...mulai bergerak mundur.
Jarum itu melompati angka dua belas, merayap melawan arah jarum jam yang semestinya: lima puluh sembilan, lima puluh delapan, lima puluh tujuh.
Elian menahan napas, dadanya bergemuruh oleh kombinasi rasa tidak percaya dan kemenangan yang membubung tinggi. Udara di sekitarnya terasa tebal, bergetar oleh energi elektrostatik yang membuat bulu kuduknya berdiri. Detak jantungnya seolah selaras dengan ketukan mundur jarum jam kuno itu. Satu menit. Ia hampir berhasil menjinakkan sang waktu.
Namun, kejayaan itu hanya berlangsung selama tujuh detik.
*B**k!*
Pintu baja berat laboratorium Sektor 7 hancur berantakan dengan suara ledakan hidrolik yang m****akkan telinga. Debu logam dan asap mesiu seketika memenuhi ruangan, mengaburkan pendar ungu dari ruang isolasi kuantum. Alarm darurat meraung-raung, memuntahkan cahaya merah berputar yang menyakitkan mata.
"Tiarap! Jangan bergerak! Sektor ini berada di bawah kendali militer!"
Teriakan ketat itu disusul oleh derap langkah kaki yang berat. Belasan prajurit dengan setelan zirah taktis hitam legam merangsek ma**k, mengacungkan senapan plasma laras panjang mereka ke segala arah.
"Tidak! Hentikan! Kalian merusak medan isolasinya!" Elian berteriak histeris, mencoba melompat ke depan konsol untuk melindungi sisa eksperimennya.
Sebelum tangannya menyentuh tombol darurat, sebuah popor senapan mendarat keras di punggungnya. Elian tersungkur ke lant** logam yang dingin, mengerang kesakitan saat lutut seorang prajurit menekan tulang belikatnya dengan kejam.
"Elian!"
Dari sudut ruangan, Mara berlari kencang, mencoba menerobos barisan prajurit. Namun, dua tentara dengan sigap mencengkeram lengannya, memuntir tangannya ke belakang hingga gadis itu m****ik kesakitan.
"Lepaskan dia! Dia tidak tahu apa-apa!" Elian berteriak, wajahnya ditekan ke lant** yang kini terasa bergetar. Dari sudut matanya, ia melihat sekelompok teknisi militer dengan seragam abu-abu bergegas mendekati konsol utamanya. Dengan brutal, mereka mencabut modul-modul penyimpanan data, memutus paksa kabel-kabel serat optik, dan memadamkan ruang isolasi kuantum.
Seketika itu juga, arloji kuno di dalam kubus kaca berhenti berdetak mundur. Pendar ungu keperakan dari Debu Bintang meredup, menyisakan butiran abu-abu mati yang tak lagi memiliki daya. Sisa Debu Bintang yang berharga di dalam tangki akselerator disedot paksa ke dalam tabung-tabung pengaman militer berlapis timbal.
"Semua data terenkripsi telah diamankan, Jenderal. Sampel Caelum-9 juga telah disita sepenuhnya," lapor salah satu teknisi dengan suara dingin tanpa emosi.
Langkah kaki yang tenang namun dominan terdengar mendekat dari arah pintu yang hancur. Sepatu bot kulit yang meng***t melangkah perlahan di atas puing-puing kaca. Elian mendongak dengan susah payah. Di hadapannya, berdiri tegak Komandan Vance.
Vance mengenakan jubah kebesaran militer Sektor Atas, dengan medali-medali tanda jasa yang berkilau sinis di bawah lampu merah darurat. Wajahnya yang tegas, dihiasi bekas luka tipis di rahangnya, tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Matanya yang kelabu sedingin ruang hampa udara di luar stasiun.
"Lepaskan dia," perintah Vance pelan, namun nadanya memiliki otoritas mutlak yang tak terbantahkan.
Tekanan di punggung Elian menghilang. Ia terbatuk, mencoba bangkit sambil memegangi dadanya yang sesak. Mara dilepaskan dengan kasar dan langsung berlari menghampiri Elian, membantunya berdiri. Keduanya saling berpegangan, menatap Vance dengan tatapan penuh kemarahan dan ketakutan yang terkontrol.
"Komandan Vance," desis Elian, suaranya parau oleh debu dan kemarahan. "Anda tidak memiliki hak untuk melakukan ini. Ini adalah fasilitas penelitian sipil. Proyek ini dilindungi oleh Piagam Sektor 7!"
Vance tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai dingin. Ia melangkah mendekati meja kerja Elian, memungut arloji mekanis kuno yang tadi digunakan dalam eksperimen. Di bawah jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam, ia memutar-mutar arloji itu seolah itu hanya mainan murah.
"Piagam Sektor 7 sudah tidak berlaku sejak satu jam yang lalu, Dr. Elian," ucap Vance tenang. "Sektor Atas telah mengeluarkan Dekret Keadaan Darurat Mutlak. Seluruh sumber daya stasiun, terma**k sains, kini berada di bawah komando saya. Dan sains Anda... adalah apa yang kami butuhkan untuk menyelamatkan umat manusia."
"Menyelamatkan umat manusia?" Mara menyela dengan nada sarkasme yang kental. "Dengan cara menjarah laboratorium kami dan memperlakukan kami seperti kriminal? Kalian hanya menginginkan senjata baru untuk memperkuat cengkeraman kalian di stasiun ini!"
Vance mengalihkan pandangan kelabunya kepada Mara. Tatapannya membuat Mara terkesiap mundur satu langkah. "Anda terlalu picik, Asisten Mara. Militer tidak membutuhkan senjata baru untuk mengendalikan populasi yang sudah sekarat di dalam kaleng besi ini. Kami menginginkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kontrol. Kami menginginkan penebusan."
Elian mengerutkan kening, firasat buruk mulai merayapi tengkuknya. "Apa maksud Anda, Vance?"
Vance meletakkan arloji kuno itu kembali ke meja dengan ketukan pelan yang bergema. Ia berjalan menuju jendela besar laboratorium yang memperlihatkan pemandangan luar stasiun—kegelapan tak berujung yang diselingi oleh puing-puing asteroid dan sisa-sisa Bumi yang telah hancur, sebuah bola mati yang diselimuti badai abu abadi.
"Lihat ke luar sana, Elian," kata Vance, suaranya kini terdengar berat, dipenuhi oleh beban sejarah yang kelam. "Kita telah hidup di dalam stasiun busuk ini selama tiga generasi. Bernapas dengan oksigen daur ulang yang berbau besi, memakan protein sintetis tanpa rasa, dan perlahan mati karena radiasi kosmik. Ini bukan kehidupan. Ini adalah hukuman gantung yang diperpanjang."
Vance berbalik, matanya berkilat oleh obsesi yang mengerikan. "Faksi militer tidak ingin terus bertahan hidup di sini hingga reaktor nuklir kita mati. Kami telah memutuskan untuk melakukan *Great Reset*—Reset Agung."
Elian membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. "Reset... Agung?"
"Ya," Vance melangkah mendekati Elian, menatap langsung ke dalam manik mata sang ilmuwan. "Menggunakan teknologi manipulasi waktu yang sedang Anda kembangkan dengan Debu Bintang ini. Kami tidak akan menggunakannya untuk memutar balik waktu satu detik, atau satu menit. Kami akan memutar balik waktu seluruh stasiun ini, seluruh populasi manusia yang tersisa, kembali ke masa lalu. Kembali ke era keemasan Bumi, sebelum ekologi planet kita hancur. Sebelum manusia melakukan kesalahan fatal yang menghancurkan rumah kita."
Keheningan yang mencekam menyelimuti laboratorium. Suara dengung generator yang sekarat terdengar bagai bisikan hantu di latar belakang.
Elian menatap Vance dengan mata terbelalak, merasa seolah-olah ia sedang berhadapan dengan orang g***. "Anda... Anda ingin memutar balik waktu seluruh stasiun? Massa sebesar ini? Kembali ke ratusan tahun yang lalu?" Suara Elian meninggi, bergetar oleh kengerian yang murni. "Itu tidak mungkin! Itu adalah bunuh diri massal!"
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Vance dingin. "Anda baru saja membuktikan bahwa waktu bisa diputar balik di dalam kubus kaca itu. Ini hanya masalah skala dan energi."
"Ini bukan sekadar masalah skala, Vance!" Elian berteriak frustrasi, melangkah maju tanpa memedulikan moncong senapan para prajurit yang kembali mengarah kepadanya. "Apakah Anda tahu apa yang Anda bicarakan? Menggeser waktu pada skala lokal—seperti arloji ini—membutuhkan energi kuantum yang sangat terlokalisasi dan stabil. Tetapi memutar balik massa sebesar stasiun ini, bersama dengan jutaan nyawa di dalamnya, melintasi garis waktu kosmik..."
Elian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan kepanikannya agar penjelasannya bisa dicerna oleh otak militer di hadapannya. "Hukum fisika tidak akan mengizinkannya! Memaksa perubahan temporal pada skala makro akan menciptakan efek riak kuantum yang dahsyat. Anda akan merobek jalinan ruang-waktu itu sendiri! Kita tidak akan kembali ke Bumi yang hijau, Vance. Kita akan memicu kehancuran entropi kosmik. Kita semua akan terhapus dari eksistensi, hancur menjadi partikel-partikel dasar dalam hitungan milidetik sebelum kita sempat melihat langit Bumi!"
Mara ikut menguatkan penjelasan Elian, air mata kecemasan mulai menggenang di sudut matanya. "Komandan, tolong dengarkan kami. Debu Bintang—Caelum-9—adalah zat yang sangat tidak stabil. Kami bahkan belum memahami sepenuhnya bagaimana ia berinteraksi dengan dimensi temporal pada tingkat subatom. Jika Anda memaksakan energi sebesar itu ke dalam reaktor stasiun, stasiun ini akan meledak dan menjadi lubang hitam kecil yang akan menelan kita semua!"
Vance mendengarkan dengan saksama, wajahnya tetap datar seperti dinding batu. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan dalam tatapannya. Hanya ada keyakinan mutlak yang buta.
"Sains selalu dipenuhi oleh para skeptis yang ketakutan sebelum melangkah, Dr. Elian," ujar Vance dingin. "Setiap lompatan besar dalam sejarah manusia selalu dianggap mustahil dan berbahaya oleh orang-orang seperti Anda. Jika nenek moyang kita takut terbakar, kita tidak akan pernah menjinakkan api."
"Ini bukan soal ketakutan, ini hukum alam!" teriak Elian, frustrasinya memuncak hingga ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Anda tidak bisa bernegosiasi dengan hukum fisika, Komandan! Anda memimpin kita semua menuju pemusnahan!"
"Saya memimpin kita semua pulang," potong Vance dengan nada yang memotong udara seperti pisau es. "Dan itu adalah dekret yang tidak bisa diganggu gugat."
Vance berbalik membelakangi mereka, memberi isyarat dengan lambaian tangan kepada para prajuritnya.
"Amankan Dr. Elian dan Asisten Mara. Tempatkan mereka di sel isolasi tingkat tinggi di Sektor Bawah. Pastikan mereka tidak memiliki akses ke perangkat komunikasi apa pun."
"Vance! Jangan lakukan ini! Anda akan membunuh kita semua!" Elian memberontak saat dua prajurit berbadan besar kembali mencengkeram lengannya dengan kasar, menyeretnya menjauh dari konsol laboratorium yang kini telah kosong dan mati.
"Lepaskan! Sektor Atas tidak berhak melakukan ini!" Mara menjerit, meronta-ronta saat ia diseret di koridor yang dingin.
Vance tidak berbalik. Ia tetap berdiri di depan jendela laboratorium, memandangi arloji mekanis di tangannya yang kini diam tak berdetak. Di luar sana, di dalam kegelapan abadi semesta yang menanti ajal, rencana g*** itu telah dimulai.
Pintu laboratorium Sektor 7 tertutup dengan dentuman berat, mengunci Elian dan Mara dari dunia luar, menyisakan gema langkah kaki para prajurit dan bayang-bayang kehancuran yang kian mendekat di bawah dekret sang komandan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!