Satu Detik Sebelum Semesta Padam

Bab 3: Bayangan di Balik Tirai Waktu

Pengaturan Membaca

**Bab 3: Bayangan di Balik Tirai Waktu**

Keheningan di Sektor 7 tidak pernah benar-benar sunyi; ia selalu dipenuhi oleh dengung konstan generator oksigen yang menua dan getaran mikro dari lambung stasiun luar angkasa yang bergesekan dengan ketiadaan. Namun malam ini, di dalam laboratoriumnya yang temaram, Elian menciptakan keheningan jenis baru—keheningan yang mencekam, tajam, dan sarat dengan antisipasi yang berbahaya.

Di atas meja kerja metalik yang dipenuhi kabel-kabel melingkar seperti urat nadi mekanis, terdapat sebuah tabung kuarsa kecil. Di dalamnya, melayang beberapa mikrogram Debu Bintang—materi kosmik berkilau keperakan yang ia suling secara ilegal dari saringan radiasi Caelum-9 selama berbulan-bulan. Zat itu tidak sekadar bercahaya; ia tampak berdenyut lambat, seolah-olah memiliki detak jantungnya sendiri yang sinkron dengan denyut sekarat alam semesta.

"Hanya satu detik," bisik Elian pada dirinya sendiri. Suaranya serak, bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi yang diabaikannya. "Aku hanya butuh satu detik untuk membuktikannya."

Dengan tangan yang gemetar oleh kombinasi kafeina sintetis dan kelelahan ekstrem, Elian mema**kkan tabung kuarsa itu ke dalam kompartemen bahan bakar akselerator partikel mini buatannya. Alat itu adalah sebuah monstruositas teknologi—gabungan dari rongsokan sensor navigasi, pemancar kuantum yang dimodifikasi, dan koil magnetik yang ia curi dari gudang pemeliharaan Sektor 5.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa perih di dadanya, lalu menekan tombol inisiasi pada konsol holografis.

Seketika, seluruh instrumen di laboratorium bergetar hebat. Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip-kedip sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan ruangan yang hanya diterangi oleh pendar biru-ungu dari akselerator partikel. Udara di sekitar Elian mendadak menjadi sangat dingin, begitu dingin hingga embun napasnya mengkristal di udara menjadi serpihan es halus. Bau ozon dan tembaga terbakar menyengat hidungnya.

Di tengah-tengah ruangan, ruang itu sendiri mulai meliuk. Udara tampak beriak seperti permukaan air yang dijatuhi batu karang. Sebuah celah vertikal yang sangat kecil—tidak lebih lebar dari sebilah pisau—terbuka di udara kosong. Cahaya yang keluar dari celah itu tidak berasal dari lampu laboratorium; itu adalah cahaya keemasan yang hangat, warna yang sudah tidak pernah dilihat lagi oleh penghuni stasiun ini sejak Caelum-9 mulai meredup.

Elian melangkah maju, matanya melebar, mengabaikan alarm peringatan yang mulai berbunyi lirih di sudut ruangan. "Aria..." gumamnya.

Melalui celah temporal yang bergetar itu, dimensi waktu seolah terkelupas. Elian tidak lagi melihat dinding besi laboratoriumnya yang kotor. Sebaliknya, ia melihat bayangan yang terperangkap di balik tirai waktu. Di sana, di dalam ruang kemudi kapal eksplorasi *Odyssey* sepuluh tahun yang lalu, seorang wanita berambut kecokelatan sedang berdiri di depan konsol navigasi.

Itu Aria.

Wajahnya sejelas ingatan Elian yang paling berharga. Aria mengenakan seragam putihnya yang bersih, ekspresinya dipenuhi kepanikan yang membeku saat anomali sabuk Kepler mulai menelan kapalnya. Rambutnya melayang dalam kondisi gravitasi nol yang kacau. Melalui celah yang sempit itu, Aria tampak bergerak lambat, seolah waktu di dalam anomali itu mengalir seperti sirup yang kental.

"Elian..."

Elian bersumpah ia mendengar suara itu. Bukan melalui telinganya, melainkan gema yang merambat langsung ke dalam sanubarinya. Aria tampak memalingkan wajah ke arah celah, matanya yang besar dan penuh ketakutan menatap lurus ke arah di mana Elian berdiri di masa depan. Wanita itu mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik mencoba menggapai menembus batas dimensi yang mustahil.

"Aria! Aku di sini!" Elian berteriak, air mata yang selama sepuluh tahun ia bendung akhirnya tumpah, langsung menguap dingin di pipinya. Ia mengulurkan tangannya sendiri, bersiap mengabaikan segala hukum fisika untuk menyentuh bayangan itu. "Pegang tanganku!"

Tepat sebelum jemari mereka bertemu, pintu hidrolik laboratorium terbuka paksa dengan suara hantaman keras.

"Elian, apa yang kau lakukan?!"

Suara Mara menggelegar, memecah konsentrasi Elian dan memutus aliran daya tidak stabil yang menopang akselerator partikel. Celah temporal itu seketika menutup dengan suara letupan keras yang melepaskan gelombang kejut elektromagnetik. Elian terlempar ke belakang, punggungnya menghantam meja konsol dengan keras hingga ia mengerang kesakitan.

Laboratorium itu kembali gelap, hanya menyisakan lampu darurat merah yang berputar lambat, membasahi ruangan dengan warna darah.

Elian terengah-engah di lant**, menatap langit-langit dengan tatapan kosong seolah jiwanya baru saja direnggut paksa. "Tidak... tidak, sedikit lagi... aku hampir mendapatkannya..." bisiknya histeris. Ia mencoba merangkak kembali ke arah mesinnya, namun sepasang sepatu bot militer yang kokoh menghalangi jalannya.

Mara berdiri di hadapannya, dadanya naik-turun dengan cepat. Di tangannya, ia memegang sebuah alat pemindai energi yang layarnya berkedip-kedip merah menunjukkan angka fluktuasi yang g***. Wajah Mara pucat pasi, bukan karena marah, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat atas apa yang baru saja ia saksikan.

"Kau g***, Elian," suara Mara gemetar, namun nadanya tetap tajam bagai sembilu. "Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu. Apa yang baru saja kau lakukan? Kau merobek struktur ruang-waktu di dalam stasiun ini!"

Elian bangkit dengan susah payah, mencengkeram tepi meja untuk menopang tubuhnya yang ringkih. "Aku melihatnya, Mara! Dia ada di sana! Aria masih hidup, dia terperangkap dalam anomali sepuluh tahun lalu. Waktu tidak mengalir baginya dengan cara yang sama seperti kita. Dia menungguku!"

"Itu bukan Aria!" Mara berteriak, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Elian. "Itu hanya hantu, Elian! Rekaman elektromagnetik dari masa lalu yang terperangkap dalam sisa radiasi! Kau mempertaruhkan nyawa seluruh penghuni stasiun ini demi sebuah fatamorgana!"

"Ini bukan fatamorgana!" Elian membalas berteriak, matanya merah menyala oleh amarah dan keputusasaan. "Debu Bintang ini... zat ini memiliki sifat temporal unik yang bisa melenturkan relativitas. Aku bisa membuat lubang cacing mikro stabil. Aku bisa menariknya keluar sebelum kapalnya hancur!"

"Dan apa akibatnya bagi kita?" Mara mencengkeram kerah jaket Elian yang lusuh, memaksa pria itu menatap matanya yang dipenuhi ketakutan yang jujur. "Kau pikir alam semesta akan diam saja saat kau mencoba memutar balik jarum jamnya? Hukum termodinamika kedua bukanlah saran, Elian! Itu adalah hukum mutlak! Setiap kali kau mencoba menarik sesuatu dari masa lalu, kau meningkatkan entropi di masa kini. Kau mempercepat kematian Caelum-9! Kau mempercepat padamnya semesta ini!"

Elian menepis tangan Mara dengan kasar. Ia tertawa, sebuah tawa pahit yang terdengar seperti tangisan yang menyamar. "Semesta ini memang sudah mati, Mara! Caelum-9 akan padam dalam beberapa siklus lagi, dengan atau tanpa eksperimenku. Dewan Stasiun, militer, bahkan dirimu... kalian semua hanya duduk di sini, menunggu giliran untuk mati dalam kegelapan yang perlahan. Aku tidak. Aku memilih untuk memperbaiki apa yang rusak!"

"Kau tidak sedang memperbaiki apa pun, kau sedang melakukan bunuh diri massal!" suara Mara meninggi, bergaung di dinding-dinding logam laboratorium. "Jika reaktor Sektor 7 kelebihan beban karena eksperimen g***mu ini, kubah penahan tekanan di sektor ini akan runtuh. Ribuan orang yang berjuang bertahan hidup di stasiun ini akan terlempar ke ruang hampa dalam hitungan detik. Apakah nyawa Aria lebih berharga daripada nyawa semua orang di sini?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menyesakkan.

Elian menatap Mara, matanya mencerminkan kehampaan ruang angkasa di luar sana. "Bagi saya, Mara... ya. Tanpa dia, stasiun ini hanyalah peti mati raksasa yang mengapung. Aku tidak peduli dengan sisa dunia yang sudah menyerah pada takdir."

