Satu Detik Sebelum Semesta Padam

Bab 4: Derik yang Mengoyak Lambung

Pengaturan Membaca

Lampu indikator merah di sudut konsol holografis berkedip dengan ritme yang menuntut, melemparkan rona kemerahan yang pucat ke wajah Elian yang kuyu. Di layar sekunder, sebuah pesan terenkripsi dari Komando Militer Sektor Atas terus berkedip tanpa suara: *Batas waktu: 06.00 Standar Stasiun. Serahkan laporan kemajuan atau Sektor 7 akan diambil alih.*

Elian melirik kronometer di pergelangan tangannya. Tiga jam lagi. Hanya tersisa tiga jam sebelum para prajurit dengan sepatu bot berat dan perintah penyitaan menyapu bersih laboratorium ini, menyita seluruh penelitiannya, dan mengunci impiannya untuk selamanya.

"Mereka tidak akan mengerti," bisik Elian, suaranya parau, tenggorokannya terasa sekering pasir gurun. "Mereka hanya melihat ini sebagai senjata. Mereka tidak tahu apa yang ada di balik batas itu."

Bayangan Aria—senyum tipisnya di balik kaca kemudi *Odyssey* yang ia lihat sekilas beberapa jam lalu—masih membekas kuat di belakang kelopak matanya. Keberhasilan kecil itu, retakan satu detik yang tak stabil itu, telah membakar sisa-sisa kewarasannya. Ia tidak bisa berhenti sekarang. Tekanan militer ini bukanlah penghalang; ini adalah katalis yang memaksanya melompati protokol keselamatan yang selama ini menahannya.

Dengan gerakan yang tergesa-gesa hingga hampir menjatuhkan botol reagen kosong di mejanya, Elian mulai memprogram ulang parameter isolasi kuantum. Kali ini, ia tidak akan mengincar satu detik.

Satu menit. Enam puluh detik penuh.

Ia mema**kkan sisa Debu Bintang terakhir yang ia miliki ke dalam ruang pembakaran akselerator. Butiran perak itu berkilauan cemas, seolah tahu bahwa mereka akan dipaksa melakukan sesuatu yang melanggar hukum alam. Elian mengunci ruang isolasi kuantum—sebuah kubus kaca setebal sepuluh sentimeter yang diperkuat dengan medan gaya magnetik di tengah laboratorium. Di dalam kubus itu, ia meletakkan sebuah arloji mekanis kuno milik ayahnya. Jarum detiknya berdetak dengan patuh: *tik, tok, tik, tok*.

"Uji coba ketiga," Elian berbicara pada p****am suara otomatis, napasnya memburu. "Target: Pembalikan temporal terlokalisasi sebesar enam puluh detik di dalam Ruang Isolasi Kuantum-1. Menggunakan sisa katalis materi gelap Caelum-9. Memulai inisiasi dalam tiga, dua, satu..."

Ia menurunkan tuas utama.

Suara raungan generator di bawah lant** Sektor 7 terdengar seperti jeritan binatang purba yang terbangun dari tidur panjangnya. Cahaya di laboratorium langsung meredup, tersedot oleh kebutuhan daya raksasa yang ditarik oleh akselerator partikel. Di dalam kubus kaca, udara mulai terdistorsi. Warna ungu pekat bercampur keperakan meledak dari pusat ruang isolasi, menyelimuti arloji mekanis di dalamnya.

Elian menahan napas. Matanya melekat pada jarum jam kuno itu.

Pada detik ketiga puluh, sesuatu yang luar biasa terjadi. Jarum detik arloji itu berhenti. Ia bergetar hebat selama beberapa saat, seolah-olah sedang bertarung melawan arus tak kasatmata yang sangat kuat. Kemudian, dengan satu sentakan kasar, jarum itu mulai berputar ke arah kiri.

Mundur.

*Lima puluh detik... empat puluh detik... tiga puluh detik...*

"Berhasil," bisik Elian, tawa histeris hampir lolos dari tenggorokannya. "Aku melakukannya. Aku benar-benar memutar balik waktu!"

Namun, kemenangan itu berumur pendek.

Tepat ketika jarum jam mencapai angka nol—menandakan pembalikan satu menit penuh tercapai—sebuah suara terdengar.

*Derik.*

Itu bukan suara ledakan, melainkan suara gesekan yang sangat tipis, namun begitu tajam hingga terasa seperti sebilah silet yang digoreskan langsung ke gendang telinga Elian. Suara itu tidak berasal dari dalam kubus kaca, melainkan merayap dari dinding-dinding logam laboratorium, menjalar melalui pipa-pipa penyalur udara, dan bergema di langit-langit Sektor 7.

*Derik... derik...*

Seketika itu juga, rasa mual yang luar biasa menghantam lambung Elian. Gravitasi di sekitarnya mendadak kacau. Tubuhnya terasa seringan kapas, kakinya kehilangan pijakan dari lant**, namun di saat yang sama, dadanya terasa seperti dihimpit oleh beban berton-ton. Pena-pena di atas meja, kabel-kabel longgar, dan serpihan logam mulai melayang ke udara secara acak, berputar-putar dalam orbit mikro yang tidak beraturan sebelum akhirnya terbanting keras ke dinding ketika gravitasi tiba-tiba pulih kembali dalam hentakan kasar.

Elian jatuh berlutut, memegangi perutnya yang bergejolak hebat. Di luar laboratorium, di sepanjang koridor Sektor 7, suara *derik* itu semakin keras, bertransformasi menjadi suara logam yang meregang secara ekstrem. Itu adalah suara struktur Aethelgard yang sedang dipaksa melengkung melampaui batas elastisitas fisiknya.

Pintu laboratorium mendadak bergeser terbuka dengan paksa, mengeluarkan percikan api dari panel sirkuitnya yang korsleting. Mara berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi, rambutnya yang biasanya diikat rapi kini berantakan. Di tangannya, sebuah datapad darurat menyala merah, memancarkan grafik peringatan yang berfluktuasi liar.

"Elian! Apa yang telah kau lakukan?!" teriak Mara, suaranya bergetar di antara gema suara derik yang aneh itu.

"Mara... aku berhasil..." Elian mencoba berdiri, berpegangan pada tepi meja konsol yang bergetar. "Satu menit. Aku memutar waktu di dalam sana selama satu menit!"

"Kau tidak memutar waktu, Elian! Kau sedang merobek tempat ini!" Mara melangkah ma**k, hampir kehilangan keseimbangan ketika lant** di bawah kaki mereka miring beberapa derajat sebelum kembali datar dengan sentakan yang memuakkan. Ia menyodorkan datapad itu tepat di depan mata Elian. "Lihat ini! Lihat apa yang dilakukan 'keberhasilanmu' pada stasiun!"

Elian memicingkan mata, mencoba memfokuskan pandangannya yang mengabur ke arah layar. Grafik di sana menunjukkan distorsi spasial yang meluas dari laboratorium ini seperti riak air di kolam, menyebar ke seluruh Sektor 7 dan mulai merayap ke Sektor Hunian Barat.

"Ini hanya fluktuasi sementara..." Elian membela diri, meskipun suaranya terdengar tidak yakin.

"Fluktuasi sementara?!" suara Mara meninggi, sarat dengan keputusasaan dan kemarahan yang meluap. "Suara derik yang kau dengar di koridor itu? Itu adalah struktur makro Aethelgard yang retak secara mikroskopis! Paduan logam titanium-karbon lambung stasiun ini kehilangan kerapatan atomnya karena distorsi temporal yang kau ciptakan! Sektor ekologi di bawah kita baru saja melaporkan kebocoran mikro-oksigen. Tekanan udara turun 0,4 persen dalam tiga menit terakhir!"

*Derik... derik...*

Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, seolah-olah ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengunyah dinding baja di belakang mereka. Elian bisa melihat sebaris retakan halus, setipis rambut namun berkilau karena gesekan molekul, mulai merayap di sepanjang pilar penyangga utama laboratorium.

"Waktu tidak dirancang untuk ditekuk seperti ini, Elian," ucap Mara, suaranya mendadak melunak, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan. Ia menatap Elian dengan mata yang berkaca-kaca. "Setiap detik yang kau tarik kembali dari masa lalu, alam semesta menuntut bayarannya dari masa kini. Kau merusak struktur ruang-waktu di sekitar stasiun ini. Jika kau melakukan ini sekali lagi dengan skala yang lebih besar, lambung Aethelgard akan hancur sebelum kau sempat melihat Aria lagi."

Mendengar nama Aria disebut, tubuh Elian menegang. Rasa bersalah, kerinduan yang membakar, dan ketakutan bercampur aduk di dalam dadanya, menciptakan badai emosi yang hampir membuatnya sesak napas.

"Aku hampir sampai, Mara," bisik Elian, matanya menatap kosong ke arah kubus kaca di mana arloji mekanis itu kini diam tak bergerak, jarumnya hancur terlepas dari porosnya akibat tekanan temporal. "Aku melihatnya. Aria... dia ada di sana, tepat di balik tirai itu. Hanya beberapa langkah lagi. Aku bisa menyelamatkannya. Aku bisa menghentikan kecelakaan *Odyssey* sepuluh tahun lalu."

"Aria sudah mati, Elian!" Mara mencengkeram bahu Elian, mengguncangnya dengan keras seolah ingin membangunkan pria itu dari mimpi buruk yang panjang. "Dan kita yang masih hidup di stasiun sekarat ini akan menyusulnya jika kau tidak menghentikan keg***an ini! Lihat sekelilingmu! Udara kita menipis, dinding kita retak, dan militer berada di jalur cepat untuk mengambil alih sektor ini karena mendeteksi anomali energi yang kau timbulkan!"

Elian melepaskan cengkeraman Mara dengan perlahan namun tegas. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. "Jika aku berhenti sekarang, maka semua pengorbanan ini sia-sia. Kematian Aria akan tetap menjadi fakta yang tidak bisa diubah. Aku tidak bisa menerima kenyataan di mana dia tidak ada, Mara. Tidak di semesta yang hampir padam ini."

"Dan kau pikir Aria akan bangga jika kau menyelamatkannya dengan cara membunuh ribuan orang yang tersisa di Aethelgard?" tanya Mara dingin. Air mata akhirnya menetes di pipinya yang kotor oleh debu karbon. "Kau egois, Elian. Kau mencint** bayangan masa lalu lebih dari kau peduli pada nyawa yang ada di depan matamu."

Suara *derik* di langit-langit tiba-tiba berhenti, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih menakutkan—keheningan yang berat, seperti saat-saat sebelum badai besar menghantam. Di luar jendela observasi, bintang-bintang yang meredup di kegelapan kosmos tampak seolah bergetar, terdistorsi oleh lensa gravitasi tak kasatmata yang tercipta di sekitar lambung stasiun.

Elian memandang konsolnya yang kini menampilkan peringatan kerusakan sistem di tingkat kritis. Kata-kata Mara menghantamnya lebih keras daripada distorsi gravitasi mana pun. Ia tahu Mara benar. Struktur Aethelgard tidak akan bertahan dari uji coba keempat jika ia memaksakan diri. Namun, ancaman militer di pagi hari dan bayangan Aria yang memudar di dalam kepalanya terus berkejaran, menuntut keputusan yang harus diambil dalam hitungan jam.

"Aku butuh waktu," gumam Elian akhirnya, suaranya terdengar sangat lelah, seolah ia sendiri telah melewati perjalanan waktu berabad-abad.

"Kita tidak punya waktu, Elian," balas Mara lirih sembari berbalik menuju pintu, menyeka air matanya dengan kasar. "Dan jika kau tidak mematikan mesin itu sekarang, aku sendiri yang akan memastikan militer tahu apa yang sebenarnya kau sembunyikan di sini."

Mara melangkah pergi, meninggalkan Elian sendirian di dalam laboratorium yang kini terasa sedingin es. Di bawah kakinya, getaran halus lambung stasiun yang merapuh masih terasa, berdenyut pelan, seperti detak jantung yang perlahan-lahan kehilangan kekuatannya untuk bertahan hidup.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca