"...segera mati jika kita bisa menguasai keabadian?!" pekik Vance, suaranya menggema liar di bawah kubah baja, mengalahkan deru bising generator fusi. Wajahnya yang biasa tenang kini mengeras, dipenuhi garis-garis ketegangan dan obsesi yang nyaris g***. "Sejarah ditulis oleh mereka yang berani melangkah, Elian! Bukan oleh para pengecut yang merangkak di dalam ketakutan!"
"Anda tidak sedang menyelamatkan sejarah, Vance!" tergah Elian, suaranya parau karena menghirup udara berbau ozon yang pekat. Dari balik konsol terminal, ia mencoba membidik, namun kilatan energi ungu yang melompat-lompat di antara pilar reaktor mengacaukan sensor optik senjatanya. "Anda sedang merobeknya! Lihat indikator itu! Mesin ini menarik energi dari inti Tartarus-7 melebihi kapasitas ambang batas kuantum!"
"Dua persen lagi," bisik Mara di samping Elian. Jari-jarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas layar holografik dekoder portabelnya, mencoba meretas protokol penguncian darurat Sektor Omega. "Hanya butuh dua persen lagi sebelum fluktuasi ini menjadi permanen. Elian, dia tidak akan mendengarkanmu. Dia sudah kehilangan akal sehatnya."
Di atas platform komando, Vance menatap layar pemantau yang berkedip-kedip cepat. Angka indeks sinkronisasi temporal melonjak: *98.4%... 98.9%... 99.1%*.
"Hentikan mereka!" teriak Vance kepada dua prajurit taktisnya yang tersisa. "Jangan biarkan mereka menyentuh terminal cadangan! Sedikit lagi... hanya sedikit lagi..."
Namun, takdir tidak berjalan sesuai kehendak Vance. Alarm darurat stasiun Aethelgard tiba-tiba melengking tinggi, m****akkan telinga. Lampu merah berputar liar di langit-langit kubah. Suara komputer pusat bergema datar, dingin, dan membawa pesan kematian:
*“Peringatan. Ketidakstabilan ruang-waktu terdeteksi di Sektor Omega. Tekanan medan magnetik melampaui batas kritis. Evakuasi segera.”*
"Si****!" raung Vance. Kehilangan kesabaran sepenuhnya, ia melihat ke arah Elian dan Mara yang mulai bergerak maju di bawah perlindungan tembakan balasan. Rasa frustrasi dan ketakutan akan kegagalan membakar dadanya. "Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan mahakaryaku!"
Dengan gerakan brutal, Vance menghantamkan telapak tangannya ke tuas bypass manual—sebuah tombol darurat merah yang dilindungi kaca tebal. Ia memecahkan kaca itu dengan popor pistolnya, lalu menekan tombol tersebut secara paksa.
"Jangan!" teriak Mara, suaranya melengking ngeri.
Namun, segalanya sudah terlambat.
Suara dentuman yang belum pernah didengar oleh telinga manusia sebelumnya meledak dari pusat reaktor. Itu bukan suara ledakan fisik biasa, melainkan suara realitas yang terkoyak. Tabung magnetik raksasa di tengah ruangan bergetar hebat hingga fondasi titanium di bawah kaki mereka berguncang seperti dilanda gempa berkekuatan dahsyat.
Cincin-cincin akselerator yang semula berputar dengan kecepatan ekstrem tiba-tiba berhenti mendadak, memuntahkan gelombang kejut elektromagnetik yang mementalkan semua senjata energi di dalam ruangan. Senapan pulsa di tangan Elian terlepas, meluncur jauh ke dalam kegelapan kolong generator.
Di tengah reaktor fusi, pendaran ungu gelap dan hitam pekat itu tidak lagi memancar—ia menyusut, memadat secara instan menjadi sebuah titik hitam kecil yang melayang di udara. Sebuah singularitas mikro telah terbentuk.
Udara di sekitar titik hitam itu mulai berputar, terdistorsi seperti fatamorgana di gurun pasir yang sangat panas. Cahaya di dalam ruangan tersedot ma**k, menciptakan bayang-bayang aneh yang meliuk-liuk di dinding.