Mara mundur satu langkah, menatap Elian dengan rasa ngeri yang mendalam. Ia menyadari bahwa pria di hadapannya bukan lagi ilmuwan brilian yang dulu pernah bekerja bersamanya; pria ini adalah seorang pria yang hancur, yang didorong oleh duka hingga ke tepi jurang keg***an.

Sebelum Mara sempat membalas, sebuah nada peringatan yang berbeda—lebih nyaring dan bernada tinggi—terdengar dari konsol komunikasi Mara yang terpasang di pergelangan tangannya. Lampu indikator militer berkedip biru dingin.

Mara menyentuh konsolnya, mengaktifkan audio transmisi privat. "Mara di sini. Laporkan."

"Mayor Mara," sebuah suara berat dan otoriter terdengar dari seberang sana, diiringi desis statis yang mengganggu. Itu adalah suara Komandan Vance, pemimpin faksi militer ekstrem yang mengendalikan Sektor Komando pusat. "Sensor orbital kami baru saja mendeteksi adanya fluktuasi energi kronal yang sangat besar dari koordinat Sektor 7. Sektor itu seharusnya berada dalam status hibernasi daya. Jelaskan apa yang terjadi di sana."

Mara menatap Elian, yang kini terdiam, matanya terpaku pada alat akselerator partikelnya yang masih mengeluarkan asap tipis. Elian tahu, jika Vance mengetahui tentang eksperimen temporal ini, militer tidak akan ragu untuk mengeksekusinya di tempat atas tuduhan sabotase stasiun dan pengkhianatan tingkat tinggi. Faksi Vance terkenal sangat kejam dalam menjaga stabilitas sumber daya stasiun yang kian menipis.

Mara mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Kepalanya berdenyut oleh dilema moral yang menyiksa. Di satu sisi, Elian telah bertindak terlalu jauh dan membahayakan semua orang. Di sisi lain, ia tidak bisa membiarkan teman lamanya diseret ke hadapan regu tembak Vance.

"Komandan Vance," ujar Mara, suaranya kembali datar dan profesional, meskipun matanya tetap menatap Elian dengan tajam. "Kami mengalami lonjakan daya minor pada sistem pendingin reaktor cadangan di Sektor 7. Kondensator lama di sini tampaknya mengalami korsleting akibat radiasi Caelum-9 yang meningkat."

Hening sejenak di seberang sana. Keheningan itu terasa sangat lama hingga detak jantung Elian serasa berhenti.

"Korsleting?" suara Vance terdengar skeptis, dingin tanpa emulsi emosi. "Sensor kami menunjukkan tanda-tanda radiasi temporal, Mayor. Itu bukan tanda-tanda kondensator rusak biasa. Saya mengirimkan tim taktis ke Sektor 7 sekarang untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Jika saya menemukan adanya aktivitas ilegal... Anda tahu konsekuensinya, Mara."

Transmisi terputus dengan bunyi klik yang dingin.

Mara menurunkan tangannya, menatap Elian dengan keputusasaan yang kini bercampur kemarahan yang dingin. "Vance sedang menuju ke sini dengan pa**kan bersenjata. Mereka akan sampai dalam waktu kurang dari sepuluh menit."

Elian tidak tampak panik. Dengan tenang, ia mulai mencopot tabung berisi sisa Debu Bintang dari mesinnya, menyembunyikannya ke dalam saku bagian dalam jaketnya. "Maka kita memiliki waktu sembilan menit untuk membersihkan tempat ini."

"Tidak ada 'kita', Elian," desis Mara, melangkah mendekat dan menyita konsol kendali utama laboratorium. "Aku membantumu kali ini hanya karena aku masih menghormati memori tentang siapa dirimu dulu. Tapi jika kau menyentuh mesin ini lagi... jika kau mencoba merobek waktu sekali lagi... aku sendiri yang akan menarik pelatuk ke kepalamu sebelum Vance melakukannya."

Elian menatap Mara, melihat ketegasan yang tak tergoyahkan di mata wanita itu. Namun di balik ketegasan itu, ia juga melihat kesedihan yang mendalam—kesedihan dari seorang sahabat yang tahu bahwa mereka sedang berjalan di atas jalan yang akan memisahkan mereka selamanya.

Di luar jendela tebal laboratorium, Caelum-9 berkedip sekali lagi, memancarkan suar merah redup yang menyinari wajah mereka berdua, seolah mengingatkan bahwa waktu untuk seluruh semesta ini memang sedang berdetak mundur, menuju nol.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca