"Vance, sadarlah!" teriak Elian, mencoba menstabilkan posisinya di atas lant** yang terus miring. "Tidak ada keabadian di dalam kehancuran! Kau hanya akan menarik kita semua ke dalam neraka!"
Namun, kata-kata Elian menguap begitu saja di tengah gemuruh distorsi ruang-waktu yang kian m****akkan telinga. Vance tidak lagi mendengar. Matanya yang liar menatap ke arah pusaran ungu yang berputar di pusat reaktor Tartarus-7. Dengan tawa histeris yang terdengar seperti jeritan keputusasaan, ilmuwan itu melompat ke arah konsol utama, mencoba menekan tombol pintas untuk memaksakan fusi kuantum terakhir.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada satu pun yang boleh!" raung Vance.
Sebelum jemari Vance menyentuh panel, sebuah kilatan energi elektromagnetik murni meledak dari inti reaktor. Gelombang kejutnya menghantam tubuh Vance, melemparkannya ke udara sebelum akhirnya ia tersedot ke dalam pusaran singularitas yang mulai memakan dirinya sendiri. Jeritan terakhir Vance langsung lenyap, tertelan oleh sunyi absolut di pusat gravitasi ekstrem tersebut.
Elian tidak memiliki waktu untuk meratapi nasib pria itu. Di bawah sana, di balik kabut ion yang semakin pekat, Mara masih tergeletak lemas.
Dengan sisa tenaga yang ada, Elian meluncur turun dari platform, mengabaikan rasa panas yang membakar telapak tangannya saat berpegangan pada sisa-sisa pagar besi. Ia mendarat dengan keras di dekat Mara, segera menyingkirkan runtuhan pilar penyangga yang menimpa kaki perempuan itu.
"Mara! Bertahanlah!" Elian merengkuh tubuh Mara. Darah di dahi Mara terasa hangat di jemarinya yang gemetar.
Mara membuka matanya yang sayu, menatap Elian dengan tatapan yang dipenuhi rasa sakit sekaligus ketakutan. "Elian... sistem... sistem evakuasi otomatis mati. Gerbang dimensi... harus dibuka secara manual dari ruang kontrol utama... tapi jika kau melakukannya..."
"Aku tahu," potong Elian lembut. Ia menyeka darah di pelipis Mara dengan ibu jarinya. "Aku tahu apa yang harus kulakukan."
"Tidak, Elian! Jika kau tetap di sini saat gerbang terbuka, tarikan singularitas dari bintang raksasa merah itu akan mengoyak stasiun ini menjadi atom. Kau tidak akan bisa keluar!" Mara mencengkeram kerah setelan luar angkasa Elian dengan sisa kekuatannya. Air mata membasahi pipinya yang pucat, menyatu dengan butiran debu bintang yang melayang di sekeliling mereka.
"Dan jika aku pergi bersamamu, tidak akan ada yang membuka gerbang itu. Ribuan jiwa di dalam kapal evakuasi akan mati membeku di ruang hampa ini, Mara. Kita akan mati bersama masa lalu yang telah membusuk," ujar Elian, suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan alarm peringatan stasiun yang meraung-raung di latar belakang.
Elian memapah Mara, setengah menyeretnya menuju dermaga peluncuran terakhir di mana kapal evakuasi *Ark-Genesis* tengah bersiap. Setiap koridor Aethelgard yang mereka lewati kini sedang sekarat. Dinding-dinding titanium meliuk dan retak seperti ranting kering di bawah tekanan gravitasi masif dari bintang raksasa merah yang runtuh di luar sana.
Saat mereka tiba di pintu palka *Ark-Genesis*, beberapa kru medis langsung berlari menyambut mereka. Mereka mengambil alih tubuh Mara yang melemah.
"Elian, kumohon..." Mara menangis, meraba udara, mencoba menggapai tangan Elian yang perlahan menjauh. "Pasti ada cara lain. Harus ada cara lain!"
Elian tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kehancuran bumi lama, wajahnya terlihat sangat damai. "Cara lainnya adalah membiarkan masa depan mati, Mara. Dan aku menolak untuk melakukan itu."
"Elian!"
"Perg***h," bisik Elian. "Bawa mereka ke rumah yang baru. Ajarkan mereka bagaimana cara hidup tanpa harus terus-menerus menengok ke belakang."
Dengan satu sentuhan di panel dinding, Elian mengaktifkan kunci darurat. Pintu palka tebal berbahan baja-karbon itu bergeser menutup, perlahan-lahan memisahkan wajah menangis Mara di balik kaca tebal hingga akhirnya tertutup sepenuhnya. Suara benturan logam yang mengunci menandakan bahwa kapal evakuasi itu kini telah aman dalam sistem kedap udara, siap untuk dilepaskan.
Elian berbalik. Ia kini sendirian di koridor yang runtuh.
Ia berlari kembali menuju ruang kontrol utama, mengabaikan setiap guncangan yang membuatnya terlempar ke dinding. Di luar jendela observasi raksasa, pemandangan luar biasa sekaligus mengerikan terbentang. Bintang raksasa merah yang selama ini memberi energi pada Aethelgard kini telah mengempis menjadi bola cahaya hitam pekatβsebuah lubang hitam baru yang lapar, dikelilingi oleh piringan akresi merah menyala yang berputar liar.
Elian mencapai konsol utama yang telah rusak parah. Di layar holografik yang berkedip-kedip, tertulis pesan: *KUNCI DILEPASKAN. MENUNGGU OTORISASI MANUAL UNTUK GERBANG QUANTUM.*
Jari-jemari Elian bergerak cepat di atas keyboard fisik darurat. Ia mema**kkan baris kode terakhir yang telah ia persiapkan sejak lama. Detak jantungnya terasa sinkron dengan getaran reaktor yang berada di ambang kehancuran.
"Satu detik lagi," gumam Elian pada dirinya sendiri. "Hanya butuh satu detik sebelum semuanya padam."
Ia menekan tuas besar di tengah konsol.
Seketika itu juga, getaran dahsyat mengguncang seluruh sektor ruang. Di atas stasiun Aethelgard, sebuah robekan dimensi yang sangat besar mulai terbuka. Cahaya biru keputihan yang indah memancar dari robekan tersebut, menyinari kegelapan kosmik yang pekat. Itu adalah jalan menuju galaksi baru, sebuah wilayah yang belum terjamah oleh kehancuran bintang-bintang tua.
Melalui jendela observasi, Elian melihat kapal-kapal evakuasi, dipimpin oleh *Ark-Genesis*, mulai bergerak maju. Kapal-kapal itu meluncur bagaikan kunang-kunang perak, mema**ki gerbang dimensi yang berkilauan. Elian melihat kapal Mara berhasil menyeberang, menghilang ke dalam cahaya biru yang menyelamatkan sebelum gerbang itu perlahan-lahan mulai menyusut.
"Kau berhasil, Mara," bisik Elian, air mata kelegaan akhirnya menetes di pipinya.
Tepat saat gerbang dimensi tertutup sepenuhnya, pelindung magnetik Aethelgard runtuh total. Bintang raksasa merah yang kini telah menjadi singularitas sempurna mulai menarik stasiun itu ke dalam pelukannya yang tak terelakkan.
Struktur baja dan titanium Aethelgard mulai terkelupas seperti kertas yang dibakar. Kaca observasi raksasa di depan Elian retak, lalu hancur berkeping-keping menjadi jutaan kristal kecil yang melayang di udara hampa.
Namun, saat kehampaan kosmik menerobos ma**k, Elian tidak merasakan sakit. Dinginnya ruang angkasa yang membekukan tidak mampu menyentuh jiwanya. Tekanan gravitasi yang seharusnya menghancurkan tulang-tulangnya justru terasa seperti pelukan hangat yang sangat akrab.