Lalu, kekacauan temporal dimulai.
"Elian... apa yang terjadi?" bisik Mara, matanya membelalak ngeri.
Di hadapan mereka, waktu kehilangan arahnya. Alirannya tidak lagi linier, melainkan pecah menjadi pecahan-pecahan kaca yang bergerak acak. Elian melihat sebuah selongsong peluru yang tadinya terjatuh di lant** tiba-tiba melayang kembali ke udara, ma**k kembali ke dalam laras senjata salah satu prajurit Vance, lalu keluar lagi dalam gerakan lambat yang aneh.
Dua prajurit taktis Vance yang mencoba mendekati platform tiba-tiba menjerit. Salah satu dari mereka melangkah maju, namun kaki kanannya mendadak layu, berkerut, dan menua menjadi tulang belulang kering dalam hitungan detik. Sementara itu, prajurit yang lain berteriak saat tubuhnya mendadak menyusut, kembali menjadi bentuk remaja, lalu balita, sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya dari pandangan—terhapus ke dalam ketiadaan dimensi, seolah-olah ia tidak pernah dilahirkan.
"Mundur! Mara, mundur!" teriak Elian, suaranya terdengar ganda dan bergema aneh, seolah-olah suaranya diucapkan oleh dirinya di masa lalu dan masa depan secara bersamaan.
Kekacauan itu menyebar seperti wabah. Gravitasi di dalam ruangan kacau-balau. Puing-puing besi melayang ke atas, sementara cairan hidrolik yang bocor dari dinding jatuh ke langit-langit.
Vance, yang berdiri di dek komando, tampak tertegun. Matanya menatap tangannya yang mulai berkedip-kedip antara padat dan transparan. "Tidak... ini tidak mungkin. Kalkulasiku... kalkulasiku sempurna!" teriaknya, mencoba menarik kembali tuas emas itu, namun jemarinya menembus konsol logam tersebut seolah-olah ia hanyalah hantu.
"Mara! Kita harus pergi dari sini!" Elian berusaha menggapai tangan Mara.
Namun, fokus Mara tertuju pada konsol darurat di bawah dek komando. "Jika kita tidak melepaskan katup tekanan temporal sekarang, singularitas ini akan membesar! Kita tidak akan sempat melarikan diri!"
Dengan keberanian yang mendekati keputusasaan, Mara melepaskan diri dari dekoder portabelnya dan berlari menerobos badai distorsi. Langkahnya tidak menentu; kadang ia bergerak sangat cepat seperti kilat, kadang gerakannya melambat hingga nyaris berhenti akibat fluktuasi waktu lokal di sekitar reaktor.
"Mara, kembali!" Elian mencoba mengejarnya, namun langkahnya tertahan oleh gelombang gravitasi tak kasat mata yang menekannya hingga berlutut ke lant** logam. Dadanya terasa sesak, seolah-olah waktu sedang mencoba meremukkan paru-parunya.
Mara berhasil mencapai konsol bypass bawah. Jarinya gemetar hebat saat menekan tombol-tombol darurat. "Sedikit lagi... aku bisa menghentikan pasokan energi dari Tartarus-7..."
*BZZZZT!*
Satu lompatan energi busur kuantum berwarna ungu pekat menghantam bagian atas reaktor tepat di atas kepala Mara. Tekanan luar biasa itu membuat dinding baja reaktor tidak lagi mampu menahan beban dimensi. Casing titanium setebal setengah meter itu retak, lalu meledak menghasilkan hujan serpihan logam superpanas.
"Mara!" Elian berteriak histeris.
Sebuah serpihan logam tajam berukuran sebesar lengan manusia meluncur dalam kecepatan tinggi, terdistorsi oleh percepatan waktu lokal. Serpihan itu menghantam sisi tubuh Mara dengan telak, melemparkannya menjauh dari konsol. Tubuh wanita itu terbanting keras ke lant** baja yang dingin, berguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti.
"Tidak! Tidak!"
Elian mengabaikan rasa sakit yang menghantam sendi-sendinya akibat tarikan gravitasi singularitas. Ia merangkak, lalu memaksa dirinya berdiri dan berlari sekencang mungkin menuju Mara. Di sekelilingnya, udara bergetar hebat. Ia bisa melihat kilasan-kilasan bayangan aneh di udara—proyeksi masa lalu stasiun ini, bayangan para pekerja yang membangun Aethelgard puluhan tahun lalu, tumpang tindih dengan masa depan stasiun yang tampak runtuh dan hancur berantakan.
Saat Elian berlutut di samping Mara, hatinya seolah hancur. Serpihan logam itu telah menembus bagian perut bawah Mara, meninggalkan luka menganga yang mengeluarkan darah segar berwarna merah pekat—kontras dengan pendaran ungu di sekeliling mereka. Wajah Mara seputih kertas, napasnya tersengal-sengal, pendek dan berat.
"Elian..." bisik Mara, menyentuh dada Elian dengan jemarinya yang dingin dan gemetar. Darah mulai keluar dari sudut bibirnya. "Rasanya... sangat dingin..."
"Bertahanlah, Mara. Kumohon, bertahanlah," air mata Elian jatuh, berbaur dengan debu dan darah di pipi Mara. Ia menekan luka tersebut dengan kedua tangannya, mencoba menghentikan aliran darah, namun cairan merah itu terus merembes keluar di sela-sela jarinya. "Aku akan membawamu keluar dari sini. Kita akan menghentikan ini bersama-sama."
"Tidak bisa..." Mara menggelengkan kepalanya lemah, matanya menatap sayu ke arah konsol darurat yang kini diselimuti oleh distorsi hitam yang semakin membesar. "Singularitas itu... dia tidak hanya menghancurkan ruangan ini. Lihat..."
Elian menoleh ke arah layar monitor utama yang setengah hancur di dinding atas. Di sana, peta sektoral galaksi yang biasanya menampilkan konstelasi bintang di sekitar sistem Tartarus sedang berkedip-kedip cepat. Satu per satu, titik-titik cahaya yang mewakili planet-planet koloni dan stasiun luar angkasa di sektor tersebut padam.
Namun, mereka tidak meledak. Mereka hilang. Terhapus dari peta, seolah-olah keberadaan mereka di masa lalu telah ditarik kembali.
"Efek retrokausal..." bisik Elian dengan kengerian yang mendalam. Ia memahami arti dari visualisasi tersebut. "Jika mesin ini terus bekerja... distorsi ini akan menyebar ke luar sistem. Jalinan dimensi ini akan runtuh sepenuhnya."
"Bukan hanya kita yang akan mati," ucap Mara, suaranya semakin melemah, matanya mulai kehilangan fokus. "Seluruh stasiun... seluruh sektor... bahkan sejarah kita, semua orang yang pernah kita kenal... mereka akan terhapus dari garis waktu. Kita tidak akan pernah ada."
Elian menatap wajah Mara yang sekarat, lalu beralih menatap singularitas mikro yang kini mulai menarik puing-puing besar di dalam ruangan ke dalam pusat pusarannya. Vance sendiri sudah tidak terlihat lagi; entah dia telah hancur berkeping-keping atau terlempar ke dalam celah dimensi yang tak berujung.
Di dalam ruangan yang runtuh ini, di tengah waktu yang berjalan mundur dan maju tanpa aturan, Elian menyadari satu hal yang mutlak. Hanya ada satu detik tersisa sebelum distorsi ini menjadi tidak dapat dipulihkan. Jika ia tidak menghentikan mesin ini sekarang, tidak akan ada hari esok untuk siapa pun. Tidak akan ada masa lalu untuk mengenang mereka. Semesta ini akan padan dalam sunyi, tanpa pernah tahu bahwa mereka pernah berjuang untuk menyelamatkannya.
Dengan tangan yang masih berselimut darah Mara, Elian menegakkan tubuhnya. Di hadapannya, badai temporal dan singularitas yang menganga menantinya seperti rahang monster dimensi yang siap menelan apa saja. Namun, di dalam matanya, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada tekad yang menyala di ambang kepunahan.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!