"... dari dalem toilet cewek ada suara aneh kayak orang lagi mendesah pas-pasan, tapi diselingi nangis-nangis gitu! Terus ada suara air keran nyala-mati sendiri. Sumpah, bulu kuduk gue langsung merinding disko!" Roni mengakhiri ceritanya dengan mengusap tengkuknya dramatis.
Clara yang baru saja hendak menyendok bubuk kopi langsung mematung. Tangannya gemetar di udara. Sendok st**nless steel di tangannya hampir saja terjatuh ke dalam wastafel pantry.
*Mampus gue,* batin Clara berteriak histeris.
Suara aneh? Mendesah diselingi nangis? Air keran nyala-mati?
Itu bukan hantu! Itu adalah dirinya tiga hari yang lalu!
Saat itu, sistem si**** di kepalanya tiba-tiba memberikan misi dadakan untuk meraba-raba dinding toilet sambil membayangkan wajah tampan Adrian, bosnya yang super dingin itu. Karena Clara sempat menolak, sistem langsung memberikan efek sengatan listrik mini yang membuatnya mendesah kaget sekaligus menangis menahan kesal. Untuk menyamarkan suaranya, Clara terpaksa menyalakan dan mematikan keran air berkali-kali.
Siapa sangka aksi konyolnya itu malah memicu rumor "Hantu Toilet" di kalangan karyawan?
"Ih, seriusan? Jangan-jangan itu hantu penunggu lant** lima yang kegatelan?" sahut Sasa dengan mata berbinar-binar penuh gairah gosip. "Secara kan di lant** lima cuma ada Pak Adrian yang gantengnya fiksi banget itu. Mungkin hantunya naksir Pak Adrian!"
"Bisa jadi! Tapi ngeri banget, ih. Mulai sekarang gue ogah ke toilet lant** lima, mending gue ngantre di toilet lant** tiga deh yang ramean," timpal Tika sambil bergidik ngeri.
Clara buru-buru mengaduk es kopi susunya dengan gerakan super cepat, lalu berbalik dengan senyum kaku yang dipaksakan. "Duluan ya, Guys. Masih banyak kerjaan," pamitnya fiktif, lalu melesat pergi sebelum trio biang gosip itu menyadari wajahnya yang sudah sepucat kertas HVS.
Dengan langkah terburu-buru, Clara setengah berlari menuju lift dan kembali ke lant** lima. Begitu sampai di meja kerjanya yang terletak tepat di depan kubikel kuburan—maksudnya ruang kerja Adrian yang super sunyi—Clara langsung mengempaskan bokongnya ke kursi kerja. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
"G***, reputasi gue sebagai sekretaris teladan bisa hancur lebur kalau mereka tahu hantu toilet itu gue," gumam Clara frustrasi.
*Ting!*
Sebuah suara mekanis yang sangat familier—dan paling dibenci Clara di seluruh dunia—mendadak bergema di dalam kepalanya. Suara itu terdengar sangat jernih, seolah-olah ada orang yang memasang speaker bluetooth langsung di dalam otaknya.
**[Sistem Terdeteksi: Peringatan Tingkat Represi Hasrat!]**
Clara tersentak. Detak jantungnya langsung berpacu dua kali lebih cepat. "Aduh, mulai lagi deh! Tolong ya, hari ini gue lagi nggak mood main game g*** lo!" batin Clara berteriak marah dalam pikirannya.
**[Menganalisis kondisi psikologis pengguna... Berhasil.]**
**[Tingkat Represi Hasrat Pengguna saat ini: 90%]**
**[Status: KRITIS / AMBANG BATAS MAKSIMAL!]**
Seketika itu juga, sebuah layar hologram semi-transparan berwarna biru muda muncul mengambang tepat di depan wajah Clara. Di layar itu, terlihat sebuah bar indikator berwarna merah menyala yang berkedip-kedip dengan tulisan besar: **90% REPRESIED**.
Clara terbelalak. "90%?! Kok bisa naik drastis gini? Perasaan kemarin masih 70%!" protes Clara dalam hati, tangannya bergerak refleks mencoba menggapai layar hologram itu, meskipun tangannya hanya menembus udara kosong.
**[Sistem: Pengguna terlalu sering menahan diri dan menekan fantasi bawah sadar terhadap Target (Adrian Pramoedya). Penolakan emosional yang konstan menyebabkan energi hasrat menumpuk di ambang batas maksimal. Jika indikator mencapai 100%, sistem akan mengalami overload dan memicu mode 'Pelepasan Paksa'.]**
"Pelepasan paksa? Apaan lagi itu, hah?! Jangan main-main ya!" Clara mulai merasa hawa dingin menjalar di punggungnya. Perasaannya mendadak sangat tidak enak.
**[Sistem: Untuk menyeimbangkan kembali energi dalam tubuh pengguna, Misi Utama (Main Mission) akan segera diaktifkan dalam waktu 24 jam ke depan.]**
**[Pemberitahuan: Misi Utama ini memiliki tingkat kesulitan 'S' dan TIDAK BOLEH GAGAL.]**
Clara menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Kalau... kalau gue gagal, hukumannya apa?" tanyanya dengan suara bergetar, bahkan tidak berani membayangkan skenario terburuknya.
Layar hologram di depannya berkedip cepat, berganti menjadi tulisan berwarna merah darah yang sangat mencolok.
**[HUKUMAN KEGAGALAN MISI UTAMA: SIARAN LANGSUNG AUDIO PIKIRAN KOTOR PENGGUNA SELAMA 1 JAM PENUH.]**
Mata Clara hampir saja melompat keluar dari kelopak matanya. "H-hah?! Siaran langsung... apa?!"
**[Sistem: Jika Misi Utama gagal, seluruh isi kepala, fantasi seksual, dan pikiran kotor Anda tentang Target akan dipancarkan dalam bentuk audio berfrekuensi tinggi. Audio ini akan disiarkan secara otomatis melalui seluruh perangkat elektronik (ponsel, laptop, smart TV, dan speaker) milik semua orang yang berada dalam radius 50 meter dari Anda. Durasi siaran: 60 menit tanpa jeda iklan.]**
"G***! LO BENERAN G*** YA?!"
Clara berteriak dalam hati hingga suaranya serak di dalam kepalanya sendiri. Napasnya memburu. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi merah padam karena kombinasi rasa malu, panik, dan amarah yang meledak-ledak.
Siaran langsung pikiran kotor? Tentang Adrian? Selama satu jam penuh? Di lingkungan kantor?!
Clara membayangkan dirinya sedang duduk di kubikelnya, lalu tiba-tiba seluruh ponsel milik rekan kerjanya, terma**k ponsel Adrian sendiri, mengeluarkan suara desahannya atau suara pikirannya yang sedang mengagumi otot dada Adrian atau membayangkan hal-hal tidak senonoh lainnya.
Itu bukan lagi sekadar bunuh diri sosial. Itu adalah pemusnahan massal harga dirinya! Dia pasti harus mengganti namanya, melakukan operasi plastik, dan pindah ke pedalaman hutan Amazon agar tidak perlu bertemu dengan manusia lagi seumur hidupnya.
"Sistem si****! Uninstall! Gue mau uninstall lo sekarang juga! Gimana caranya?!" Clara mulai mengetikkan kata kunci acak di komputernya dengan panik: *cara menghilangkan suara gaib di kepala, ciri-ciri skizofrenia tahap awal, dukun ruqyah daerah Jakarta Pusat.*
Namun, tidak ada satu pun hasil pencarian Google yang bisa membantunya menghadapi kecerdasan buatan super mesum yang bersarang di otaknya ini.
**[Sistem: Permintaan ditolak. Sistem telah terintegrasi dengan jiwa pengguna. Opsi 'Uninstall' hanya tersedia jika pengguna berhasil menyelesaikan 100% Misi Utama, atau jika pengguna mengalami 'Kematian Jiwa'.]**
"Kematian jiwa?! Lo mau gue mati beneran?!" Clara mengacak-acak rambutnya frustrasi. Sumpah, dia bisa g*** beneran kalau begini terus. "Oke, oke! Spill misinya sekarang! Apa misi utamanya? Biar gue bisa siap-siap mental!"
**[Sistem: Misi Utama akan dirilis secara otomatis saat Target berada dalam kondisi paling rentan dan tidak berdaya. Harap pantau pergerakan Target dengan cermat.]**
"Kondisi paling rentan? Maksud lo pas dia lagi tidur? Atau pas dia lagi mandi?!" Clara merinding sendiri membayangkannya.
Sebelum sistem sempat menjawab, sebuah suara berat dan dingin yang sangat dikenalnya tiba-tiba memecah kesunyian lant** lima.
"Clara."
"AYAM COPOT!" Clara terlonjak dari kursinya hingga lututnya membentur laci meja dengan keras. "Aduh..." rintihnya pelan sambil mengusap lututnya yang ngilu.
Di depannya, Adrian Pramoedya sedang berdiri tegak dengan kedua tangan yang dima**kkan ke dalam saku celana bahan hitamnya. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak sangat rapi tanpa kerutan sedikit pun. Rambutnya yang klimis ditata ke belakang, memperlihatkan dahi dan garis rahangnya yang tegas.
Mata tajam Adrian menatap Clara dengan pandangan menyelidik yang sangat intens.
Clara buru-buru meminimalkan jendela browser di komputernya yang masih menampilkan pencarian tentang dukun ruqyah. Ia memaksakan senyum selebar mungkin, meskipun bibirnya gemetar. "E-eh, Pak Adrian! Ada yang bisa saya bantu, Pak? Mau saya buatkan kopi hitam tanpa gula seperti biasa?"
Adrian tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Clara bisa mencium aroma parfum maskulin berkayu milik Adrian yang sangat khas dan memabukkan.
*Ting!*
**[Sistem mendeteksi kedekatan fisik dengan Target. Jarak: 60 cm. Detak jantung Target: 72 bpm (Normal). Detak jantung Pengguna: 120 bpm (Sangat Cepat). Tingkat represi meningkat menjadi 91%!]**
"Diem, please! Diem!" jerit Clara dalam hati, memohon agar sistem tidak terus-menerus memperbarui persentasenya yang mengerikan itu.
Adrian menyipitkan matanya. Ia memperhatikan setiap det**l ekspresi di wajah Clara—mulai dari keringat dingin yang mengalir di pelipis sekretarisnya itu, hingga matanya yang bergerak ke sana kemari seperti orang yang tertangkap basah sedang melakukan kejahatan.
"Kamu sedang apa?" tanya Adrian, suaranya terdengar rendah dan berwibawa, namun menyimpan kecurigaan yang mendalam. "Dari tadi saya perhatikan dari dalam ruangan, kamu sibuk komat-kamit sendiri sambil memukul udara kosong. Kamu sehat?"
"Sehat! Saya sehat walafiat, Pak! Super sehat!" jawab Clara dengan nada suara yang sedikit terlalu melengking, membuat Adrian sedikit mengernyitkan alisnya yang tebal. "Saya cuma... lagi menghafal beberapa kosakata baru bahasa asing, Pak! Ya, buat melatih otak aja supaya nggak pikun!"
Adrian menaikkan satu alisnya. "Bahasa asing? Sampai harus membuat gestur ingin mencekik seseorang?"
Clara tertawa kaku. "Ah... itu... itu metode ekspresif, Pak! Supaya lebih cepat hafal!"
Adrian tidak tampak yakin dengan penjelasan konyol itu. Pikirannya kembali melayang pada kejadian kemarin malam. Tentang gantungan jaketnya yang berubah posisi, ritsleting yang ditarik penuh, dan yang paling mencurigakan—aroma manis buah ceri dan vanila yang menempel kuat di kerah jaketnya. Aroma yang sangat identik dengan parfum yang dipakai Clara saat ini.
Adrian melangkah maju satu langkah lagi, membuat Clara reflex mundur hingga punggungnya membentur sandaran kursi kerja. Jarak mereka kini sangat dekat, hingga Clara bisa melihat pantulan dirinya di manik mata hitam Adrian yang berkilau misterius.
"Clara," panggil Adrian dengan nada suara yang lebih lambat, hampir seperti bisikan yang mengintimidasi. "Kemarin sore, setelah saya pergi ke luar kantor untuk bertemu klien... apa kamu ma**k ke dalam ruangan saya?"
*DEG!*
Jantung Clara rasanya seperti merosot jatuh ke lant**. Napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap bosnya yang kini sedang menatapnya bagaikan seekor singa yang sedang mengunci mangsanya.
"E-eh? Ma**k ke ruangan Bapak?" Clara terbata-bata, otaknya berputar dengan kecepatan cahaya untuk mencari alasan yang logis. "Saya... saya cuma merapikan beberapa dokumen yang harus ditandatangani hari ini, Pak. Kenapa ya, Pak? Apa ada barang Bapak yang hilang?"
"Tidak ada yang hilang," sahut Adrian pelan, matanya tidak lepas dari bibir Clara yang tampak bergetar kecil. "Tapi ada sesuatu yang bertambah di ruangan saya."
"A-apa itu, Pak?" tanya Clara dengan suara yang hampir habis.
Adrian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, membuat Clara bisa merasakan embusan napas hangat pria itu di kulit wajahnya. "Aroma parfum kamu. Kenapa aromanya bisa menempel sangat kuat di jaket yang saya gantung di sana?"
Pertanyaan langsung itu bagaikan hantaman godam yang menghancurkan seluruh pertahanan Clara. Wajahnya seketika memerah padam, bukan karena malu akibat fantasi sistem, melainkan karena ia benar-benar terpojok.
Bagaimana mungkin dia menjelaskan pada Adrian bahwa dia terpaksa memakai jaket pria itu, lalu memeluk dirinya sendiri sambil mendesah di dalam lemari dokumen demi memenuhi misi g*** dari sistem misterius di kepalanya? Jika dia jujur, Adrian pasti akan langsung menelepon rumah sakit jiwa terdekat untuk menjemputnya!
*Ting!*
**[Sistem: Target berada dalam posisi dominan. Tingkat represi hasrat pengguna meningkat drastis! Status saat ini: 95%!]**
**[Peringatan! Waktu hitung mundur Misi Utama dimulai sekarang: 23 jam 59 menit.]**
Clara menatap Adrian dengan pandangan campur aduk antara panik, takut, dan frustrasi yang teramat sangat. Di dalam kepalanya, ia hanya bisa merutuki nasibnya yang begitu malang.
*Tuhan... tolong Clara. Hidup Clara benar-benar sedang berada di ujung tanduk!*
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!