Setiap Malam, Aku Memanggil Namanya Sendirian

Bab 3: Pintu yang Lupa Dikunci

Pengaturan Membaca

Dua minggu setelah malam kesepakatan itu, hidup satu atap dengan Adrian ternyata jauh lebih menyiksa dari yang pernah kubayangkan.

Setiap hari aku harus memasang topeng "teman biasa" atau "sahabat masa kecil" yang menyebalkan di depannya. Aku harus biasa saja saat melihat dia memakai kaos dalam tipis ketika menyeduh kopi di pagi hari. Aku harus biasa saja saat dia mengacak rambutku karena aku kalah main game. Dan yang paling parah, aku harus pura-pura nggak peduli saat dia pulang telat karena ada urusan kampus yang aku curigai melibatkan perempuan lainβ€”seperti Kak Tasya, atau siapa pun itu.

Malam ini, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Adrian belum juga pulang.

Aku duduk di ruang tengah dengan televisi yang menyala tanpa suara. Ponsel di genggamanku kosong, nggak ada chat ma**k dari Adrian. Logika di kepalaku menyuruhku untuk ma**k kamar dan tidur, tapi hatiku menolak. Aku gelisah. Dada rasanya sesak oleh rasa cemburu yang nggak punya hak untuk disuarakan.

Sampai akhirnya, terdengar suara gerbang luar dibuka, disusul deru halus mesin motor Adrian yang mema**ki halaman.

Panik mendadak menyerangku. Aku nggak mau Adrian tahu kalau aku sengaja menunggunya pulang sampai dilarut malam begini. Dia pasti akan curiga, atau lebih buruk lagi, mengira aku terlalu mencampuri urusannya.

Dengan terburu-buru, aku mematikan televisi, menyambar ponselku, dan setengah berlari menuju kamar. Aku ma**k ke dalam, mendorong pintu kayu itu dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan apakah pintunya sudah tertutup rapat atau belum. Pikiranku terlalu kacau untuk menyadari kalau lidah kunci pintu kamarku tidak benar-benar ma**k ke dalam slotnya. Pintu itu hanya merapat, menyisakan celah sekian milimeter, dan sama sekali belum terkunci.

Aku langsung mengempaskan tubuhku ke atas ka**r, menarik selimut sampai ke dada, dan memejamkan mata erat-erat.

Di luar, aku mendengar suara pintu depan dikunci, disusul langkah kaki Adrian yang pelan menaiki tangga dan berjalan di koridor. Langkah kakinya sempat berhenti di depan pintuku selama beberapa detik. Jantungku berdegup kencang, takut dia mengetuk pintu. Tapi untungnya, langkah kaki itu kembali terdengar, berjalan menjauh menuju kamarnya sendiri.

Aku menghela napas lega, tapi rasa sesak di dadaku belum juga hilang.

Udara malam ini terasa sangat gerah, membuat kaos kebesaran yang kupakai terasa menempel tidak nyaman di kulitku. Aku menyalakan kipas angin ke kecepatan maksimal, tapi rasa panas itu seolah tidak berasal dari luar, melainkan dari dalam tubuhku sendiri.

Pikiranku kembali melayang pada Adrian. Bayangan wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh, dan matanya yang selalu menatapku dengan datar namun intens, mendadak memenuhi kepalaku. Aku teringat bagaimana siang tadi dia membantuku mengambil buku di rak teratas perpustakaan. Tubuhnya yang tinggi sempat merapat di belakangku, menyisakan jarak yang begitu tipis hingga aku bisa menghirup aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan wangi sabun yang segar.

Sentuhan tidak sengaja itu... membuat seluruh tubuhku meremang bahkan sampai detik ini.

"Adrian..." gumamku lirih, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Rasa rindu yang terlarang ini perlahan-lahan berubah menjadi letupan hasrat yang tidak bisa kubendung lagi. Setiap malam aku menahannya sendirian, berpura-pura tegar di depannya, padahal aku menginginkannya lebih dari apa pun.

Tanganku bergerak perlahan, menyusup ke balik kaos abu-abuku yang longgar, menyentuh kulit perutku yang hangat. Sentuhan jariku sendiri terasa asing, tapi membayangkan bahwa itu adalah tangan hangat Adrian membuatku gemetar. Aku memejamkan mata, membiarkan imajinasiku liar bekerja.

Dalam kegelapan di balik kelopak mataku, aku membayangkan Adrian yang sedang menyentuhku. Aku membayangkan jemari kasarnya membelai pinggangku, naik ke dadaku, dan membisikkan kata-kata manis yang tidak akan pernah dia ucapkan di dunia nyata.

"Ah..." Satu desahan lolos dari bibirku saat jemariku bergerak lebih jauh ke bawah, menyelinap ke dalam celana pendekku.

Tubuhku melengkung pelan di atas ka**r. Rasa hangat yang menjalar di area sensitifku membuatku kehilangan akal sehat. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba meredam suara yang keluar, tapi rasa frustrasi dan kenikmatan yang bercampur menjadi satu membuat pertahananku runtuh.

Setiap sentuhan yang kuberikan pada diriku sendiri terasa seperti siksaan sekaligus pelepasan yang menyenangkan. Aku berguling menyamping, meremas seprai ka**r dengan satu tangan yang bebas, sementara tangan lainnya terus bergerak dengan ritme yang semakin cepat.

"Adrian... hnghh, Adrian..."

Aku memanggil namanya. Berulang kali. Suaraku terdengar begitu putus asa, parau, dan dipenuhi oleh damba yang mendalam. Di kamar yang sunyi ini, hanya ada suara deru kipas angin dan desahan napasku yang memanggil nama cowok yang kamarnya hanya dibatasi oleh satu sekat tembok batako.

Aku tidak tahu, dan sama sekali tidak menyadari, kalau di luar sana, pintu kamarku yang tidak terkunci rapat perlahan bergeser terbuka karena embusan angin kencang dari jendela ruang tengah yang lupa ditutup.

***

Sementara itu, Adrian baru saja selesai memba**h wajahnya di kamar mandi. Dia merasa sangat lelah setelah seharian berada di kampus untuk menyelesaikan laporan praktikum. Namun, saat berjalan kembali ke kamarnya, dia melihat seberkas cahaya kuning dari lampu tidur Clara yang memantul ke lant** koridor.

Adrian mengernyitkan dahi. Dia mendekat, berniat untuk merapatkan pintu kamar Clara karena mengira gadis itu lupa menutupnya saat tidur. Adrian tahu Clara sering ceroboh, tapi malam ini kecerobohan Clara benar-benar di luar dugaan.

Saat jaraknya tinggal dua langkah dari pintu, Adrian mendengar sesuatu.

Suara desahan halus, napas yang memburu, dan gesekan kain seprai yang gelisah.

Langkah kaki Adrian langsung terhenti. Seluruh tubuhnya menegang. Sebagai cowok normal berusia dua puluh satu tahun, dia langsung tahu suara apa itu. Logikanya menyuruhnya untuk segera berbalik dan kembali ke kamarnya, menghormati privasi Clara sesuai dengan aturan nomor tiga yang dia tulis sendiri.

Namun, sebelum dia sempat melangkah mundur, suara desahan itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan disert** sebuah nama yang membuat jantung Adrian serasa berhenti berdetak.

"Adrian... ah, hhh... Adrian..."

Napas Adrian tercekat di tenggorokan. Matanya melebar karena terkejut. Apakah dia salah dengar? Apakah Clara baru saja memanggil namanya?

Seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata yang tidak bisa dia lawan, Adrian melangkah maju satu tapak. Dia menatap melalui celah pintu yang terbuka selebar telapak tangan. Dan di sana, di bawah temaram lampu tidur berwarna kuning hangat, Adrian menyaksikan pemandangan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

Clara sedang berbaring di atas ka**r, dengan kaos abu-abunya yang tersingkap ke atas, menampilkan lekuk pinggangnya yang ramping. Rambut panjangnya berantakan di atas bantal, matanya terpejam rapat dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh perpaduan antara rasa sakit dan nikmat yang luar biasa.

Tangan Clara yang gemetar berada di balik celananya, bergerak aktif di sana, sementara kakinya sedikit menekuk, saling bergesekan gelisah.

"Adrian... tolong... hnghh..." Clara mendesah lagi, kepalanya mendongak ke belakang, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang dan berkeringat.

Adrian terpaku di tempatnya berdiri. Pandangan matanya seolah terkunci pada sosok Clara yang sedang berada di puncak pelepasan hasratnya. Dadanya bergemuruh hebat, detak jantungnya berpacu begitu cepat hingga rasanya mau melompat keluar. Ada rasa bersalah yang teramat sangat karena mengintip, tapi di saat yang sama, ada gejolak aneh yang mendadak membakar bagian bawah perutnya.

Melihat bagaimana Clara, gadis yang selama ini selalu bersikap ketus dan gengsi di depannya, kini sedang menyentuh dirinya sendiri sambil mendesahkan namanya dengan begitu putus asa... membuat akal sehat Adrian menguap seketika.

Wajah Adrian terasa panas. Dia bisa melihat bagaimana tubuh Clara menegang, jemarinya bergerak semakin intens, sebelum akhirnya gadis itu m****ik pelan dengan napas yang terputus-putus, tubuhnya bergetar hebat saat mencapai puncaknya.

"Adrian...!"

Suara desahan terakhir Clara terdengar seperti sebuah pengakuan dosa yang paling jujur.

Clara terkulai lemas di atas ka**rnya, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat saat dia mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat hilang. Dia menarik tangannya dari balik celana, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan air mata frustrasi yang mengalir di sudut matanya.

Di ambang pintu, Adrian mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia mundur satu langkah dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Kepalanya terasa pening, dipenuhi oleh kepulan asap gairah dan keterkejutan yang luar biasa.

Clara... menyukai dirinya?

Bukan hanya menyukai, tapi gadis itu menginginkannya sampai sejauh ini.

Dengan napas yang masih memburu dan jantung yang berdebar tidak karuan, Adrian berbalik arah. Dia berjalan cepat menuju kamarnya sendiri, menutup pintu dengan rapat, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu tersebut.

Adrian memejamkan mata erat-erat, tapi bayangan tubuh Clara yang meliuk di atas ka**r dan suara desahan Clara yang memanggil namanya dengan begitu s**** sekaligus putus asa justru semakin terpatri jelas di benaknya.

Malam itu, di kamar masing-masing yang hanya dibatasi oleh dinding tipis, baik Clara maupun Adrian sama sekali tidak bisa memejamkan mata hingga pagi menjelang. Dan satu hal yang pasti, setelah malam ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi di antara mereka.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca