Clara tidak punya waktu lagi untuk merenungi nasibnya yang tragis. Kakinya langsung mengambil langkah seribu, setengah berlari menyusuri koridor lant** lima menuju toilet eksekutif yang terletak di ujung lorong. Pers**** dengan tatapan heran beberapa staf magang yang berpapasan dengannya. Saat ini, reputasi dan harga dirinya berada di ujung tanduk!
*B**k!*
Clara mendorong pintu kaca toilet eksekutif itu dengan napas terengah-engah. Begitu ma**k, dia langsung mengunci pintu utama dari dalamβsebuah tindakan ilegal sebenarnya, karena ini toilet umum kantor, tapi peduli s****! Untung saja toilet eksekutif ini biasanya sepi karena hanya boleh digunakan oleh jajaran direksi dan tamu VIP.
Dia segera ma**k ke dalam salah satu bilik toilet yang paling ujung, mengunci pintunya rapat-rapat, lalu bersandar di sana sambil memegangi dadanya yang naik-turun drastis.
Di depan matanya, layar biru hologram itu kembali berkedip kejam.
**[Waktu Tersisa: 10 menit 45 detik.]**
**[Memulai Pemantauan Sensor Keaktifan...]**
**[Indikator Hasrat: 0% (Sangat Dingin)]**
"G***, g***, g***! Gue beneran harus ngelakuin ini?!" Clara menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Dia menatap kloset duduk putih bersih di depannya, lalu menatap dinding bilik yang dilapisi marmer abu-abu elegan. Suasana toilet ini terlalu estetik untuk dipakai melakukan hal-hal cabul! Ditambah lagi, Clara sama sekali tidak sedang dalam *mood* untuk memuaskan diri sendiri. Bagaimana bisa dia bergairah kalau taruhannya adalah rekaman audio aibnya disiarkan ke seantero kantor? Yang ada dia malah kena serangan jantung!
"Sistem! Woi, sistem si****! Kurangi kek level kesulitannya! Gue gak bisa kalau beneran!" bisik Clara setengah berteriak, takut suaranya terdengar keluar.
**[Peringatan: Sensor sistem mendeteksi aktivitas fisik dan stimulasi biologis. Jika sensor tidak mendeteksi adanya getaran, suara desahan, atau peningkatan suhu tubuh yang konsisten dalam 2 menit, misi akan dinyatakan GAGAL.]**
"Ba*****!" Clara memaki, air matanya hampir menetes karena saking kesalnya. "Getaran? Suara desahan? Oke, lo mau getaran kan? Gue kasih getaran!"
Clara memutar otaknya yang mendadak bekerja super cepat di bawah tekanan stres tingkat tinggi. Dia tidak mau menyentuh dirinya sendiri secara intim di tempat seperti ini. Itu sangat menjijikkan dan melanggar prinsip hidupnya sebagai wanita terhormat. Jadi, hanya ada satu cara: memanipulasi sensor sistem dengan gerakan fisik ekstrem yang menyerupai 'aktivitas' tersebut!
Clara menarik napas dalam-dalam. Dia mulai memegang pinggir kloset, lalu menggoyangkan pinggulnya dengan heboh. Dia melompat-lompat kecil di tempat, membuat sepatunya berdecit keras di atas lant** marmer.
"Ah... aduh... capek banget..." Clara mencoba mendesah. Namun, suara yang keluar malah terdengar seperti bebek yang tercekik.
**[Sensor mendeteksi kepalsuan. Indikator Keaktifan: 5%. Peringatan: Mohon lakukan dengan lebih natural dan intensif!]**
"Kurang ajar! Ini udah natural, tahu!" omel Clara pada layar kosong di depannya.
Karena panik dikejar waktu yang terus bergulir, Clara memutuskan untuk tampil habis-habisan. Pers**** dengan harga diri! Dia harus membuat gerakan-gerakan heboh agar sensor sistem mengira dia sedang melakukan 'ritme' yang cepat.
Clara mulai memegangi dinding bilik toilet dengan kedua tangannya. Dia mulai mengguncang tubuhnya maju-mundur dengan kecepatan tinggi, membuat tubuhnya membentur pintu bilik.
*Jedug! Jedug! Jedug!*
"Ahhh! Oh... oh ya ampun... aduh!" Clara mendesah dengan nada panik yang dipaksakan. "Aduh, ini pinggang gue mau encok, a****! Kenapa keras banget sih dindingnya?! Ohhh... astaga... hosh... hosh..."
Sambil menggerakkan badannya seperti orang kesurupan, Clara terus mengomel dengan suara berbisik tapi heboh. Dia memukulkan tangannya ke dispenser tisu toilet untuk menciptakan efek suara tamparan kulit yang biasa ada di film-film dewasa.
*Plak! Plak! Plak!*
"Ahhh! Sakit... eh maksudnya, enak! Aduh, tangan gue yang sakit!" Clara mengaduh kesakitan karena terlalu keras memukul dispenser plastik itu. Dia mengibas-ngibaskan tangannya yang memerah, lalu buru-buru melanjutkan gerakannya yang mirip orang sedang senam aerobik kes****an.
Dia mengguncang bilik toilet itu hingga pintunya berderit-derit kencang. *Krieeet... gedub**k!*
"Oh yes... aduh, kepala gue kepentok gantungan baju! Si****!" pekik Clara spontan saat kepalanya tidak sengaja menyenggol gantungan besi di pintu. Dia mengusap dahinya yang berdenyut, tapi tubuhnya tetap bergoyang-goyang heboh demi memuaskan sensor sistem laknat itu.
Di layar, angka indikator mulai merangkak naik.
**[Indikator Keaktifan: 45%]**
**[Analisis Sistem: Gerakan terdeteksi sangat fluktuatif dan agresif. Pengguna tampaknya sangat bersemangat. Teruskan!]**
"Bersemangat pala lo peyang! Gue tersiksa, tahu!" umpat Clara di sela-sela napasnya yang memburu.
Demi mempercepat proses, Clara memutuskan untuk menggunakan properti yang ada. Dia meraih gagang *flush* kloset, lalu menekannya berulang kali untuk menciptakan efek suara air yang dramatis, seolah-olah suasana di dalam bilik benar-benar basah dan kacau.
*Syuuuuur! Syuuuuur!*
Sambil menekan *flush*, Clara mulai berjongkok lalu berdiri lagi dengan cepat (melakukan gerakan *squat* kilat) sambil memegangi kepalanya, mengeluarkan suara-suara desahan pasrah yang terdengar sangat aneh.
"Uhh... ah... aduh, paha gue gemeteran... ini mah olahraga kaki, bukan pelepasan hasrat! Ahhh... oh... ya ampun, mati gue kalau ada yang denger!"
Tepat setelah Clara mengucapkan kalimat itu, terdengar suara gesekan pintu utama toilet yang dibuka dari luar.
*Klek.*
Seketika, seluruh tubuh Clara membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Di luar biliknya, terdengar suara langkah kaki yang anggun dan lambat. Langkah kaki itu menggunakan sepatu hak tinggi, menghasilkan bunyi *klak-klik-klak-klik* yang menggema di dalam ruangan toilet yang sunyi.
Clara menahan napasnya rapat-rapat. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, bercampur dengan keringat lelah akibat 'senam' dadakannya tadi. Rambutnya sudah acak-acakan mirip singa, dan kancing teratas kemeja kerjanya bahkan sempat terlepas satu karena gerakannya yang terlalu barbar.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan deretan bilik toilet.
"Halo? Ada orang di dalam?" suara seorang wanita terdengar bertanya.
Clara membelalakkan matanya. Dia mengenali suara itu. Itu suara Bu Sandra, Kepala Divisi Keuangan yang terkenal sangat galak, disiplin, dan benci setengah mati dengan segala bentuk ketidakprofesionalan di kantor.
Kalau Bu Sandra tahu sekretaris Pak Adrian sedang mengunci diri di toilet eksekutif sambil mendesah, bergoyang-goyang hingga bilik bergetar, dan memukul-mukul dispenser tisu... Clara pasti akan langsung dipecat hari itu juga dengan tuduhan gangguan jiwa atau tindakan a**sila!
Clara menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Dia tidak berani bergerak seinci pun.
Namun, sistem si**** itu tidak mengenal situasi dan kondisi.
*Ting!*
Sebuah tulisan merah menyala berkedip di depan matanya.
**[Peringatan! Detak jantung menurun dan gerakan terhenti. Sensor Keaktifan menurun menjadi 25%. Misi akan gagal dalam waktu 3 menit jika aktivitas tidak dilanjutkan!]**
"G***! Jangan sekarang!" jerit Clara dalam hatinya, menatap layar itu dengan pandangan membunuh.
Sistem tidak peduli. Layar itu mulai mengeluarkan bunyi detik jam yang hanya bisa didengar oleh Clara, tapi sangat meneror mentalnya. *Tik... tok... tik... tok...*
Clara harus memilih: dipecat karena dicurigai melakukan hal aneh di toilet oleh Bu Sandra, atau dipecat dan dipermalukan seumur hidup karena rekaman fantasinya memanggil nama 'Pak Adrian' dengan nada manja disiarkan di seluruh speaker kantor.
Pilihan kedua jelas jauh lebih mengerikan. Fantasi itu adalah rahasia tergelapnya! Jika Pak Adrian mendengarnya, Clara tidak akan bisa menatap wajah bosnya itu lagi seumur hidup. Dia lebih baik dikira g*** daripada dikira penggoda bos sendiri!
Dengan tekad bulat dan keputusasaan tingkat dewa, Clara memutuskan untuk melanjutkan misinya. Tapi kali ini, dia harus melakukannya dengan cara yang lebih terselubung namun tetap menghasilkan getaran yang kuat untuk sensor sistem.
Clara mendekatkan tubuhnya ke dinding partisi toilet. Dia mulai menggesekkan sepatunya ke lant** marmer dengan ritme cepat untuk meniru suara gesekan pakaian, sementara tangannya mengguncang-guncang tempat sampah kecil di sudut bilik agar menghasilkan bunyi berisik yang konsisten.
*Sret... sret... klentang! klentung!*
Clara juga terpaksa mengeluarkan suara desahan yang diredam, seolah-olah dia sedang menahan kenikmatan yang luar biasaβpadahal dia sebenarnya sedang menahan berak dan menahan tangis karena malu.
"Mmph... ahh... ugh..." desah Clara, suaranya teredam oleh punggung tangannya yang digigit sendiri agar tidak terlalu keras.
Di luar bilik, Bu Sandra yang sedang mencuci tangan di wastafel langsung menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh ke arah bilik paling ujung dengan dahi berkerut dalam.
"Siapa di dalam? Kamu... kamu sakit? Atau sedang ngapain?" tanya Bu Sandra dengan nada curiga yang sangat kental.
Clara panik setengah mati. Dia harus menjawab, tapi dia juga harus menjaga indikator keaktifan sistem tetap naik. Akhirnya, Clara menjawab sambil tetap menggoyang-goyangkan badannya secara brutal dan memukul-mukul dinding bilik secara ritmis dengan pantatnya.
*Jedug! Jedug!*
"Ah... m-maaf, Bu Sandra! Uhh... ini... aduh... perut saya mules banget!" jawab Clara dengan suara bergetar, setengah mendesah dan setengah mengerang kesakitan. "Saya... ahhh... saya lagi berusaha... ugh... ngeluarin... aduh, susah banget, Bu!"
Mendengar jawaban itu, ditambah dengan suara guncangan bilik, bunyi kloset yang di-*flush* berulang kali, dan suara pukulan-pukulan aneh (yang sebenarnya adalah tangan Clara memukul dinding), wajah Bu Sandra langsung berubah pucat.
Di dalam pikiran Bu Sandra, dia membayangkan staf di dalam bilik itu sedang mengalami sembelit tingkat akut yang sangat menyiksa hingga harus berpegangan dan berguncang di dalam toilet.
"Ya ampun... kamu sampai segitunya?" ujar Bu Sandra, terdengar agak jijik sekaligus ngeri. "Kamu tidak apa-apa? Perlu saya panggilkan tim medis kantor? Suaranya... kok agak aneh ya?"
"N-nggak usah, Bu! Ahhh... bentar lagi keluar kok! Ohhh... ya ampun, ini dia... hampir... sedikit lagi!" seru Clara dramatis, keringatnya bercucuran deras. Dia terus melompat-lompat kecil, mengguncang bilik toilet itu hingga bergetar hebat.
**[Indikator Keaktifan: 85%... 90%... 95%...]**
"Ayo, cepat selesai dong, sistem ba*****!" batin Clara berteriak histeris. Dia melakukan satu guncangan besar terakhir, menendang pintu bilik dari dalam dengan kakinya hingga menimbulkan suara dentuman keras.
*B**k!*
"AHHHH! AKHIRNYA SELESAI JUGA!" teriak Clara spontan, meluapkan seluruh rasa lelah dan stresnya. Dia langsung terduduk lemas di atas penutup kloset yang tertutup, napasnya memburu seperti an**** yang habis mengejar maling.
*Ting!*
Sebuah kembang api digital kecil muncul di layar hologram biru.
**[MISI UTAMA: Ritual Pelepasan Hasrat Mandiri SELESAI!]**
**[Menganalisis hasil... Keberhasilan: 100%.]**
**[Hadiah dikirimkan: +500 Koin Sistem & Efek Samping 'Hantu Toilet' telah dihapus.]**
**[Indikator stres pengguna telah diturunkan menjadi 15% (Sangat rileks setelah pelepasan ekstrem).]**
"Rileks pala lo peyang! Gue jantungan yang ada!" maki Clara dalam hati, menatap layar itu dengan napas satu-satu. Dia benar-benar lemas, seluruh persendiannya terasa copot.
Sementara itu, di luar bilik, suasana mendadak sunyi senyap.
Bu Sandra berdiri terpaku di depan wastafel, menatap pintu bilik Clara dengan mata melotot lebar dan mulut setengah terbuka. Teriakan "akhirnya selesai juga" dari Clara terdengar sangat... melegakan sekaligus mencurigakan bagi kupingnya yang polos.
"Kamu... benar-benar tidak apa-apa kan?" tanya Bu Sandra memastikan, suaranya agak gemetar. Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Bu Sandra langsung mengambil tasnya dan melangkah cepat keluar dari toilet eksekutif itu, merasa ngeri dengan kehebohan mistis yang baru saja disaksikannya.
Setelah mendengar pintu luar tertutup rapat, Clara akhirnya menyandarkan kepalanya ke dinding marmer dingin di belakangnya. Dia memejamkan mata, meratapi nasibnya sebagai sekretaris yang baru saja melakukan pertunjukan sirkus paling memalukan di toilet eksekutif lant** lima.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!