Udara di sekitarnya dipenuhi oleh Debu Bintangβpartikel-partikel bercahaya emas dan ungu yang dilepaskan oleh fusi reaktor dan kematian bintang merah. Debu-debu itu melayang mengitari tubuh Elian, menyelimutinya dalam pendar cahaya yang agung.
Elian memejamkan mata. Ia membiarkan dirinya melepaskan setiap helas napas terakhirnya. Dalam kegelapan yang perlahan merayap, ia tidak lagi merasakan batas antara dirinya dan alam semesta. Tubuhnya kehilangan bentuk fisik, melebur bersama miliaran partikel debu kosmik. Ia tidak lagi menjadi Elian sang penyintas; ia telah menjadi bagian dari aliran energi purba yang membentuk galaksi, menyatu dengan keabadian yang selalu dicari oleh umat manusia.
Di dalam debu, ia menemukan kedamaian yang abadi.
***
Angin hangat bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan hijau dari pohon-pohon asing yang belum memiliki nama. Di kejauhan, suara gemericik air terjun yang jernih beresonansi dengan kicauan makhluk-makhluk bersayap yang melintasi langit senja.
Mara berdiri di puncak bukit batu pualam, menatap lurus ke cakrawala. Langkah kakinya terasa ringan di atas rumput basah, sebuah sensasi yang tidak pernah ia rasakan selama hidup di dalam koridor logam dingin Aethelgard. Luka di dahinya telah mengering, meninggalkan bekas samar yang akan selalu mengingatkannya pada malam di mana sebuah semesta padam dan semesta lainnya lahir.
Di bawah bukit, koloni baru manusia mulai membangun peradaban mereka. Tenda-tenda darurat, struktur modular, dan tawa anak-anak yang berlarian menandakan bahwa kepunahan telah berhasil dihindari. Mereka telah selamat.
Mara mendongak saat kegelapan malam mulai turun. Namun, ini bukanlah malam yang menakutkan seperti di sistem lama yang sekarat. Langit malam di dunia baru ini begitu bersih, dihiasi oleh rasi-rasi bintang baru yang berkilauan seperti berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam.
Di antara rasi bintang yang asing itu, terdapat sebuah sabuk debu kosmik berwarna ungu kemerahan yang membentang indah, membelah langit malam dengan pendarannya yang lembut.
Mara tersenyum, meski air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdenyut selaras dengan angin malam.
"Kami sudah sampai, Elian," bisik Mara, suaranya bergetar oleh emosi yang mendalam. "Dunia ini sangat indah. Hijau, hangat, dan penuh dengan kehidupan. Persis seperti apa yang selalu kau bayangkan di dalam mimpi-mimpimu."
Mara tahu bahwa Elian tidak benar-benar pergi. Pria itu tidak terkubur di dalam kegelapan ketiadaan. Elian telah memberikan dirinya sendiri sebagai tumbal agar fajar yang baru ini bisa terbit bagi kemanusiaan. Ia telah mengajarkan mereka semua bahwa untuk menemukan rumah yang baru, seseorang harus memiliki keberanian untuk melepaskan puing-puing masa lalu yang telah hancur.
Setiap kali angin berembus membawa debu-debu halus yang berkilauan di bawah cahaya bintang, Mara tahu bahwa itu adalah Elian. Pria yang telah menuliskan namanya di lembaran kosmos, memilih untuk tidak dikenang sebagai pahlawan yang mati, melainkan sebagai keabadian yang menjaga mereka dari atas sana.
"Tidurlah dalam damai di antara bintang-bintang, Elian," ucap Mara pelan, matanya tetap terpaku pada sabuk debu kosmik yang berkilau di langit. "Di sini, di dunia yang baru ini, kami akan selalu mengingatmu. Bukan sebagai akhir dari sebuah perjalanan, melainkan sebagai satu detik sebelum semesta kita kembali menyala."
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!