**Bab 1: Mbak Sekretaris Teladan vs Bos Es Batu**
Bunyi ketukan stileto sembilan sentimeter di atas lant** marmer lobi lant** tiga puluh berbunyi ritmis. *Klak, klak, klak.*
Setiap pasang mata yang dilewati pemilik sepatu itu pasti akan menoleh, memberikan tatapan kagum, atau setidaknya menyapa dengan sopan.
"Pagi, Mbak Clara," sapa seorang staf divisi pemasaran dengan senyum lebar.
"Pagi," jawab Clara. Ia memberikan senyuman paling simetris yang sudah ia latih di depan cermin kamar kosnya setiap pagi. Kepalanya sedikit dimiringkan, matanya menyipit ramah, dan dagunya tetap sejajar dengan lant**. Sangat anggun. Sangat berkelas. Sangat... jaim.
Begitu staf itu lewat, Clara langsung mengembuskan napas perlahan lewat mulut. *Gusti Allah, pegel banget ini betis! Demi apa gue harus pakai heels setinggi ini sepagi ini?* batinnya menjerit.
Nama aslinya adalah Rara. Gadis rantau asal kota kecil di Jawa Tengah yang aslinya blak-blakan, hobi makan seblak pakai cabai dua puluh, dan kalau tertawa bisa sampai menggeb**k meja. Namun, begitu menapakkan kaki di gedung pencakar langit milik Dirgantara Group ini, identitas 'Rara' harus dikubur dalam-dalam di dasar bumi. Di sini, dia adalah Clara. Sekretaris pribadi CEO yang elegan, berpendidikan, selalu wangi parfum mahal, dan tidak pernah sekalipun terlihat kerepotan.
Clara berjalan menuju kubikelnya yang terletak tepat di depan pintu ganda kayu jati ruangan sang CEO. Ia meletakkan tas jinjingnya, menyalakan komputer, lalu merapikan tumpukan berkas yang sudah ia siapkan sejak kemarin sore.
Semua harus sempurna. Karena dalam hitungan menit, badai salju akan segera tiba.
Tepat pukul delapan lewat lima menit, pintu lift khusus eksekutif berdenting terbuka. Clara langsung berdiri tegak, merapikan blazer hitamnya yang pas badan, dan memasang senyum profesional andalannya.
Seorang pria melangkah keluar dari lift. Tinggi badannya hampir seratus delapan puluh lima sentimeter, dibalut setelan jas abu-abu gelap yang dijahit khusus, melekat sempurna di tubuh tegapnya. Potongan rambutnya rapi, memperlihatkan garis rahang yang tajam seperti pahatan patung Yunani. Matanya yang tajam di balik tatapan dinginnya selalu sukses membuat para staf perempuan menahan napas.
Adrian Dirgantara. CEO muda, jenius, super tampan, tapi sayangnya... sedingin es batu di kutub utara.
"Selamat pagi, Pak Adrian," sapa Clara dengan suara lembut yang diatur sedemikian rupa agar terdengar menenangkan.
Adrian tidak berhenti melangkah. Ia hanya memberikan anggukan super tipisβhampir tidak terlihat kalau Clara tidak jeliβdan terus berjalan ma**k ke ruangannya.
*An****, irit banget itu leher buat ngangguk! Heran gue, apa nggak pegel ya pasang muka tripleks begitu tiap hari?* rutuk Clara dalam hati. Tapi di luar, wajahnya tetap tersenyum manis penuh pengabdian.
Clara segera menyusul ma**k ke dalam ruangan Adrian setelah mengetuk pintu tiga kali. Ia membawa tablet di tangan kirinya dan segelas kopi hitam tanpa gula di tangan kanannya.
"Ini kopi hitam Anda, Pak. Tanpa gula, tanpa krimer, suhu air tepat delapan puluh lima derajat seperti yang Anda sukai," kata Clara lembut sambil meletakkan cangkir porselen itu di sisi kanan meja kerja Adrian.
Adrian melirik cangkir itu sekilas, lalu beralih menatap Clara. Tatapan matanya yang dingin seolah bisa menembus tengkorak kepala Clara.
"Jadwal saya hari ini," ucap Adrian. Suaranya berat, bariton, dan sialnya terdengar sangat s**** di telinga Clara.
*G***, suaranya bikin rahim anget,* jerit batin Clara yang mulai liar. *Coba bayangin kalau suara ini bisikin sesuatu yang nakal di kuping gue pas malam-malam... Ah! Rara, sadar! Lu lagi kerja, bukan lagi baca drakor rating delapan belas plus!*
"Hari ini Anda memiliki rapat koordinasi dengan divisi keuangan pada pukul sembilan, dilanjutkan dengan makan siang bisnis bersama perwakilan dari Sanjaya Group pukul dua belas siang di restoran hotel bintang lima seberang jalan. Dan pukul empat sore, ada peninjauan proyek baru di kawasan BSD," Clara membacakan jadwal dengan lancar tanpa terbata-bakat sedikit pun.
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Matanya masih menatap Clara dengan lekat. Keheningan sesaat di antara mereka membuat jantung Clara mulai berdegup tidak karuan.
"Ada lagi?" tanya Adrian datar.
"Untuk besok pagi, apakah Anda ingin saya menjadwalkan ulang pertemuan dengan investor dari Singapura, Pak?" tanya Clara, berusaha tetap fokus meski dalam kepalanya ia sedang membayangkan Adrian melepas kancing teratas kemejanya dan melonggarkan dasinya dengan perlahan. *Duh, visualnya pasti nggak ngotak kalau si bos es batu ini lagi berantakan.*
"Tidak perlu. Biarkan sesuai jadwal," jawab Adrian singkat. Ia lalu meraih cangkir kopinya dan menyesapnya sedikit.
Clara memperhatikan bibir tipis Adrian yang menyentuh pinggiran cangkir. Gerakan jakun pria itu saat menelan kopi membuat Clara menelan ludahnya sendiri. *Ganteng banget, sih, heran. Ini orang makannya apa, ya? Kok bisa mulus banget kayak porselen? Pengen banget gue uwel-uwel itu pipinya kalau nggak takut dipecat.*
"Clara."
"Ya, Pak?" Clara tersentak dari lamunan liarnya, namun untungnya wajah profesionalnya tidak goyah sedikit pun.
"Kenapa kamu masih di sini? Ada hal lain?" tanya Adrian, sebelah alisnya terangkat.
"Ah, tidak ada, Pak. Kalau begitu, saya permisi ke depan untuk melanjutkan pekerjaan," ucap Clara dengan senyum termanisnya. Ia membungkuk sopan, lalu berbalik arah untuk keluar dari ruangan.
Begitu pintu ruangan tertutup rapat di belakangnya, Clara langsung bersandar pada daun pintu kayu itu. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Huft... hampir aja iman gue goyah," gumam Clara dengan suara aslinya yang medok dan lepas, sangat berbeda dengan suara lembut 'Mbak Sekretaris' tadi. "G***, punya bos gantengnya kelewatan begitu bener-bener cobaan batin tingkat dewa. Untung gue pinter akting. Kalau nggak, udah gue terkam itu bos es batu dari kemarin-kemarin!"
Clara berjalan kembali ke mejanya dengan langkah gont**. Ia menyangga dagunya dengan sebelah tangan, menatap layar komputer yang menampilkan dokumen laporan keuangan, namun pikirannya melayang ke mana-mana.
Sudah tiga bulan Clara bekerja sebagai sekretaris Adrian. Selama itu pula, ia harus berperan ganda. Di depan semua orang, terutama di depan Adrian, ia adalah Clara yang sempurna. Wanita karier metropolitan yang anggun, mandiri, dan berkelas. Tapi di dalam kepalanya, ia adalah Rara, gadis penuh fantasi liar yang diam-diam sering membayangkan sang bos dalam berbagai skenario romantisβdan kadang sedikit nakal.
*Andai aja suatu hari nanti si es batu itu bisa luluh,* pikir Clara sambil tersenyum-senyum sendiri bagaikan orang g***. *Gue pengen tahu, gimana mukanya kalau lagi panik, atau gimana suaranya kalau lagi mendesah manja... Eh? Astaga! Rara! Otak lu tolong dikondisikan!*
Clara menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan kedua tangan untuk mengusir pikiran kotornya. Ia harus fokus. Hari ini akan menjadi hari yang panjang, dan ia tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun di depan Adrian jika ingin mempertahankan pekerjaannya yang gajinya sangat lumayan untuk membayar cicilan apartemen dan mengirim uang ke kampung halaman ini.
Namun, Clara tidak pernah tahu bahwa takdir memiliki rencana yang jauh lebih g*** untuknya.
Tepat saat ia hendak mulai mengetik laporan, sebuah getaran aneh terasa di saku blazernya. Bukan getaran ponselnya, melainkan sesuatu yang terasa langsung di dalam kepalanya. Sebuah suara mekanis yang dingin dan asing tiba-tiba bergema, membuat Clara membeku di tempatnya.
*[Ding! Sistem Nakal Kamar Mandi berhasil diaktifkan. Pengguna terdeteksi: Rara (Clara).]*
*[Misi pertama akan segera dimulai dalam waktu tiga puluh menit. Target: Adrian Dirgantara. Lokasi: Kamar mandi pribadi CEO. Kegagalan menjalankan misi akan dikenakan hukuman berat.]*
Clara terbelalak. Ia menatap sekeliling dengan panik, namun area lobi lant** tiga puluh itu tampak sepi dan normal seperti biasa.
"Suara... suara apa itu barusan?!" bisik Clara dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya, kali ini bukan karena ketampanan Adrian, melainkan karena rasa takut yang mendalam.
*Sistem? Misi nakal di kamar mandi? Apa-apaan ini?!*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!