Setiap Malam, Aku Memanggil Namanya Sendirian

Bab 4: S****an Pagi yang Mencekam

Pengaturan Membaca

Bab 4: S****an Pagi yang Mencekam

Sinar matahari pagi yang menerobos ma**k lewat celah gorden dapur biasanya terasa hangat dan menenangkan. Tapi pagi ini, entah kenapa, cahayanya justru terasa menyilaukan dan membuat kepalaku sedikit pening.

Aku menghela napas panjang, berusaha mengusir sisa-sisa rasa cemas yang menggelayuti dadaku sejak semalam. Sambil memegang pisau roti, aku mengoleskan selai cokelat ke atas selembar roti tawar dengan gerakan seadanya.

*Aman, Clara. Lo aman,* bisikku dalam hati, mencoba menenangkan diri sendiri.

Semalam emang ceroboh banget. Bisa-bisanya aku nggak menutup pintu kamar dengan rapat sampai menyisakan celah. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, Adrian pasti langsung ma**k ke kamarnya sendiri begitu naik tangga. Cowok cuek kayak dia mana mungkin peduli dengan pintu kamarku yang sedikit terbuka? Dia pasti terlalu capek setelah pulang larut malam—entah dari mana dan dengan siapa.

Ya, dia nggak bakal tahu kalau aku belum tidur semalam. Dia nggak bakal tahu kalau aku nungguin dia pulang sambil menahan sesak di dada. Rahasiaku aman.

Terdengar langkah kaki yang berat namun sant** menuruni anak tangga spiral di ruang tengah. Jantungku refleks berdegup sedikit lebih cepat. Aku segera memasang senyum paling ka**al yang kupunya, bersiap menyapa Adrian seperti biasa. Topeng "sahabat masa kecil yang menyebalkan" harus terpasang dengan sempurna pagi ini.

Adrian muncul di ambang pintu dapur.

Dia cuma memakai kaos dalam putih polos—singlet yang pas di tubuh tegapnya—dan celana pendek abu-abu. Rambut hitamnya masih berantakan khas orang baru bangun tidur, tapi anehnya, penampilannya yang acak-acakan itu justru berkali-kali lipat lebih meresahkan dari biasanya. Aroma sabun mint maskulin langsung menguar, memenuhi area dapur yang sempit.

"Pagi, Yan," sapaku seceria mungkin, tanpa menghentikan aktivitasku mengoles roti. "Roti cokelat kayak biasa, kan? Kopi lo udah gue seduh tuh di meja."

Nggak ada jawaban.

Biasanya, Adrian cuma bakal bergumam malas, atau langsung menyambar gelas kopinya sambil mengecek ponsel. Tapi pagi ini, sunyi.

Aku mengerutkan kening dan menoleh. Ternyata, Adrian belum bergeser dari posisinya di dekat kulkas. Dia berdiri tegak, bersandar pada pintu kulkas yang tertutup dengan kedua tangan bersendekap di dada.

Dan matanya... menatapku.

Bukan tatapan sekilas yang biasa dia berikan kalau lagi malas bicara. Kali ini, sepasang manik mata hitam pekat itu menatapku dengan sangat intens. Tajam, dalam, dan seolah-olah sedang menguliti isi kepalaku. Ada seringai tipis—sangat tipis, hampir tak kentara—di sudut bibirnya.

Bulu kudukku tiba-tiba meremindang.

"Kenapa?" tanyaku, berusaha menutupi rasa gugup dengan nada ketus yang dibuat-buat. "Muka gue ada coretan spidol ya? Atau selai cokelatnya belepotan di pipi gue?"

Adrian masih diam selama beberapa detik, membiarkan keheningan di antara kami terasa semakin mencekam. Akhirnya, dia mulai melangkah mendekat. Pelan, sangat pelan, seolah sengaja ingin membuatku tersiksa oleh antisipasi.

"Nggak," jawabnya pendek. Suaranya serak khas bangun tidur, berat dan terdengar begitu rendah di telingaku. "Muka lo bersih."

Dia berhenti tepat di seberang meja konter dapur, hanya terhalang oleh meja marmer yang memisahkan kami. Jarak kami begitu dekat sampai aku bisa melihat dengan jelas bagaimana dadanya naik turun saat bernapas.

"Terus kenapa lo liatin gue kayak mau makan orang gitu?" aku mendengus, mencoba tertawa kecil walau terdengar sangat hambar. Aku meletakkan pisau roti dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menyodorkan piring berisi roti cokelat ke arahnya. "Nih, makan. Biar otak lo rada beneran dikit."

Adrian menatap piring roti itu, lalu kembali menatap mataku. Dia tidak menyentuh roti itu sama sekali. Alih-alih, dia malah meraih cangkir kopinya, menyesapnya perlahan tanpa sedetik pun melepaskan pandangannya dariku.

"Tidur lo nyenyak semalam, Ra?" tanya Adrian sant**. Terlalu sant**.

Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. Aku menelan ludah dengan susah payah. "Ny-nyenyak lah. Kenapa emang?"

"Oh, kirain enggak." Adrian meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja dengan bunyi ketukan yang pelan namun terasa dramatis. Dia memajukan tubuhnya sedikit, menumpu kedua sikunya di atas meja konter, membuat wajahnya kini sejajar denganku. "Soalnya semalam... kayaknya ada yang sibuk banget di dalam kamarnya."

"Maksud lo apa sih? Gue langsung tidur setelah lo pulang," jawabku cepat, mungkin terlalu cepat sampai terdengar seperti orang yang sedang membela diri.

Adrian menaikkan satu alisnya. Tatapan matanya yang mengintimidasi itu membuatku merasa seperti terdakwa yang sedang disidang di ruang pengadilan.

"Langsung tidur ya?" dia mengulang kalimatku, nadanya terdengar sangat menyebalkan sekaligus misterius. "Tapi kok pintu kamar lo semalam nggak tertutup rapat, Ra? Malah kebuka dikit."

Deg.

Seluruh darah di tubuhku rasanya mendadak surut ke kaki. Tanganku yang memegang pinggiran wastafel terasa dingin seketika. Aku menatap Adrian dengan mata membelalak, berusaha mencari tahu seberapa banyak yang dia ketahui.

"P-pintu kamar gue?" aku terbata-bata, merutuki kebodohanku yang langsung menunjukkan kepanikan. "Ah... masa sih? Mungkin tiupan angin dari kipas angin di dalam kamar. Lo tahu sendiri kan kipas angin gue kalau dinyalain nomor tiga kencang banget."

Adrian terkekeh pelan. Tapi kekehan itu sama sekali tidak terdengar ramah. Itu adalah jenis tawa meremehkan yang membuatku ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga.

"Angin ya?" Adrian menegakkan tubuhnya, lalu berjalan memutari meja konter.

Langkah kakinya yang sant** terasa seperti detak jam dinding yang menghitung mundur waktu kematianku. Aku refleks melangkah mundur sampai punggungku membentur lemari dapur di belakangku. Aku terpojok.

Adrian berhenti tepat di depanku. Dia sangat tinggi, membuatku harus mendongak untuk menatap wajahnya. Dia menunduk, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma kopi dan mint dari napasnya. Salah satu tangannya terangkat, bertumpu pada lemari di samping kepalaku, mengunci pergerakanku sepenuhnya.

"Ra," panggilnya, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang sangat rendah, hampir seperti desisan yang membuat merinding. "Kipas angin lo itu bisa ngomong juga?"

"Lo... lo ngomong apaan sih, Yan? Nggak jelas banget!" aku mencoba mendorong dadanya, tapi tubuh Adrian sekeras batu. Dia bahkan tidak bergemerincing sedikit pun.

"Semalam, pas gue lewat depan kamar lo," Adrian menjeda kalimatnya, matanya menatap bibirku sekilas sebelum kembali mengunci mataku. "Gue denger ada suara dari dalam. Suaranya pelan, kayak orang lagi gelisah. Tapi gue bisa denger dengan jelas."

Aku menahan napas. Tenggorokanku terasa sangat kering, sampai-sampai untuk menelan ludah pun rasanya sakit.

*Jangan bilang... jangan bilang gue ngelindur semalam?* pikiranku mulai traveling ke mana-mana. Apa aku menyebut namanya? Apa aku membisikkan sesuatu yang memalukan saat aku membayangkan sentuhannya semalam?

"Gue denger... ada yang manggil nama orang," lanjut Adrian dengan nada yang sangat provokatif. Seringai di wajahnya kini terlihat lebih jelas, sangat menyebalkan tapi juga sangat s**** di saat yang bersamaan. "Manggilnya berulang kali. Lembut banget, kayak lagi kangen... atau lagi ngarepin sesuatu."

"Yan, stop!" aku memotong ucapannya dengan panik, wajahku pasti sudah merah padam sekarang. "Gue... gue emang suka ngelindur kalau kecapekan! Itu biasa! Paling gue lagi mimpiin tugas kuliah atau... atau mimpi buruk!"

"Mimpi buruk?" Adrian mendekatkan wajahnya lagi, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter dari telingaku. Hembusan napas hangatnya menyapu kulit leherku, membuat bulu kudukku meremindang hebat. "Masa mimpi buruk manggil nama gue?"

*Mampus.*

Duniaku rasanya runtuh seketika. Kata-kata Adrian barusan seperti bom yang meledak tepat di depan wajahku.

Aku mematung. Seluruh argumen dan kebohongan yang sudah kususun di kepala menguap begitu saja. Jantungku berpacu sangat cepat, sampai aku takut Adrian bisa mendengar detaknya yang mengg*** di dalam dadaku.

"Gue... gue nggak..." suaraku tercekat di tenggorokan. Aku tidak bisa menemukan satu kata pun untuk menyangkalnya.

Adrian menarik kembali kepalanya, menatapku yang kini sudah pucat pasi dan gemetar. Bukannya kasihan, tatapan matanya justru terlihat semakin puas melihatku tersudut seperti ini. Dia menikmati kepanikanku. Dia menikmati bagaimana dia memegang kendali penuh atas diriku pagi ini.

Dia mengulurkan tangannya yang bebas, lalu dengan sangat pelan, jemarinya menyelipkan seunt** rambutku yang berantakan ke belakang telinga. Sentuhan jarinya yang hangat di kulit leherku membuatku tersentak kaget, tapi aku tidak bisa bergerak.

"Kira-kira... kenapa ya lo manggil nama gue semalam, Ra?" bisik Adrian lagi, kali ini nadanya terdengar sangat mengintimidasi sekaligus menggoda. "Lo lagi mimpiin gue? Mimpiin yang kayak gimana?"

Aku mengepalkan kedua tanganku di sisi tubuh, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku yang sudah tercecer di lant**. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Kalau aku mengaku sekarang, semuanya akan hancur. Hubungan pertemanan kami, kesepakatan tinggal bersama ini, semuanya akan berakhir kacau.

"Itu... itu cuma kebetulan!" jawabku dengan suara bergetar, mencoba menatap matanya dengan berani walau mataku mulai berkaca-kaca karena panik. "Gue... gue semalam emang kesel sama lo karena lo pulang telat! Makanya terbawa mimpi! Gue pasti lagi marahin lo di dalam mimpi gue!"

Adrian terdiam sebentar, menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Jarinya yang tadi berada di dekat telingaku kini turun, mengusap pelan rahangku sebelum akhirnya dia menarik tangannya kembali.

Dia melangkah mundur satu langkah, memberiku ruang untuk bernapas lega. Tapi ketegangan di udara sama sekali tidak berkurang.

"Marahin gue ya?" Adrian bergumam, lalu mengambil roti cokelat dari piring yang tadi kusodorkan. Dia menggigitnya sedikit, mengunyahnya dengan sant** seolah baru saja tidak membuatku hampir mati terkena serangan jantung.

Dia berjalan kembali ke tempat duduknya, lalu berbalik menatapku sambil mengunyah rotinya.

"Alibi yang bagus, Clara," ucapnya dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Dia tersenyum miring. "Tapi sayang, nada suara lo semalam sama sekali nggak kedengaran kayak orang lagi marah."

Aku hanya bisa terdiam membeku di posisiku, memandangi Adrian yang kini dengan sant** melanjutkan s****annya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Sikap dingin dan cueknya yang biasa kini terasa jauh lebih menakutkan karena sekarang aku tahu, di balik sikap tidak pedulinya itu, Adrian memperhatikan setiap det**l kecil tentang diriku. Dan yang paling buruk dari semuanya... dia sekarang tahu kalau setiap malam, di dalam kamarku yang sunyi, aku memanggil namanya sendirian.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca