**Bab 6: Dilema di Balik Jeruji Besi**
Dingin. Itu adalah hal pertama yang merayap ma**k ke dalam kesadaran Elian, menyusup melalui pori-pori kulitnya yang gemetar di atas lant** beton abu-abu tanpa alas. Di sekelilingnya, dinding-dinding baja tebal Sektor Militer memantulkan cahaya pudar dari lampu neon tunggal yang berkedip di langit-langit, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti monster-monster yang siap menerkam dari kegelapan. Suara dengung statis dari medan elektromagnetik pelindung pintu sel terdengar seperti detak jantung stasiun yang sekarat.
Elian menyandarkan punggungnya yang pegal pada dinding logam yang dingin. Setiap tarikan napas terasa berat, menyisakan rasa perih di dadanya akibat popor senapan yang menghantamnya beberapa jam lalu. Di sudut lain sel yang sempit itu, Mara duduk dengan lutut tertekuk rapat ke dada. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan, dan noda jelaga hitam masih mengotori pipi kirinya.
"Tujuh detik," bisik Elian tiba-tiba. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh dengung medan energi pintu sel. "Hanya kurang tujuh detik, Mara. Jika mereka tidak datang, jika Vance tidak mengacaukan medan isolasinya, jalurnya akan stabil. Aku bisa menariknya kembali."
Mara tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, ke arah jeruji energi berwarna biru pucat yang memisahkan mereka dari koridor sunyi di luar. Matanya yang biasa memancarkan binar kecerdasan kini tampak redup, menyimpan kelelahan yang teramat sangat.
"Menariknya kembali, Elian? Atau menarik dirimu sendiri ke dalam pusaran yang tidak akan pernah bisa kau kendalikan?" Mara bertanya dengan suara yang terlampau tenang, hampir seperti bisikan angin malam yang dingin.
"Kau tidak mengerti!" Elian menegakkan tubuh, mengabaikan rasa sakit yang menusuk tulang belikatnya. "Kau tidak pernah merasakan bagaimana rasanya melihat dunia berputar, sementara hidupmu sendiri berhenti di satu titik statis. Aria... dia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Aku yang merengenggutnya dari dia, Mara. Eksperimenku yang membunuhnya!"
"Itu kecelakaan, Elian!" Mara menoleh cepat, matanya berkilat menahan emosi yang selama ini ia pendam. "Ledakan generator di Sektor Bawah adalah bencana sistemik. Kau bukan Tuhan yang bisa disalahkan atas kegagalan seluruh infrastruktur stasiun ini!"
"Tapi aku adalah ayahnya!" suara Elian meninggi, bergema kasar di dalam ruang isolasi yang sempit. Napasnya memburu, matanya memerah menahan air mata yang menolak untuk jatuh. "Aku memiliki teknologi itu di tanganku. Debu Bintang, Caelum-9... semuanya bisa membalikkan keadaan. Satu menit saja. Aku hanya butuh memutar kembali waktu sejauh satu menit sebelum katup pengaman itu pecah. Hanya satu menit untuk mendekapnya dan membawanya keluar dari sana."
Mara menghela napas panjang, sebuah desahan sarat kepedihan yang seolah memikul beban seluruh stasiun luar angkasa ini. Ia menggeser tubuhnya mendekati Elian, mengabaikan hawa dingin yang menusuk. Ketika ia berbicara lagi, nadanya melunak, bertransisi menjadi kelembutan seorang sahabat yang mengkhawatirkan jiwa yang hampir tersesat.
"Kehilangan adalah bagian dari apa yang menjadikan kita manusia, Elian," ucap Mara lirih. Tangannya bergerak ragu, sebelum akhirnya mendarat di atas jemari Elian yang gemetar dan dingin. "Aku juga kehilangan keluargaku saat kubah pertanian Sektor 3 runtuh lima tahun lalu. Kita semua kehilangan sesuatu di tempat terkutuk ini. Tapi kita tidak bisa terus-menerus menatap ke belakang hingga leher kita patah."
Elian menarik tangannya perlahan, menolak kehangatan yang ditawarkan Mara. Ia memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan wajahnya di sana. "Kau tidak tahu rasanya bermimpi tentang tawa seorang anak kecil setiap malam, lalu terbangun dengan kesadaran bahwa suaranya telah lenyap selamanya dari semesta ini."
"Aku tahu rasanya hidup dalam bayang-bayang," sahut Mara cepat. "Dan aku juga tahu bahwa obsesimu telah membutakanmu dari realitas yang ada di depan matamu." Mara berdiri, berjalan mendekati jeruji energi, lalu berbalik memandang Elian dengan tatapan menuntut. "Lihat sekelilingmu, Elian! Berapa banyak manusia yang tersisa di stasiun ini? Tiga puluh ribu jiwa. Mereka hidup berdesakan di Sektor Bawah dengan pasokan oksigen yang terus menipis, air yang didaur ulang hingga terasa seperti besi, dan radiator yang hampir mati. Mereka bertahan hidup hari demi hari!"
Mara menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan malam stasiun menekan dada mereka berdua.
"Lalu, apa yang kau lakukan?" lanjut Mara, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan. "Kau memonopoli sisa Debu Bintang terakhir yang dimiliki stasiun ini—satu-satunya katalis energi murni yang bisa digunakan untuk memperbaiki generator utama Sektor Bawah—hanya untuk memuaskan rasa bersalahmu. Kau ingin menukar masa depan tiga puluh ribu orang yang masih bernapas demi menghidupkan kembali satu orang yang sudah tiada."
Kata-kata Mara menghantam Elian bagaikan gada besi. Ia mendongak, wajahnya pucat pasi. "Itu tidak benar... Aku... aku merencanakan untuk mengembalikan sisa energinya setelah—"
"Setelah apa? Setelah kau mengacaukan garis waktu?" sela Mara tajam. "Bagaimana jika manipulasi temporal yang kau lakukan justru memicu keruntuhan kuantum yang mempercepat padamnya stasiun ini? Kau bermain-main dengan hukum fisika tanpa memedulikan konsekuensinya pada kami yang masih hidup di sini!"
Elian terdiam. Mulutnya terbuka, namun tak ada kata yang mampu keluar. Kebenaran dalam ucapan Mara terasa seperti racun yang lambat laun melumpuhkan argumennya. Pikiran Elian melayang kembali pada dokumen rahasia yang sempat ia lihat di meja Komandan Vance sebelum mereka diseret ke sel ini. Sebuah cetak biru proyek militer berkode "Kronos".
Pintu sel tiba-tiba berdesis pelan. Lampu merah di atas bingkai pintu berkedip lambat, menandakan status komunikasi eksternal diaktifkan. Suara bariton Komandan Vance yang dingin dan berwibawa menggema melalui pengeras suara di dinding.
"Dilema yang sangat menarik, Dr. Elian," ujar Vance dari balik mikrofon interkom. "Asisten Anda memiliki sudut pandang yang sangat pragmatis. Namun, militer memiliki tawaran yang lebih menjanjikan."
Elian berdiri dengan cepat, melangkah mendekati jeruji energi hingga jaraknya hanya beberapa inci dari medan plasma yang panas. "Vance! Di mana data penelitianku? Apa yang kalian lakukan pada sampel Caelum-9?"
"Semuanya aman dalam pengawasan kami," jawab Vance tenang. "Namun, kami membutuhkan kunci dekripsi terakhir untuk menstabilkan medan kuantumnya. Rumus yang hanya ada di dalam kepala Anda, Elian."
"Aku tidak akan pernah memberikannya kepada kalian," desis Elian dengan kemarahan yang meluap-luap. "Kalian hanya akan menggunakannya sebagai senjata. Mengubah sejarah untuk memastikan kekuasaan Sektor Atas tetap mutlak, sementara Sektor Bawah dibiarkan mati kelaparan!"
Terdengar tawa kecil dan dingin dari pengeras suara. "Anda terlalu idealis, Doktor. Mari kita bicara tentang transaksi. Selesaikan kalkulasi mesin temporal itu untuk kami. Bantu kami menguasai aliran waktu. Sebagai imbalannya, saya sendiri yang akan menekan tombol peluncuran kapsul temporal untuk Anda. Saya akan mengirim Anda kembali ke waktu satu menit sebelum putri Anda, Aria, tewas dalam insiden ledakan itu. Anda bisa menyelamatkannya, membawanya ke Sektor Atas, dan hidup bahagia bersamanya."
