Senapan pulsa di tangan Elian terlempar, menghantam lant** titanium yang bergetar hebat sebelum akhirnya meluncur ke dalam celah dek yang menganga.
Gelombang kejut elektromagnetik bertekanan tinggi menghantam dada Elian, membuatnya terjerembat ke belakang. Udara di dalam Sektor Omega seketika berubah menjadi badai ion yang pekat. Bau ozon bercampur logam terbakar menusuk rongga hidungnya, menyisakan rasa besi yang anyir di lidah. Di sekelilingnya, gravitasi mulai kehilangan kewarasannya. Puing-puing konsol, kabel-kabel yang terputus, dan percikan api melayang-layang di udara dalam gerakan lambat yang ganjil, ditarik oleh pusaran tak kasatmata di pusat reaktor Tartarus-7.
"Mara!" teriak Elian, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh deru angin kuantum yang m****akkan telinga.
Ia menoleh ke arah terminal cadangan. Mara tergeletak di sana, tertimbun runtuhan pilar penyangga yang patah. Perempuan itu masih bernapas, tetapi dahinya mengucurkan darah segar yang mengapung menjadi butiran-butiran merah kecil di udara bebas gravitasi.
"Elian..." Mara berbisik lemah, tangan kirinya menunjuk ke arah platform komando utama yang berada di atas mereka. "Hentikan... Vance. Singularitas... sudah mulai terbentuk..."
Elian mendongak. Di atas sana, di balik kabut ungu yang berputar-putar kencang, siluet Vance terlihat samar. Pria paruh baya itu berdiri di depan konsol utama, jemarinya mencakar-cakar panel kontrol dengan histeris. Wajahnya yang semula penuh wibawa kini hancur oleh keg***an. Ia tertawa, lalu menangis, memaki-maki angka-angka holografik yang terus merosot ke zona merah.
"Tidak! Ini tidak mungkin salah!" raung Vance, suaranya melengking tinggi, menembus gemuruh distorsi ruang-waktu. "Kalkulasiku sempurna! Aku telah menghitung setiap prob***litas! Sedikit lagi... aku bisa melipatgandakan energi Debu Bintang! Aku bisa membuka gerbang keabadian!"
Dengan sisa kekuatan yang ada, Elian memaksa tubuhnya berdiri. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung dengan beban berton-ton. Gravitasi lokal di sekitar reaktor terus bergeser secara ekstrem; sesekali ia merasa tubuhnya seringan kapas, di detik berikutnya ia merasa seolah akan dihancurkan oleh tekanan tak terlihat.
Ia memanjat tangga menuju platform utama. Logam tangga itu terasa panas membakar tangannya, tetapi Elian tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada satu titik: konsol kontrol utama yang memancarkan cahaya biru pucat di tengah badai ungu.
Saat Elian berhasil menginjakkan kaki di platform, Vance tiba-tiba berbalik. Matanya merah, dipenuhi urat-urat darah yang menegang. Di tangannya, ia memegang sepotong besi tajam dari puing konsol yang hancur.
"Jangan mendekat, Elian!" ancam Vance, suaranya gemetar oleh histeria yang memuncak. "Kau tidak mengerti! Jika kita menghentikan proses ini sekarang, seluruh stasiun akan hancur! Semua data penelitianku... warisan umat manusia... akan hilang!"
"Vance, sadarlah!" teriak Elian, mencoba menstabilkan posisinya di atas lant** yang terus miring. "Tidak ada warisan yang tersisa jika stasiun ini menelan dirinya sendiri! Singularitas itu akan meluas dan melahap seluruh sistem Tartarus! Kita harus mengalihkan energinya sekarang!"
"Pengecut!" Vance menerjang maju dengan kecepatan yang tak terduga, mengayunkan besi tajam itu ke arah leher Elian.
Elian berkelit dengan refleks yang terlatih. Ayunan besi itu meleset tipis, hanya merobek kerah jaket taktisnya. Memanfaatkan momentum, Elian menangkap pergelangan tangan Vance, lalu memutarnya ke belakang. Vance menjerit kesakitan, tetapi keg***an memberinya kekuatan ekstra. Ia menyentakkan kepalanya ke belakang, menghantam hidung Elian hingga berdarah.
Elian terhuyung, tetapi ia menolak untuk jatuh. Sebelum Vance sempat menyerang lagi, Elian melayangkan sebuah pukulan keras tepat di rahang Vance. Pria tua itu terlempar ke belakang, menghantam tepi konsol utama, sebelum akhirnya merosot ke lant**, tak sadarkan diri dengan napas yang memburu.
Dengan napas terengah-engah, Elian segera berbalik menghadap konsol utama. Jemarinya yang gemetar menyapu layar holografik yang berkedip-kedip tidak stabil. Alarm stasiun Aethelgard kini berbunyi dalam frekuensi yang lebih rendah dan konstan—nada kematian yang menandakan akhir dari segalanya.
*“Peringatan kritis. Kolaps kuantum dalam enam puluh detik. Singularitas tidak dapat dihindari.”*
"Pikir, Elian... pikir..." gumamnya pada diri sendiri, menghapus darah yang mengalir dari hidungnya dengan punggung tangan.
Layar di hadapannya terbagi menjadi dua bagian besar, menampilkan dua pilihan mutlak yang masing-masing membutuhkan seluruh sisa energi Debu Bintang yang tersimpan di reaktor.
Di sebelah kiri layar, sistem menampilkan visualisasi jalinan waktu masa lalu. Di sana, berkedip sebuah koordinat temporal yang sangat ia kenal. Koordinat itu mengarah pada stasiun Bumi-6, lima tahun yang lalu. Waktu di mana kecelakaan reaktor pertama terjadi, merenggut nyawa Aria.
Mata Elian membelalak. Di sudut layar, sebuah umpan data mentah menunjukkan bahwa jika ia mengarahkan seluruh energi Debu Bintang ke pemancar temporal, ia bisa membuka celah mikro-wormhole yang c**up stabil untuk mengirimkan kesadarannya kembali ke masa lalu. Ia bisa memperingatkan dirinya sendiri. Ia bisa menyelamatkan Aria. Ia bisa mendekap perempuan itu sekali lagi, merasakan kehangatan kulitnya, dan menghentikan seluruh mimpi buruk ini sebelum sempat dimulai.
"Aria..." bisik Elian. Air mata pertamanya jatuh, mengapung di udara seperti butiran kristal kecil yang memantulkan cahaya ungu reaktor. Di layar itu, foto profil Aria terpampang, tersenyum dengan latar belakang langit berbintang yang damai. Senyum yang selalu menjadi jangkar bagi jiwanya yang tersesat.
Namun, di sebelah kanan layar, sebuah realitas lain menuntut perhatiannya.
Sistem menampilkan koordinat galaksi baru yang subur di masa depan—sebuah surga hijau yang jauh dari jangkauan kehancuran Tartarus. Di luar stasiun Aethelgard, di batas orbit yang aman, Bahtera Evakuasi umat manusia sedang menunggu. Ribuan kapsul kriogenik berisi sisa-sisa jiwa manusia yang terakhir sedang tidur, menggantungkan hidup mereka pada satu-satunya harapan: gerbang dimensi yang harus dibuka menggunakan energi Debu Bintang dari stasiun ini.
Jika Elian memilih Aria, energi yang tersisa akan terkuras habis untuk membuka gerbang temporal ke masa lalu. Akibatnya, gerbang dimensi untuk Bahtera Evakuasi tidak akan pernah terbuka. Bahtera itu akan terombang-ambing di ruang hampa, sebelum akhirnya tersedot ma**k ke dalam singularitas Tartarus yang sedang meluas. Jutaan manusia yang sedang tertidur akan lenyap tanpa pernah sempat terbangun.
Sebaliknya, jika ia memilih masa depan umat manusia, ia harus mengunci koordinat galaksi baru tersebut, melepaskan energi Debu Bintang untuk membuka gerbang evakuasi, dan membiarkan dirinya sendiri mati bersama stasiun ini—menghapus selamanya kesempatan untuk bertemu Aria kembali.
*“Tiga puluh detik menuju kolaps kuantum,”* suara komputer pusat bergaung dingin.
"Mengapa harus seperti ini?" ratap Elian. Ia mencengkeram tepi konsol dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa sakit di dadanya jauh lebih hebat daripada hantaman gelombang kejut tadi. Di dalam benaknya, ia kembali mendengar suara Aria. Lembut, tenang, bergema dari palung ingatannya yang paling dalam.
*“Elian, jika suatu saat kau harus memilih antara diriku dan dunia, pilihlah dunia. Karena di dalam dunia yang selamat itu, kenangan tentang kita akan tetap hidup. Namun jika dunia ini hancur, tidak akan ada lagi yang mengingat bahwa kita pernah saling mencint**.”*
Air mata Elian kini mengalir deras, membasahi pipinya sebelum terlepas dan melayang di udara yang kacau. Badai kuantum di sekelilingnya semakin mengganas. Logam-logam stasiun mulai meliuk dan hancur, terhisap oleh titik hitam kecil yang mulai terbentuk di tengah reaktor Tartarus-7—sebuah singularitas yang siap menelan segalanya.
"Maafkan aku, Aria..." bisik Elian, suaranya pecah oleh kesedihan yang tak tertahankan. "Aku sangat mencint**mu."
Dengan tangan yang gemetar hebat namun penuh kepastian, Elian menggeser kursor menjauh dari koordinat masa lalu. Ia mengabaikan layar sebelah kiri yang berkedip-kedip, seolah-olah sedang menghapus satu-satunya harapan hidupnya sendiri.
Ia mengarahkan seluruh fokusnya ke layar sebelah kanan. Jarinya menekan tombol konfirmasi pada koordinat galaksi baru di masa depan.
*“Protokol Pengalihan Energi diaktifkan. Membuka Gerbang Dimensi untuk Bahtera Evakuasi.”*
Sebuah pilar cahaya keemasan yang murni—energi Debu Bintang dalam bentuknya yang paling stabil—menyembur keluar dari bagian atas stasiun, menembus kubah baja yang pecah, dan melesat ke arah luar angkasa, membentuk sebuah gerbang raksasa yang berkilauan di depan Bahtera Evakuasi.
Di layar pemantau, Elian melihat Bahtera tersebut mulai bergerak maju, melintasi gerbang emas itu perlahan, menuju masa depan yang baru, aman dari kehancuran yang sedang terjadi di sini.
Mereka selamat. Umat manusia akan tetap hidup.
Elian melepaskan pegangannya dari konsol. Tubuhnya kini melayang bebas di udara, ditarik perlahan oleh gravitasi singularitas yang kian membesar di bawahnya. Di sekelilingnya, stasiun Aethelgard mulai runtuh, terlipat ke dalam dimensi yang hancur.
Dalam detik-detik terakhir sebelum kegelapan total menelannya, badai kuantum di sekitarnya seolah mereda menjadi kesunyian yang magis. Cahaya ungu yang semula ganas kini meredup, menyisakan keremangan yang damai. Elian memejamkan matanya, membayangkan wajah Aria yang sedang tersenyum menyambutnya di ujung kegelapan.
Satu detik sebelum semesta padam sepenuhnya, Elian tersenyum, dan akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini ia cari.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!