. Gaya bicaranya yang ka**al saat hanya berdua dengan Lily memang sudah biasa.
"Nggak, justru sebaliknya! Kulit Yang Mulia belakangan ini *glowing* parah! Kayak habis perawatan ratusan juta di klinik kecantikan paling mahal di ibu kota. Pipinya juga merona alami, nggak pucat kayak biasanya. Rahasianya apa sih, Yang Mulia? Pakai serum baru, ya?" tanya Lily kepo setengah mati.
Kathleen hampir saja tersedak rotinya. Dia buru-buru meminum teh hangatnya untuk menutupi kepanikan.
*Rahasianya? C**up kunci pintu kamar mandi, putar air hangat, dan mainkan jari,* batin Kathleen geli.
Tentu saja dia tidak mungkin mengatakan itu pada Lily. Dayang polos itu bisa-bisa pingsan di tempat.
"Oh, itu... rahasia dong. Gue cuma rajin meditasi aja tiap sore di kamar mandi. Melepas racun-racun duniawi," jawab Kathleen asal, yang sebenarnya tidak sepenuhnya bohong. Aktivitasnya memang sangat efektif melepas racun stres.
"Wah, meditasi ternyata seampuh itu, ya? Pantas saja Yang Mulia kelihatan segar banget hari ini!" puji Lily polos sambil menyisir rambut pirang Kathleen yang tampak lebih berkilau dari biasanya.
Perubahan Kathleen tidak hanya terlihat dari fisiknya yang semakin cantik dan segar secara alami. Secara mental, dia juga menjadi jauh lebih tenang dan sant**. Protokol istana yang biasanya sukses bikin dia naik darah dan pengin ngamuk, kini bisa dia hadapi dengan senyuman sant**.
Siang harinya, di ruang dansa utama, Countess Olivia sedang berdiri dengan penggaris kayu panjang di tangannya, siap melakukan aksi 'teror' harian seperti biasa.
"Yang Mulia, cara jalan Anda tadi sedikit kurang anggun pada langkah ketujuh. Pinggul Anda harus tetap tegak, tidak boleh bergoyang lebih dari dua sentimeter! Kita harus mengulangnya dari awal. Tiga puluh kali lagi!" seru Countess Olivia dengan suara melengkingnya yang khas.
Biasanya, Kathleen akan langsung memutar bola matanya malas, menggerutu sepanjang jalan, atau bahkan mendebat Countess Olivia sampai asisten paruh baya itu menangis frustrasi. Tapi hari ini?
Kathleen hanya tersenyum manis, tipe senyum hangat yang biasa ada di iklan-iklan pasta gigi.
"Tentu saja, Countess Olivia yang terhormat. Tiga puluh kali? Tanggung banget. Gimana kalau kita lakukan lima puluh kali sekalian supaya hasilnya benar-benar sempurna dan tanpa cela?" ujar Kathleen dengan nada suara yang sangat kooperatif dan super ramah.
Countess Olivia langsung melongo. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Eh? A-Anda... tidak keberatan?" tanya Countess Olivia terbata-bata. Dia bahkan sudah bersiap menahan napas untuk menghadapi argumen Kathleen yang biasanya pedas.
"Kenapa harus keberatan? Ini kan demi kebaikan saya juga sebagai calon Putri Mahkota. Ayo, kita mulai lagi dari awal!" sahut Kathleen riang.
Dalam hatinya, Kathleen hanya tertawa puas melihat wajah syok Countess Olivia. Dia sama sekali tidak peduli harus berjalan bolak-balik sampai kakinya gempor. Toh, di kepalanya, dia sudah membayangkan jam empat sore yang indah. Dia tahu, setelah semua siksaan ini selesai, dia akan mendapatkan 'hadiah' terbaiknya di dalam kamar mandi. Pemikiran itu membuat semua beban terasa seringan kapas.
***
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Jam dinding besar di lorong kastel berdentang empat kali.
"Lily, gue mau ritual sore dulu. Biasa, sesi meditasi dan detoksifikasi jiwa di kamar mandi. Jangan ada yang berani ngetok pintu atau ganggu gue, ya. Bilang ke semua orang, terma**k Raja atau siapa pun, kalau gue lagi mendalami spiritualitas tingkat tinggi dan nggak bisa diganggu gugat," pesan Kathleen dengan nada serius yang dibuat-buat begitu mereka sampai di depan pintu kamarnya.
"Siap, Yang Mulia! Kamar Anda akan saya jaga ketat bagaikan benteng pertahanan!" jawab Lily dengan pose hormat yang menggemaskan.
Kathleen tersenyum puas. Dia langsung melesat ma**k ke dalam kamarnya, menutup pintu ganda, dan langsung menuju ke kamar mandi pribadinya.
*Klik.*
Bunyi kunci emas yang berputar itu terdengar seperti musik terindah di telinga Kathleen. Dia melempar semua pakaiannya ke lant** dengan gerakan kilat, menyalakan keran air hangat yang langsung mengeluarkan aroma terapi lavender kesukaannya, dan melangkah ma**k ke dalam bak mandi dengan helaan napas lega yang luar biasa.
"Ah... akhirnya. Waktunya bersenang-senang," bisik Kathleen pada dirinya sendiri.
Dia membiarkan air hangat merendam tubuhnya hingga sebatas dada. Dengan mata terpejam dan senyum kecil yang menghiasi bibirnya, Kathleen kembali memulai ritual rahasianya. Sentuhan-sentuhan lembut nan intim yang dia berikan pada dirinya sendiri seolah menjadi mantra sihir yang menghapus seluruh penat duniawi.
Di dalam ruangan yang beruap hangat dan harum itu, Kathleen bukan lagi seorang putri mahkota yang kaku dan penuh tuntutan. Di sini, dia adalah si cantik yang bebas, liar, dan memegang kendali penuh atas kebahagiaannya sendiri. Dan ritual rahasia ini, akan tetap menjadi rahasia terbaik yang pernah dia simpan rapat-rapat di balik pintu kamar mandi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!