Bab 9: Melelehnya Dinding Es
Bunyi klik dari kunci pintu kamar mandi yang berputar terdengar begitu nyaring di keheningan malam.
Kathleen mengembuskan napas panjang, lalu berbalik dan menyandarkan punggungnya ke daun pintu kayu ek yang tebal itu. Di hadapannya, sebuah kamar mandi super mewah berlapis marmer putih dengan *bath tub* seukuran kolam renang mini dan pencahayaan hangat menyambutnya. Tapi malam ini, dia tidak sendiri.
Di sudut ruangan, duduk di atas karpet bulu tebal yang diletakkan di dekat area kering, Julian sedang bersandar sant** pada dinding marmer. Cowok itu sudah menanggalkan jubah kebesaran istananya. Dia hanya mengenakan kemeja putih longgar yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, serta celana panjang hitam. Di tangannya ada sebuah konsol game genggam portabel.
"Lama banget lo. Gue hampir lumutan di sini," celetuk Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar game.
Kathleen memutar bola matanya malas, melangkah mendekat lalu ikut duduk lesehan di sebelah Julian tanpa peduli dengan gaun tidurnya yang berbahan sutra mahal. "Ya sorry. Tadi Ibu Suri mendadak manggil gue buat bahas etika jamuan makan malam minggu depan. Kepala gue rasanya mau pecah."
Pertemuan rahasia di kamar mandi ini entah bagaimana telah berubah menjadi rutinitas baru mereka selama seminggu terakhir. Awalnya, Kathleen merasa terancam dan waswas setengah mati karena Julian memegang rahasia memalukannya. Dia mengira Julian akan menuntut hal-hal aneh atau mesum. Tapi ternyata, "main bareng" yang dimaksud cowok itu jauh dari bayangan liar Kathleen.
Julian hanya ingin tempat pelarian. Dan kamar mandi pribadi Kathleen yang luas, kedap suara, dan tidak akan pernah dima**ki oleh pelayan tanpa izin khusus adalah tempat persembunyian paling sempurna di seluruh istana.
"Nih," Julian menyodorkan satu bungkus keripik kentang pedas ke arah Kathleen.
Kathleen mengerutkan kening. "Lo dapet dari mana beginian? Bukannya makanan instan kayak gini dilarang keras ma**k istana?"
"Gue punya jalur orang dalam," sahut Julian misterius, akhirnya mematikan konsol gamenya dan menatap Kathleen. "Ambil aja. Gue tahu lo lagi stres."
Sambil cemberut, Kathleen merebut bungkus keripik itu, membukanya, dan langsung mema**kkan beberapa lembar ke dalam mulutnya. Sensasi gurih dan pedas langsung memanjakan lidahnya. "G***, ini enak banget! Di meja makan istana semuanya hambar, cuma mentega sama garam doang. Gue bisa mati muda karena kekurangan micin."
Julian terkekeh pelan. Suara tawa itu terdengar sangat berbeda dari tawa sinis atau formal yang biasa dia tunjukkan di depan para menteri. Tawa kali ini terdengar... tulus. Dan jujur, itu membuat jantung Kathleen berdegup sedikit lebih cepat.
"Lo kalau makan berantakan banget, ya," kata Julian, lalu secara alami mengulurkan ibu jarinya untuk mengusap sisa bumbu keripik di sudut bibir Kathleen.
Sentuhan tiba-tiba itu membuat Kathleen membeku. Kulit ibu jari Julian terasa hangat di bibirnya. Selama beberapa detik, mata mereka saling mengunci. Kathleen bisa melihat pantulan dirinya di manik mata abu-abu Julian yang biasanya sedingin es, namun kini tampak begitu hangat di bawah temaram lampu kamar mandi.
Sadar akan kecanggangan yang mulai merayap, Julian menarik tangannya kembali dan berdeham pelan. "Jadi... gimana obrolan lo sama Ibu Suri?"
Kathleen buru-buru menelan keripik di mulutnya, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mendadak tidak karuan. "Ya gitu deh. Monoton. Gue harus ngafalin silsilah keluarga bangsawan dari tiga kerajaan tetangga, lengkap dengan hobi dan makanan kesukaan mereka. Kalau gue salah sebut satu nama aja pas jamuan nanti, reputasi keluarga gue taruhannya." Kathleen menghela napas berat, lalu menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana. "Gue capek, Jul. Kadang gue pengen jadi keset aja daripada jadi Putri Mahkota."
Julian terdiam sejenak. Dia menatap Kathleen yang tampak begitu rapuh, sangat berbeda dengan sosok cewek anggun dan tangguh yang selalu tersenyum sempurna di depan kamera wartawan.
"Gue tahu rasanya," gumam Julian lirih.
Kathleen mendongak, menatap Julian dengan dahi berkerut. "Masa sih? Lo kan calon kaisar. Lo cowok paling berkuasa di negara ini nanti. Siapa yang berani neken lo?"
Julian tersenyum miring, tapi senyum itu terasa getir. Dia meluruskan kakinya, menyandarkan kepalanya ke dinding marmer yang dingin, lalu menatap langit-langit kamar mandi. "Semua orang, Kath. Mulai dari kakek gue, para menteri, sampai rakyat biasa. Semua orang nuntut gue buat jadi sempurna. Nggak boleh ada celah. Nggak boleh ada emosi."
Julian menjeda kalimatnya, mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lelah. "Lo tahu nggak kenapa gue selalu bersikap dingin dan jaga jarak sama semua orang?"
Kathleen menggeleng pelan, kini benar-benar menyimak.
"Karena kalau gue kelihatan ramah sedikit aja, orang-orang bakal nganggep gue lemah dan gampang disetir. Dan kalau gue nunjukin ketertarikan pada sesuatu, hal itu bakal langsung dipake sama musuh politik gue buat nyerang gue," jelas Julian dengan nada suara yang sangat tenang, namun tersirat beban yang begitu berat di dalamnya. "Jadi, pilihan terbaik adalah jadi patung es tanpa perasaan. Dengan begitu, nggak ada yang bisa nyakitin gue, dan nggak ada yang bisa ngejatuhin gue."
Mendengar penuturan itu, dada Kathleen mendadak terasa sesak. Selama ini dia selalu menganggap Julian sebagai cowok sombong, angker, dan menyebalkan yang hobi mencari kesalahannya. Dia tidak pernah menyangka kalau di balik topeng pangeran es itu, ada seorang cowok remaja biasa yang kesepian dan harus memikul beban seluruh kekaisaran di pundaknya.
"Jadi... itu alasan lo selalu pasang muka tembok tiap kali kita ketemu di acara formal?" tanya Kathleen lembut.
"Iya," jawab Julian, lalu menoleh ke arah Kathleen. "Tapi di sini... di kamar mandi lo yang baunya kayak stroberi ini... gue ngerasa nggak perlu jadi Julian sang Calon Kaisar. Gue cuma... gue."
Kathleen tertegun. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tulus. "Gue juga. Di kamar mandi ini, gue nggak perlu mikirin cara jalan yang anggun atau cara pegang garpu yang bener. Gue bisa jadi Kathleen yang berantakan, suka ngemil micin, dan..." Kathleen menggantung kalimatnya, wajahnya mendadak memerah.
"Dan mendesah kencang?" sambung Julian dengan cengiran jahil andalannya yang mendadak kembali.
"Julian! Ish, lo merusak momen baper tahu nggak!" teriak Kathleen kesal sambil memukul lengan Julian dengan bantal kecil yang dia bawa dari tempat tidur.
Julian tertawa terbahak-bahak, mencoba menghindar dari pukulan bertubi-tubi Kathleen. "Aduh, ampun! Iya, iya, gue bercanda! Tapi serius, Kath, lo itu aslinya jauh lebih asyik daripada bayangan gue."
Kathleen menghentikan pukulannya, napasnya sedikit terengah-engah. "Emang lo dulu mikir gue kayak gimana?"
