Satu Detik Sebelum Semesta Padam

Bab 2: Butir-Butir Debu Bintang

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Butir-Butir Debu Bintang**

Mara meletakkan sebuah kantung perak berisi cairan nutrisi sintetis di atas meja konsol yang berdebu. Bunyi klik logam yang beradu terdengar tajam di tengah sunyinya Sektor 7. Elian tidak bergerak sedikit pun, matanya masih terpaku pada grafik fluktuasi radiasi Caelum-9—bintang raksasa merah di luar sana yang tampak seperti luka bernanah di dada langit malam.

"Aku tidak lapar, Mara," ujar Elian datar. Suaranya terdengar seperti gesekan kertas amplas tua. "Dan tubuhku masih memiliki c**up glukosa untuk bertahan dua siklus lagi."

"Kau keras kepala, Elian. Seperti biasa," Mara bersendekap, bersandar pada pilar baja yang menopang langit-langit laboratorium. Matanya yang tajam menyapu ruangan yang berantakan itu dengan tatapan prihatin yang disamarkan dengan baik oleh ketegasan militernya. "Dewasalah. Kematian sel-sel tubuhmu tidak akan membawa Aria kembali. Berapa lama lagi kau mau menyiksa dirimu di dalam kuburan logam ini?"

Mendengar nama itu disebut, jemari Elian yang sedang mengetik di atas keyboard holografis mendadak kaku. Aura dingin yang lebih pekat seolah merayap naik dari lant** besi, menusuk hingga ke tulang sumsumnya. Elian perlahan membalikkan tubuh. Matanya yang cekung menatap Mara dengan binar kemarahan yang tertahan, namun di balik amarah itu, ada duka sedalam palung samudra yang tak pernah surut.

"Aria tidak mati, Mara," bisik Elian, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan di tenggorokan. "Dia hanya... tertinggal. Di suatu tempat di balik lipatan waktu. Dan aku akan menjemputnya."

Mara menghela napas panjang, bahunya yang tegap tampak sedikit merosot. "Sepuluh tahun, Elian. Kejadian di sabuk Kepler itu sudah sepuluh tahun berlalu. Dewasalah! Dewan Stasiun sudah mulai membicarakan tentang efisiensi energi. Sektor 7 mengonsumsi daya terlalu besar untuk penelitian yang dianggap... tidak menghasilkan apa-apa. Jika kau tidak memberikan laporan kemajuan yang konkret dalam tiga siklus ini, mereka akan mematikan reaktor utama di sini. Kau akan dipindahkan ke Sektor Pertanian."

"Biarkan mereka mencoba," desis Elian, berbalik kembali menghadap monitornya. "Sekarang, tinggalkan aku sendiri. Aku harus menyelesaikan pemindaian rutin ini sebelum suar radiasi Caelum-9 mencapai puncaknya."

Mara menatap punggung kurus Elian selama beberapa saat. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun ia tahu, kata-kata tidak akan pernah bisa menembus dinding tebal yang dibangun Elian di sekeliling hatinya sejak hari malang itu. Dengan helaan napas pasrah, Mara berbalik dan melangkah pergi. Pintu hidrolik menutup di belakangnya dengan desis panjang, meninggalkan Elian kembali dalam keheningan yang menyesakkan.

Elian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak beraturan. Ia memfokuskan kembali perhatiannya pada layar monitor. Konsol pemindai kuantum sedang memetakan emisi partikel dari suar radiasi Caelum-9. Bintang sekarat itu terus memuntahkan badai plasma, sebuah tarian kematian kosmik yang megah sekaligus mengerikan.

Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi pelan. Bukan alarm darurat yang melengking, melainkan nada peringatan frekuensi tinggi yang belum pernah Elian dengar sebelumnya.

Di sudut kanan bawah layar holografis, grafik gelombang kuantum yang biasanya berbentuk sinus berulang tiba-tiba berubah. Garis hijau itu melonjak tajam, membentuk pola fraktal yang rumit dan tidak beraturan, sebelum akhirnya jatuh ke titik nol mutlak—sebuah anomali yang secara teoretis mustahil terjadi pada radiasi bintang alami.

"Apa ini...?" gumam Elian.

Ia mendekatkan wajahnya ke layar. Jemarinya dengan cepat menari di atas konsol, mempersempit radius pemindaian dan mengisolasi area di sekitar koordinat suar radiasi tersebut. Sinyal itu tidak berasal dari dalam bintang, melainkan dari sela-sela distorsi gravitasi yang tercipta di pinggiran korona Caelum-9.

Ada sesuatu yang terjebak di sana. Sesuatu yang memancarkan tanda kuantum negatif.

Elian mengaktifkan lengan kolektor magnetik eksternal Aethelgard. Dengan presisi yang sangat tinggi, ia mengarahkan medan penahanan magnetik ke titik anomali tersebut, menarik partikel misterius itu ma**k ke dalam pipa a**pan laboratorium Sektor 7. Proses itu memakan waktu beberapa menit yang terasa seperti keabadian bagi Elian. Jantungnya berdegup kencang, dipompa oleh adrenalin yang sudah lama tidak ia rasakan.

Ketika proses transfer selesai, sebuah wadah kaca silinder kecil di tengah meja eksperimennya mendesis pelan. Di dalam wadah hampa udara yang dilindungi oleh medan elektromagnetik berlapis itu, melayang sebuah gumpalan kabut mikroskopis yang luar biasa indah.

Elian bangkit dari kursinya dan mendekat dengan langkah gemetar.

Partikel-partikel itu tidak seperti debu kosmik biasa yang berwarna abu-abu kusam atau hitam karbon. Mereka berkilau dengan cahaya perak kebiruan yang sangat terang, namun lembut. Mereka bergerak saling mengelilingi dalam pola spiral yang konstan, seolah-olah memiliki kesadaran sendiri, menciptakan ilusi galaksi mini yang terperangkap dalam botol kaca. Cahayanya berkedip-kedip ritmis, seirama dengan detak jantung Elian yang kian cepat.

"Butir-butir debu bintang..." bisik Elian terpesona. Matanya merefleksikan pendar perak yang magis itu. "Kau sangat indah. Tapi, apa sebenarnya dirimu?"

Menyadari bahwa sistem keamanan kecerdasan buatan stasiun, *Aegis*, dapat mendeteksi aktivitas penemuan ini jika terus dibiarkan di jaringan utama, Elian segera memindahkan wadah tersebut. Ia membawa wadah silinder itu ke bagian paling belakang laboratoriumnya—sebuah ruangan kecil yang tersembunyi di balik dinding panel baja ganda. Ini adalah laboratorium rahasianya, tempat yang ia bangun sendiri dengan komponen-komponen selundupan yang tidak terhubung dengan jaringan utama Aethelgard. Di sinilah ia menyimpan semua penelitian terlarangnya tentang manipulasi ruang-waktu.

Elian meletakkan wadah debu bintang itu di bawah mikroskop temporal—sebuah alat rancangannya sendiri yang mampu mengukur peluruhan kronon, partikel hipotetis pembawa waktu.

Ia memutuskan untuk melakukan eksperimen kecil yang sangat mendasar. Elian mencari objek uji coba. Matanya tertuju pada sebuah sekrup kuningan kecil yang terletak di sudut meja kerjanya. Sekrup itu sudah berkarat dan aus.

Elian mengambil sekrup tersebut, lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke dalam sebuah mangkuk kaca kecil. *Tring.* Sekrup itu membentur dinding mangkuk, lalu diam di dasarnya.

Elian mengarahkan proyektor resonansi kuantum miliknya ke arah mangkuk tersebut, menghubungkannya dengan energi yang dipancarkan oleh butir-butir debu bintang di dalam wadah penahanan. Ia mengalib**si frekuensi energi debu bintang tersebut agar beresonansi dengan struktur atom sekrup kuningan.

"Mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan," bisik Elian.

Ia mengatur dial waktu pada konsolnya ke angka minimal yang bisa ditoleransi oleh mesin: negatif tiga detik.

Napas Elian tertahan di tenggorokan. Ia meletakkan ibu jarinya di atas tombol aktivasi berwarna merah. Selama beberapa saat, ia ragu. Jika perhitungannya salah, energi ini bisa memicu ledakan mikro yang akan menghancurkan tangannya. Namun, bayangan wajah Aria yang tersenyum di tengah badai kosmik sepuluh tahun lalu kembali terlintas di benaknya. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh keputusasaan yang nekat.

*Klik.*

Proyektor kuantum berdengung rendah. Butir-butir debu bintang di dalam wadah kaca tiba-tiba berpendar sangat terang, memancarkan seberkas cahaya perak vertikal yang langsung mengenai sekrup kuningan di dalam mangkuk.

Seketika, dunia di sekitar Elian seolah melambat.

*Satu detik.*

Sekrup kuningan di dasar mangkuk mulai bergetar hebat. Karat-karat halus yang menempel di permukaannya tiba-tiba terlepas dan melayang di udara, kembali menyatu menjadi lapisan logam yang bersih.

*Dua detik.*

Sekrup itu terangkat dari dasar mangkuk, bergerak mundur melintasi udara dalam lintasan melengkung yang persis sama dengan jalur jatuhnya tadi.

*Tiga detik.*

Sekrup itu melayang kembali ke atas, dan sebelum Elian sempat mencerna apa yang terjadi, logam kecil itu sudah berada kembali di antara jepitan ibu jari dan telunjuknya—persis di posisi sebelum ia menjatuhkannya. Sekrup itu terasa sangat dingin, diselimuti embun tipis yang membeku seketika.

Elian terperangah. Matanya membelalak lebar, menatap sekrup di tangannya dengan pandangan tidak percaya. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Berhasil..." suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris tidak terdengar. "Demi kosmos... ini benar-benar berhasil! Tiga detik. Aku memutar balik waktu sejauh tiga detik!"

Air mata kebahagiaan yang panas mulai mengalir di pipinya yang cekung. Selama sepuluh tahun ia dicemooh, dianggap g*** oleh rekan-rekannya, dan dikasihani sebagai seorang ayah yang kehilangan akal sehatnya karena duka. Namun hari ini, butir-butir debu bintang ini membuktikan bahwa teorinya sama sekali tidak salah. Waktu bukanlah aliran sungai satu arah yang mutlak. Waktu adalah kain yang bisa dilipat kembali jika seseorang memiliki jarum yang tepat. Dan debu bintang ini adalah jarumnya.

Namun, kegembiraan Elian tidak berlangsung lama.

Sebelum ia sempat merayakan kemenangannya, sebuah suara aneh mulai terdengar dari sudut-sudut ruangan. Suara itu bukan berasal dari speaker atau mesin yang rusak. Itu adalah suara yang terasa langsung di dalam tengkoraknya—sebuah suara derik yang kering dan tajam, mirip seperti suara ranting pohon kering yang patah secara massal, atau es tebal yang mendadak retak di bawah tekanan jutaan ton air.

*Kreeettt... krakk... krrrkkk...*

"Suara apa ini?" gumam Elian, rasa senangnya seketika berganti menjadi kewaspadaan yang mencekam.

Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang seluruh laboratorium rahasianya. Bukan hanya meja eksperimen, tetapi dinding-dinding logam tebal Sektor 7 mulai bergetar dengan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Indikator lampu di langit-langit berkedip-kedip liar, berubah warna dari putih menjadi merah pekat sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan laboratorium dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh pendar biru-perak dari debu bintang dan layar monitor yang mendadak dipenuhi garis statis.

*Kretakkk!*

Sebuah distorsi visual yang mengerikan terjadi di udara tepat di atas mangkuk kaca. Ruang di titik itu tampak meliuk dan beriak seperti permukaan air yang dilempari batu. Elian bisa melihat bayangan dirinya sendiri dari beberapa detik yang lalu terdistorsi di dalam riakan tersebut, tumpang tindih dengan realitas saat ini dalam pose yang mengerikan.

"Utang entropi lokal..." Elian menyadari dengan ngeri. "Manipulasi ini... ruang-waktu menolaknya!"

Instrumen-instrumen laboratorium mulai mengeluarkan asap putih yang berbau menyengat dari sirkuit yang terbakar. Sensor gravitasi buatan di dalam ruangan itu gagal total; beberapa alat tulis dan obeng di atas meja mulai melayang ke udara, berputar-putar tak tentu arah dalam kondisi gravitasi nol yang kacau.

Derik spasial itu kian keras, kini terdengar seperti raungan logam raksasa yang sedang ditekuk oleh tangan-tangan tak terlihat. Tekanan udara di dalam ruangan turun drastis, membuat telinga Elian berdenging hebat dan dadanya terasa sesak seolah dihimpit sebongkah batu besar. Seluruh instrumen di sekelilingnya bergetar begitu hebat hingga baut-baut penahannya mulai terlepas dan berhamburan di lant** logam.

"Sistem tidak stabil! Penurunan koherensi temporal lokal mencapai sembilan puluh persen!" teriak sistem peringatan darurat internal yang bertenaga baterai cadangan.

Elian tahu, jika ia tidak menghentikan ini sekarang, distorsi spasial ini akan meluas dan merobek lambung kapal Sektor 7, membuangnya ke dalam kehampaan ruang angkasa—atau lebih buruk lagi, menjebak seluruh area ini dalam lingkaran waktu yang hancur selamanya.

Dengan segenap kekuatan yang tersisa di tengah gravitasi yang kacau dan tubuh yang didera mual hebat akibat desinkronisasi temporal, Elian merangkak di atas lant** logam yang bergetar. Ia menggapai ujung meja eksperimen, mencoba menjangkau tuas pemutus arus manual yang terhubung langsung dengan wadah debu bintang.

Tangannya gemetar hebat. Jarak yang hanya setengah meter terasa seperti satu mil di tengah ruang yang sedang meliuk.

*Kreeetakkk!*

Sebuah retakan hitam kecil—sebuah celah dimensional yang hampa—mulai terbentuk di udara, tepat di mana riakan ruang itu berada. Dinginnya kehampaan sejati mulai merembes ma**k, membekukan udara di dalam laboratorium dalam hitungan detik. Lapisan es tipis dengan cepat merayap di atas meja konsol.

"Hentikan...!" teriak Elian dengan sisa napasnya.

Dengan satu sentakan nekat, ia melemparkan tubuhnya ke depan dan menghantamkan telapak tangannya ke tuas pemutus arus manual.

*Jgreeeg!*

Aliran listrik ke proyektor kuantum terputus seketika. Pendar biru-perak dari butir-butir debu bintang meredup drastis, kembali menjadi kabut yang tenang di dalam wadah kaca pelindungnya.

Seketika itu juga, getaran hebat itu berhenti. Derik spasial yang m****akkan telinga lenyap, digantikan oleh keheningan mutlak yang mencekam. Benda-benda yang melayang di udara langsung jatuh berdentang ke atas lant** logam seiring pulihnya gravitasi lokal.

Elian terengah-engah, berlutut di atas lant** yang sedingin es dengan dahi yang dibasahi keringat dingin. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Di sana, sekrup kuningan yang telah kembali utuh dan bersih masih tergenggam erat.

Ia mendongak, menatap wadah debu bintang yang kini tampak tenang di dalam kegelapan.

Eksperimen itu berbahaya. Sangat berbahaya. Alam semesta baru saja memperingatkannya dengan keras bahwa bermain-main dengan waktu memiliki harga yang sangat mahal yang harus dibayar oleh realitas itu sendiri. Satu kesalahan kecil saja, dan Sektor 7 akan lenyap dari sejarah.

Namun, saat Elian menatap butir-butir debu bintang yang kembali berkedip lembut di dalam kegelapan, rasa takutnya perlahan-lahan surut, digantikan oleh sebuah tekad dingin yang tak tergoyahkan.

"Tiga detik," bisik Elian pada kesunyian ruangan, sebuah senyuman tipis dan getir terukir di wajahnya yang pucat. "Jika aku bisa menguasai tiga detik... aku pasti bisa menguasai sepuluh tahun. Tunggu aku, Aria. Ayah akan segera datang."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca