Bab 5: Misi Mata-Mata Pribadi
"Jatuh cinta? Nggak mungkin. Nggak ma**k akal."
Julian mendengus kasar, mencoba mengusir a**msi konyol yang baru saja diucapkan B**ndon. Dia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
Sejak obrolan sore itu, pikiran Julian sama sekali tidak bisa tenang. Ditambah lagi, laporan-laporan dari para pelayan istana belakangan ini makin terdengar liar dan tidak ma**k akal.
Ada pelayan yang bilang kalau Kathleen memelihara makhluk gaib di kamar mandinya. Ada juga gosip yang menyebutkan kalau Kathleen diam-diam sedang mempelajari ilmu hitam demi membuat kulitnya sehalus sutra. Bahkan, gosip paling ekstrem mengatakan kalau Kathleen menyembunyikan seorang pria simpanan di dalam sana!
"Semua itu cuma rumor sampah," gumam Julian sambil berjalan mondar-mandir di kamar pribadinya.
Sebagai seorang calon kaisar yang dididik untuk selalu berpikir rasional, Julian tidak pernah percaya pada hal-hal yang tidak punya bukti fisik. Ilmu hitam? Pria simpanan? Kamar mandi Kathleen itu dijaga ketat oleh pengawal di luar kamarnya. Sangat tidak mungkin ada orang asing yang bisa keluar ma**k lewat jendela tanpa ketahuan.
Tapi, fakta bahwa Kathleen mengunci diri selama dua jam setiap sore memang benar adanya. Dan perubahan fisik gadis itu yang mendadak jadi sangat cantik, segar, dan selalu wangi mawar juga bukan ilusi optik. Julian melihatnya sendiri.
"Kalau mau tahu kebenarannya, gue harus cari tahu sendiri," bisik Julian pada dirinya sendiri. Pers**** dengan harga dirinya sebagai Putra Mahkota yang dingin dan berwibawa. Rasa penasarannya sudah berada di level akut. Dia bisa g*** kalau terus-menerus *overthinking* setiap sore.
Malam itu, Julian memutuskan untuk melancarkan aksi detektif dadakannya.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Julian sengaja melewati koridor sayap barat istana, tempat paviliun pribadi Kathleen berada. Beruntung bagi Julian, malam ini cuaca agak mendung dan lorong-lorong istana terasa lebih sepi dari biasanya.
Saat Julian hampir sampai di depan pintu kamar Kathleen, pintu kayu ek besar itu tiba-tiba terbuka.
Julian refleks mundur dan bersembunyi di balik pilar marmer besar yang gelap. Dia menahan napasnya rapat-rapat.
Dari balik pilar, dia melihat Kathleen keluar dari kamarnya sejenak, hanya untuk memberikan instruksi kepada para pelayan setianya. Kathleen mengenakan jubah mandi satin berwarna merah muda yang longgar. Rambut cokelat panjangnya dijepit asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai leher putihnya yang mulus.
"Kalian semua boleh istirahat. Jangan ada yang menggangguku sampai besok pagi, oke? Aku mau mandi agak lama dan langsung tidur," kata Kathleen dengan nada suara yang terdengar sangat riang, bahkan hampir seperti orang yang sedang bersenandung.
"Baik, Yang Mulia," jawab para pelayan serempak sebelum akhirnya membungkuk hormat dan berjalan pergi meninggalkan koridor tersebut.
Begitu koridor benar-benar sepi, Kathleen kembali ma**k ke dalam kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.
Julian keluar dari tempat persembunyiannya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ini dia kesempatannya.
Dengan langkah super pelan yang hampir tanpa suaraβkemampuan yang dia pelajari dari latihan militer bertahun-tahunβJulian mendekati pintu kamar Kathleen. Dia memutar knop pintu dengan sangat hati-hati. Keberuntungan tampaknya sedang berpihak padanya; Kathleen lupa mengunci pintu luar kamarnya karena terlalu bersemangat untuk segera ma**k ke kamar mandi.
*Cklek.*
Pintu terbuka sedikit. Julian menyelinap ma**k ke dalam ruang tamu pribadi Kathleen yang luas. Ruangan itu kosong dan hanya diterangi oleh cahaya temaram dari perapian.
Julian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sunyi. Namun, dari arah ujung ruangan, tepatnya di balik pintu kayu ganda yang menuju ke kamar mandi pribadi Kathleen, terdengar suara gemercik air yang lembut.
Julian melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis. Dia merasa sangat konyol. Seorang Putra Mahkota Kekaisaran, merayap di kamar tunangannya sendiri seperti seorang pencuri malam. Kalau sampai B**ndon atau kepala pelayan melihatnya sekarang, reputasinya sebagai Pangeran Es yang disegani bakal hancur lebur dalam sekejap.
Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Julian akhirnya tiba di depan pintu kamar mandi Kathleen yang terkunci rapat dari dalam. Dia menempelkan telinganya ke permukaan pintu kayu yang dingin, mencoba menangkap suara apa pun dari dalam sana.
*Kecrek... kecrek... sreeet...*
Dahi Julian berkerut. Itu bukan suara air mengalir. Itu terdengar seperti suara... sobekan kertas? Atau plastik?
"Wah, g***... ini sih definisi surga dunia," terdengar suara gumaman Kathleen dari dalam. Suaranya terdengar agak bergema karena ruangan yang tertutup.
Julian menahan napas. *Surga dunia? Apa maksudnya?*
"Haaah... capek banget gue seharian dengerin ceramah etiket nenek lampir itu. Sekarang saatnya memanjakan diri!"
Julian makin bingung. *Gue? Nenek lampir?* Siapa yang Kathleen maksud dengan 'nenek lampir'? Apakah Countess Olivia, guru etiketnya? Dan gaya bahasa apa yang sedang Kathleen gunakan sekarang? Seingat Julian, Kathleen selalu berbicara dengan bahasa bangsawan yang kaku dan formal di depannya. Kenapa sekarang bahasanya terdengar sangat sant** dan... aneh?
Tiba-tiba, terdengar suara letupan kecil.
*Plop!*
"Asyik, *bath bomb* mawar gue berfungsi dengan sempurna! Lihat deh busanya, melimpah banget kayak di hotel bintang lima!" Kathleen terdengar berbicara sendiri dengan nada yang sangat antusias, mirip anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru.
Julian mengerjapkan matanya berulang kali di kegelapan. *Bath bomb?* Istilah asing apa lagi itu? Dan apa itu 'hotel bintang lima'? Julian belum pernah mendengar kosakata itu seumur hidupnya, bahkan di kamus bahasa asing terlengkap yang ada di perpustakaan istana sekalipun.
Rasa penasaran Julian makin membuncah. Dia menempelkan telinganya lebih erat lagi ke pintu sampai pipinya hampir menempel sepenuhnya pada kayu.
Dari dalam, tercium aroma wangi yang sangat pekat mulai menguar dari sela-sela bawah pintu. Itu adalah aroma mawar yang sangat segar, manis, dan menenangkan. Jauh lebih wangi daripada parfum mawar termahal yang pernah diimpor dari Kekaisaran Selatan.
"Hmm, wangi banget!" suara Kathleen terdengar lagi, diikuti oleh suara kecipak air yang c**up keras, menandakan gadis itu kini sudah menenggelamkan tubuhnya ke dalam bak mandi.
"Ahhh... mantap. Kulit gue dijamin bakal makin *glowing* maksimal kalau tiap hari berendam pakai ramuan ini. Biar si Pangeran Es itu matanya melek kalau gue ini aslinya cantik jelita, hahaha!" Kathleen tertawa kecil, terdengar sangat puas dengan dirinya sendiri.
Julian mendengarkan itu semua dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa lega karena ternyata tidak ada pria lain di dalam kamar mandi itu. Tuduhan "jatuh cinta" yang dibilang B**ndon tampaknya salah sasaranβatau mungkin Kathleen hanya jatuh cinta pada ritual mandinya sendiri.
Namun di sisi lain, Julian merasa sangat bingung dan heran.
Dari mana Kathleen mendapatkan semua benda aneh yang dia sebutkan tadi? Ramuan apa yang dia gunakan sampai bisa membuat kulitnya se-glowing itu? Dan kenapa kepribadian Kathleen saat sendirian di kamar mandi ini berbanding terbalik 180 derajat dengan sosok Kathleen yang biasanya selalu terlihat murung dan tertekan di depannya?
*Srek... srek...*
Suara gesekan kertas kembali terdengar.
"Sekarang, saatnya pakai masker wajah sambil dengerin musik," gumam Kathleen.
Tak lama kemudian, sebuah suara musik yang sangat aneh mulai mengalun lembut dari dalam kamar mandi. Musik itu memiliki instrumen yang belum pernah Julian dengar sebelumnya. Suaranya sangat jernih, berirama sant**, dan ada suara vokal seorang wanita yang menyanyikan lagu dengan bahasa yang sama sekali tidak Julian kenal, tapi terdengar sangat candu dan menenangkan.
Julian benar-benar terpaku di posisinya.
Bagaimana bisa ada musik yang berbunyi di dalam kamar mandi tanpa adanya grup pemusik atau pemain harpa? Apakah Kathleen benar-benar menggunakan sihir? Ataukah tunangannya ini sebenarnya adalah seorang penyihir yang menyamar?
Karena terlalu fokus mendengarkan musik aneh tersebut, Julian tidak menyadari kalau posisi tubuhnya terlalu condong ke depan. Berat badannya bertumpu sepenuhnya pada pintu kamar mandi.
Tiba-tiba...
*KRIEEET...*
Engsel pintu kamar mandi yang sudah agak tua itu mengeluarkan suara derit yang c**up keras karena tertekan oleh beban tubuh Julian.
Di dalam kamar mandi, suara musik langsung mati seketika. Suara kecipak air juga berhenti. Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti ruangan.
"Si-siapa di luar?!" seru Kathleen dari dalam. Suaranya tidak lagi terdengar riang, melainkan penuh dengan nada panik dan waspada.
Mata Julian membelalak lebar. Jantungnya serasa mau copot dari tempatnya. G***, dia hampir ketahuan!
Tanpa berpikir panjang, Julian langsung berbalik arah dan berlari dengan langkah seringan angin menuju pintu keluar kamar. Dia berhasil menyelinap keluar, menutup pintu kamar Kathleen dengan sangat pelan, dan langsung bersembunyi di balik bayang-bayang pilar koridor yang gelap, tepat sedetik sebelum pintu kamar mandi Kathleen terbuka lebar.
Dari tempat persembunyiannya, Julian bisa mendengar napasnya sendiri yang memburu. Keringat dingin menetes di pelipisnya.
"G***... hampir aja," bisik Julian sambil memegang dadanya yang berdetak sangat kencang.
Misi mata-mata pertamanya malam ini mungkin tidak berjalan mulus sepenuhnya, tapi Julian berhasil mendapatkan satu kesimpulan penting:
Kathleen, tunangannya yang kelihatan membosankan itu, ternyata menyimpan rahasia besar yang sangat ajaib di balik pintu kamar mandinya yang terkunci. Dan Julian bersumpah, dia tidak akan berhenti sampai dia berhasil mengungkap seluruh rahasia itu.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!