"Gue pikir lo itu tipe cewek borjuis yang membosankan. Yang hobinya cuma minum teh sore hari sambil ngegosipin gaun desainer terbaru, dan bakal pingsan kalau liat debu," aku Julian jujur.
"Enak aja!" protes Kathleen sambil mengerucutkan bibirnya. "Gue ini pinter ya, fyi aja. Gue lulusan terbaik di akademi diplomasi. Dan kalau soal humor, gue ini ratunya receh. Lo aja yang kuper!"
"Oh ya? Coba buktiin seberapa recehnya lo," tantang Julian sambil menopang dagunya dengan tangan, menatap Kathleen dengan binar tertarik yang belum pernah dia tunjukkan pada cewek mana pun sebelumnya.
Kathleen memutar otak sejenak, lalu berdeham formal meniru gaya guru etikanya. "Oke, dengerin baik-baik. Kenapa pangeran di negeri dongeng selalu gagal pas mau ngelamar cewek?"
Julian menaikkan satu alisnya. "Kenapa? Karena dijodohin sama pilihan rajanya?"
"Salah!" Kathleen menyeringai penuh kemenangan. "Karena dia ngelamarnya pakai jurus *smash* bulutangkis, makanya ceweknya malah pingsan kena kok, bukan malah nerima cincin!"
Keheningan sempat merayap selama tiga detik. Kathleen menahan napas, merasa kalau leluconnya barusan benar-benar garing.
Tapi sedetik kemudian, tawa Julian pecah. Bukan sekadar kekehan pelan, tapi tawa lepas yang sangat keras sampai-sampai cowok itu harus memegangi perutnya. Bahunya berguncang hebat, dan matanya menyipit membentuk bulan sabit yang sangat menawan.
Kathleen terpaku melihat pemandangan itu. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena gugup, melainkan karena dia menyadari betapa tampannya Julian saat tertawa lepas tanpa beban seperti ini. Dinding es yang selama ini memisahkan mereka berdua rasanya benar-benar telah meleleh sepenuhnya, menyisakan kehangatan yang perlahan menjalar ke lubuk hati mereka masing-masing.
"Sumpah, itu garing banget, Kath," ujar Julian di sela-sela tawanya yang mulai mereda. Dia menyeka air mata kecil di sudut matanya akibat terlalu banyak tertawa. "Tapi entah kenapa gue receh juga gara-gara lo."
"Tuh kan, gue bilang juga apa!" sahut Kathleen bangga, meski pipinya kini merona merah akibat tatapan intens dari Julian.
Julian perlahan menghentikan tawanya. Dia menatap Kathleen dengan tatapan yang sangat lembut, membuat atmosfer di dalam kamar mandi mewah itu mendadak berubah menjadi sangat intim. Dia mengulurkan tangannya, kali ini bukan untuk menjahili, melainkan untuk menyelipkan seunt** rambut Kathleen yang terlepas ke belakang telinganya.
"Makasih ya, Kath," bisik Julian, suaranya terdengar sangat rendah dan tulus di telinga Kathleen.
"Buat apa?" tanya Kathleen dengan suara yang ikut mengecil.
"Buat kamar mandi ini. Dan buat lo yang udah mau berbagi tempat rahasia ini sama gue," jawab Julian. "Gue ngerasa... beban di pundak gue agak berkurang setiap kali gue ada di sini bareng lo."
Kathleen tersenyum manis, membiarkan tangannya menyentuh tangan Julian yang masih berada di pipinya. "Sama-sama, Jul. Lagian... lo nggak perlu nanggung semuanya sendirian lagi sekarang. Kita kan... tunangan?"
Julian tertegun sejenak mendengarnya, sebelum akhirnya sebuah senyuman hangat terukir di wajah tampannya. Dia menggenggam jemari Kathleen dengan erat. Di balik pintu kamar mandi yang terkunci rapat dari dunia luar yang kejam dan penuh tuntutan, kedua remaja itu akhirnya menemukan tempat di mana mereka bisa saling bersandar dan menjadi diri mereka yang sejujurnya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!