Bab 6: Mengintip Surga
Begitu pintu kayu besar kamar Kathleen tertutup rapat dan suara langkah kaki para pelayan perlahan menghilang di ujung koridor, Julian langsung keluar dari balik pilar marmer. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut ketahuan pengawal—sebagai Putra Mahkota, dia punya akses ke mana saja—tapi karena dia tahu tindakan yang akan dilakukannya ini benar-benar tidak terhormat.
Mengendap-endap ke kamar tunangannya sendiri di malam hari? Kalau sampai ketahuan B**ndon atau kaisar, reputasinya sebagai calon penerus takhta yang dingin dan perfeksionis bakal hancur lebur dalam semalam.
"Pers****," bisik Julian pelan. Rasa penasarannya sudah di ubun-ubun.
Dengan gerakan seringan kucing, Julian mendekati pintu kamar Kathleen. Keberuntungan tampaknya sedang berpihak padanya malam ini. Pintu ganda berukir itu tidak tertutup rapat sepenuhnya, menyisakan celah tipis karena Kathleen tampaknya terlalu terburu-buru ma**k tadi.
Julian mendorong pintu itu dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara, lalu menyelinap ma**k.
Kamar pribadi Kathleen sangat luas, didominasi warna pastel yang lembut dan wangi lilin aroma terapi yang menenangkan. Tapi pandangan Julian langsung tertuju pada pintu kamar mandi di sudut ruangan. Pintu kayu jati tebal itu tertutup, namun tidak rapat. Cahaya hangat berwarna kekuningan berpendar dari celah pintu yang agak renggang, ditemani oleh kepulan uap tipis yang membawa aroma mawar dan vanila yang sangat manis.
Sayup-sayup, Julian mendengar suara kecipak air yang lembut.
*Dia beneran lagi mandi,* batin Julian.
Langkah kaki Julian bergerak otomatis, seolah ditarik oleh magnet yang tak kasat mata. Setiap langkahnya terasa sangat berat sekaligus mendebarkan. Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, Julian menahan napasnya rapat-rapat. Dia mendekatkan wajahnya ke celah pintu yang renggang tersebut.
Julian bersumpah, dia hanya berniat memastikan tidak ada pria simpanan atau ritual ilmu hitam di dalam sana. Dia hanya ingin mencari bukti fisik untuk mematahkan rumor sampah para pelayan.
Namun, begitu matanya berhasil mengintip ke dalam, seluruh fungsi otak Julian langsung *ngeblank* seketika.
Bukannya menemukan penyihir, mata-mata, atau konspirasi politik, Julian justru disuguhi pemandangan yang langsung membuat darahnya berdesir hebat ke seluruh tubuh.
Kamar mandi itu dipenuhi uap hangat yang membuat suasana terasa begitu intim dan magis. Di tengah ruangan, di dalam bak mandi marmer berbentuk oval yang besar, Kathleen sedang berendam. Air di dalam bak itu dipenuhi busa putih yang melimpah dan taburan kelopak bunga mawar merah.
Tapi bukan itu yang membuat mata Julian tidak bisa berkedip. Melainkan sosok Kathleen sendiri.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di tepi bak mandi. Rambut cokelat panjangnya yang basah menempel di bahu dan dadanya yang terekspos bebas di atas permukaan air yang dipenuhi busa. Kulitnya yang seputih porselen tampak kemerahan karena efek air hangat, memberikan kesan yang sangat segar dan sehat. Di bawah cahaya lampu yang temaram, kulit Kathleen terlihat sangat *glowing* dan licin, seolah memancarkan cahayanya sendiri.
"Ahhh..."
Sebuah desahan lembut, begitu manja dan sarat akan kepuasan, lolos dari bibir merah muda Kathleen yang sedikit terbuka.
Julian menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering, seperti diguyur pasir gurun.
Kathleen memejamkan matanya rapat-rapat, mengekspresikan rasa nyaman yang luar biasa. Kedua tangannya yang lentik tampak bergerak lambat di bawah air, mengusap lembut lengannya sendiri, lalu naik ke leher dan tulang selangkangnya yang indah. Setiap sentuhan tangannya sendiri tampak begitu sensual, seolah dia sedang menikmati setiap jengkal kulitnya yang kini terasa jauh lebih sensitif dan halus dari biasanya.
"G***... ini enak banget," gumam Kathleen dengan suara serak yang terdengar sangat s**** di telinga Julian. Gadis itu menggeliat pelan di dalam air, membuat air di dalam bak berguncang dan beberapa busa meluap ke lant** marmer.
Julian mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Matanya yang biasanya menatap dingin dan tajam, kini menggelap, dipenuhi oleh gairah yang mendadak menyala hebat. Sebagai calon kaisar, Julian selalu dididik untuk menekan segala bentuk emosi dan nafsu keduniawian. Dia selalu bersikap seperti robot yang tidak punya hasrat seksual. Tapi melihat Kathleen yang seperti ini—begitu bebas, begitu menggoda, dan begitu sensual—meruntuhkan pertahanan yang sudah dibangunnya bertahun-tahun.
Pikiran Julian langsung traveling ke mana-mana. Bagaimana rasanya menyentuh kulit sehalus itu? Bagaimana rasanya mendengar desahan manja itu langsung di telinganya saat dia yang menyentuhnya, bukan tangan Kathleen sendiri?
*Si****,* umpat Julian dalam hati. Dia merasa seperti ba****** mesum sekarang. Tapi matanya benar-benar menolak untuk dialihkan. Pemandangan di depannya ini terlalu indah, terlalu berdosa untuk dilewatkan. Ini bukan lagi sekadar mengintip kamar mandi, bagi Julian, ini seperti sedang mengintip surga dunia yang paling terlarang.
Di dalam sana, Kathleen tampak mengubah posisinya. Dia mengangkat satu kaki jenjangnya ke atas tepi bak mandi, membiarkan air hangat menetes perlahan di sepanjang betisnya yang mulus tanpa cela. Dia mengusap kakinya dengan gerakan memijat yang sangat menggoda.
"Mmm, sabun ini bener-bener magis. Kulit gue berasa lembut banget, a****. Pantesan aja si Julian akhir-akhir ini ngeliatin gue mulu. Pasti dia naksir berat sama pesona gue," monolog Kathleen sambil terkekeh manja, lalu kembali mendesah pelan saat kepalanya bersandar lagi di tepi bak mandi.
Mendengar namanya disebut dari bibir sensual itu, jantung Julian rasanya mau copot. Wajahnya mendadak terasa panas. Jadi, Kathleen sadar kalau selama ini dia sering memperhatikannya? Dan apa katanya tadi? Sabun magis?
Berarti semua rumor tentang ilmu hitam atau pria simpanan itu salah besar. Rahasia Kathleen yang selama ini mengunci diri di kamar mandi selama berjam-jam hanyalah karena dia ingin memanjakan dirinya sendiri dengan sangat sensual di dalam bak mandi!
Julian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sudah seperti genderang perang. Gairah di dalam dirinya kini sudah berada di batas maksimal. Bagian bawah tubuhnya mulai terasa menegang dan tidak nyaman. Julian tahu, kalau dia tetap berdiri di sini semenit saja lagi, dia tidak akan bisa menjamin keselamatannya sendiri—atau keselamatan Kathleen. Dia bisa saja mendob**k pintu ini dan langsung menerkam gadis itu di dalam bak mandi tanpa memikirkan konsekuensinya.
Dengan sisa-sisa akal sehat yang dimilikinya, Julian memutuskan untuk mundur.
Namun, saat dia mengambil langkah mundur dengan tergesa-gesa, tumit sepatunya tidak sengaja menyenggol sebuah vas bunga kecil yang diletakkan di atas meja hias di dekat pintu kamar mandi.
*Kring!*
Bunyi gesekan keramik yang c**up nyaring itu memecah keheningan kamar.
Julian membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Di dalam kamar mandi, suara kecipak air mendadak berhenti.
"Siapa di luar?!" suara Kathleen terdengar meninggi, tidak lagi terdengar manja melainkan penuh kewaspadaan. "Siapa di sana?! Pelayan?"
Julian tidak membuang waktu lagi. Dengan kecepatan penuh namun tetap menjaga langkahnya agar tidak menimbulkan suara berisik, dia langsung berbalik dan melesat keluar dari kamar Kathleen. Dia menutup kembali pintu kamar tersebut dengan rapat, lalu berlari menyusuri koridor gelap paviliun barat secepat mungkin, tidak peduli lagi dengan wibawanya sebagai Putra Mahkota.
Napas Julian memburu saat dia akhirnya berhasil kembali ke kamarnya sendiri di paviliun timur. Dia langsung mengunci pintu kamarnya dan bersandar di sana dengan dada yang naik turun tidak beraturan.
Dia menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan kasar menggunakan jemarinya yang gemetar. Seluruh tubuhnya terasa panas, dan bayangan Kathleen yang sedang menggeliat manja di dalam bak mandi beruap itu seperti sudah tercetak permanen di dalam otaknya.
Julian menatap telapak tangannya sendiri yang basah oleh keringat dingin. Dia tertawa kecil, tawa frustrasi yang terdengar sangat menyedihkan.
"Si****..." gumam Julian sambil memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan sensual yang terus menari-nari di kepalanya. "Gue bener-bener bisa g*** gara-gara cewek itu."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Putra Mahkota yang dingin dan agung tidak bisa tidur memikirkan tunangannya yang baru saja memperlihatkan sepotong surga kepadanya secara tidak sengaja. Dan Julian tahu, mulai besok, dia tidak akan pernah bisa menatap Kathleen dengan cara yang sama lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!