Setiap Malam, Aku Memanggil Namanya Sendirian

Bab 5: Sudut Sempit di Dapur

Pengaturan Membaca

...membuatku mati berdiri karena ketakutan.

Setiap derap langkah Adrian terdengar begitu nyaring di telingaku, seolah berdentang langsung di dalam dada. Aku meremas pisau roti di genggamanku kencang-kencang, mencari pegangan agar lututku yang mendadak lemas tidak membuatku ambruk ke lant** dapur saat ini juga.

"Yan, lo... lo mau ngapain sih?" tanyaku, mencoba tertawa kecil. Tapi yang keluar malah suara cicitan sumbang yang terdengar sangat menyedihkan.

Adrian nggak menjawab. Langkah kakinya baru berhenti tepat ketika ujung sandal rumahnya menyentuh ujung kakiku. Jarak di antara kami terkikis habis. Aroma mint segar khas sabun mandinya bercampur dengan wangi kopi panas yang baru kuseduh, menciptakan kombinasi aroma yang memabukkan sekaligus mengancam di udara.

Aku refleks mundur selangkah, mencoba menjaga jarak aman. Tapi sial, pinggangku langsung menab**k pinggiran konter dapur yang dingin. Aku tersudut. Benar-benar terjebak di sudut sempit ini tanpa ada jalan keluar.

Sebelum aku sempat memikirkan cara untuk menyelinap pergi, Adrian meletakkan kedua telapak tangannya di sisi kanan dan kiri tubuhku, bertumpu pada konter di belakangku. Dia mengurungku sepenuhnya dalam kungkungan tubuh tegapnya. Aroma tubuhnya langsung mengepung indra penciumanku, membuat kepalaku mendadak kosong. Jarak kami begitu dekat, sampai-sampai aku bisa merasakan kehangatan yang menguar dari kulitnya yang hanya terbalut kaos dalam tipis.

"Yan, minggir deh. Nggak lucu tahu," kataku, mencoba mendorong dadanya dengan sebelah tangan yang bebas. Tapi begitu telapak tanganku menyentuh dada bidangnya yang keras seperti batu, tanganku terasa seperti terbakar. Adrian sama sekali tidak bergeming. Dia malah menatapku dari atas, membuatku merasa begitu kecil dan tidak berdaya.

Adrian menundukkan kepalanya perlahan. Rambut hitamnya yang masih agak basah menyentuh pelipisku, mengirimkan sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuhku yang mendadak naik drastis.

Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. Napas hangatnya yang berembus di kulit leherku membuat sekujur tubuhku meremang hebat. Jantungku berdetak sangat kencang, saking kencangnya sampai aku takut Adrian bisa mendengarnya berdegup di balik dadaku.

"Lo pikir... gue nggak tahu?" bisik Adrian. Suaranya rendah, serak khas orang baru bangun tidur, tapi terdengar begitu dingin dan mengintimidasi.

Aku menelan ludah dengan susah payah. "Tahu... tahu apa sih? Lo ngomong apa, sih, Yan? Jangan bercanda deh, gue mau balik ke kamarβ€”"

"Semalam," potong Adrian cepat. Bisikannya merayap di telingaku, membuatku membeku seketika. "Pintu kamar lo nggak ketutup rapat, Clara. Dan gue... denger semuanya."

Duniaku rasanya runtuh saat itu juga. Udara di sekitarku seolah tersedot habis, membuatku kesulitan untuk sekadar menarik napas.

"Gue denger suara lo, Clara," bisik Adrian lagi, kali ini nadanya lebih lambat, seolah sengaja ingin menyiksaku dengan setiap kata yang dia ucapkan. "Mendesah pelan, nangis tipis... sambil sebut nama gue berkali-kali. *'Adrian... Adrian... please...'* Lo manggil nama gue kayak gitu di dalam kamar lo yang gelap."

Wajahku langsung memanas hebat, mataku membelalak lebar karena rasa malu yang luar biasa besar. Rasanya seperti dite*******i bulat-bulat di depan orang yang paling aku takuti sekaligus aku cint** secara rahasia selama ini. Air mata tiba-tiba mendesak keluar dari pelupuk mataku tanpa bisa kutahan.

"Nggak! Lo... lo salah denger! Gue nggak kayak gitu!" bantahku panik, setengah berteriak dengan suara yang gemetar hebat.

Aku mencoba meronta, mendorong bahu Adrian sekuat tenaga agar dia menjauh. Tapi gerakan kasarku justru membuat pisau roti yang kupegang terlepas dan jatuh ke lant** dengan bunyi denting yang nyaring. Sebelum aku sempat bergerak lebih jauh, Adrian menangkap kedua pergelangan tanganku dengan satu tangan besarnya, menguncinya dengan mudah di atas konter dapur.

"Salah denger?" Adrian terkekeh sinis. Dia menyipitkan matanya, menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. "Gue belum tuli, Clara. Suara lo sejelas itu di tengah malam yang sepi. Lo manggil nama gue sambil megang diri lo sendiri, kan? Lo bayangin gue waktu lo ngelakuin itu?"

"C**up, Adrian! Lepasin gue! Gue benci sama lo!" Air mataku akhirnya luruh, membasahi pipi. Aku memalingkan wajah ke samping, sama sekali tidak sanggup menatap sepasang matanya yang seolah sedang menguliti rahasia paling kotor yang kupunya.

Aku menangis terisak, merasa sangat hina dan hancur. Aku bersiap untuk mendengar kalimat ejekan yang kejam dari mulutnya. Aku bersiap jika setelah ini Adrian akan menatapku dengan pandangan jijik, mengemas barang-barangnya, dan pergi meninggalkanku karena menganggapku perempuan murahan yang tidak tahu diri. Aku sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk itu.

Namun, keheningan panjang kembali menyelimuti dapur.

Hanya ada suara isak tangisku yang pelan dan tarikan napas Adrian yang terdengar berat. Cengkeraman tangan Adrian di pergelangan tanganku perlahan melonggar, tapi dia tidak menjauhkan tubuhnya. Malahan, dia semakin merapatkan badannya hingga tidak ada jarak sedikit pun di antara kami. Aku bisa merasakan dadanya yang bidang menekan dadaku yang naik-turun karena napas yang memburu.

"Kenapa nangis?" tanya Adrian.

Suaranya tidak terdengar marah atau jijik. Suara itu justru melembut, namun ada nada gelap, pekat, dan sangat posesif yang terselip di dalamnya. Adrian menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mencengkeram daguku dengan lembut tapi tegas, memaksaku untuk kembali menatap wajahnya.

"Gue malu, Yan... lepasin gue, tolong..." pintaku lirih di sela tangisku. "Lo pasti jijik kan sama gue? Gue minta maaf... gue bakal pergi dari rumah ini kalau lo merasa risihβ€”"

"Siapa yang bilang gue risih?" potong Adrian cepat.

Aku tertegun. Isak tangisku terhenti seketika. Mataku yang basah dan sembap menatapnya dengan penuh kebingungan.

Tatapan mata Adrian saat ini benar-benar berubah. Tidak ada kilatan kejengkelan, ejekan, atau rasa jijik yang kutakutkan. Yang ada hanyalah sepasang manik mata hitam yang tampak sangat gelap, lapar, dan berkilat oleh obsesi yang mengerikan. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap air mata yang membasahi pipiku dengan gerakan lembut yang justru membuat bulu kudukku meremang.

"Gue nggak risih, Clara. Sama sekali nggak," bisik Adrian, wajahnya kembali mendekat hingga hidung kami hampir bersentuhan. "Malah... gue suka banget. Gue suka denger suara lo yang manggil nama gue kayak semalam. Rasanya bikin gue hampir g*** karena kepikiran terus sampai pagi."

Aku menahan napas, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dari mulutnya. "Yan... lo ngomong apa sih..."

"Lo punya gue, Clara," ujar Adrian dengan nada mutlak, tanpa ada celah untuk dibantah. "Setiap helai rambut lo, setiap napas lo, bahkan fantasi terliar lo di dalam kamar... semuanya harus tentang gue. Dan denger lo nyebut nama gue semalam di kamar sendirian... itu bikin gue sadar kalau lo emang nggak boleh lepas dari gue."

"Yan... lo... lo kenapa kayak gini?" tanyaku dengan suara yang bergetar.

Adrian yang ada di depanku saat ini terasa sangat asing. Dia bukan lagi Adrian sahabat masa kecilku yang cuek, dingin, dan menyebalkan. Sosok di depanku ini tampak seperti predator yang akhirnya berhasil mengunci mangsanya di sudut sempit, dan dia tidak memiliki niat sedikit pun untuk melepaskannya.

"Gue terobsesi sama lo, Clara. Dan sekarang setelah gue tahu rahasia lo..." Adrian mendekatkan bibirnya ke telingaku sekali lagi, membisikkan kata-kata yang mengunci takdirku bersamanya. "...lo nggak bakal pernah bisa lari lagi dari gue."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca