**Bab 8: Bintang yang Sekarat**
Sisa-sisa asap belerang dan metana yang menyengat masih menempel di tenggorokan saat Elian dan Mara berlari menyusuri lorong temaram Sektor 4. Koridor logam stasiun Aethelgard yang biasanya dingin dan sunyi kini dipenuhi oleh raungan sirene darurat bernada rendah yang berulang-ulang. Cahaya kuning berpendar intermiten dari dinding-dinding baja, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di belakang langkah kaki mereka yang tergesa-gesa.
"Lewat sini!" Mara memberi isyarat, menarik lengan jaket Elian saat mereka tiba di persimpangan koridor yang menuju ke dek observasi luar.
Elian hampir kehilangan pijakan, tetapi ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Ketika ia mendongak, pandangannya langsung tertuju pada jendela observasi kaca kuarsa raksasa yang membentang di sepanjang dinding koridor. Apa yang dilihatnya di luar sana seketika menghentikan aliran darah di dadanya.
Di luar stasiun, Tartarus-7—bintang raksasa merah yang selama ini menjadi sumber energi sekaligus jangkar gravitasi sistem mereka—tidak lagi tampak seperti bola gas yang megah. Bintang itu sedang sekarat dengan cara yang paling mengerikan. Permukaannya yang biasanya bergolak lambat kini berkerut dan meliuk-liuk, seperti sebuah wajah yang menjerit kesakitan dalam keheningan ruang hampa. Pusaran energi berwarna ungu gelap dan hitam legam tampak melingkari ekuator bintang tersebut, menyedot materi plasma merah membara ke dalam satu titik pusat yang tak kasat mata.
"Eksperimen militer Vance..." Elian berbisik dengan suara tercekat, matanya merefleksikan cahaya merah darah yang mengerikan dari luar. "Mereka benar-benar melakukannya. Mereka menarik energi temporal langsung dari inti bintang."
"Itu bukan sekadar penarikan energi, Elian," sahut Mara, suaranya bergetar oleh kemarahan sekaligus ketakutan yang mendalam. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca kuarsa yang kini terasa hangat secara tidak wajar. "Itu adalah pemerkosaan terhadap hukum fisika. Tarikan temporal dari mesin kronos mereka telah memicu kolaps prematur pada inti bintang. Tartarus-7 sedang runtuh ke dalam dirinya sendiri sebelum waktunya."
Tiba-tiba, seluruh stasiun bergetar hebat. Suara logam yang berderit memuakkan terdengar dari langit-langit, disusul oleh suara komputer pusat Aethelgard yang dingin dan monoton.
*“Peringatan. Kebocoran radiasi tingkat tinggi terdeteksi di Sektor Atmosfer Luar. Perisai elektromagnetik Aethelgard mengalami degradasi hingga empat puluh persen. Evakuasi mandiri disarankan bagi seluruh personel non-esensial.”*
"Radiasi gamma," gumam Mara, wajahnya memucat di bawah siraman cahaya merah bintang. "Perisai kita tidak akan bertahan lama. Jika kita tidak keluar dari koridor terbuka ini, sel-sel tubuh kita akan hancur bahkan sebelum kita sempat meninggalkan stasiun."
"Sub-stasiun komunikasi Sektor 4 ada di depan," kata Elian, mencoba menepis rasa takut yang mulai merayapi tengkuknya. "Ayo. Kita harus tahu apa yang terjadi pada armada evakuasi."
Mereka kembali berlari, melewati mayat-mayat mekanis drone penjaga yang lumpuh akibat lonjakan elektromagnetik sebelumnya. Ketika mereka mencapai pintu geser sub-stasiun komunikasi, pintu itu sudah setengah terbuka, rusak akibat pemotongan daya darurat. Elian menggunakan seluruh kekuatannya untuk menggeser pintu logam tebal itu secara manual, memberikan ruang yang c**up bagi Mara untuk menyelinap ma**k sebelum ia sendiri menyusul.
Ruangan itu kosong, ditinggalkan terburu-buru oleh para operator. Konsol-konsol holografik masih menyala, menampilkan grafik-grafik fluktuatif berwarna merah menyala yang menunjukkan kerusakan sistemik di seluruh penjuru Aethelgard.
Mara langsung melompat ke kursi operator utama. Jemarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas keyboard holografik, meretas protokol keamanan lokal menggunakan kode enkripsi pribadi yang ia curi dari laboratorium ekologi.
"Aku berhasil ma**k ke jaringan telemetri peluncuran," ujar Mara, matanya membelalak menatap data yang terpampang di hadapannya. "Elian... lihat ini."
Elian membungkuk di atas bahu Mara, matanya menyapu barisan kode dan grafik tiga dimensi yang menampilkan dok peluncuran kapal evakuasi *Ark-Class* di bagian bawah stasiun. Kapal-kapal raksasa yang seharusnya membawa sisa-sisa umat manusia menuju sistem baru itu masih tertambat erat di dek peluncuran. Tidak ada tanda-tanda aktivitas lepas landas.
"Mengapa mereka tidak meluncur?" tanya Elian, kepanikan mulai merayap ke dalam suaranya. "Waktu kita hampir habis! Mengapa armada evakuasi masih di sana?"
"Karena mereka tidak bisa pergi," jawab Mara, suaranya nyaris berupa bisikan yang hancur. Ia memperbesar grafik sistem propulsi kapal. "Fluktuasi waktu yang disebabkan oleh kolapsnya Tartarus-7 telah menciptakan anomali temporal lokal di sekitar dok peluncuran. Mesin pendorong kuantum kapal-kapal itu... mereka mati."
"Mati? Bagaimana bisa mesin kuantum mati karena fluktuasi waktu?"
"Mesin pendorong itu bekerja berdasarkan prinsip superposisi keadaan kuantum untuk menghasilkan gaya dorong," Mara menjelaskan dengan cepat, menunjuk pada grafik yang berkedip kacau. "Tetapi distorsi temporal dari bintang yang sekarat ini begitu kuat sehingga 'waktu' di dalam ruang bakar mesin itu membeku atau melambat secara ekstrem. Bagi mesin-mesin itu, satu detik untuk melakukan pengapian membutuhkan waktu ribuan tahun di dunia nyata. Mereka terjebak dalam lingkaran waktu mikro. Kapal-kapal itu tidak akan pernah bisa menyalakan mesinnya."
Elian mundur selangkah, tangannya gemetar. Keheningan yang mengerikan seolah merayap ma**k ke dalam ruangan kecil itu. Harapan yang selama ini ia pelihara—harapan bahwa setidaknya manusia lain, terma**k mimpi-mimpi yang ditinggalkan Aria, akan selamat di tempat lain—kini hancur berkeping-keping.
"Jadi... ini adalah akhir?" tanya Elian, suaranya terdengar sangat lelah, seolah beban seluruh alam semesta baru saja dijatuhkan ke pundaknya. "Kita dikurung di dalam kaleng logam ini, menunggu radiasi membakar kita hidup-hidup, sementara kapal penyelamat kita bahkan tidak bisa menyalakan mesinnya? Semua yang kita lakukan... semua pengorbanan Aria... sia-sia?"
Mara berbalik di kursinya, menatap Elian. Di mata wanita itu, Elian tidak melihat keputusasaan yang sama. Sebaliknya, ada binar tekad yang tajam, sebuah api kecil yang menolak untuk padam di tengah badai.
"Tidak, Elian. Belum sia-sia," kata Mara tegas. Ia berdiri, melangkah mendekati Elian dan menggenggam kedua tangan pria itu. Tangannya hangat, bergetar namun kuat. "Masih ada satu cara. Hanya satu."
"Apa maksudmu?"
"Vance dan dewan militer sedang bersiap untuk mengaktifkan 'Great Reset'," ujar Mara, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Elian. "Mereka mengumpulkan seluruh energi kuantum dari inti bintang yang kolaps ini ke dalam generator utama untuk melipat ruang-waktu dan membawa sekelompok elit terpilih kembali ke masa lalu—sebuah garis waktu baru di mana mereka bisa memulai kembali kekuasaan mereka. Mereka menyebutnya penyelamatan, tapi itu adalah pelarian pengecut yang akan menghancurkan masa kini kita sepenuhnya."
Elian mengerutkan kening. "Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak bisa menghentikan generator itu sendirian."
"Kita bisa menghentikan proses *Reset* itu, Elian. Tapi kita tidak akan menghancurkan energinya," Mara menjelaskan, napasnya memburu. "Jika kita menyusup ke ruang kendali utama generator kuantum, kita bisa mengalihkan seluruh aliran energi yang telah dikumpulkan untuk *Great Reset* itu. Kita tidak akan menggunakannya untuk melompat mundur dalam waktu."
"Lalu untuk apa?"
"Kita akan menembakkan seluruh energi kuantum itu langsung ke anomali temporal di sekitar dok peluncuran," jawab Mara dengan keyakinan yang luar biasa. "Kita akan menetralkan distorsi waktu yang melumpuhkan kapal-kapal evakuasi. Aliran energi kuantum yang masif akan memecah lingkaran waktu mikro tersebut, menyelaraskan kembali waktu di dalam mesin pendorong dengan waktu normal luar. Kapal-kapal itu akan bisa menyalakan mesin mereka seketika dan pergi dari sini."
Elian menatap Mara seolah wanita itu baru saja kehilangan akalnya. "Mara, apa kau sadar apa yang kau katakan? Energi kuantum sebesar itu... jika dialihkan secara paksa, generator utama akan meledak. Aethelgard akan hancur dalam hitungan detik setelah kapal-kapal itu lepas landas. Kita tidak akan bisa ikut dengan mereka. Kita akan mati di sini."
Mara melepaskan genggaman tangannya perlahan, lalu berbalik menatap jendela observasi sekali lagi. Di luar, kilatan cahaya merah keunguan memancar dari Tartarus-7, memantul di permukaan kaca dan menerangi wajahnya yang tampak begitu tenang di tengah kehancuran.
"Aku tahu," bisik Mara lembut. "Kita tidak akan pernah bisa naik ke kapal-kapal itu, Elian. Tapi jika kita tidak melakukan ini, tidak akan ada satu pun manusia yang selamat. Kita akan mati, kapal-kapal itu akan hancur, dan semua sejarah kita akan lenyap ke dalam lubang hitam yang diciptakan oleh keserakahan Vance."
Ia kembali menatap Elian, setetes air mata mengalir lambat di pipinya yang kotor oleh debu ledakan, namun senyum tipis tersungging di bibirnya. "Aria tidak mengorbankan dirinya agar kita bisa hidup beberapa jam lebih lama di stasiun yang sekarat ini. Dia mengorbankan dirinya agar umat manusia memiliki masa depan. Dan inilah masa depan itu, Elian. Di tangan kita."
Kata-kata Mara menghantam dada Elian seperti godam tak terlihat. Bayangan Aria—senyumnya yang hangat, suaranya saat mendiskusikan bintang-bintang, dan detik-detik terakhir ketika ia mendorong Elian keluar dari zona bahaya—kembali melintas di benaknya. Aria tidak pernah takut mati demi apa yang diyakininya benar. Dan di sini, di hadapan kehancuran semesta, Mara menawarkan hal yang sama: sebuah kesempatan untuk membuat kematian mereka memiliki arti.
Elian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara hangat sarat radiasi mengisi paru-parunya. Rasa takut yang sempat melumpuhkannya perlahan menguap, digantikan oleh ketenangan dingin yang aneh. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka, dan meletakkan tangannya di atas bahu Mara.
"Bagaimana cara kita ma**k ke ruang kendali generator?" tanya Elian, suaranya kini stabil dan penuh tekad.
Mara menatapnya, dan untuk sesaat, kelegaan yang luar biasa terpancar dari wajahnya. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu tersenyum tegas.
"Melalui pipa pendingin sekunder di Sektor 2," jawab Mara, kembali beralih ke konsol komputer untuk mengunduh peta rute tercepat ke datapad-nya. "Jalur itu berbahaya dan panas, tapi itu satu-satunya jalan yang tidak dijaga oleh pa**kan keamanan Vance. Mereka terlalu sibuk mempersiapkan pelarian mereka sendiri untuk menyadari apa yang akan kita lakukan."
"Maka kita harus bergerak sekarang," kata Elian, matanya melirik ke arah indikator radiasi yang terus merangkak naik ke zona merah bahaya. "Sebelum bintang itu benar-benar runtuh dan merobek stasiun ini menjadi kepingan debu."
Mara mencabut datapad-nya, lalu menatap Elian dengan pandangan yang dalam, seolah ingin merekam wajah pria itu dalam ingatannya untuk terakhir kali. "Satu detik sebelum semesta padam, Elian."
"Satu detik sebelum semesta padam," Elian mengulangi kalimat itu, sebuah janji sunyi di antara dua jiwa yang telah memilih takdir mereka.
Dengan satu anggukan bersama, mereka berbalik dan berlari keluar dari sub-stasiun komunikasi, meninggalkan kehancuran yang membayangi di belakang mereka, menuju ke jantung stasiun di mana pertempuran terakhir untuk masa depan umat manusia baru saja dimulai. Di luar sana, Tartarus-7 terus mengerut, memancarkan cahaya kematiannya yang terakhir, bersiap untuk padam selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!