"Sistem ba*****..." Clara memaki dalam hati. Matanya melotot tajam menatap layar transparan berwarna biru neon yang melayang di depan wajahnya—layar yang untungnya hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.
Layar itu mendadak berkedip-kedip merah, memunculkan tulisan tebal berukuran besar yang membuat jantung Clara serasa mau copot dari tempatnya saat itu juga.
**[MISI UTAMA DIALOKASIKAN!]**
**[Nama Misi: Ritual Pelepasan Hasrat Mandiri]**
**[Deskripsi: Pengguna diwajibkan melakukan simulasi pelepasan hasrat (solitary plea**re/masturbasi ringan) di dalam toilet eksekutif lant** lima guna menurunkan indikator stres dan represi libido hingga di bawah 30%.]**
**[Waktu penyelesaian: 15 menit.]**
**[Hadiah: Koin Sistem +500 & Penghapusan Efek Samping 'Hantu Toilet'.]**
**[Hukuman Kegagalan: Penyiaran Audio Fantasi Liar Pengguna secara publik di area kantor.]**
"Hah?! Apa-apaan ini?!" Clara hampir saja berteriak histeris kalau saja dia tidak ingat bahwa dirinya masih berada di area kubikel kantor. Dia buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Matanya melirik cemas ke arah ruangan Pak Adrian yang pintunya tertutup rapat. Berjarak hanya beberapa meter dari mejanya, bos dingin bin tampan itu bisa saja keluar kapan saja kalau mendengar suara mencurigakan.
"G*** ya lo! Gue gak mau! Misi apaan kayak gini? Masturbasi di toilet kantor? Yang bener aja! Gue ini sekretaris profesional, bukan bintang film dewasa!" amuk Clara dalam pikirannya, mencoba bernegosiasi dengan kecerdasan buatan laknat di kepalanya.
Kemarin-kemarin misinya cuma meraba dinding toilet atau mendesah kecil yang berujung rumor hantu. Sekarang? Dia malah disuruh melakukan simulasi pelepasan hasrat? Ini benar-benar pelecehan terhadap harga diri seorang Clara yang masih polos—oke, tidak sepolos itu, tapi setidaknya dia tahu tempat!
Namun, sistem si**** itu tidak peduli dengan aksi protes batin Clara. Suara robotik berintonasi datar tanpa dosa itu kembali menggema di dalam kepalanya.
**[Penolakan terdeteksi. Memulai prosedur hukuman otomatis...]**
**[Mempersiapkan penyiaran audio fantasi liar pengguna dalam: 5... 4...]**
"Eh, eh, tunggu dulu! Audio fantasi liar apaan?!" Clara panik setengah mati. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
**[Audio yang akan disiarkan melalui speaker divisi dan Bluetooth pantry: Rekaman suara Clara mendesah manja memanggil nama 'Pak Adrian' dengan narasi skenario tidur bersama di hotel bintang lima.]**
**[Countdown: 3...]**
"AN****! JANGAN, SI****!"
Mata Clara hampir keluar dari rongganya. Fantasi liar memanggil nama Pak Adrian? Clara memang pernah sekali—oke, mungkin beberapa kali—tidak sengaja melamunkan betapa s****nya bos dingin itu saat memakai kemeja hitam ketat yang lengannya digulung sampai siku saat memimpin rapat. Tapi itu kan cuma pikiran random yang lewat! Kenapa sistem mesum ini bisa merekamnya dan menjadikannya bahan ancaman?!
Kalau audio itu sampai terputar di speaker kantor, Clara lebih baik melompat dari lant** lima atau pindah kewarganegaraan ke kutub utara. Dia tidak akan pernah sanggup lagi menatap wajah tampan nan sedingin es milik Adrian. Reputasinya, kariernya, masa depannya... semuanya akan tamat dalam hitungan detik!
**[Countdown: 2...]**
"Oke! Oke! Gue lakuin! Berhenti ngitung, sistem ba******!" jerit Clara dalam hatinya, menyerah kalah pada takdirnya yang super tragis.
**[Countdown dihentikan. Sisa waktu misi: 14 menit 30 detik. Silakan menuju toilet eksekutif lant** lima sekarang.]**
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Clara langsung menyambar pouch kosmetik merah mudanya dari dalam laci meja kerja. Dia sengaja membawanya sebagai alibi kalau-kalau ada rekan kerja yang melihatnya—berpura-pura seolah ingin *touch up* makeup.
Dengan langkah terburu-buru yang diusahakan tetap terlihat anggun, Clara melesat ke arah toilet eksekutif lant** lima. Toilet eksekutif ini biasanya sangat sepi karena hanya boleh digunakan oleh jajaran direksi, terma**k Adrian. Namun, justru itu yang membuatnya sangat berbahaya sekaligus aman. Aman karena tidak akan ada karyawan biasa yang ma**k, tapi sangat berbahaya kalau tiba-tiba sang bos sendiri yang ingin menggunakannya!
"Aduh, ya Tuhan, dosaku di masa lalu apa sampai dapet sistem mesum kayak gini," keluh Clara sambil mendorong pintu toilet eksekutif yang bernuansa marmer mewah itu.
Aroma terapi lavender yang menenangkan langsung menyapa indra penciumannya, sangat kontras dengan badai kepanikan yang sedang berkecamuk hebat di dalam dada Clara. Tanpa membuang waktu, Clara langsung mengunci pintu toilet utama dari dalam, lalu ma**k ke salah satu bilik paling ujung dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Clara bersandar di pintu bilik toilet, napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari maraton. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena gairah seksual, melainkan murni karena rasa panik dan malu yang luar biasa sampai ke ubun-ubun.
**[Sistem: Pengguna telah berada di lokasi yang ditentukan. Memulai panduan 'Ritual Pelepasan Hasrat Mandiri'.]**
**[Langkah 1: Duduklah di atas toilet dengan nyaman. Longgarkan pakaian Anda untuk mempermudah stimulasi fisik.]**
"G***, g***, gue beneran harus ngelakuin ini..." gumam Clara dengan tangan yang gemetar hebat.
Dengan perasaan campur aduk antara pasrah dan ingin menangis, Clara perlahan duduk di atas penutup kloset yang tertutup. Tangannya meraba kancing rok span kerjanya yang ketat, lalu melonggarkannya sedikit demi sedikit. Angin dingin dari AC toilet yang menerpa kulit paha mulusnya membuat Clara merinding seketika.
Wajahnya sudah merah padam sampai ke daun telinga. Suhu tubuhnya mendadak naik drastis, membuat Clara merasa gerah luar biasa di dalam bilik yang dingin itu.
**[Langkah 2: Mulailah melakukan stimulasi fisik ringan pada area sensitif Anda sambil membayangkan stimulus visual yang direkomendasikan sistem (Wajah Pak Adrian dengan tatapan tajam dan intens).]**
"Kenapa harus visualisasi Pak Adrian sih?! Lo bener-bener sistem sesat!" batin Clara frustrasi.
Tapi angka digital di layar hologramnya terus berkurang tanpa ampun.
*11 menit 20 detik.*
*11 menit 19 detik.*
Dengan mata terpejam rapat, Clara terpaksa mema**kkan tangannya ke balik pakaian dalamnya. Sentuhan pertamanya yang canggung di area sensitifnya membuat tubuh Clara langsung menegang seketika. Sensasi dingin dari ujung jarinya yang gemetar bertemu dengan kehangatan tubuhnya sendiri menciptakan sengatan aneh yang menjalar cepat ke seluruh saraf tubuhnya.
"Ah..." desah Clara tanpa sadar. Suaranya terdengar sangat rapuh, basah, dan menggoda di dalam bilik toilet yang sunyi senyap itu.
Clara buru-buru membungkam mulutnya sendiri dengan punggung tangan kirinya. Dia tidak mau rumor "Hantu Toilet" di lant** lima semakin menjadi-jadi dan menyebar hingga ke telinga direktur utama!
Di dalam kegelapan matanya yang terpejam, bayangan Adrian mendadak muncul dengan sangat jelas, seolah diproyeksikan langsung oleh sistem. Bayangan saat Adrian melonggarkan dasinya setelah rapat panjang yang melelahkan, tatapan mata elangnya yang tajam, atau saat pria itu berbisik rendah di dekat telinganya, *"Clara, kamu fokus saja pada saya."*
Si****. Kenapa bayangan itu malah terasa sangat nyata dan menggairahkan sekarang?
**[Indikator Represi Hasrat: 85%... 80%... 75%...]**
**[Sistem: Detak jantung pengguna meningkat secara signifikan. Sangat bagus. Lanjutkan stimulasi dengan ritme yang lebih intens untuk mencapai pelepasan penuh.]**
Clara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai menyisakan rasa perih. Sensasi aneh yang dikirimkan oleh saraf-saraf tubuhnya mulai mengambil alih akal sehatnya. Setiap sentuhan jarinya yang awalnya terasa terpaksa dan canggung, kini mulai terasa menuntut. Gelombang panas yang aneh mengalir deras di area perut bagian bawahnya.
Tubuh Clara meliuk kecil di atas kloset, sementara tangan kirinya masih setia membungkam desahan-desahan nikmat yang terus mendesak keluar dari tenggorokannya.
"Nggghhh..."
Air mata di sudut mata Clara menetes, runtuh karena kombinasi rasa malu yang luar biasa dan stimulasi fisik yang terlalu intens. Dia merasa seperti wanita nakal, melakukan hal sehina ini di toilet kantor tempatnya mencari nafkah! Tapi di sisi lain, tubuhnya tidak bisa berbohong bahwa dia mulai menikmati sensasi itu.
"Sistem... si****... gue... benci... lo..." bisik Clara terengah-engah di sela-sela jarinya yang membungkam mulut.
*6 menit 45 detik.*
**[Indikator Represi Hasrat: 60%... 50%... 45%]**
**[Sistem: Sedikit lagi. Fokus pada fantasi intim Anda bersama target.]**
Bayangan Adrian di kepala Clara semakin liar dan tidak terkendali. Dalam fantasinya yang dipicu oleh hormon dan sistem, Adrian kini berada tepat di depannya, menatapnya dengan tatapan lapar yang belum pernah Clara lihat di dunia nyata. Adrian mendekat, mengurung tubuhnya di dinding, lalu menyentuhnya dengan lembut namun tegas.
Sentuhan fantasi itu berpadu sempurna dengan stimulasi nyata yang sedang dilakukan tangan Clara sendiri. Tubuh Clara gemetar hebat. Napasnya menjadi pendek-pendek dan cepat. Dia merasa seperti berada di ujung tebing tinggi, siap untuk jatuh ke dalam jurang kenikmatan kapan saja.
"Pak... Adrian..." gumam Clara lirih, benar-benar kehilangan kontrol atas pikirannya sendiri untuk beberapa detik yang krusial.
Satu stimulasi cepat dan intens terakhir membuat seluruh tubuh Clara menegang kaku seketika. Dia melengkungkan punggungnya, matanya mendelik ke atas saat gelombang pelepasan yang dahsyat menghantam tubuhnya tanpa ampun. Suara desahan panjang yang sangat pasrah dan penuh pelepasan akhirnya lolos dari celah jarinya, menggema pelan namun jelas di dalam bilik toilet mewah itu.
"Aaaahh-hhnnggh..."
Selama beberapa menit yang berharga, Clara hanya bisa bersandar lemas pada dinding bilik toilet dengan mata setengah terpejam. Dadanya naik turun dengan cepat, mengais oksigen yang mendadak terasa menipis di sekitarnya. Tubuhnya terasa lemas seperti jeli tak bertulang, dan ada rasa hangat yang menjalar rileks ke seluruh tubuhnya—sesuatu yang harus dia akui sudah lama tidak dia rasakan akibat stres kerjaan yang menumpuk.
*Ting!*
Sebuah suara lonceng yang lembut terdengar di kepalanya, disusul oleh warna hijau cerah yang menenangkan dari layar hologram.
**[Misi Utama: Ritual Pelepasan Hasrat Mandiri BERHASIL!]**
**[Indikator Represi Hasrat Pengguna saat ini: 25% (Status: AMAN/NORMAL)]**
**[Hadiah telah dikirim ke inventori: Koin Sistem +500]**
**[Efek samping 'Hantu Toilet' resmi dihapus. Gosip tentang suara misterius di lant** lima akan mereda dengan sendirinya dalam waktu 24 jam.]**
Clara menatap layar hologram yang perlahan memudar itu dengan tatapan kosong dan sisa-sisa napas yang masih memburu.
"Gue... beneran ngelakuin itu di toilet kantor," gumam Clara lirih dengan suara serak.
Dia menatap tangannya sendiri yang masih sedikit basah, lalu buru-buru menariknya kembali dengan perasaan campur aduk. Wajahnya yang tadi memerah karena gairah kini berganti menjadi merah padam karena rasa malu yang tak tertahankan.
Clara buru-buru merapikan kembali pakaian dalamnya, membetulkan rok spannya yang sempat berantakan, lalu mengancingkannya kembali dengan tangan yang masih lemas dan gemetar. Setelah memastikan semuanya kembali rapi dan tidak ada jejak mencurigakan, Clara berdiri dengan lutut yang agak goyah. Dia membuka kunci pintu bilik toilet dan melangkah keluar menuju wastafel besar di depan cermin.
Di depan cermin besar berlapis emas itu, Clara menatap pantulan dirinya sendiri. Rambutnya agak berantakan, matanya sedikit sayu berair, dan pipinya masih merona merah jambu alami yang sangat kentara. Dia buru-buru menyalakan keran air dingin, menampung air dengan kedua tangannya, lalu memba**h wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan jejak-jejak "ritual" g*** barusan.
"G***. Gue bener-bener udah g***," rutuk Clara pada dirinya sendiri sambil menatap pantulan matanya di cermin dengan kesal. "Kalau sampai ada yang tahu kelakuan gue barusan..."
Belum sempat Clara menyelesaikan kalimat rumpang itu, tiba-tiba terdengar suara yang paling tidak ingin dia dengar saat ini.
*Cklek.*
Suara kenop pintu toilet eksekutif berputar dari arah luar.
Clara langsung membeku di tempatnya berdiri seperti patung lilin. Jantungnya yang baru saja mulai tenang pasca-pelepasan, kini kembali berdegup kencang dengan kecepatan g***, kali ini murni karena rasa takut yang luar biasa.
Pintu toilet kayu jati yang berat itu terbuka perlahan. Sesosok pria jangkung dengan setelan jas hitam mahal rancangan desainer ternama melangkah ma**k dengan langkah tegap nan berwibawa.
Itu Adrian.
Adrian langsung menghentikan langkahnya tepat dua langkah setelah melewati ambang pintu ketika matanya menangkap sosok Clara yang sedang berdiri di depan wastafel dengan wajah basah kuyup dan napas yang masih agak berat.
Tatapan mata elang Adrian yang tajam dan dingin langsung tertuju pada Clara. Pandangannya sempat beralih sekilas ke arah deretan bilik toilet di belakang Clara yang kosong, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang melebar sempurna karena syok.
Keheningan yang mencekam langsung melingkupi toilet mewah itu, hanya menyisakan suara gemercik air keran yang lupa dimatikan oleh Clara.
"Clara?" suara bariton Adrian yang berat, dalam, dan dingin bergema di dalam ruangan, membuat bulu kuduk Clara meremang seketika. "Kamu sedang apa di toilet eksekutif? Dan... kenapa wajah kamu merah begitu?"
*Mampus gue,* jerit Clara dalam hati untuk yang kesekian kalinya hari ini, bersiap untuk pingsan di tempat demi menghindari interogasi sang bos.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!