**Bab 7: Menembus Koridor Ilusi**
Mara tidak membuang waktu. Detik berikutnya, ia sudah merangkak mendekati katup sanitasi logam yang tertanam di sudut bawah sel isolasi mereka. Di balik jeruji energi biru yang berdenyut rendah, stasiun Aethelgard terasa sunyi—sebuah kesunyian yang tidak wajar, seolah seluruh udara di dalam sektor militer ini sedang menahan napas sebelum badai besar datang.
"Mara, apa yang sedang kau lakukan?" Elian berbisik, mendekat dengan kening berkerut. Matanya masih merah, sisa-sisa perdebatan emosional mereka tentang Aria masih membekas jelas di garis wajahnya yang lelah.
"Menyelamatkan nyawa kita, Elian. Dan mungkin, menghentikan keg***an Vance sebelum semuanya terlambat," jawab Mara tanpa menoleh. Jemari tangannya yang ramping bergerak lincah, membuka paksa penutup panel sanitasi menggunakan klip logam kecil yang berhasil ia sembunyikan di dalam lipatan lengan seragam biologisnya.
Di dalam kompartemen sempit itu, tampak jajaran pipa transparan yang mengalirkan cairan bioluminesens hijau pekat. Itu adalah sistem penyaring limbah organik stasiun, yang ditenagai oleh bakteri *Methanoplasma aethelgardia*—mikroba hasil rekayasa genetika yang bertugas mendegradasi limbah biologis sekaligus menghasilkan energi listrik cadangan berskala mikro untuk sektor tahanan.
"Kau ingin meretas aliran energinya?" Elian menebak, matanya mulai menangkap arah rencana Mara.
"Lebih dari sekadar meretas," Mara menarik sebuah patch medis berp****at dari saku dalamnya. Patch itu berisi konsentrat laktosa dan stimulan metabolik dosis tinggi yang biasa ia gunakan untuk membiakkan sampel di laboratorium ekologi. "Bakteri ini sangat sensitif terhadap glukosa terkonsentrasi. Jika aku menyuntikkan stimulan ini langsung ke dalam ruang inkubasi utama mereka, mereka akan mengalami lonjakan metabolisme eksponensial dalam hitungan detik. Reaksi berant**nya akan menghasilkan gas metana dalam volume besar secara instan."
"Dan itu akan memicu katup pengaman tekanan meledak," Elian menyambung, senyum tipis yang langka mulai terukir di sudut bibirnya. "Ledakan itu akan memicu hubungan arus pendek pada sirkuit elektromagnetik yang menyuplai daya ke pintu sel kita."
"Tepat sekali. Sekarang, mundur," instruksi Mara tegas. Ia menempelkan patch tersebut ke katup intake cairan, lalu menekan tombol injeksi manual dengan keras.
Cairan hijau di dalam pipa langsung bergejolak hebat, berubah warna menjadi kuning terang yang berpendar liar. Terdengar suara desis kencang dari dalam dinding, diikuti oleh getaran hebat yang merambat di bawah lant** beton.
*BUM!*
Ledakan kecil terjadi di balik dinding panel. Asap hitam berbau belerang menyembur keluar, diiringi percikan bunga api listrik yang menyala terang. Detik itu juga, jeruji energi biru pucat yang menghalangi pintu sel berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan kesunyian yang mencekam.
"Berhasil," bisik Mara, terbatuk kecil menghalau asap. "Ayo, Elian. Kita tidak punya banyak waktu."
Mereka berdua menyelinap keluar dari sel, melangkah hati-hati ke dalam koridor Sektor Militer yang sepi. Namun, begitu kaki mereka menapak di luar, sensasi aneh langsung menyerang kesadaran mereka.
Udara terasa tebal dan dingin, menyisakan rasa logam yang tajam di ujung lidah—sebuah tanda khas dari tingginya radiasi partikel takion. Suara alarm darurat stasiun terdengar sangat aneh; bunyinya tidak lagi melengking konstan, melainkan melambat, memanjang menjadi raungan rendah yang mengerikan, lalu tiba-tiba melesat cepat seperti suara pita kaset yang rusak.
"Vance sudah memulainya," Elian berbisik ngeri, menatap lampu-lampu koridor yang berkedip dalam ritme yang tidak beraturan. "Mereka memaksa reaktor fusi kuantum untuk menyuplai daya ke mesin waktu tanpa melakukan kalib**si pada medan Higgs. Si****... mereka merobek jaring-jaring ruang-waktu stasiun ini!"
"Kita harus ke pusat kendali reaktor sekarang!" Mara menarik lengan Elian, memaksa pria itu bergerak.
Mereka berlari menyusuri koridor logam berlant** kelabu. Namun, baru beberapa puluh meter melangkah, koridor di depan mereka tiba-tiba bergetar hebat. Distorsi visual mulai terjadi. Udara di depan mereka tampak beriak seperti permukaan air yang dilempari batu.
"Elian, awas!" Mara berteriak.
Tiba-tiba, dinding-dinding baja futuristik di sekeliling mereka mulai berubah. Logam berkilau itu berkarat dalam hitungan detik. Cat dinding terkelupas, digantikan oleh lapisan lumut hijau tebal dan tanaman merambat yang tampak kering dan mati. Atap koridor runtuh, memperlihatkan pemandangan langit-langit stasiun yang hancur, memperlihatkan kegelapan luar angkasa yang dipenuhi puing-puing melayang. Itu adalah pemandangan sebuah stasiun yang telah ditinggalkan dan hancur selama ratusan tahun.
Elian terkesiap, nyaris terjatuh ketika kakinya menginjak tumpukan debu tebal yang tiba-tiba muncul di lant**. "Ini... ini masa depan stasiun ini? Kehancuran kita?"
"Jangan melihatnya, Elian! Itu hanya ilusi temporal! Itu belum terjadi!" Mara berteriak, suaranya terdengar bergema seolah datang dari jarak yang sangat jauh, terdistorsi oleh waktu yang melambat di sekitar mereka.
Mara menarik Elian maju, menembus puing-puing khayalan itu. Begitu mereka melewati batas riak udara, pemandangan hancur itu lenyap dalam sekejap mata. Dinding koridor kembali menjadi baja kokoh dan bersih, seolah-olah distorsi tadi tidak pernah ada. Napas keduanya memburu, keringat dingin memba****i pelipis mereka.
"Waktu tidak lagi mengalir secara linier di sini," Elian berkata dengan napas terengah-engah, memegangi dadanya yang berdenyut sakit. "Entropi lokal sedang kacau. Jika kita terjebak di area yang mengalami percepatan temporal ekstrem, kita bisa menua dan menjadi debu dalam hitungan detik."
"Atau terjebak dalam lingkaran tanpa akhir," tambah Mara, matanya membelalak menatap ujung koridor berikutnya.
Di depan mereka, ada sebuah belokan. Mereka berlari memutarinya, hanya untuk menemukan diri mereka kembali berdiri di titik yang sama, tepat di depan sel tempat mereka baru saja melarikan diri.
"Apa yang terjadi? Kita baru saja melewati jalan ini!" Mara menatap sekeliling dengan tidak percaya.
"Kalang waktu mikro," Elian menganalisis dengan cepat, matanya memindai fluktuasi cahaya lampu. "Reaktor memancarkan pulsa gravitasi kuantum yang mengunci area ini dalam sirkularitas tertutup. Kita akan terus kembali ke titik ini setiap kali kita melangkah sejauh tiga puluh meter."
"Pasti ada cara untuk memecahkannya, Elian! Kau pencipta teori ini!" Mara mengguncang bahu Elian, menuntut jawaban di tengah keputusasaan yang mulai merayap naik.
Elian memejamkan mata, memaksakan otaknya yang lelah untuk bekerja di bawah tekanan ekstrem. "Loop ini terikat pada frekuensi denyut reaktor. Perhatikan lampunya, Mara. Setiap dua belas detik, ada jeda mikro selama nol koma tiga detik saat lampu berkedip mati. Itu adalah fase transisi di mana medan kuantum runtuh sebelum terbentuk kembali. Kita harus berlari dan melompati batas distorsi tepat pada detik kesebelas—memotong momentum linier kita agar tidak terseret kembali ke titik awal."
"Bagaimana kita tahu kapan detik kesebelas itu?"
"Ikuti hitunganku," Elian menggenggam erat tangan Mara. Jemarinya dingin, namun genggamannya begitu kokoh. "Satu... dua... tiga... lari!"
Mereka berlari sekuat tenaga menyusuri koridor yang sama untuk ketiga kalinya. Angka-angka berputar di kepala Elian seperti jam pasir yang menolak berhenti.
"Delapan... sembilan... sepuluh..."
Di depan mereka, riak udara transparan yang menandakan batas lingkaran waktu mulai terlihat kembali.
"Sebelas! Lompat!" Elian berteriak.
Mereka berdua melemparkan tubuh ke depan, melompati garis tak kasatmata tepat saat lampu koridor padam sepenuhnya selama sepersekian detik. Rasa mual yang luar biasa menghantam lambung mereka, seolah tubuh mereka ditarik ke dua arah yang berlawanan oleh gravitasi yang tak terlihat.
Ketika mereka mendarat di lant** logam yang keras, lampu kembali menyala. Mara menoleh dengan cepat ke belakang. Koridor di belakang mereka kini kosong. Sel isolasi mereka telah tertinggal jauh di belakang.
"Kita berhasil," Mara berbisik, memegangi kepalanya yang terasa pening luar biasa.
Namun, kegepungan itu tidak berlangsung lama. Dari ujung koridor di depan mereka, sebuah bayangan perlahan terbentuk dari udara tipis. Partikel-partikel cahaya keemasan berkumpul, membentuk siluet seorang anak perempuan kecil yang mengenakan gaun putih dengan boneka rajut di pelukannya.
Elian membeku. Seluruh darah di dalam tubuhnya seakan berhenti mengalir. "Aria...?"
"Papa..." suara anak perempuan itu terdengar begitu jernih, bergema di antara dinding-dinding koridor yang sunyi. Ia menoleh, menatap Elian dengan mata bulatnya yang bercahaya redup. "Papa, dingin di sini. Kenapa Papa meninggalkanku?"
"Aria! Ini Papa, Sayang!" Elian melepaskan genggaman tangan Mara, melangkah maju dengan tidak sadar. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah membasahi pipinya. Rasa bersalah yang telah menggerogoti jiwanya selama bertahun-tahun meledak seketika. "Aku di sini... aku akan menyelamatkanmu!"
"Elian, tidak! Jangan mendekat!" Mara berteriak hysteric, berusaha menarik jaket Elian, namun pria itu seolah memiliki kekuatan luar biasa yang didorong oleh keputusasaan.
"Dia putriku, Mara! Dia ada di sana!" Elian berteriak, suaranya parau oleh tangis.
"Itu bukan Aria! Itu adalah sisa memori kuantum yang terjebak dalam distorsi!" Mara memotong jalan Elian, berdiri tegak di hadapannya, menghalangi pandangannya dari sosok anak kecil itu. "Jika kau melangkah ke dalam fluktuasi itu, kau akan terperangkap dalam singularitas lokal! Kau akan mati, Elian, dan kau tidak akan pernah bisa menyelamatkan siapa pun!"
"Tapi aku harus mencobanya, Mara! Aku yang membunuhnya! Jika aku tidak menyalakan generator hari itu—"
"Itu kecelakaan!" Mara mencengkeram kerah seragam Elian, menatap langsung ke dalam mata pria yang kini hancur oleh duka itu. "Aria sudah tiada, Elian! Dan gadis kecil di depanmu ini hanyalah proyeksi dari penyesalanmu yang paling dalam yang dimanifestasikan oleh mesin si**** itu! Jika kita tidak menghentikan reaktor ini sekarang, bukan hanya ingatan tentang Aria yang akan hilang, tapi seluruh semesta ini akan padam! Semua orang akan mati!"
Kalimat Mara menghantam Elian seperti gada besi. Ia menatap melewati bahu Mara, ke arah sosok Aria yang perlahan mulai memudar, berubah menjadi piksel-piksel cahaya yang melayang lalu lenyap ditiup angin temporal yang dingin.
Kesadaran menghantam Elian dengan keras. Bahwa waktu yang telah berlalu adalah sebuah makam yang tidak boleh digali kembali dengan paksa. Bahwa penyesalannya hampir saja menelan satu-satunya masa depan yang tersisa.
Elian jatuh berlutut di lant** logam, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya. Bahunya berguncang hebat saat ia terisak, melepaskan segala beban berat yang selama ini ia pikul sendirian di dalam kegelapan hatinya. Mara berlutut di sampingnya, meletakkan tangan di atas punggung Elian, memberikan kehangatan di tengah koridor yang kian membeku.
"Aku minta maaf, Mara..." bisik Elian di sela tangisnya. "Aku sangat merindukannya."
"Aku tahu, Elian. Aku tahu," Mara menjawab dengan lembut, matanya sendiri berkaca-kaca. "Tapi kita harus menyelesaikan ini. Untuk Aria. Untuk kita semua."
Elian menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan perlahan seiring dengan ketetapan hati yang baru yang mulai mengalir di dalam dirinya. Ia menghapus air matanya, lalu berdiri dengan tegak. Sinar mata yang tadinya dipenuhi keputusasaan kini berganti menjadi kilat tekad yang dingin.
"Ayo," kata Elian, suaranya kini terdengar mantap. "Kita matikan reaktor itu."
Mereka kembali berlari, menempuh sisa koridor yang semakin tidak stabil. Di depan mereka, pintu gerbang raksasa Sektor Reaktor Fusi Kuantum akhirnya terlihat. Namun, koridor terakhir ini adalah bagian yang paling mengerikan.
Ruang di depan mereka tampaknya telah terfragmentasi menjadi potongan-potongan waktu yang membeku. Di udara, ribuan tetesan air dari pipa yang bocor melayang diam, tidak bergerak seolah gravitasi dan waktu telah berhenti untuk mereka. Beberapa serpihan logam dari ledakan sebelumnya melayang statis, tajam seperti pisau yang siap mengoyak siapa saja yang menab**knya.
"Ini adalah area *stasis temporal*," Elian memperingatkan, memperlambat langkahnya. "Kita harus berjalan sangat hati-hati di antara objek-objek ini. Jangan menyentuh apa pun yang membeku di udara. Jika kita mengganggu momentum mereka yang tertunda, waktu bagi objek tersebut akan berjalan kembali secara instan dengan kecepatan penuh."
Mereka mulai melangkah sangat lambat, meliuk-liuk di antara tetesan air yang tampak seperti kristal berlian yang melayang dan serpihan besi yang tajam. Suasana begitu sunyi, bahkan suara napas mereka sendiri terdengar seperti gema yang memantul di dalam gua sunyi.
Sebuah gelombang akselerasi temporal tiba-tiba menyapu ruangan dari arah reaktor. Mara merasakan sensasi aneh di kulit kepalanya; ketika ia melirik ujung rambutnya yang terurai, rambutnya tampak tumbuh beberapa sentimeter dalam hitungan detik sebelum akhirnya stabil kembali. Di sampingnya, kulit tangan Elian sempat mengerut keriput layaknya tangan seorang pria tua, sebelum kembali mulus saat gelombang itu berlalu.
"Cepat, gerbangnya sudah dekat!" Mara berbisik setengah mendesak.
Tinggal tiga langkah lagi. Namun, sebuah serpihan pelat baja besar yang melayang miring menghalangi jalan mereka menuju panel pembuka pintu gerbang.
"Biar aku yang melewatinya lebih dulu," Elian membungkuk rendah, meluncur di bawah serpihan tajam tersebut dengan presisi seorang ahli fisika yang menghitung setiap milimeter ruang. Ia berhasil mencapai sisi lain, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya pada Mara. "Ulurkan tanganmu, Mara. Perlahan."
Mara menarik napas panjang, meniru gerakan Elian. Namun, saat ia merangkak di bawah pelat baja tersebut, sol sepatunya tidak sengaja menyenggol sebutir sekrup kecil yang melayang di dekat lant**.
Seketika itu juga, efek stasis pada sekrup tersebut runtuh. Sekrup itu melesat maju dengan kecepatan peluru, menghantam pelat baja besar di atas Mara.
*KLANG!*
Pelat baja yang melayang bebas itu mendadak terbebas dari jeratan waktu. Logam seberat ratusan kilogram itu jatuh dengan kecepatan tinggi langsung ke arah Mara.
"Mara!"
Dengan refleks kilat, Elian menarik lengan Mara sekuat tenaga. Tubuh Mara terhempas ke dada Elian tepat saat pelat baja itu menghantam lant** logam dengan suara dentuman yang m****akkan telinga, menciptakan percikan api yang menyiram punggung mereka.
Mereka berdua terengah-engah di atas lant**, saling menatap dengan mata melebar penuh keterkejutan. Jantung mereka berdegup kencang, menyadari bahwa mereka baru saja lolos dari kematian yang berjarak hanya beberapa milimeter saja.
"Kau tidak apa-apa?" Elian bertanya, suaranya bergetar cemas.
"Aku... aku masih utuh," Mara menjawab, mencoba tersenyum di tengah rasa syoknya.
Di hadapan mereka, pintu gerbang reaktor yang tebal kini berdiri kokoh, bergetar hebat akibat tekanan energi dari dalam. Cahaya merah dari lampu peringatan bahaya di atas gerbang menyinari wajah mereka berdua, memberikan siluet yang dramatis di tengah kehancuran stasiun yang kian mendekat.
Pusat kendali reaktor ada di balik pintu ini. Dan bersama dengannya, akhir dari ilusi ini harus segera ditentukan.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!