Satu Detik Sebelum Semesta Padam

Bab 1: Gema di Lorong Sunyi

Pengaturan Membaca

Logam dingin stasiun orbit Aethelgard tidak pernah benar-benar bisa menahan hawa dingin dari kehampaan di luarnya. Di dalam laboratorium Sektor 7 yang terisolasi, Elian berdiri mematung di hadapan jendela lengkung raksasa yang membentang dari lant** hingga langit-langit. Di luar sana, sebuah bintang raksasa merah yang sedang sekarat membentangkan tubuhnya yang bengkak, memuntahkan lidah-lidah api purba yang redup dan sekarat. Pendar merah darah menyelimuti seluruh ruangan, menciptakan bayang-bayang panjang yang tampak seperti jemari hitam yang berusaha menggapai Elian dari sudut-sudut mati laboratorium.

Bagi Elian, cahaya merah itu bukan sekadar radiasi kosmik; itu adalah visualisasi dari waktu yang sedang habis. Dan waktu, bagi seorang fisikawan temporal sepertinya, adalah musuh bebuyutan sekaligus satu-satunya harapan yang tersisa.

Sepuluh tahun telah berlalu, namun bagi Elian, peristiwa di sabuk asteroid Kepler itu seolah baru terjadi satu detik yang lalu. Ia masih bisa merasakan getaran hebat yang mengguncang kapal penelitian mereka, mendengar raungan alarm darurat yang m****akkan telinga, dan yang paling menyiksa: suara tawa Aria, putrinya yang baru berusia delapan tahun, yang tiba-tiba terputus di tengah transmisi statis saat anomali ruang-waktu menelan modul penyelamatnya. Aria lenyap ke dalam celah temporal, meninggalkan Elian dalam ruang hampa duka yang tidak pernah bisa diisi kembali.

Sejak hari itu, kehidupan Elian menyusut hingga hanya menyisakan ruangan seluas dua puluh meter persegi ini. Laboratoriumnya adalah kuburan sekaligus tempat ibadah pribadinya. Di sekelilingnya berserakan komponen elektronik yang te*******, kabel-kabel tembaga yang menjunt** seperti urat nadi yang terputus, dan monitor-monitor tabung tua yang menampilkan grafik fluktuasi gelombang kuantum yang statis.

Elian mendekati konsol holografis utama. Jemarinya yang kurus dan gemetar mengetikkan baris kode kalib**si yang sudah ia hafal di luar kepala. Matanya yang cekung, dikelilingi lingkaran hitam tebal akibat insomnia akut, menatap nanar pada layar yang berkedip.

"Masih nihil," bisiknya pada keheningan. Suaranya serak dan pecah, terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. Ia jarang berbicara dengan manusia lain akhir-akhir ini, lebih memilih bercakap-cakap dengan instrumen mati yang setidaknya tidak pernah memberikan tatapan iba.

Tiba-tiba, pintu geser hidrolik di ujung lorong laboratorium terbuka dengan desis tajam, merobek kesunyian yang telah Elian bangun berjam-jam. Langkah kaki yang mantap dan berat terdengar mendekat, berirama dengan ketukan sepatu bot militer di atas lant** logam.

Elian tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Hanya ada satu orang di Aethelgard yang masih memiliki otoritas—dan c**up keras kepala—untuk mengganggu teritorinya.

"Kau melewatkan tiga siklus makan, Elian. Dan jatah suplemen nutrisimu di ruang logistik sudah mulai berdebu," suara Mara terdengar flat, dingin, namun membawa kehangatan pragmatis yang sangat kontras dengan suasana laboratorium yang beku.

Mara, seorang astrobiolog senior dengan rambut hitam yang dipotong cepak demi kepraktisan, melangkah ma**k. Ia meletakkan sebuah kotak logistik logam abu-abu di atas meja kerja Elian yang berantakan, menyingkirkan beberapa resistor dan catatan kertas yang berserakan. Matanya yang tajam menyapu sekeliling ruangan, menatap skema-skema fisika kuantum yang melayang di udara sebelum akhirnya tertuju pada wajah Elian yang tampak seperti mayat hidup.

"Aku tidak lapar, Mara," jawab Elian dingin, matanya tetap terpaku pada osiloskop kuantum di hadapannya.

"Manusia yang tidak makan akan mati, Elian. Dan kita sudah memiliki terlalu banyak kematian di stasiun ini untuk ditambah dengan kebodohanmu yang sengaja kelaparan," balas Mara tajam. Ia bersedekap, bersandar pada tepi meja besi. "Bintang raksasa di luar sana tidak akan menunggu penelitianmu selesai. Radiasi coronanya sudah mulai menembus perisai magnetik sektor luar. Mutasi pada tanaman hidroponik kita sudah mencapai level kritis. Kita sedang sekarat perlahan-lahan di sini."

"Aku sedang mencari jalannya," potong Elian, suaranya naik satu oktav, sarat dengan ketegangan yang tertahan. "Jika aku bisa menyelaraskan frekuensi resonator fasa ini dengan sisa-sisa energi dari anomali sepuluh tahun lalu, kita bisa melipat ruang-waktu. Kita bisa kembali sebelum..."

"Sebelum Aria hilang?" potong Mara cepat, nadanya menusuk langsung ke inti luka Elian. "Atau sebelum bumi kita hancur menjadi debu? Elian, tatap aku."

Elian mengabaikan perintah itu. Jemarinya justru bergerak lebih cepat di atas kibor virtual, mencoba mengabaikan kehadiran Mara yang dianggapnya sebagai gangguan fisik terhadap konsentrasinya.

Mara menghela napas kasar. Ia melangkah maju, meraih pergelangan tangan Elian dengan cengkeraman yang kuat namun tidak menyakiti, memaksa pria itu berhenti mengetik. "C**up, Elian. Lihat aku!"

Dengan terpaksa, Elian menoleh. Di dalam sepasang mata cokelat tua milik Mara, ia tidak melihat kemarahan, melainkan keputusasaan yang sama dengan yang ia rasakan, meski disembunyikan di balik topeng ketegasan seorang ilmuwan militer.

"Aria sudah tiada," kata Mara dengan suara yang melunak, namun setiap kata terasa seperti hantaman godam di dada Elian. "Dia tersedot ke dalam singularitas sepuluh tahun yang lalu. Tidak ada manusia yang bisa bertahan hidup di dalam distorsi gravitasi seperti itu. Kau sedang mengejar hantu, Elian. Dan sementara kau sibuk dengan hantumu, tiga ratus jiwa yang tersisa di stasiun ini sedang menghitung hari menuju kepunahan mutlak."

"Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang ada di dalam sana!" Elian menyentakkan tangannya, melepaskan diri dari cengkeraman Mara. Napasnya memburu, matanya melebar dipenuhi amarah yang membara dari duka yang tak pernah usai. "Teori relativitas kuantum menyatakan bahwa informasi tidak pernah hilang! Aria tidak mati, Mara! Dia terperangkap di dalam lipatan dimensi yang melambat. Aku merasakannya... aku mendengar suaranya di lorong-lorong stasiun ini setiap kali reaktor utama berada dalam fase padam!"

Mara menatap Elian dengan tatapan iba—jenis tatapan yang paling dibenci Elian karena itu membuatnya merasa seperti orang g***. "Itu bukan Aria, Elian. Itu adalah gema dari pikiranmu yang rusak akibat rasa bersalah. Itu adalah gaung dari kesunyian stasiun ini yang memantul di kepalamu."

"Bukan!" teriak Elian, suaranya bergema di dinding-dinding logam laboratorium, lalu perlahan surut menjadi bisikan yang menyedihkan. "Aku tahu apa yang kudengar..."

Keheningan kembali menguasai ruangan, terasa lebih berat dan menekan dari sebelumnya. Di luar jendela, lidah api dari bintang yang sekarat berdenyut perlahan, seolah-olah sedang menghembuskan napas terakhirnya yang lambat.

Mara memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kembali ketenangannya yang sempat goyah. Ketika ia membuka mata, ekspresinya telah kembali menjadi sang astrobiolog pragmatis yang dingin.

"Dewan stasiun telah mengambil keputusan," kata Mara datar. "Besok pagi, mereka akan mengalihkan seluruh sisa energi dari laboratorium sektor ini ke generator pendorong utama. Kita akan mencoba melakukan manuver ketapel gravitasi menggunakan sisa energi bintang tersebut untuk melempar Aethelgard keluar dari sistem ini. Itu adalah satu-satunya kesempatan kita untuk mencari planet baru."

Elian terperangah. "Itu g***! Melakukan manuver ketapel pada bintang yang tidak stabil seperti itu? Gaya pasang surut gravitasinya akan merobek stasiun ini menjadi kepingan sebelum kita sempat mencapai kecepatan lepas! Satu-satunya cara bertahan hidup adalah menggunakan lompatan temporal!"

"Lompatan yang rumusnya bahkan belum bisa kau selesaikan dalam sepuluh tahun?" tanya Mara, menantang langsung kepakaran Elian. "Kau meminta kami mempertaruhkan nyawa tiga ratus orang demi sebuah teori yang belum terbukti, hanya karena kau ingin memutar balik waktu dan menyelamatkan putrimu. Kita tidak bisa mengorbankan masa depan yang nyata demi masa lalu yang sudah mati, Elian."

"Ini bukan sekadar tentang Aria," dusta Elian, meskipun ia tahu Mara bisa melihat kebohongannya dengan sangat mudah. "Ini tentang menyelamatkan spesies kita. Jika kita bisa menguasai waktu, kita bisa mencegah kehancuran Bumi."

"Bumi sudah mati, Elian. Dan kita tidak bisa kembali ke sana," Mara berbalik, berjalan menuju pintu keluar. Langkahnya terasa sangat berat, seolah ia membawa beban seluruh populasi Aethelgard di pundaknya. Di ambang pintu, ia berhenti tanpa menoleh ke belakang.

"Dewan membutuhkan kalkulasi fisikamu untuk mengoptimalkan perisai termal saat manuver besok. Jika kau membantu kami, kau masih memiliki tempat di stasiun ini. Jika kau menolak... mereka akan memutus aliran daya ke Sektor 7 malam ini. Semua peralatanmu, semua penelitianmu... akan mati."

Pintu geser menutup dengan desis pelan, mengunci Mara di luar dan meninggalkan Elian kembali dalam kesendirian yang mencekik.

Elian berdiri diam di tengah laboratorium yang kini terasa seperti sel penjara. Cahaya merah dari bintang di luar sana seolah menyala lebih terang, membakar ruangan dengan warna keputusasaan yang pekat.

Ia melangkah perlahan mendekati jendela kaca raksasa, menempelkan telapak tangannya yang dingin pada permukaan material transparan tersebut. Di kejauhan, di antara kegelapan tak berujung dan pendar merah bintang yang sekarat, mata Elian menangkap sesuatu. Sebuah distorsi mikro di ruang hampa—sebuah riak kecil yang melengkungkan cahaya bintang di sekitarnya, hanya berlangsung selama sepersekian detik sebelum lenyap kembali.

Tiba-tiba, sebuah suara berbisik di saluran audio internal laboratorium yang sudah lama mati.

*“Ayah…”*

Suara itu sangat halus, bagaikan helaan napas, namun begitu jelas di tengah kesunyian yang absolut. Suara seorang anak perempuan yang memanggil dengan nada penuh harap dari kejauhan yang tak terukur.

Elian tersentak, jantungnya berdegup kencang memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Ia berbalik dengan cepat, matanya liar memindai setiap sudut laboratorium yang kosong. "Aria?" panggilnya dengan suara gemetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang lelah.

Namun, tidak ada jawaban. Hanya ada bayang-bayang merah dirinya sendiri yang terdistorsi di dinding logam, dan gema suaranya sendiri yang perlahan memudar di lorong sunyi stasiun Aethelgard yang sedang menuju detak jantung terakhirnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca