"Kamu..." Kathleen tertatih-tatih mencari kata yang tepat. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. "...kamu ngintip?!"
Jeritan tertahan Kathleen hanya dibalas dengan senyum miring yang super menyebalkan dari Julian. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke sofa beludru merah, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pose yang luar biasa sant**. Seolah-olah dia baru saja menceritakan ramalan cuaca, bukan membongkar rahasia paling memalukan dalam hidup Kathleen.
"Gue nggak ngintip," jawab Julian sant**. Suara baritonnya terdengar kelewat tenang. "Kamar mandi lo aja yang kurang kedap suara. Ditambah lagi, suara desahan lo semalam itu... *well*, c**up kencang buat bikin cowok normal mana pun langsung melek."
Wajah Kathleen langsung memerah padam. Panasnya menjalar dari pipi, telinga, hingga ke lehernya. Dia merasa ingin menghilang dari bumi sekarang juga. "Julian! Mulut lo, ya!" teriak Kathleen frustrasi. Dia refleks menyambar bantal hias dari sofa terdekat dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Julian.
Dengan gerakan refleks yang super cepat, Julian menangkap bantal itu dengan satu tangan. Dia terkekeh pelan, melempar bantal itu ke sampingnya, lalu bangkit berdiri. Setiap langkah Julian mendekat membuat Kathleen secara naluriah melangkah mundur hingga punggungnya membentur meja rias.
"Kenapa musti malu? Kita kan tunangan," bisik Julian begitu jarak mereka kembali terkikis. Dia menatap mata Kathleen yang bergetar panik. "Tapi, gue penasaran sih. Gimana reaksi publik kalau mereka tahu Putri Mahkota mereka yang super anggun, elegan, dan selalu terlihat suci ini, ternyata punya hobi 'bermain' sendiri di kamar mandi sambil mendesah manja?"
"Lo... lo ngancem gue?!" Kathleen mengepalkan tangannya kuat-kuat. Napasnya memburu cepat.
"Bukan ancaman, Kathleen. Anggap aja ini negosiasi," ujar Julian, matanya berkilat jahil sekaligus misterius. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengunci pergerakan Kathleen dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja rias, tepat di kiri dan kanan tubuh cewek itu. "Reputasi lo taruhannya, kan? Gue tahu lo paling antipati sama yang namanya skandal."
Kathleen menggigit bibir bawahnya. Si****. Julian benar. Keluarga kerajaan sangat mementingkan citra publik. Kalau sampai rahasia ini bocor, bukan cuma reputasinya yang hancur, tapi dia juga bakal didepak dari posisinya sebagai calon Putri Mahkota. Segala kerja kerasnya selama bertahun-tahun untuk terlihat sempurna bakal sia-sia dalam semalam.
"G*** lo. Terus lo mau apa?" tanya Kathleen lirih, akhirnya memilih untuk menyerah kalah.
Julian tersenyum puas. Tatapannya turun ke bibir ranum Kathleen sebentar sebelum kembali ke matanya. "Simple. Mulai hari ini, lo nggak boleh main sendirian lagi. Biar gue yang nemenin lo."
Mata Kathleen membelalak sempurna. "Maksud lo?!"
"Kita main bareng. Dan gue yang pegang kendali," bisik Julian, suaranya terdengar begitu sensual di telinga Kathleen. "Kalau lo setuju, rahasia lo aman sama gue. Nggak akan ada satu orang pun yang tahu. Gimana? *Deal*?"
Kathleen merasa dunianya runtuh seketika. Ini kesepakatan paling g*** yang pernah dia dengar seumur hidupnya. Tapi melihat tatapan penuh kemenangan di mata Julian, Kathleen tahu dia tidak punya pilihan lain. Dia terjebak dalam jaring laba-laba yang dibuat cowok br****** ini.
"Fine," desis Kathleen tajam dengan sisa keberaniannya. "*Deal*."
***
Malam harinya, atmosfer di dalam kamar mandi pribadi Kathleen terasa jauh lebih panas dari biasanya.
Udara di dalam ruangan luas bernuansa marmer putih itu sudah mulai berkabut karena uap air panas yang keluar dari bathtub berukuran *king-size*. Aroma manis vanila dan mawar merah menguar kuat, menciptakan suasana yang seharusnya sangat menenangkan. Tapi bagi Kathleen, malam ini terasa seperti malam eksekusi mati.
Kathleen sudah berendam di dalam bathtub yang dipenuhi busa melimpah hingga sebatas dadanya. Dia mencoba memejamkan mata, memeluk kedua lututnya di dalam air hangat, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang kayak habis lari maraton.
Dia sengaja tidak mengunci pintu kamar mandinya, karena dia tahu betul kalau dia menguncinya pun, Julian punya kunci duplikat seluruh area kastil ini.
*Cklek.*
Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka seketika membuat Kathleen tersentak. Dia langsung membuka matanya lebar-lebar dan menatap ke arah pintu dengan waswas.
Julian berdiri di sana. Cowok itu sudah melepas kemeja formalnya, menyisakan kaus hitam polos yang melekat pas di tubuh atletisnya, memperlihatkan lekukan otot dada dan lengannya yang tegas. Dia berjalan mendekat dengan langkah sant**, sama sekali tidak merasa canggung meski ma**k ke kamar mandi pribadi seorang cewek yang sedang berendam tanpa busana.
"Lo beneran datang," bisik Kathleen, suaranya sedikit bergetar. Dia refleks merapatkan tubuhnya ke dinding bathtub, menyembunyikan dirinya sedalam mungkin di balik busa sabun.
"Gue selalu menepati janji, Princess," sahut Julian dengan senyum miring andalannya.
Julian berjalan ke pinggir bathtub, lalu berlutut di sana. Tatapannya langsung terkunci pada sosok Kathleen. Rambut cokelat panjang cewek itu yang basah tampak menempel di bahu dan lehernya yang putih mulus. Beberapa butiran air berkilau di atas kulitnya yang kini mulai merona pink akibat hawa panas uap air.
Kathleen merasa tatapan Julian seolah-olah bisa menembus air dan busa tebal yang menutupinya. Dia langsung merasa sangat te******* dan rapuh di bawah tatapan intens itu.
"Kok tegang banget?" goda Julian. Dia mengulurkan tangannya yang hangat, lalu dengan lembut menyelipkan beberapa helai rambut basah Kathleen ke belakang telinganya.
Sentuhan jari Julian di kulit lehernya yang sensitif membuat Kathleen langsung meremang. Sensasi dingin bercampur hangat dari sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik kecil yang menjalar langsung ke perut bagian bawahnya.
"Jangan sentuh-sentuh," gumam Kathleen pelan, mencoba terdengar galak walau suaranya malah terdengar seperti desahan tertahan.
Julian terkekeh pelan. "Gimana bisa main kalau nggak disentuh, hmm?"
Sebelum Kathleen sempat memprotes, Julian mulai menggulung lengan kaus hitamnya ke atas. Dengan gerakan perlahan namun pasti, dia mema**kkan tangan kanannya ke dalam air hangat bathtub.
Air bergolak pelan, menciptakan gelombang kecil yang menerpa tubuh Kathleen. Kathleen menahan napasnya saat merasakan telapak tangan Julian yang besar dan hangat mulai menyentuh kulit kakinya di bawah air.
"Julian..." cicit Kathleen, tangannya refleks mencengkeram erat pinggiran bathtub yang licin.
"Sstt. Diam dan rasain aja," bisik Julian, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan serak.
Tangan Julian mulai bergerak perlahan, merayap naik dari pergelangan kaki Kathleen, menyusuri betisnya, lalu berhenti sejenak di lututnya. Setiap usapan pelan yang diberikan Julian terasa begitu membakar, meskipun mereka berada di dalam air hangat. Kontras antara kelembutan usapan Julian dan ketegangan yang mendominasi ruangan itu membuat Kathleen hampir g***.
Kathleen memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan diri agar tidak mengeluarkan suara memalukan. Namun, Julian tampaknya tidak membiarkan cewek itu bersembunyi dalam kegelapan.
"Buka mata lo, Kathleen. Lihat gue," perintah Julian lembut, namun ada nada dominan yang tidak bisa dibantah dalam suaranya.
Kathleen membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya langsung bertubrukkan dengan manik mata gelap Julian yang kini dipenuhi dengan gairah yang menyala-nyala. Tidak ada lagi Julian si Putra Mahkota yang dingin dan kaku di sini. Yang ada di depannya sekarang adalah seorang cowok yang siap melahap mangsanya hidup-hidup.
Tangan Julian kembali bergerak naik, kali ini menyusuri paha bagian dalam Kathleen. Sentuhan itu begitu intim, membuat Kathleen refleks merapatkan kedua pahanya. Tapi dengan lembut, Julian menyelipkan jemarinya di antara kedua paha cewek itu, menuntut ruang untuk bergerak lebih jauh.
"Kemarin lo main sendiri, kan?" tanya Julian setengah berbisik, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Kathleen yang sudah basah oleh keringat tipis. "Gimana rasanya? Enak?"
Wajah Kathleen memerah sempurna sampai ke dada. "Julian, please... jangan nanya yang kayak gitu..."
"Gue cuma mau ngajarin lo, Kathleen," bisik Julian lagi. Kali ini, jarinya yang basah sudah menyentuh area paling sensitif milik Kathleen di bawah air dengan gerakan memutar yang sangat lembut namun presisi. "Main sendirian itu ngebosenin. Tapi kalau sama gue... gue jamin lo bakal ngerasain sesuatu yang jauh lebih nikmat."
"Ah...!"
Kathleen akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Satu desahan manja lolos begitu saja dari bibirnya saat jari Julian mulai bergerak menuntut di titik sensitifnya. Tubuhnya seketika menegang, kepalanya mendongak ke belakang, menyandarkan kepalanya pada tepian bathtub. Tangannya yang gemetar langsung mencari pegangan dan tanpa sadar mencengkeram kuat lengan kokoh Julian yang berada di dalam air.
Sentuhan Julian terasa sangat berbeda. Sangat intens, sangat dominan, dan begitu mematikan. Jari cowok itu seolah-olah tahu persis di bagian mana harus memberikan tekanan untuk membuat Kathleen melayang. Sensasi panas yang luar biasa hebat mulai berkumpul di perut bagian bawah Kathleen, membuatnya merasa sesak napas.
"Bagus, Princess. Desah aja. Panggil nama gue," bisik Julian dengan suara serak, senyum puas terukir di bibirnya saat melihat reaksi Kathleen yang begitu jujur di bawah kendalinya.
Julian mempercepat ritme jarinya di bawah air. Pada saat yang sama, tangan kirinya yang bebas naik ke tengkuk Kathleen, menarik cewek itu agar mendekat ke arahnya. Sebelum Kathleen sempat menyadarinya, Julian sudah membungkam bibirnya dengan ciuman yang panas dan menuntut.
Ciuman Julian begitu mendominasi, menyedot seluruh sisa oksigen di paru-paru Kathleen. Lidah Julian menyelinap ma**k, mengajak lidah Kathleen menari bersama dalam ritme yang memabukkan. Kathleen yang sudah setengah g*** karena stimulasi ganda ini hanya bisa pasrah. Dia membalas ciuman Julian dengan canggung namun penuh gairah, meremas kaus hitam cowok itu dengan tangannya yang bebas.
Perpaduan antara ciuman panas di bibirnya dan gerakan jemari Julian yang lincah di bawah air benar-benar menghancurkan sisa-sisa pertahanan Kathleen. Kepalanya pening karena kenikmatan yang terlalu berlebih.
"J-Julian... aku nggak kuat..." bisik Kathleen di sela-sela ciuman mereka, napasnya memburu cepat, dadanya naik turun dengan tidak beraturan.
Julian melepaskan ciumannya perlahan, menyatukan kening mereka yang berkeringat. Matanya menatap lekat-lekat mata Kathleen yang kini tampak sayu dan berkabut karena gairah.
"Pelepasan buat gue, Kathleen," bisik Julian tepat di depan bibirnya.
Dengan satu gerakan memutar dan tekanan yang pas dari jari Julian di bawah air, pertahanan Kathleen benar-benar runtuh. Tubuhnya mendadak menegang hebat, melengkung kecil di dalam air hangat. Gelombang kepuasan yang luar biasa dahsyat langsung menghantam seluruh kesadarannya, membuat dia mendesah pasrah dalam pelukan Julian, membiarkan tubuhnya gemetar dalam puncak pelepasan yang belum pernah dia rasakan sedahsyat ini sebelumnya.
Julian membiarkan Kathleen bersandar pada dadanya yang bidang. Dia mengelus punggung polos Kathleen yang basah dengan lembut, membantu cewek itu menenangkan napasnya yang masih tersengal-sengal.
Keheningan malam itu kini hanya diisi oleh suara deru napas mereka yang saling bersahutan di tengah kabut uap air yang mulai menipis.
Julian tersenyum puas, mencium puncak kepala Kathleen yang masih lemas tak bertenaga di pelukannya.
"Gimana, Princess?" bisik Julian lembut di telinganya. "Lebih enak main bareng gue, kan?"
Kathleen tidak menjawab. Dia hanya menyembunyikan wajahnya yang super merah di dada bidang Julian, menyadari satu kenyataan mengerikan yang baru saja dia pelajari malam ini: dia benar-benar telah jatuh ke dalam permainan g*** cowok ini. Dan yang paling buruk, dia menginginkan lebih.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!