Setiap Malam, Aku Memanggil Namanya Sendirian

Bab 2: Ritual Sunyi di Bawah Selimut

Pengaturan Membaca

Aturan main yang ditulis Adrian malam itu sebenarnya simpel banget. Cuma ada tiga poin utama yang ditulisnya dengan spidol hitam tebal di atas kertas HVS.

*Satu: Biaya listrik, air, dan wifi dibagi dua rata setiap tanggal satu.*

*Dua: Jadwal piket bersih-bersih rumah gantian setiap minggu. Yang melanggar denda sepuluh ribu per hari.*

*Tiga: Jaga privasi masing-masing. Dilarang ma**k kamar satu sama lain tanpa izin, dan dilarang bawa pacar atau lawan jenis buat menginap.*

"Poin ketiga itu khusus buat lo," kata Adrian sambil menempelkan kertas itu di pintu kulkas menggunakan magnet berbentuk kepala beruang. Dia berbalik, melipat tangan di dada sambil menatapku datar. "Gue nggak mau tidur gue keganggu karena lo sibuk pacaran atau telponan sampai pagi di ruang tengah."

Aku mencibir, melempar bantal sofa kecil ke arahnya, yang dengan mudah ditangkap oleh Adrian dengan satu tangan. "Heh! Yang punya pacar tuh lo, ya, bukan gue! Lagian gue kan jomblo terhormat. Lo tuh yang harusnya dilarang bawa cewek ke sini."

Adrian meletakkan bantal itu kembali ke sofa. Sudut bibirnya terangkat tipis, hampir nggak kelihatan kalau aku nggak memperhatikannya dengan lekat. "Gue nggak punya pacar, Clara. Dan gue nggak minat bawa cewek mana pun ke rumah ini."

"Masa? Kak Tasya anak FISIP yang kemarin gelayutan di lengan lo itu apa kabar?" tembakku langsung, agak sengit. Aku sendiri kaget dengan nada suaraku yang terdengar cemburu.

Adrian cuma menaikkan sebelah alisnya. "Dia cuma minta tolong ajarin statistik. Nggak usah bahas yang nggak penting. Sekarang, ma**k kamar lo. Udah jam sebelas lewat. Besok kita ada kelas pagi."

Dia langsung berbalik, berjalan menuju kamarnya yang terletak tepat di sebelah kamarku. Pintu kayu berwarna cokelat tua itu tertutup dengan bunyi *klik* yang pelan, menyisakan aku sendirian di ruang tamu yang masih setengah berantakan.

Aku menghela napas panjang, mengusap wajahku dengan kedua tangan. Jantungku baru bisa berdetak dengan normal setelah sosoknya hilang dari pandangan. Tinggal bareng Adrian ternyata jauh lebih menguras emosi daripada yang kubayangkan. Baru hari pertama saja, aku sudah merasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Dengan langkah gont**, aku ma**k ke dalam kamarku. Kamar ini berukuran tiga kali tiga meter, c**up untuk satu ka**r ukuran *single*, sebuah lemari pakaian plastik, dan meja belajar kecil. Kamarku dan kamar Adrian hanya dibatasi oleh tembok batako yang tidak terlalu tebal. Kalau suasana benar-benar sepi, aku bahkan bisa mendengar sayup-sayup suara kipas angin dari kamarnya.

Aku mengganti pakaianku dengan kaos kebesaran berwarna abu-abu yang sudah tipis dan celana pendek longgar. Setelah mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur kecil di sudut meja, aku merebahkan diri di atas ka**r yang masih berbau toko.

Tapi, mataku sama sekali nggak mau terpejam.

Udara malam itu terasa gerah, padahal kipas angin di kamarku sudah berputar di kecepatan maksimal. Pikiran-pikiranku mulai melayang bebas, melompati batas-batas waras yang selama ini mati-matian kujaga.

Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan Adrian yang berkeringat tadi sore langsung muncul di kepala. Cara kaos hitamnya menempel ketat di dadanya yang bidang, urat-urat yang menonjol di lengan bawahnya saat dia mengangkat kardus berat, hingga tetesan air dingin yang mengalir perlahan dari sudut bibirnya, turun ke leher, lalu hilang di balik kerah kaosnya.

*Sial.* Aku berguling ke kanan, memeluk guling erat-erat. *Kenapa otak gue malah mikir yang aneh-aneh sih?*

Aku mencoba memikirkan hal lain. Tugas kuliah, dosen pembimbing yang menyebalkan, atau tagihan air bulan depan. Tapi sia-sia. Bayangan Adrian seperti hantu yang menolak pergi dari kepalaku. Malah, bayangan itu semakin liar.

Aku membayangkan bagaimana rasanya jika tangan besar Adrian yang biasanya dingin itu menyentuh kulitku. Bagaimana rasanya jika bibir tipis yang selalu mengeluarkan kata-kata datar itu berbisik lembut di telingaku, mengucapkan namaku dengan nada yang berbeda. Bukan nada bosan atau kesal, melainkan nada penuh gairah.

Perut bagian bawahku mendadak terasa melilit, menghadirkan rasa hangat yang asing sekaligus menuntut. Aku merapatkan kedua paha, meraba dadaku sendiri yang detak jantungnya kini sudah berpacu cepat. Napas yang kukeluarkan terasa lebih panas dari biasanya.

"G***... lo bener-bener g***, Clara," bisikku pada diri sendiri, suaraku terdengar serak di tengah kesunyian kamar.

Rasa frustrasi yang terpendam selama berbulan-bulanβ€”mungkin bertahun-tahun sejak aku menyadari aku jatuh cinta pada sahabat masa kecilku sendiriβ€”malam ini memuncak. Jarak yang begitu dekat, hanya terpisah satu sekat tembok, membuat pertahananku runtuh sepenuhnya.

Dengan gerakan lambat dan gemetar, aku menarik selimut tebal bermotif bunga-bunga sampai sebatas dada, menyembunyikan seluruh tubuhku di bawah kegelapan kain itu. Di bawah lindungan selimut, aku merasa aman. Seolah-olah dunia luar, terma**k Adrian yang berada di balik tembok sana, tidak akan pernah bisa melihat sisi diriku yang paling kotor dan memalukan ini.

Aku mema**kkan satu tangan ke dalam kaosku, menyentuh kulit perutku yang hangat, lalu perlahan bergerak naik. Sentuhanku sendiri terasa asing, namun di saat yang sama mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuatku menahan napas. Aku memejamkan mata erat-erat, membiarkan fantasi itu mengambil alih kesadaranku sepenuhnya.

Di dalam kepalaku, sentuhan ini bukan milikku. Ini adalah tangan Adrian.

Tangan Adrian yang kasar namun hangat, merayap di atas tubuhku, menuntut dan mendominasi. Aku membayangkan dia berada di atasku, menatapku dengan mata elangnya yang kini berubah gelap oleh gairah yang sama.

"Ian..."

Nama itu lolos begitu saja dari bibirku, berupa bisikan yang sangat tipis, hampir tenggelam oleh suara putaran baling-baling kipas angin. Menyebut namanya membuat sensasi di bawah sana menjadi sepuluh kali lipat lebih intens.

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat sampai terasa agak perih, berusaha mati-matian menahan suara apa pun agar tidak keluar dari tenggorokanku. Kamar ini terlalu sunyi, dan aku tahu seberapa tipis tembok yang memisahkan kami. Kalau aku mengeluarkan suara sedikit saja yang terlalu keras, Adrian bisa mendengarnya. Pikiran itu membuatku ketakutan setengah mati, namun di sisi lain, rasa takut ketahuan itu justru memicu adrenalin yang membuat tubuhku semakin sensitif.

Tanganku bergerak semakin intim, mengikuti ritme napasku yang kian memburu. Setiap sentuhan terasa seperti siksaan yang manis. Aku melengkungkan punggungku sedikit, meremas ujung bantal dengan tangan satunya yang bebas, mencari pegangan di tengah badai sensasi yang mulai menguasai diriku.

Di bawah selimut yang pengap dan hangat itu, aku sepenuhnya menyerah.

*Kenapa lo nggak pernah peka, Ian? Kenapa lo selalu natap gue seolah gue cuma bocah ingusan yang harus lo jagain?*

Pikiran-pikiran sedih itu bercampur aduk dengan gairah yang membakar. Rasa sakit karena cinta bertepuk sebelah tangan ini mengkristal menjadi kebutuhan fisik yang mendesak untuk diselesaikan. Aku menginginkannya. Sangat menginginkannya sampai dadaku terasa sesak.

"Adrian... please..."

Aku berbisik lagi, kali ini dengan air mata yang mulai menggenang di sudut mataku. Nama itu adalah mantraku, sekaligus kutukanku. Aku memanggil namanya di dalam kegelapan, memohon pada bayangan semu yang kuciptakan sendiri di dalam kepala.

Gerakanku menjadi lebih cepat, didorong oleh ketegangan yang sudah mencapai batas maksimal. Seluruh tubuhku menegang, otot-otot paha dan perutku mengetat saat gelombang kehangatan yang luar biasa mulai menjalar dari pusat tubuhku, menyebar ke seluruh ujung saraf.

Aku menyembunyikan wajahku di bantal, menggigit kain sarung bantal itu erat-erat saat pelepasan itu akhirnya datang, menyentak tubuhku dalam beberapa detakan yang intens. Napasku tersengal-sengal di balik bantal, tubuhku bergetar pelan saat ketegangan itu perlahan-lahan mencair, meninggalkan rasa lemas yang luar biasa di sekujur tubuh.

Aku membiarkan tanganku diam di sana selama beberapa saat, mendengarkan suara detak jantungku yang berdentum keras di dada, seperti habis berlari maraton.

Perlahan, aku menarik tanganku keluar dari balik selimut. Udara dingin kamar yang langsung menerpa kulitku membuatku sedikit menggigil. Di bawah temaram lampu tidur, aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Air mata yang tadi sempat tertahan kini mengalir perlahan melewati pelipis, membasahi bantal yang kupeluk.

Rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya digantikan oleh rasa malu dan bersalah yang teramat sangat.

Aku melihat ke arah tembok di sebelah ka**rku. Di balik tembok itu, Adrian mungkin sedang tertidur lelap, bermimpi tentang hal-hal normal, sama sekali tidak tahu kalau di kamar sebelah, sahabatnya baru saja melakukan hal sehina ini sambil meneriakkan namanya dalam diam.

*Gue bener-bener menjijikkan.*

Aku membalikkan tubuh menghadap tembok, meringkuk seperti janin, lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalaku. Aku memeluk diriku sendiri erat-erat di dalam kegelapan yang sunyi.

Ini adalah rahasiaku yang paling gelap. Sebuah ritual sunyi yang kulakukan demi bertahan hidup di samping cowok yang kucint**, namun nggak akan pernah bisa kumiliki. Dan malam ini, di rumah kontrakan baru kami, aku tahu ritual ini baru saja dimulai. Aku hanya bisa berharap, tembok tipis ini c**up kuat untuk menyembunyikan seluruh keg***anku dari Adrian.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca