Rahasia Putri Mahkota yang Suka Mengunci Diri di Kamar Mandi

Bab 4: Kecurigaan Sang Pangeran Es

Pengaturan Membaca

Ada yang aneh dengan Kathleen.

Sangat amat aneh.

Julian, yang biasanya dikenal sebagai Pangeran Es karena ekspresinya yang selalu sedingin kutub utara, kini sedang duduk di meja kerjanya dengan dahi berkerut dalam. Di hadapannya menumpuk dokumen-dokumen penting kerajaan, mulai dari laporan pajak wilayah selatan sampai proposal pembangunan pelabuhan baru.

Namun, fokus Julian sama sekali tidak ada di sana. Pikirannya justru sedang tersita sepenuhnya oleh sosok sang tunangan sekaligus calon Putri Mahkota, Kathleen.

Biasanya, setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan di lorong istana atau saat makan malam formal, Kathleen selalu memancarkan aura suram. Wajahnya ditekuk, matanya lelah, dan dia selalu terlihat seperti orang yang siap meledak kapan saja karena stres menghadapi pelajaran etiket dari Countess Olivia yang super ketat. Jujur saja, Julian memaklumi hal itu. Menjadi calon istri seorang putra mahkota memang bisa membuat mental siapa pun terguncang.

Tapi, seminggu terakhir ini, semuanya berubah 180 derajat.

Aura Kathleen mendadak berubah drastis. Gadis itu tidak lagi cemberut. Sebaliknya, dia sering terlihat tersenyum sendiri, bersenandung pelan saat berjalan di koridor, dan yang paling membuat Julian heranβ€”kulit Kathleen mendadak kelihatan sangat *glowing*, segar, dan sehat. Seperti tidak punya beban hidup sama sekali.

Dan yang paling mencurigakan dari semuanya adalah: setiap sore, tepat setelah jam lima, Kathleen selalu kembali ke kamarnya, mengunci diri di kamar mandi selama hampir dua jam, dan keluar dalam kondisi super segar serta selalu beraroma bunga mawar yang sangat pekat.

"Nggak ma**k akal," gumam Julian perlahan. Dia meletakkan pena bulunya dengan ketukan keras di atas meja.

"Ada yang mengganggu pikiran Anda, Yang Mulia?" tanya B**ndon, tangan kanan sekaligus kepala pengawal pribadi Julian yang sejak tadi berdiri setia di dekat pintu.

Julian menyandarkan punggungnya ke kursi m***ni yang empuk. Matanya menyipit, menatap lurus ke jendela luar yang mulai menampilkan semburat senja. "B**ndon, menurutmu... apa yang bisa membuat seorang perempuan berubah drastis dalam waktu singkat? Dari yang tadinya stres berat, jadi kelihatan sangat bahagia, ceria, dan... yah, bersinar?"

B**ndon tampak berpikir sejenak. "Hmm... biasanya ada beberapa kemungkinan, Yang Mulia. Pertama, dia baru saja mendapatkan tumpukan emas atau warisan. Kedua, dia berhasil menyingkirkan musuh bebuyutannya. Dan yang ketiga..." B**ndon berdehem pelan, agak ragu untuk melanjutkan. "Dia sedang jatuh cinta."

Mendengar opsi ketiga, rahang Julian langsung mengeras seketika. "Jatuh cinta?"

"Benar, Yang Mulia. Aura orang yang sedang kasmaran itu biasanya sangat mudah dikenali. Mereka jadi lebih sering tersenyum tanpa alasan, mendadak rajin merawat diri, dan selalu wangi."

Penjelasan B**ndon barusan seperti menyalakan alarm bahaya di kepala Julian.

*Jatuh cinta?*

Sama siapa? Julian tahu betul kalau Kathleen tidak menyukainya. Pernikahan mereka murni karena perjodohan politik demi kestabilan kerajaan. Jadi, tidak mungkin Kathleen jatuh cinta padanya.

Lalu, kalau bukan dengan Julian, berarti Kathleen sedang menjalin hubungan dengan pria lain? Di dalam istananya sendiri?!

Isi kepala Julian langsung memutar berbagai skenario liar yang mengerikan. Pangeran es itu mulai *overthinking*. Jangan-jangan Kathleen sedang merencanakan konspirasi politik dengan faksi lawan? Mungkin dia sengaja mendekati salah satu bangsawan muda dari kubu oposisi untuk menggulingkan posisi Julian? Atau yang lebih buruk dan merusak harga dirinya... Kathleen benar-benar berselingkuh di belakangnya!

"Sial," umpat Julian pelan. Dia tidak bisa membiarkan spekulasi ini terus berputar di kepalanya tanpa kejelasan. Dia harus menyelidikinya sendiri.

***

Sore harinya, tepat pukul setengah enam, Julian memutuskan untuk melancarkan aksinya. Dia sengaja mengundang Kathleen untuk minum teh sore bersama di rumah kaca istanaβ€”tempat yang biasanya dihindari Kathleen karena dia malas bersikap formal.

Namun, yang membuat Julian terkejut, Kathleen menerima undangan itu dengan sangat sant**.

Saat pintu rumah kaca terbuka, aroma harum mawar segar langsung menyeruak ma**k, mengalahkan wangi bunga-bunga lain yang ada di sana. Julian menoleh dan mendapati Kathleen berjalan ke arahnya dengan langkah ringan, hampir seperti sedang melayang.

Gadis itu mengenakan gaun ka**al berwarna biru muda tanpa korset ketat yang biasanya menyiksa tubuhnya. Rambut cokelatnya yang agak basah dibiarkan tergerai bebas, menambah kesan sant** namun entah kenapa terlihat sangat... s**** di mata Julian. Dan benar saja, wajah Kathleen tampak merona merah muda yang alami di bagian pipi, kontras dengan kulitnya yang putih bersih tanpa riasan tebal.

"Sore, Julian! Sori ya agak telat dikit," sapa Kathleen dengan nada suara yang sangat ceria, bahkan terkesan gaul dan sant**, jauh dari protokol kerajaan yang kaku.

Dia langsung duduk di kursi di hadapan Julian, lalu tanpa ragu mengambil satu kue sus berukuran sedang dan mema**kkannya ke dalam mulut dengan sekali lahap. Matanya terpejam sesaat, menikmati rasa manis yang memanjakan lidahnya.

Julian terpaku sejenak melihat pemandangan itu. Biasanya, Kathleen akan memotong kue sekecil apa pun dengan pisau dan garpu perak, mengunyahnya pelan dengan ekspresi menderita seolah-olah sedang memakan racun.

"Kamu... kelihatan sangat menikmati harimu," pancing Julian sambil menuangkan teh ke cangkir Kathleen.

"Oh, jelas dong! Hari ini rasanya damai banget," jawab Kathleen sambil tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar. "Tehnya wangi banget, makasih ya."

Julian memperhatikan setiap gerak-gerik tunangannya dengan mata elangnya yang tajam. Dia condong ke depan, menaruh kedua tangannya di atas meja, lalu menatap Kathleen lurus-lurus. "Ada apa denganmu, Kathleen?"

Kathleen yang baru saja mau menyesap tehnya langsung menghentikan gerakannya. Dia menatap Julian dengan bingung. "Ada apa apanya? Perasaan aku biasa aja."

"Kamu berubah. Sangat drastis," kata Julian dengan nada suara yang rendah dan dingin, khas pribadinya. "Biasanya, setelah kelas etiket Countess Olivia, kamu bakal kelihatan kayak mau membakar seluruh istana ini. Tapi seminggu ini, kamu malah selalu tersenyum. Dan..." Julian sengaja menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam untuk menghirup aroma mawar yang menguar dari tubuh Kathleen. "Kamu selalu wangi mawar setiap sore. Sangat wangi."

Deg.

Jantung Kathleen rasanya sempat berhenti berdetak selama satu detik. Dia buru-buru menurunkan cangkir tehnya, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang.

*Aduh, mampus! Si Pangeran Es ini sadar lagi!* batin Kathleen panik.

Tentu saja dia wangi mawar. Kan dia baru saja selesai mandi air hangat bertabur kelopak mawar setelah... yah, melakukan ritual "pelepasan stres" mandiri yang sangat nikmat di dalam bak mandi marmernya yang kedap suara. Sentuhan-sentuhan sensual yang dia berikan pada dirinya sendiri memang selalu berhasil membuat sirkulasi darahnya lancar, makanya wajahnya selalu merona merah dan kulitnya jadi sangat bagus belakangan ini.

"Oh, itu..." Kathleen tertawa canggung, berusaha bersikap sealami mungkin. "Aku cuma... baru nemu sabun dan minyak mandi aroma mawar yang enak banget di kamar mandi aku. Karena stres sama Countess Olivia, makanya aku mandi agak lama biar rileks. Salah ya kalau aku pengen wangi?"

Julian menyipitkan matanya. Dia tidak semudah itu percaya. "Mandi? Selama dua jam penuh? Setiap hari di jam yang sama?"

"Ya... iya? Kan berendam air hangat emang butuh waktu lama biar khasiatnya meresap ke kulit," alibi Kathleen, meskipun dalam hati dia sudah berkeringat dingin. "Kenapa sih? Kok kamu kayak lagi menginterogasi tahanan politik?"

"Karena kamu mencurigakan, Kathleen," jawab Julian blak-blakan. Dia menatap Kathleen dengan tatapan menyelidik yang sangat mengintimidasi. "Aku mulai berpikir kalau kamar mandimu punya jalan rahasia, dan kamu mengunci diri di sana bukan untuk mandi, melainkan untuk menyelinap keluar istana."

Kathleen hampir saja menyemburkan teh yang baru ma**k ke mulutnya. "Hah?! Jalan rahasia?! Menyelinap keluar?!"

"Atau mungkin..." Julian menurunkan volume suaranya, matanya berkilat berbahaya. "...ada seseorang yang menyelinap ma**k ke kamarmu lewat jendela saat kamu berpura-pura mandi. Katakan padaku, Kathleen. Siapa pria itu?"

Mendengar tuduhan acak yang luar biasa meleset itu, Kathleen malah merasa ingin tertawa kencang. *Ya ampun, ini cowok kebanyakan baca novel konspirasi atau gimana sih?! Kreatif banget fitnahnya!*

Namun, Kathleen tahu dia harus tetap menjaga rahasianya. Kalau sampai Julian tahu apa yang sebenarnya dia lakukan di kamar mandiβ€”mengunci diri untuk melakukan masturbasi demi kesehatan mentalβ€”reputasinya sebagai calon Putri Mahkota bakal hancur lebur seketika! Itu jauh lebih memalukan daripada dituduh selingkuh!

"Julian, sumpah demi apa pun, kamu tuh parnoan banget ya," kata Kathleen sambil memutar bola matanya malas, mencoba mencairkan suasana tegang yang dibuat Julian. "Nggak ada cowok lain, nggak ada jalan rahasia, dan nggak ada konspirasi politik apa pun. Aku cuma mandi! M-a-n-d-i. Sendirian!"

"Kalau memang kamu cuma mandi sendirian, kenapa mukamu selalu merah merona setiap kali keluar dari kamar mandi?" kejar Julian lagi, tidak mau kalah. "Kamu kelihatan seperti... baru saja selesai melakukan aktivitas fisik yang sangat intens."

*Emang aktivitas fisik yang intens sih, tapi kan sendirian!* jerit Kathleen dalam hati.

Pipi Kathleen mendadak terasa semakin panas. Dia benar-benar malu sekarang, tapi dia harus tetap terlihat galak agar Julian tidak curiga. "Itu karena uap air panas, Yang Mulia Pangeran Es! Kamar mandi aku itu kedap udara dan uapnya banyak banget. Ya jelas muka aku merah karena kepanasan! Kamu kalau nggak percaya, coba aja besok-besok mandi pakai air mendidih, biar tahu rasanya!"

Julian terdiam. Penjelasan Kathleen terdengar c**up ma**k akal secara logika. Tapi, entah kenapa, intuisi keamanannya tetap mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis di hadapannya ini. Perubahan aura yang begitu positif ini tidak mungkin hanya disebabkan oleh uap air panas dan minyak mawar. Pasti ada pemicu lain yang lebih... memuaskan.

"Baiklah. Aku akan memegang kata-katamu untuk saat ini," ucap Julian akhirnya, meski nadanya masih terdengar sangat skeptis.

Kathleen menghela napas lega dalam hati. "Nah, gitu dong. Jangan dikit-dikit curiga. Mending kamu cobain deh ini kue susnya, enak banget lho. Jangan cemberut terus, nanti cepet tua."

Dengan sant**, Kathleen menyodorkan piring kue ke arah Julian. Julian menatap kue itu, lalu menatap wajah Kathleen yang tampak begitu damai dan tanpa beban. Ada setitik rasa tidak rela di dalam hati Julian melihat kegembiraan Kathleen yang bukan bersumber dari dirinya. Dan rasa penasaran itu justru semakin membakar dadanya.

Setelah sesi minum teh selesai dan Kathleen pamit untuk kembali ke kamarnya dengan alasan ingin membaca novel, Julian langsung berdiri dari kursinya. Sifat keras kepalanya tidak akan membiarkan misteri ini menguap begitu saja.

Dia berjalan keluar dari rumah kaca dengan langkah lebar, lalu memanggil B**ndon yang langsung mendekat dalam hitungan detik.

"B**ndon."

"Ya, Yang Mulia?"

Julian mengepalkan tangannya di balik jubah kebesarannya. Matanya menatap tajam ke arah koridor menuju sayap barat istana, tempat kamar Kathleen berada.

"Mulai besok sore, tempatkan dua pengawal terbaik kita di luar koridor kamar Kathleen setiap jam lima pas. Dan satu lagi..." Julian menjeda, suaranya terdengar sangat serius dan berbahaya. "Cari tahu apakah ada cetak biru kuno istana ini yang menunjukkan adanya lorong rahasia di bawah kamar mandinya. Aku sendiri yang akan mengawasi kamarnya besok sore."

B**ndon tampak terkejut, namun dia segera membungkuk hormat. "Dimengerti, Yang Mulia."

Julian menyeringai tipis, sebuah senyuman dingin yang bisa membuat siapa pun merinding. *Kita lihat saja nanti, Kathleen. Sehebat apa pun kamu menyembunyikan tikus di dalam kamarmu, aku pasti akan menangkapnya dengan tanganku sendiri.*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca