Setiap Malam, Aku Memanggil Namanya Sendirian

Bab 1: Aturan Main di Atap yang Sama

Pengaturan Membaca

Satu, dua, tiga... g***, ini kardus kenapa nggak habis-habis sih?

Aku mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu mengembuskan napas panjang. Di sekelilingku, ruang tamu kontrakan baru kami masih berantakan setengah mati. Kardus-kardus instan, tumpukan baju yang belum ma**k lemari, sampai panci dan penggorengan yang entah kenapa bisa nyasar di atas meja TV.

"Makanya, punya tangan tuh dipake buat bantu angkat, bukan cuma buat megang spidol sambil bengong."

Suara berat dan datar itu terdengar dari arah pintu depan. Aku menoleh dan langsung menemukan sosok Adrian yang baru saja ma**k sambil memanggul kardus paling besar yang kami punya. Kaos hitam polosnya agak basah oleh keringat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang tegap karena hobi olahraganya yang nggak pernah absen. Rambut hitamnya yang biasanya rapi sekarang agak acak-acakan, tapi sialnya, cowok itu malah kelihatan sepuluh kali lipat lebih ganteng kalau berantakan begini.

"Gue nggak bengong, Ian! Gue lagi mikir, ini barang-barang kita mau ditaruh di mana lagi? Kamar kita kan kecil," protesku, berusaha menutupi rasa gugup yang tiba-tiba muncul cuma karena melihat lehernya yang berkeringat.

Adrian meletakkan kardus itu di lant** dengan bunyi *deb* yang c**up keras. Dia berdiri tegak, berkacak pinggang, lalu menatapku dengan mata elangnya yang dingin. "Kamar lo yang kecil karena barang lo kebanyakan. Baju segudang, padahal yang dipake itu-itu aja."

"Heh, itu namanya *fashion*, ya! Cowok cuek kayak lo mana paham," balasku sambil mengerucutkan bibir.

Adrian nggak membalas. Dia cuma mendengus pelan, lalu berjalan ke arah dispenser dan menuangkan air dingin ke dalam gelas. Dia meminumnya sampai tandas, menyisakan beberapa tetes air yang mengalir di sudut bibirnya—pemandangan yang sialnya membuat tenggorokanku mendadak ikut kering.

Aku cepat-cepat membuang muka. *Bahaya. Fokus, Clara, fokus.*

Kami berdua baru saja resmi menyandang status sebagai "teman satu atap". Keputusan ini diambil bukan karena kami punya hubungan spesial, melainkan murni karena urusan dompet. Biaya sewa kos di dekat kampus kami makin hari makin g***-g***an. Sebagai dua mahasiswa semester akhir yang isi rekeningnya sering sekarat, menyewa rumah kontrakan kecil dengan dua kamar dan membagi dua biayanya adalah solusi paling logis yang bisa kami temukan.

Apalagi, kami sudah bersahabat sejak zaman masih ingusan di taman kanak-kanak. Orang tua kami juga sudah saling kenal dan percaya penuh. Jadi, tinggal bareng rasanya aman-aman saja.

Atau paling tidak, begitulah pikir orang-orang. Mereka nggak tahu saja kalau setiap kali Adrian berada terlalu dekat, jantungku rasanya mau melompat keluar dari dada.

"Sini," panggil Adrian tiba-tiba. Dia sudah duduk lesehan di lant** ruang tamu yang bersih, di dekat kulkas satu pintu berwarna abu-abu yang kami beli patungan.

"Apa?" tanyaku sambil melangkah mendekat, masih memegang spidol hitam di tangan.

"Aturan main," kata Adrian singkat. Dia mengambil selembar kertas HVS kosong dari atas kardus terdekat, lalu menepuk lant** di sebelahnya. "Sini duduk. Kita harus buat kesepakatan tertulis sebelum mulai hidup bareng. Biar nggak ada drama di kemudian hari."

Aku menurut dan duduk bersila di sampingnya. Jarak kami dekat banget, sampai-sampai aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan aroma keringat tipis—kombinasi yang anehnya malah bikin kepalaku agak pusing karena terlalu suka.

"Oke, apa aturan pertamanya?" tanyaku, berusaha menjaga nada suaraku tetap sant** dan ceria.

Adrian merebut spidol dari tanganku. Jemari tangannya yang besar dan hangat sempat bersentuhan dengan kulitku selama sedetik, mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuatku refleks menarik tangan. Adrian sempat melirikku heran karena reaksiku yang berlebihan, tapi dia memutuskan untuk mengabaikannya.

Dia mulai menulis di kertas itu dengan tulisan tangannya yang rapi dan tegas.

*1. Bayar uang sewa dan tagihan listrik/air tepat waktu setiap tanggal 5 (50:50).*

*2. Piket bersih-bersih rumah gantian setiap minggu. Yang melanggar, denda cuci piring seminggu penuh.*

*3. Dilarang bawa teman lawan jenis menginap, kecuali kalau ada izin tertulis dan alasan darurat.*

"Gimana? Ada tambahan?" tanya Adrian sambil menoleh padaku. Jarak wajah kami sekarang cuma berkisar dua puluh sentimeter. Aku bisa melihat dengan jelas bulu mata hitamnya yang lentik dan iris matanya yang gelap gulita.

Aku menelan ludah dengan susah payah, lalu berdeham. "Uh... tambah satu lagi. Jangan pernah makan makanan gue di kulkas tanpa izin. Terutama yoghurt stroberi gue."

Adrian mendengus remeh, tapi dia tetap menulisnya.

*4. Dilarang menyentuh makanan Clara (terutama yoghurt stroberinya) tanpa izin.*

"Udah?" tanya Adrian lagi.

Aku mengangguk. "Kayaknya udah c**up sih. Simpel tapi jelas."

Namun, Adrian tidak langsung meletakkan spidolnya. Dia menatap kertas itu selama beberapa detik, tampak berpikir keras. Wajahnya yang biasanya datar kini terlihat luar biasa serius. Sesuatu di dalam kepalanya tampaknya sedang berkecamuk.

"Ada satu aturan lagi," katanya dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tegas. "Aturan paling penting. Dan ini nggak boleh dilanggar dalam keadaan apa pun."

Aku mengernyit heran. "Apaan?"

Adrian tidak langsung menjawab. Dia mendekatkan spidol ke kertas, lalu menulis kalimat terakhir dengan huruf kapital yang tebal di bagian paling bawah kertas tersebut.

*5. DILARANG KERAS SALING JATUH CINTA.*

Deg.

Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak selama satu detik penuh. Aku menatap tulisan tebal itu dengan mata terbelalak, lalu beralih menatap Adrian yang kini sedang memandangku lurus-lurus tanpa ekspresi.

"Kenapa... kenapa harus ada aturan itu?" tanyaku, berusaha mati-mati menjaga agar suaraku tidak bergetar.

"Gue nggak mau persahabatan kita hancur cuma karena perasaan impulsif yang nggak jelas," jawab Adrian dingin. "Kita tinggal di bawah atap yang sama sekarang, Clar. Interaksi kita bakal intens banget. Gue nggak mau ada kecanggungan, cemburu, atau drama romantis yang bisa ngerusak fokus kuliah kita. Jadi, batasan ini harus jelas dari awal."

Dia menatapku seolah ingin menembus langsung ke dalam pikiranku. "Lo bisa pegang aturan ini, kan?"

Aku memaksakan sebuah senyum lebar di wajahku, tawa kecil yang terdengar sangat palsu keluar dari tenggorokanku. "Ya ampun, Ian! Lo mikir sejauh itu? Hahaha, g*** ya. Mana mungkin gue jatuh cinta sama lo? Lo kan cowok paling menyebalkan sedunia. Tenang aja kali, selera gue bukan cowok kaku kayak lo."

Kaki tanganku rasanya dingin saat mengucapkan kalimat itu. Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan seumur hidupku.

Adrian tampak sedikit lega mendengarnya, meskipun matanya masih menyiratkan kewaspadaan. "Bagus kalau gitu. Karena kalau sampai salah satu dari kita melanggar... pelanggarnya harus langsung angkat kaki dari rumah ini saat itu juga."

"Oke, *deal*!" kataku cepat, sebelum air mataku yang tiba-tiba mendesak keluar sempat terlihat olehnya.

Adrian berdiri, membawa kertas itu ke arah kulkas, lalu menempelkannya di pintu kulkas menggunakan magnet berbentuk kepala kucing yang lucu. Kertas itu sekarang terpajang dengan jelas di sana, seperti sebuah peringatan bahaya berkadar tinggi yang terus-menerus berkedip di depan mataku.

"Gue mau mandi dulu," kata Adrian sambil berjalan menuju kamarnya. "Habis ini kita cari makan di luar. Lo jangan kelayapan sendirian, tungguin gue."

"Iya, bawel," sahutku pelan.

Begitu pintu kamar Adrian tertutup, aku langsung terduduk lemas di lant**. Aku menutup wajahku dengan kedua belah telapak tangan, mengembuskan napas yang terasa sangat berat.

*Dilarang keras saling jatuh cinta.*

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalaku seperti sebuah kutukan. Adrian benar-benar tidak tahu. Dia sama sekali tidak tahu kalau aturan itu sebenarnya sudah terlambat bagiku. Aku sudah melanggarnya bahkan jauh sebelum kami memutuskan untuk menyewa rumah ini bersama.

***

Malam harinya, udara di luar terasa sangat dingin setelah hujan deras mengguyur wilayah kampus kami sejak sore. Kami baru saja selesai makan malam di warung tenda dekat kontrakan dan sekarang sudah kembali ke dalam rumah.

Aku sedang berdiri di dapur, menyeduh segelas susu cokelat hangat untuk menenangkan diri, ketika tiba-tiba lampu di seluruh rumah padam sepenuhnya.

*Pet!*

Kegelapan total langsung menelan ruangan.

"Kyaaa!" aku m****ik pelan, refleks menjatuhkan sendok yang sedang kupegang ke lant** dengan bunyi dentang yang nyaring.

Aku benci gelap. Sangat benci. Trauma masa kecil saat terkunci di dalam gudang sekolah selalu membuatku panik setengah mati setiap kali lampu tiba-tiba mati. Napasku langsung memburu, dan dadaku terasa sesak.

"Clar? Clara! Lo di mana?"

Suara cemas Adrian terdengar dari arah ruang tamu. Detik berikutnya, aku mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat ke arah dapur. Cahaya senter dari ponselnya menembus kegelapan, bergoyang-goyang sebelum akhirnya terarah tepat ke wajahku yang pucat.

"Ian..." bisikku dengan suara gemetar, tubuhku sudah agak lemas dan bersandar pada meja dapur.

Dalam hitungan detik, Adrian sudah berada di depanku. Dia tidak ragu-ragu untuk langsung memegang kedua bahuku, menstabilkan tubuhku yang gemetar.

"Gue di sini. Tenang, Clar. Napas biasa," katanya dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan menenangkan—sangat berbeda dengan nada dinginnya yang tadi sore.

"Gelap, Ian... gue nggak suka," bisikku lagi, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Adrian menarikku ke dalam pelukannya. Dia mendekapku erat, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya yang hangat. Satu tangannya mengusap-usap punggungku dengan gerakan perlahan, sementara tangannya yang lain memegang ponsel untuk menerangi sekitar kami.

"Gue tahu. Makanya gue langsung ke sini. Lo aman sama gue," bisik Adrian tepat di atas kepalaku.

Aroma tubuhnya yang maskulin dan hangat langsung menguar, memenuhi seluruh inderaku. Detak jantungnya yang berdegup dengan ritme yang cepat dan konstan terdengar jelas di telingaku yang menempel di dadanya. Pelukan ini begitu protektif, begitu hangat, sampai-sampai membuatku lupa dengan rasa takutku pada kegelapan.

Namun di saat yang sama, rasa takut yang baru dan jauh lebih mengerikan justru muncul di dalam hatiku.

Rasa takut kalau aku tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari perasaan ini. Rasa takut kalau detak jantungku yang mengg*** sekarang bisa terdengar olehnya.

Aku meremas kaos hitam yang dipakainya, mencoba mencari pegangan di tengah badai emosi yang mengombang-ambingkanku. Di bawah atap yang sama ini, di tengah kegelapan yang menyiksa, aku menyadari satu hal yang teramat pahit.

Adrian merangkulku begitu erat untuk melindungiku, tapi di saat yang sama, dia juga yang membangun dinding pembatas paling tinggi di antara kami melalui aturan di pintu kulkas itu.

"Udah mendingan?" tanya Adrian setelah beberapa menit berlalu, suaranya terdengar agak serak dalam keheningan malam.

Dia sedikit merenggangkan pelukannya, membuatku terpaksa mendongak untuk menatap wajahnya yang hanya diterangi cahaya remang-remang pantulan senter ponsel dari dinding dapur. Jarak kami begitu dekat. Aku bisa merasakan embusan napas hangatnya menerpa wajahku. Matanya menatapku dengan tatapan yang begitu dalam, begitu intens, membuat pertahananku runtuh berkeping-keping.

Tangan Adrian bergerak naik, jemarinya yang hangat perlahan menyelipkan beberapa helai rambutku yang berantakan ke belakang telinga. Sentuhan lembut itu membuat seluruh tubuhku meremang. Untuk sesaat, aku melihat ada sesuatu yang lain di dalam matanya—sebuah riak emosi tersembunyi yang tidak bisa kubaca.

"Ian..." panggilku sangat pelan, hampir berupa bisikan yang tertelan angin malam.

Adrian menatap bibirku selama satu detik penuh, sebelum dia tiba-tiba tersadar. Matanya yang sempat melembut langsung berubah menjadi dingin dan tajam kembali. Dia melepaskan tangannya dari tubuhku, lalu melangkah mundur sejauh satu meter, menciptakan jarak yang sangat dingin di antara kami.

"Lampunya kayaknya mati karena sekringnya turun. Gue cek ke depan dulu," katanya dengan suara yang kembali datar dan kaku. Dia berbalik dengan cepat, meninggalkan aku sendirian di dapur yang kembali terasa sangat dingin dan hampa.

Aku menyentuh dadaku yang masih berdegup kencang, menatap punggungnya yang perlahan menghilang di kegelapan ruang tamu.

Aturan main itu... bagaimana mungkin aku bisa mematuhinya kalau setiap detik yang kuhabiskan bersamanya hanya membuatku makin tenggelam dalam perasaan yang dilarang ini?

Malam itu, setelah listrik kembali menyala, aku berbaring di tempat tidur kamarku yang sepi. Aku menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca, mendengarkan keheningan rumah baru kami. Di luar kamarku, sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki Adrian yang sedang memeriksa pintu depan untuk memastikan semuanya sudah terkunci dengan aman sebelum dia tidur—sebuah kebiasaan protektifnya yang selalu sukses membuat hatiku meleleh.

Aku memeluk gulingku erat-erat, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi bantal.

Di sinilah kisah kami dimulai. Di bawah atap yang sama, dengan aturan main yang kejam. Dan aku tahu, setiap malam mulai saat ini, aku hanya akan bisa melakukan satu hal dalam kesunyian kamarku.

Memanggil namanya sendirian, tanpa pernah berani membiarkannya mendengar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca