**BAB 9: KONFRONTASI DI JANTUNG REAKTOR**
Pintu sekat hidrolik Sektor Omega mengerang keras sebelum akhirnya terbelah akibat korsleting paksa yang dipicu oleh dekoder Mara. Bau ozon yang terbakar dan udara superpanas langsung menyembur keluar, menyengat wajah Elian dan Mara. Di hadapan mereka, koridor sempit itu runtuh, membuka jalan ke sebuah ruangan kubah raksasa yang tampak seperti mimpi buruk mekanis.
Ini adalah jantung dari stasiun Aethelgard: ruang reaktor fusi kuantum utama.
Di tengah ruangan, sebuah tabung magnetik raksasa berdiri tegak, dikelilingi oleh cincin-cincin akselerator yang berputar dengan kecepatan ekstrem hingga menciptakan ilusi visual berupa lingkaran cahaya padat. Namun, tidak ada warna biru fusi yang stabil di sana. Reaktor itu kini memancarkan pendaran ungu gelap dan hitam pekat—warna yang sama dengan anomali yang sedang mengoyak bintang Tartarus-7 di luar sana. Energi temporal yang ditarik paksa dari inti bintang dialirkan langsung ke sini, bergolak hebat di dalam mesin manipulasi waktu milik Vance yang berada di ambang batas aktivasi penuh.
"Kita terlambat," bisik Mara, matanya membelalak menatap panel indikator raksasa di dinding atas yang berkedip merah konstan. "Indeks sinkronisasi temporal sudah mencapai sembilan puluh delapan persen. Begitu menyentuh seratus, distorsi ini tidak akan bisa dihentikan. Garis waktu kita akan runtuh."
"Belum," tegas Elian, mempererat genggaman pada senapan pulsa di tangannya. "Selama Vance belum menarik tuas final, kita masih punya satu detik."
Sebelum Mara sempat membalas, sebuah tembakan plasma biru mendesing melewati kepala Elian, menghantam dinding baja di belakang mereka hingga meleleh. Suara dentuman senjata energi menggema di seluruh kubah, memantul di antara pilar-pilar titanium.
"Di atas platform!" teriak Elian sembari menarik Mara berlindung di balik konsol terminal yang tebal.
Tembakan balasan segera dilepaskan Elian. Cahaya kilatan plasma menerangi kegelapan ruangan. Tiga prajurit taktis bertopeng besi hitam milik Vance menembaki mereka dari lant** atas yang melingkar. Elian melepaskan dua tembakan beruntun yang tepat sasaran; satu prajurit terjatuh ke dalam kolong generator dengan teriakan yang terputus, sementara dua lainnya merunduk mencari perlindungan.
"Elian! Hentikan keg***an ini!"
Sebuah suara berat, berwibawa, namun bergetar oleh obsesi terdengar melintasi pengeras suara ruangan. Itu suara Vance. Ia berdiri di dek komando utama, tepat di bawah lingkaran cahaya ungu anomali, dengan tangan yang bertumpu pada tuas kendali berwarna emas kusam—konsol aktivasi Mesin Kronos.
"Vance!" Elian berteriak dari balik pelindungnya, napasnya memburu. "Matikan mesin itu! Anda membunuh Tartarus-7! Anda membunuh semua orang di stasiun ini!"
"Membunuh mereka?" Vance tertawa, sebuah tawa kering tanpa humor yang terdengar menyedihkan. "Tidak, Elian. Aku menyelamatkan mereka. Aku menyelamatkan kita semua dari kepunahan yang tak terhindarkan. Apa artinya satu bintang yang sekarat jika kita bisa menguasai waktu itu sendiri? Kita bisa menulis ulang sejarah! Kita bisa mencegah perang, mencegah kehancuran bumi, mengembalikan semua yang telah hilang!"
"Kau tidak bisa menegosiasikan masa lalu dengan menghancurkan masa depan!" sahut Mara, suaranya melengking di antara deru mesin reaktor yang kian bising.
"Diam, Mara!" gertak Vance. "Kau hanya melihat angka-angka di layar monitormu. Kau tidak memahami rasa kehilangan yang sesungguhnya."
Vance menekan sebuah tombol di konsolnya. Seketika, getaran hebat mengguncang lant** ruang reaktor. Cincin akselerator berputar dua kali lebih cepat, menciptakan dengungan frekuensi tinggi yang membuat telinga berdenging. Di atas reaktor fusi, ruang udara mulai meliuk. Retakan waktu—sebuah celah vertikal yang berkilauan dengan cahaya fraktal yang kacau—mulai terbuka lebar.
Di dalam celah itu, visualisasi tidak stabil mulai terbentuk. Cahaya di dalamnya memproyeksikan sebuah siluet yang sangat dikenal oleh Elian.
Jantung Elian seakan berhenti berdetak. Genggamannya pada senapan pulsa melemas.
"Papa..."
Sebuah suara anak kecil terdengar. Lemah, terdistorsi oleh efek Doppler temporal, namun sangat jelas di telinga Elian. Itu adalah suara Aria.
Di dalam retakan waktu yang bergoyang itu, tampak proyeksi holografik—atau mungkin manifestasi nyata—dari Aria yang berusia delapan tahun. Gadis kecil itu mengenakan gaun putihnya yang robek, terduduk di tengah reruntuhan fana koloni luar yang hancur bertahun-tahun lalu. Air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu kosmis. Ia tampak ketakutan, memeluk lututnya erat-erat sambil menatap lurus ke arah luar retakan.
"Papa... dingin di sini. Tolong Aria, Papa..."
"Aria?" Elian berbisik, seluruh tubuhnya gemetar. Langkah kakinya bergerak maju secara tidak sadar, keluar dari balik perlindungan konsol logam. "Aria... itu benar-benar kau?"
"Elian, jangan!" teriak Mara, mencoba menarik jaket Elian, namun Elian menepisnya dengan kasar. Matanya terpaku sepenuhnya pada proyeksi anak perempuannya yang telah lama tiang.
"Lihat dia, Elian," suara Vance kini melembut, dipenuhi racun simpati yang manipulatif. "Dia terjebak di dalam sisa-sisa garis waktu yang runtuh. Dia menunggumu selama ini. Setiap detik dalam siksaan ruang hampa. Aku bisa membawanya kembali ke sisimu. C**up satu tarikan tuas ini, dan mesin ini akan menstabilkan celah tersebut, menariknya ma**k ke masa kini."
Vance perlahan melangkah mundur dari konsol utama, memperlihatkan tuas aktivasi yang kini menyala merah siap sedia. "Ma**klah ke sini, Elian. Tarik tuasnya. Jadilah penyelamat putrimu. Akhiri rasa bersalah yang memakan jiwamu setiap malam."
Air mata Elian jatuh menetes ke lant** logam yang dingin. "Aria..." gumamnya lagi. Di dalam proyeksi itu, tangan mungil Aria terjulur ke depan, seolah mencoba menggapai tangan ayahnya melewati batas dimensi yang mustahil.
"Elian, sadarlah!" Mara berteriak histeris, berusaha menahan pundak Elian. "Itu bukan Aria! Itu hanya umpan balik temporal, proyeksi dari memori yang disimpan oleh mesin! Jika kau menarik tuas itu, reaksi berant** fusi kuantum akan menghancurkan sistem tata surya kita seketika!"
"Tapi dia memanggilku, Mara!" teriak Elian dengan nada frustrasi yang luar biasa, berbalik menatap Mara dengan mata merah penuh keputusasaan. "Dia ada di sana! Aku membiarkannya mati di koloni dulu! Aku berjanji akan melindunginya, dan aku gagal! Sekarang dia ada di depan mataku!"
"Papa... takut..." Suara Aria kembali terdengar, memotong perdebatan mereka, seolah-olah dia bisa mendengar percakapan itu.
"Elian, kumohon..." Mara memohon, namun suaranya tiba-tiba terputus oleh suara hantaman fisik yang keras.
Seorang prajurit taktis Vance yang tersisa berhasil memutari area konsol dan menyergap Mara dari belakang. Lengan kokoh prajurit itu mengunci leher Mara, sementara moncong pistol plasma dingin ditekan keras ke pelipis wanita itu. Mara terengah-engah, wajahnya memerah karena kehabisan napas, namun matanya tetap menatap Elian dengan keteguhan yang luar biasa.
"Lepaskan dia!" Elian langsung mengarahkan senapannya ke arah prajurit tersebut, namun Vance segera melangkah maju di dekat konsol dengan pistolnya sendiri yang membidik langsung ke kepala Mara dari jarak dekat.
"Keputusan ada di tanganmu, Elian," kata Vance dingin, hilangnya semua kehangatan palsu dari suaranya. "Tembak prajuritku, dan gadis ini mati. Abaikan aku, dan putrimu akan lenyap selamanya begitu celah ini menutup dalam waktu tiga puluh detik. Tarik tuas ini, dan kita semua mendapatkan apa yang kita inginkan."
Waktu seolah melambat hingga ke titik nadir. Suara dengungan mesin reaktor fusi terdengar seperti detak jantung raksasa yang sekarat. Di atasnya, proyeksi Aria mulai memudar, tubuh kecilnya perlahan menjadi transparan, terdisintegrasi oleh fluktuasi partikel kuantum.
"Papa... jangan tinggalkan Aria lagi..." tangis anak itu terdengar memilukan, menyayat relung jiwa Elian yang paling dalam.
Elian berdiri di persimpangan yang paling mengerikan dalam hidupnya. Di satu sisi, ada masa lalu yang begitu ia rindukan—kesempatan untuk menebus dosa terbesarnya, untuk memeluk kembali putri kecilnya yang tewas dalam pelukannya. Di sisi lain, ada Mara, wanita yang telah menemaninya menembus kegelapan ruang angkasa, berserta miliaran jiwa tak bersalah di seluruh sistem yang akan lenyap jika garis waktu dipaksakan runtuh.
Napas Mara tersengal-sengal di bawah cengkeraman ketat prajurit Vance, namun ia menggunakan sisa energinya untuk berteriak, mengabaikan moncong senjata yang siap meledakkan kepalanya kapan saja.
"Elian! Jangan pilih hantu masa lalu!" teriak Mara, suaranya parau namun penuh kekuatan. "Aria sudah pergi! Keberadaannya di sana adalah distorsi! Jika kau menyelamatkannya dengan menghancurkan masa depan, kau hanya akan membawanya ke dalam semesta yang mati! Pilih masa depan, Elian! Pilih kehidupan yang nyata, meskipun itu menyakitkan!"
Air mata Elian terus mengalir, membasahi pipinya yang kotor oleh jelaga pertarungan. Ia menatap proyeksi Aria yang semakin kabur, lalu beralih menatap Mara yang matanya memancarkan keyakinan mutlak tanpa ketakutan akan kematian.
Satu detik sebelum semesta padam, Elian menarik napas dalam-dalam, mengencangkan cengkeramannya pada senapan pulsa, dan mengambil keputusannya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!