Bab 7: Kesepakatan G***
Kathleen terbangun pagi itu dengan perasaan tidak tenang. Sepanjang malam, tidurnya tidak nyenyak sama sekali. Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan aneh seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya di kamar mandi terus berputar di kepalanya.
"Ah, nggak mungkin. Kamar mandi gue kan selalu terkunci rapat. Gue pasti cuma paranoid karena kecapekan," gumam Kathleen sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran konyol itu.
Dia bangkit dari tempat tidur king size-nya, lalu berjalan menuju meja rias untuk merapikan rambut cokelat panjangnya yang sedikit berantakan. Namun, baru saja dia mengangkat sisir peraknya, pintu kamar tidurnya tiba-tiba terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu.
*Cklek.*
Kathleen tersentak kaget. Dia langsung berbalik dengan cepat dan mendapati sosok tinggi tegap sedang melangkah ma**k dengan sant**. Cowok itu mengenakan kemeja satin hitam dengan beberapa kancing atas yang sengaja dibuka, memperlihatkan tulang selangkanya yang tegas. Rambut hitamnya agak berantakan, memberikan kesan s**** yang alami.
Julian. Sang Putra Mahkota sekaligus tunangannya yang terkenal dingin, kaku, dan perfeksionis.
Tapi pagi ini, ekspresi wajah Julian sama sekali tidak mencerminkan reputasi dinginnya itu. Ada senyum miring yang sangat menyebalkan terukir di bibirnya.
"Julian?! Kamu ngapain di sini pagi-pagi gini? Nggak sopan banget ma**k kamar orang tanpa ketuk pintu!" omel Kathleen, berusaha menutupi kepanikannya. Jantungnya entah kenapa langsung berdegup kencang melihat kedatangan Julian yang tiba-tiba.
Julian tidak langsung menjawab. Dia malah berjalan mendekat, lalu dengan sant**nya mendudukkan diri di sofa beludru merah yang ada di sudut kamar Kathleen. Dia menyilangkan kakinya, menatap Kathleen dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sopan santun?" Julian terkekeh pelan, suara baritonnya terdengar sangat renyah sekaligus mengintimidasi. "Lucu ya, denger kata itu keluar dari mulut cewek yang semalam mandi sambil menikmati dunianya sendiri."
Kathleen seketika membeku. Sisir di tangannya nyaris saja terlepas. "M-maksud kamu apa? Nggak usah ngomong yang aneh-aneh, deh!"
Julian menegakkan tubuhnya, lalu berdiri dan berjalan perlahan mendekati Kathleen. Setiap langkah kaki Julian terasa seperti ketukan vonis mati bagi Kathleen. Atmosfer di dalam kamar itu mendadak terasa begitu sempit dan panas.
"Nggak usah pura-pura amnesia, Kathleen," bisik Julian begitu dia sampai di depan Kathleen. Jarak mereka sekarang sangat dekat, sampai-sampai Kathleen bisa mencium aroma maskulin bercampur mint yang segar dari tubuh cowok itu.
Julian menundukkan kepalanya sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan Kathleen yang kini sudah mulai gemetar. "Kamar mandi kamu semalam wangi banget. Kombinasi kelopak mawar merah sama aroma vanila yang manis. Bener, kan?"
Mata Kathleen membelalak sempurna. Seluruh pasokan oksigen di parunya seolah tersedot habis.
"Kamu..." Kathleen terbata-bata, wajahnya mulai memerah karena malu dan panik yang luar biasa.
"Oh, belum selesai," sela Julian dengan senyum yang makin lebar, kelihatan puas banget melihat reaksi panik tunangannya. "Air hangatnya dipenuhi busa melimpah. Dan yang paling menarik... ada seorang putri cantik yang lagi bersandar manja di tepi bak mandi, dengan bahu dan dada yang terekspos bebas karena rambut basahnya tersampir ke belakang. Kulitnya yang putih mulus itu bahkan sampai kemerahan karena efek air hangat."
"STOP! C**UP!" teriak Kathleen histeris. Dia langsung menutup kedua telinganya dengan tangan, sementara wajahnya kini sudah merah padam sampai ke leher, mirip kepiting rebus. Dia benar-benar merasa ingin menghilang dari muka bumi sekarang juga.
"Kamu... kamu beneran mengintip aku semalam?! Dasar cowok mesum! Ba******!" maki Kathleen dengan suara bergetar. Air mata malu hampir saja menetes dari sudut matanya. Rahasia yang dia simpan rapat-rapat selama ini, tempat pelarian satu-satunya di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa tuntutan protokol istana, ternyata sudah dinodai oleh mata mesum Julian.
Julian sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Dia malah menangkap kedua pergelangan tangan Kathleen dengan mudah, lalu menurunkannya dari telinga gadis itu. Kekuatan Julian yang begitu besar membuat Kathleen tidak bisa berkutik.
"Hei, denger dulu," kata Julian, nadanya melembut tapi tetap terdengar penuh kemenangan. "Aku nggak berniat mengintip dari awal. Aku cuma penasaran kenapa tunanganku ini selalu mengunci diri di kamar mandi berjam-jam tiap malam. Aku cuma mau mastiin kamu nggak lagi main dukun atau selingkuh di dalam sana."
"Dan ternyata? Aku cuma mandi biasa! Kenapa kamu harus melihatnya?!" pekik Kathleen frustrasi. Dia berusaha menarik tangannya dari genggaman Julian, tapi cowok itu malah mempererat pegangannya secara lembut namun tegas.
"Mandi biasa? Buat ukuran Putri Mahkota faksi konservatif yang selalu terlihat kaku dan suci di depan publik, aktivitas mandi kamu semalam itu... sangat sensual, Kathleen. Kalau sampai para tetua istana tahu hobi rahasia kamu ini, apa yang bakal terjadi ya?" Julian menaikkan sebelah alisnya, memberikan tatapan mengancam yang sangat jelas.
Mendengar kata 'tetua istana', tubuh Kathleen langsung melemas.
Para tetua faksi konservatif di istana adalah sekelompok orang tua kolot yang sangat menjunjung tinggi moralitas tradisional. Mereka selalu mengawasi setiap gerak-gerik Kathleen dengan ketat. Jika mereka tahu bahwa Kathleen memiliki kebiasaan mandi yang dianggap "tidak pantas" dan berbau sensual seperti itu, mereka pasti akan menggunakan hal itu sebagai alasan untuk membatalkan pertunangannya, mengusirnya dari istana, atau bahkan mempermalukan keluarganya di depan publik.
Julian benar-benar memegang kartu as miliknya sekarang.
"Kamu... kamu mau melaporkan aku?" tanya Kathleen dengan suara yang kini mencicit ketakutan. Rasa marahnya perlahan digantikan oleh kecemasan yang luar biasa.
Julian tersenyum tipis, seolah baru saja memenangkan lotre. Dia melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Kathleen, lalu merapikan kerah kemejanya sendiri dengan gaya yang sangat arogan.
"Tergantung," jawab Julian sant**.
"Tergantung apa?!" tanya Kathleen cepat.
Julian melangkah satu langkah lebih dekat lagi, membuat Kathleen terpaksa mundur hingga punggungnya membentur tiang tempat tidur poster miliknya. Julian meletakkan satu tangannya di tiang tempat tidur, tepat di samping kepala Kathleen, mengurung gadis itu dalam teritorinya.
"Tergantung kesepakatan kita," bisik Julian, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Kathleen yang bergetar.
"Kesepakatan apa?" Kathleen menelan ludahnya dengan susah payah. Dia merasa kesepakatan apa pun yang keluar dari mulut Julian pasti bukan hal yang baik.
Julian mendekatkan bibirnya ke telinga Kathleen, lalu membisikkan kata-kata yang langsung membuat otak Kathleen mengalami *shut down* seketika.
"Izinkan aku untuk bergabung di kamar mandi pada sesi kamu berikutnya."
"APA?!" Kathleen berteriak begitu kencang sampai tenggorokannya terasa sakit. Dia mendorong dada Julian dengan seluruh tenaga yang dia miliki hingga cowok itu mundur beberapa langkah sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kamu g*** ya?! Gabung?! Kita mandi bareng?! Otak kamu udah geser, ya?!" teriak Kathleen bertubi-tubi. Wajahnya yang tadi sempat memucat kini kembali memerah, tapi kali ini karena campuran rasa malu yang ekstrem dan amarah yang meledak-ledak.
"Kenapa nggak?" Julian mengedikkan bahunya dengan sangat sant**, seolah-olah dia baru saja mengajak Kathleen untuk sekadar minum teh sore bersama. "Kita ini tunangan, Kathleen. Cepat atau lambat kita juga bakal menikah dan berbagi tempat tidur yang sama. Anggap aja ini latihan awal."
"Latihan pala bapakmu!" umpat Kathleen dalam hati, saking frustrasinya dia sampai lupa dengan tata krama bicaranya. "Nggak! Nggak akan pernah! Aku mending mati daripada harus mandi bareng cowok mesum kayak kamu!"
Julian menghela napas panjang, pura-pura kecewa. "Sayang banget. Padahal aku berharap kita bisa punya waktu berkualitas berdua tanpa gangguan pelayan. Ya sudah, kalau itu keputusan kamu. Aku rasa meja kerja para tetua istana sore ini bakal kedatangan surat kaleng berisi det**l menarik tentang hobi rahasia calon permaisuri mereka."
Julian berbalik, bersiap untuk melangkah pergi menuju pintu keluar kamar.
"T-tunggu!" panggil Kathleen panik. Air matanya benar-benar hampir tumpah sekarang. Dia tidak punya pilihan lain. Menolak Julian berarti kehancuran reputasi dan masa depannya di istana ini. Tapi menerima kesepakatan g*** itu... itu sama saja dengan menyerahkan dirinya secara sukarela ke dalam kandang singa.
Julian menghentikan langkahnya, lalu berbalik perlahan dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan. "Ya? Ada yang mau kamu sampaikan, *Princess*?"
Kathleen mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kukunya memutih. Dia menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap wajah Julian yang terlihat sangat puas itu.
"Kalau... kalau aku setuju... kamu beneran bakal tutup mulut?" tanya Kathleen dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan.
Julian berjalan kembali mendekati Kathleen. Dia mengangkat dagu Kathleen dengan jari telunjuknya, memaksa gadis itu untuk menatap matanya yang berkilat penuh gairah dan kelicikan.
"Tentu saja. Aku ini pria terhormat yang selalu memegang kata-kataku. Rahasiamu bakal aman bersamaku, selama kamu memenuhi bagianmu dalam kesepakatan ini." Julian mengelus pipi Kathleen yang terasa panas dengan ibu jarinya. "Jadi, gimana? Kesepakatan g*** ini... sepakat?"
Kathleen memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi nasib sialnya yang harus terjebak dengan tunangan manipulatif seperti Julian. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, dia akhirnya mengangguk pelan.
"Sepakat," bisik Kathleen pasrah.
Julian tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun di istana ini. Dia mengecup kening Kathleen dengan lembut, membuat jantung gadis itu kembali berpacu g***-g***an.
"Pilihan yang cerdas, sayang. Sampai jumpa nanti malam di kamar mandi. Jangan lupa pakai aroma vanila kesukaanku," bisik Julian sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kamar dengan siulan ringan yang terdengar sangat menyebalkan.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Kathleen langsung ambruk terduduk di lant** beludrunya. Dia menutup wajahnya yang luar biasa panas dengan kedua tangannya, lalu berteriak frustrasi sekencang-kencangnya ke dalam bantal yang dia raih dari tempat tidur.
"Julian ba******!!! Gue bener-bener bakal g***!!!"
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!