Dada Elian bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Tawaran itu... itu adalah semua yang ia impikan selama tiga tahun terakhir. Kesempatan untuk memeluk Aria kembali, merasakan kehangatan jemari kecil putrinya, mendengar suaranya memanggil 'Ayah'. Semua itu kini berada dalam jangkauan tangannya, hanya terpisah oleh satu keputusan.
"Dan jika aku menolak?" tanya Elian, suaranya bergetar di antara harapan dan ketakutan.
"Jika Anda menolak," suara Vance berubah sedingin es di ruang hampa udara, "Anda akan dieksekusi atas tuduhan makar dan sabotase sumber daya stasiun. Dan asisten Anda, Mara... dia akan dikirim ke Sektor Luar, bekerja di tambang asteroid tanpa pelindung radiasi yang layak sampai tubuhnya hancur. Pilihan ada di tangan Anda, Elian. Menyelamatkan masa lalu Anda yang berharga, atau mati bersama masa depan yang tidak pasti ini."
Sambungan interkom terputus dengan suara klik yang tajam, menyisakan keheningan yang lebih pekat dan menindas dari sebelumnya.
Elian merosot kembali ke lant**. Kepalanya terasa seperti akan pecah oleh tekanan moral yang teramat sangat. Di satu sisi, ada Aria—putri kecilnya yang tak berdosa, yang wajahnya selalu menghantui setiap detik tidurnya. Di sisi lain, ada masa depan kemanusiaan yang diwakili oleh Mara dan ribuan jiwa di Sektor Bawah yang akan diperbudak secara absolut oleh militer jika mereka berhasil menguasai teknologi manipulasi waktu.
"Elian..." Mara mendekat perlahan, lalu berlutut di hadapan pria itu. Ia bisa melihat konflik batin yang sedang menyiksa jiwa sang ilmuwan hingga ke titik nadir. "Jangan lakukan itu. Tolong, jangan berikan formula itu pada mereka."
"Jika aku menolak, mereka akan membunuhmu, Mara!" Elian berteriak frustrasi, air mata akhirnya mengalir membasahi pipinya yang kotor. "Dan aku... aku akan kehilangan kesempatan satu-satunya untuk melihat Aria lagi! Bagaimana bisa aku membiarkan putriku mati berulang kali di dalam ingatanku, sementara aku memiliki kunci untuk menyelamatkannya?!"
Mara memegang kedua pundak Elian, memaksa pria itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang basah namun penuh keteguhan.
"Jika kau menyelamatkan Aria dengan cara memberikan senjata itu kepada Vance, kau tidak sedang menyelamatkannya, Elian," ucap Mara dengan suara bergetar namun tegas. "Kau hanya akan melahirkannya kembali ke dalam dunia yang jauh lebih kejam. Dunia di mana militer mengontrol setiap detik kehidupan kita, di mana kebebasan telah dihapus dari sejarah, dan di mana stasiun ini mungkin akan runtuh lebih cepat karena paradoks waktu yang kau ciptakan. Apakah itu dunia yang kau inginkan untuk Aria?"
Pertanyaan Mara menggantung di udara, dingin dan tak terbantahkan.
Elian memejamkan matanya rapat-rapat. Di balik kegelapan kelopak matanya, ia melihat Aria berlari di taman hidroponik yang lama kelamaan memudar, digantikan oleh bayangan stasiun luar angkasa yang hancur berkeping-keping, terbakar dalam kehampaan kosmis yang sunyi. Satu detik sebelum semesta padam, ia menyadari bahwa beberapa hal yang telah hilang memang harus tetap berada di sana—sebagai pengingat akan kemanusiaan mereka yang tersisa.
Namun, rasa sakit di dadanya saat membayangkan wajah Aria yang tersenyum masih terlalu nyata untuk diabaikan. Di balik jeruji besi yang dingin ini, waktu terus berjalan maju tanpa ampun, sementara jiwa Elian terperangkap dalam pusaran dilema yang tak berujung.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!