Bab 10: Gossip "Hantu Toilet" Lant** Eksekutif
Adrian melangkah mendekati gantungan baju besi di dekat lemari dokumen. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti.
Kedua alis tebal Adrian bertaut rapat. Matanya yang tajam menatap gantungan jaket bomber hitamnya dengan saksama.
Adrian adalah seorang perfeksionis yang memiliki kecenderungan *OCD (Obsessive-Compulsive Disorder)* ringan. Ia selalu menggantung pakaiannya dengan arah yang sama—menghadap ke kiri, dengan ritsleting yang ditarik tepat setengah bagian dada. Namun sekarang, jaket itu menghadap ke kanan, ritsletingnya tertutup rapat sampai ke ujung kerah, dan posisi gantungannya sedikit miring.
Bukan cuma itu. Saat Adrian melangkah selangkah lebih dekat, indra penciumannya yang tajam menangkap sesuatu yang asing.
Ada aroma manis yang samar-samar tertinggal di udara sekitar gantungan baju itu. Aroma manis buah ceri dicampur vanila yang lembut. Itu jelas bukan aroma parfum maskulin berkayu yang biasa ia pakai. Itu adalah aroma parfum wanita.
Adrian menyipitkan matanya. Ia mengambil jaketnya, mendekatkannya ke hidung, lalu mengendus pelan. Benar saja. Wangi manis itu menempel c**up kuat di bagian kerah dan bahu jaket.
"Siapa yang berani ma**k ke ruangan saya dan menyentuh jaket ini?" gumam Adrian dengan suara rendah yang terdengar dingin.
Pikirannya langsung tertuju pada satu nama. Clara.
Hanya sekretarisnya itu yang memiliki akses keluar ma**k ke ruangannya hari ini. Namun, Adrian segera menggelengkan kepala. Untuk apa Clara memakai jaketnya? Gadis itu memang kadang bertingkah aneh akhir-akhir ini, tapi rasanya tidak mungkin dia seberani itu untuk berbuat lancang.
Adrian memutuskan untuk menyimpan kecurigaan itu dalam hati. Ia akan mengawasi sekretarisnya dengan lebih ketat mulai sekarang.
***
Keesokan harinya, suasana di kantor terasa sedikit berbeda. Saat Clara berjalan melewati kubikel divisi pemasaran untuk menuju ke pantry, ia merasakan atmosfer yang aneh. Beberapa staf wanita tampak berkerumun di dekat dispenser, berbisik-bisik dengan wajah yang tegang sekaligus antusias.
Clara yang sedang memegang mug kosongnya berniat untuk membuat es kopi susu demi meredakan stres akibat tekanan sistem g*** di kepalanya. Begitu ia mendekat, suara bisikan itu terdengar semakin jelas.
"Sumpah, lo harus percaya sama gue! Toilet lant** lima sekarang beneran horor!" bisik Sasa, staf dari divisi HRD, dengan mata melotot heboh.
"Masa sih? Bukannya lant** lima itu lant** eksekutif? Kan sepi banget di sana, cuma ada ruangannya Pak Adrian sama meja kerjanya Clara," sahut Tika dari divisi keuangan sambil merapatkan jaketnya, seolah mendadak merasa dingin.
"Justru karena sepi itu makanya jadi sarang!" timpal Roni, desainer grafis yang kebetulan lewat dan ikut nimbrung. "Gue kemarin lembur kan sampai jam sembilan malam. Terus gue kebelet, mau ke toilet lant** staf tapi lagi dibersihin sama OB. Akhirnya gue nekat naik ke lant** lima. Pas gue baru mau ma**k, dari dalem toilet cewek ada suara aneh banget!"
Clara yang baru saja menuangkan bubuk kopi ke dalam mug langsung menghentikan gerakannya. Telinganya otomatis terpasang lebar-lebar. *Toilet lant** lima? Suara aneh?*
Perasaan Clara mendadak tidak enak.
"Suara apa, Ron? Jangan bikin merinding deh!" tanya Tika dengan wajah ketakutan tapi penasaran setengah mati.
Roni menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada bos besar yang lewat, lalu melanjutkan dengan suara setengah berbisik yang masih bisa didengar jelas oleh Clara.
"Ada suara cewek mendesah frustrasi gitu! Suaranya kayak tertahan, terus dia ngomong sendiri. Katanya, *'Aduh, sempit banget... plis ma**k dong... cepetan, keburu ketahuan orang!'* G***, gue langsung merinding disko! Gak lama setelah itu, ada suara jepretan kamera jadul. *Cekrek!* Padahal di dalam sana gelap banget, gak ada lampu yang nyala!"
*Uhuk!*
Clara tersedak air liurnya sendiri. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan, berpura-pura terbatuk kecil agar tidak menarik perhatian.
Wajah Clara langsung memanas, berubah merah padam sampai ke telinga.
*Sempit banget... plis ma**k dong...*
Clara ingat betul kejadian itu! Itu adalah misi tiga hari lalu, di mana sistem memaksanya memakai sepatu bot hak tinggi milik salah satu model majalah yang tertinggal di toilet, lalu berpose satu kaki di atas wastafel. Sepatu itu ukurannya dua nomor lebih kecil dari kaki Clara! Ia harus berjuang setengah mati untuk mema**kkan kakinya sambil merapalkan doa agar tidak jatuh atau ketahuan. Dan suara *cekrek* itu adalah suara kamera otomatis dari sistem saat mengambil foto bukti misi selesai!
"Eh, serius lo, Ron? Jangan-jangan itu staf yang lagi... *ehem*, pacaran di toilet?" tebak Sasa ragu.
"Mana mungkin! Pintu toiletnya kekunci dari dalam, dan pas gue tungguin di depan lorong sambil gemeteran, gak ada satu orang pun yang keluar dari sana sampai setengah jam! Pas gue beraniin diri buat ngintip lewat celah bawah pintu... kosong melompong!" ujar Roni dengan nada dramatis.
Tentu saja kosong, karena setelah menyelesaikan misi, Clara langsung kabur lewat pintu belakang yang tembus ke tangga darurat!
"Bukan cuma Roni tahu yang ngalamin," sela Melly, staf resepsionis yang tiba-tiba ikut bergabung dalam lingkaran gosip. "Dua hari lalu, pas gue mau benerin makeup di toilet luar ruangan Pak Adrian siang-siang, gue denger suara tangisan samar-samar. Suara cewek itu kayak mohon-mohon putus asa gitu. Katanya, *'Jangan sekarang... ampun, gue gak kuat lagi, masa harus lepas kancing lagi sih?'* Hiii, itu hantu jenis apa coba yang minta lepas kancing?!"
Clara rasanya ingin tenggelam ke dasar bumi saat itu juga.
*Lepas kancing lagi...*
Itu adalah misi "Seductive Secretary" di mana ia harus membuka tiga kancing teratas kemeja kerjanya lalu berpose menggoda di depan cermin toilet. Clara yang saat itu sangat lelah dan frustrasi karena sistem terus-menerus menolak fotonya akibat "kurang menantang", akhirnya menangis sambil memohon pada sistem virtual di depannya agar meloloskan fotonya saja tanpa harus membuka kancing lebih banyak lagi.
"I-itu... mungkin cuma angin koridor?" Clara akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur lebur di dalam gosip supranatural ini. Ia memaksakan sebuah senyum kaku yang terlihat sangat tidak alami.
Sasa menoleh ke arah Clara. "Duh, Clara! Lo kan yang paling sering di lant** lima. Masa lo gak pernah denger apa-apa? Apa lo gak takut?"
"A-ah... enggak kok. Biasa aja. Mungkin kalian cuma kecapekan kerja jadi berhalusinasi," jawab Clara dengan tawa hambar yang terdengar seperti ringkikan kuda sakit. "Lagian, hari gini mana ada hantu yang doyan dandan dan hobi foto-foto."
"Eh, hantu zaman sekarang itu mengikuti perkembangan zaman, Clar!" sahut Tika dengan sok tahu. "Katanya hantu toilet lant** lima itu genit banget. Kemarin lusa, OB nemu bekas lipstik merah merona nempel di cermin toilet. Padahal kan toilet itu jarang ada yang pakai selain lo. Lo kan gak pernah pakai lipstik merah gonjreng kayak gitu, biasanya cuma pakai lipbalm pucat kan?"
Clara menggigit bibir bawahnya. *Si****.* Bekas lipstik merah itu... ia tidak sengaja menab**k cermin karena tergelincir saat mencoba berpose ala model papan atas dengan mata terpejam untuk misi sistem.
"I-iya sih... aku gak pernah pakai lipstik merah," cicit Clara, menatap mug kopinya dengan pandangan kosong.
Dalam hati, Clara berteriak histeris. *Gue bukan hantu, woi! Gue cuma korban pemerasan sistem g***!*
"Pokoknya mulai sekarang gue gak mau lagi ke toilet lant** lima sendirian, mending gue turun ke lant** satu deh!" ujar Sasa yang disetujui dengan anggukan mantap oleh yang lainnya.
"Iya, ngeri banget. Mana auranya dingin terus lagi di sana."
Saat mereka masih asyik merinding bersama, sebuah suara bariton yang berat dan sangat familier tiba-tiba terdengar dari arah pintu ma**k pantry.
"Apa yang sedang kalian bicarakan di jam kerja?"
Seketika itu juga, semua orang di dalam pantry langsung membeku. Roni, Sasa, Tika, dan Melly perlahan membalikkan tubuh mereka dengan wajah pucat pasi.
Adrian berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Kemeja kerjanya yang berwarna abu-abu gelap tergulung rapi hingga ke siku, menampilkan lengan kokohnya. Tatapan matanya yang tajam menyapu satu per satu stafnya yang kini tampak seperti anak ayam yang ketakutan di depan serigala.
"P-Pak Adrian..." cicit Sasa dengan suara bergetar.
"Ma-maaf, Pak! Kami cuma... cuma mau ambil minum!" timpal Roni yang langsung mengambil gelasnya dan bersiap melarikan diri.
Adrian tidak langsung memarahi mereka. Matanya justru beralih, menatap Clara yang berdiri paling pojok dengan wajah yang sangat tegang.
"Kalian sedang menggosipkan hal yang tidak ma**k akal, hm? Tentang hantu?" tanya Adrian, nadanya terdengar tenang namun penuh intimidasi.
Tika yang terlalu takut untuk berbohong akhirnya menyahut pelan, "I-iya, Pak. Gosip tentang... hantu toilet lant** lima yang suka mendesah dan foto-foto."
Satu alis Adrian terangkat. Pandangannya kembali tertuju pada Clara. Gadis itu tampak sangat tidak nyaman, bahkan tangannya yang memegang mug kopi terlihat sedikit gemetar.
"Hantu yang suka foto-foto dan memakai lipstik merah?" gumam Adrian lambat-lambat, seolah sedang menganalisis sesuatu yang menarik.
"I-iya, Pak! Makanya kami agak takut kalau harus ke lant** lima," tambah Melly dengan polosnya.
Adrian mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang hampir tidak terlihat muncul di sudut bibirnya yang tegas. "Kantor ini dibayar untuk bekerja, bukan untuk membuat cerita fiksi. Saya tidak percaya hantu. Tapi..." Adrian menggantung kalimatnya, membuat suasana pantry semakin tegang. "...jika ada 'penyusup' atau karyawan yang bertingkah aneh di toilet lant** lima untuk tujuan yang tidak jelas, saya sendiri yang akan menangkapnya."
Kata-kata Adrian itu terasa seperti petir di siang bolong bagi Clara. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia tahu kalimat itu ditujukan secara tidak langsung untuk siapa saja yang mencoba macam-macam, tapi bagi Clara, itu terdengar seperti ancaman eksekusi mati.
"Clara," panggil Adrian tiba-tiba.
"Y-ya, Pak?!" Clara langsung menegakkan tubuhnya dengan sikap sempurna, saking kagetnya sampai-sampai beberapa tetes kopi di mugnya tumpah ke lant**.
"Ikut saya ke ruangan sekarang. Ada dokumen yang harus kamu urus," perintah Adrian dingin, lalu berbalik dan melangkah pergi terlebih dahulu.
Clara mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat menderita. Ia melirik teman-temannya yang menatapnya dengan pandangan iba, seolah-olah ia sedang diantar menuju ruang eksekusi.
"Semangat, Clar. Semoga lo gak ketemu hantunya di atas," bisik Roni prihatin.
Clara hanya bisa tersenyum getir dalam hati. *Gue gak bakal ketemu hantunya, Ron. Karena hantu yang kalian takuti itu... ada di depan mata lo sekarang.*
***
Di dalam ruang kerja Adrian yang ber-AC dingin, Clara berdiri di depan meja besar sang bos dengan kepala sedikit menunduk. Suasana hening di ruangan itu membuat detak jantung Clara terdengar sangat bising di telinganya sendiri.
Adrian tidak langsung berbicara. Ia sibuk menandatangani beberapa berkas sebelum akhirnya meletakkan penanya dan menatap Clara lekat-lekat.
"Clara," panggil Adrian dengan suara baritonnya yang menenangkan namun menuntut penjelasan.
"Iya, Pak?"
"Kamu... akhir-akhir ini sering menggunakan toilet lant** lima?"
Pertanyaan itu membuat Clara menelan ludah dengan susah payah. "Ah... i-iya, Pak. Soalnya toilet di lant** staf sering penuh, jadi saya pikir... toilet lant** lima lebih tenang untuk digunakan."
"Tenang?" Adrian menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas meja. "Tapi sepertinya toilet itu tidak setenang yang kamu bayangkan, melihat dari gosip yang beredar di bawah."
"Itu... itu cuma gosip konyol dari anak-anak yang terlalu banyak nonton film horor, Pak! Saya yakin tidak ada apa-apa di sana," jawab Clara secepat kilat, berusaha meyakinkan bosnya agar tidak memperpanjang masalah ini.
Adrian terdiam sejenak. Matanya yang tajam menatap wajah Clara yang tampak sedikit berkeringat di pelipisnya, meskipun ruangan itu sangat dingin. Pandangan Adrian kemudian turun ke bibir Clara yang hari ini hanya dilapisi *lipbalm* tipis berwarna merah muda alami.
"Omong-omong tentang lipstik merah..." Adrian berucap pelan, suaranya terdengar sangat ka**al namun berhasil membuat bulu kuduk Clara berdiri. "...kemarin saya tidak sengaja melihat ada sedikit noda merah di cermin toilet saat saya mencuci tangan. Dan baunya..." Adrian sengaja menjeda kalimatnya. "...sangat mirip dengan wangi parfum ceri vanila yang ada di jaket saya kemarin."
*Deg!*
Clara merasa dunianya runtuh seketika.
*Jaket? Parfum? Mampus gue!* Clara baru ingat kalau kemarin ia memakai jaket Adrian untuk berpose! Dan ia memang memakai parfum ceri vanila andalannya hari itu!
"A-apa... benarkah, Pak?" Clara mencoba memasang wajah sebodoh mungkin, berpura-pura tidak mengerti. "Mungkin... mungkin ada tamu wanita dari luar yang menggunakan toilet itu kemarin? Kan kemarin ada klien dari perusahaan kosmetik yang datang menemui Bapak."
Adrian memperhatikan ekspresi panik yang mati-matian disembunyikan oleh sekretarisnya itu. Ada kilatan geli di mata Adrian yang biasanya dingin, namun ia memutuskan untuk tidak mendesak Clara lebih jauh. Untuk saat ini, ia akan membiarkan gadis itu berpikir bahwa dia telah berhasil lolos.
"Mungkin saja," sahut Adrian tenang. "Tapi sebagai sekretaris saya, tugas kamu adalah memastikan lant** eksekutif ini tetap steril dari hal-hal aneh. Saya tidak mau mendengar gosip konyol ini mengganggu kinerja karyawan lain. Mengerti?"
"Mengerti, Pak! Sangat mengerti!" jawab Clara dengan nada lega yang sangat kentara.
"Bagus. Kamu boleh kembali ke meja kamu."
"Terima kasih, Pak. Permisi."
Clara buru-buru berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan Adrian. Begitu pintu kaca tebal itu tertutup di belakangnya, Clara langsung menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, mengembuskan napas lega yang sangat panjang hingga bahunya merosot.
"Hampir aja... jantung gue beneran mau copot!" gumam Clara sambil mengusap dadanya.
Namun, kelegaan Clara tidak bertahan lama. Kehidupan tenangnya sebagai manusia biasa tampaknya memang sudah ditakdirkan untuk hancur berkeping-keping.
Di saku rok kerjanya, ponsel Clara tiba-tiba bergetar hebat.
*Ding!*
Sebuah suara notifikasi yang sangat ia benci bergema di kepalanya. Clara dengan tangan gemetar merogoh ponselnya dan membuka layar yang langsung menampilkan antarmuka sistem berwarna merah muda neon yang mencolok.
[Misi Baru Terdeteksi!]
[Nama Misi: 'Suara Misterius di Toilet Saat Hujan']
[Deskripsi: Ma**klah ke toilet lant** lima saat Pak Adrian sedang mandi atau berganti baju di ruang pribadinya. Ketuk dinding pembatas toilet sebanyak tiga kali sambil mengeluarkan suara mendesah manja: "Duh, dingin banget... butuh kehangatan nih~".]
[Batas Waktu: 2 Jam dari sekarang.]
[Hukuman Kegagalan: Foto selfie setengah bahu terbuka Anda yang sedang memakai jaket bomber Pak Adrian akan secara otomatis dikirimkan ke grup WhatsApp Divisi Utama!]
Mata Clara melotot lebar membaca deretan kalimat laknat itu. Kepalanya mendadak pening, dan ia merasa ingin pingsan saat itu juga.
"Sistem ba******!" umpat Clara setengah berbisik dengan wajah frustrasi yang luar biasa. "Kalau gue lakuin ini, gosip 'Hantu Toilet' itu gak bakal hilang, tapi malah bakal naik level jadi legenda urban terkutuk se-I****esia!"
Clara menatap pintu ruangan Adrian dengan tatapan nanar. Di dalam sana, bosnya yang perfeksionis dan menyeramkan itu sedang bekerja. Dan dalam waktu kurang dari dua jam, ia harus menyusup lagi ke toilet untuk melakukan tindakan konyol yang bisa menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.
Dengan langkah gont** dan hati yang menangis darah, Clara berjalan kembali ke meja kerjanya, meratapi nasibnya yang malang sebagai sekretaris merangkap "hantu toilet" pribadi sang CEO.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!