"Kurang ajar! Ini udah natural, tahu!" omel Clara setengah berbisik, wajahnya sudah merah padam menahan dongkol sekaligus malu pada dirinya sendiri.
Layar hologram biru di depannya seolah mengejek dengan kedipan konstan.
**[Waktu Tersisa: 8 menit 12 detik.]**
**[Indikator Keaktifan: 12%. Peringatan: Tingkatkan intensitas gerakan dan modulasi suara Anda!]**
"Sistem si****, lo bener-bener mau bikin gue mati muda ya?!" Clara menggeram frustrasi.
Tidak ada pilihan lain. Reputasinya sebagai staf divisi kreatif yang anggun dan berwibawa—oke, setidaknya dia mencoba terlihat berwibawa—taruhannya. Kalau audio desahan palsunya sampai disiarkan lewat *speaker* kantor, dia bersumpah akan langsung *resign* hari itu juga dan pindah ke luar negeri, ganti nama jadi Julaeha.
Clara menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah tercecer di lant** marmer. Dia mulai melakukan gerakan ekstrem berikutnya. Dia memegang gagang pintu bilik yang terbuat dari besi kokoh, lalu mulai mengguncang-guncangnya dengan ritme yang konstan.
*Gedub**k! Gedub**k!*
"Ah... aduh... mmm... b-berat banget..." Clara mencoba mendesah ses**** mungkin, meskipun suaranya lebih terdengar seperti orang yang sedang berjuang melawan sembelit akut setelah makan semen tiga kilogram.
**[Indikator Keaktifan: 28%. Sensor mendeteksi peningkatan getaran fisik. Pertahankan!]**
"Nah, gitu dong! Deteksi yang bener!" batin Clara senang.
Melihat taktik g*** ini berhasil, Clara makin bersemangat. Dia meletakkan ponselnya di atas dispenser tisu toilet berbahan logam, lalu menyetel mode getar paling kencang dan menelepon nomor layanan operator berulang kali agar ponselnya terus bergetar hebat.
*Bzzzzzzzt! Bzzzzzzzt! Bzzzzzzzt!*
Suara getaran ponsel yang bergesekan dengan dispenser besi itu menghasilkan bunyi mendengung yang sangat mencurigakan. Ditambah lagi, Clara mulai melompat-lompat kecil di tempat, membuat lant** bilik toilet sedikit bergetar, sambil terus mengeluarkan suara-suara aneh.
"Nghhh... ya ampun... o-oke... dikit lagi... ah..." Clara terengah-engah. Ini bukan lagi olahraga batin, ini sudah seperti latihan fisik militer! Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
**[Indikator Keaktifan: 45%. Bagus! Sedikit lagi menuju ambang batas aman!]**
Clara hampir saja bersorak gembira. Namun, kegembiraannya tidak bertahan lama.
*Cklek.*
Suara kunci pintu utama toilet eksekutif yang terbuka dari luar terdengar sangat nyaring di telinga Clara. Detak jantung Clara langsung melonjak drastis, tapi kali ini bukan karena sistem, melainkan karena rasa panik yang murni menyerang akal sehatnya.
*Bukannya tadi gue udah kunci pintunya dari dalam?!* jerit Clara dalam hati.
Dia lupa satu hal. Ini toilet eksekutif kantor. Tentu saja divisi fasilitas dan keamanan memiliki kunci master untuk mengantisipasi keadaan darurat!
"Nah, ini dia Pak Adrian. Pipa saluran air di toilet eksekutif ini dilaporkan bocor dari tadi pagi. Tekanan air di lant** lima langsung drop gara-gara ini," sebuah suara pria paruh baya terdengar menggema di dalam ruangan toilet yang luas dan sunyi itu.
Mata Clara membelalak lebar. Jantungnya serasa copot dan menggelinding ke dalam lubang kloset.
*Pak Adrian?!*
Adrian. Bos besar yang terkenal dingin, kaku, bermuka lempeng tanpa ekspresi, dan paling tidak suka dengan hal-hal yang tidak profesional. Kenapa manusia es itu harus datang ke toilet ini sekarang? Bersama seorang teknisi pula!
"Bocor di bagian mana, Pak Joko?" Suara berat, bariton, dan sangat khas milik Adrian terdengar mendekat. Langkah kakinya yang mantap terdengar berketuk di atas lant** marmer.
Clara langsung membeku. Semua gerakannya terhenti. Dia menahan napas, bahkan takut untuk sekadar berkedip. Ponselnya yang masih berada di atas dispenser tisu mendadak bergetar lagi.
*Bzzzzzzzt!*
Clara dengan gerakan kilat menyambar ponsel itu dan mendekapnya erat ke dadanya, meredam getarannya seketika. Tapi sayangnya, kesunyian mendadak di dalam bilik itu justru membuat keadaan semakin aneh.
Layar hologram biru di depan mata Clara langsung berkedip merah dengan panik.
**[Peringatan! Deteksi keaktifan menurun drastis! Indikator turun ke 15%. Misi terancam gagal dalam waktu 1 menit!]**
"Jangan sekarang, pliss..." bisik Clara tanpa suara, air matanya hampir pecah.
Sistem tidak peduli. Layar itu terus berkedip merah, menandakan hitungan mundur menuju kehancuran reputasi Clara akan segera dimulai jika dia tidak segera membuat kegaduhan dan desahan lagi.
Sementara itu, di luar bilik, langkah kaki Adrian mendadak terhenti.
Sebagai pria dengan pendengaran yang c**up sensitif, Adrian langsung menangkap sesuatu yang tidak beres sejak dia melangkah ma**k ke dalam toilet ini. Ada suara gaduh yang aneh sebelum dia ma**k tadi. Suara pintu yang diguncang, decit sepatu, getaran konstan, dan... suara-suara tidak jelas yang terdengar sangat mencurigakan.
Adrian menatap barisan bilik toilet di depannya. Hanya ada satu bilik di ujung yang lampunya menyala dan pintunya tertutup rapat.
"Pak Joko, Anda mendengar sesuatu?" tanya Adrian dengan nada datar, namun matanya menyipit penuh selidik.
Pak Joko, sang teknisi paruh baya, ikut menghentikan langkahnya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya mendadak berubah canggung. "Anu... Pak. Saya kira tadi cuma perasaan saya saja. Tapi... sepertinya ada orang di bilik ujung?"
Tepat setelah Pak Joko menyelesaikan kalimatnya, dari dalam bilik ujung terdengar suara getaran yang sangat kencang, disusul oleh suara desahan yang tertahan namun terdengar sangat frustrasi.
"Nghhh... ah... j-jangan... aduh..."
Clara terpaksa melakukannya lagi! Dengan mata terpejam rapat karena malu setengah mati, Clara terpaksa mengguncang kembali pintu bilik toilet dengan tangannya, menciptakan getaran hebat di area pembatas marmer itu.
*Gedub**k! Gedub**k!*
"A-astaga... g***... m-ma**k..." Clara merancau asal-asalan, mencoba memenuhi kuota kata-kata yang mungkin dianggap "bergairah" oleh sistem si**** ini. Dia merasa jiwanya sudah terbang meninggalkan raga saking malunya.
Di luar bilik, suasana seketika membeku.
Pak Joko langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding dengan canggung, telinganya memerah. Dia memegang kunci inggrisnya dengan sangat erat seolah benda itu bisa menyelamatkannya dari situasi super canggung ini.
Adrian, di sisi lain, masih berdiri tegak. Namun, rahangnya tampak mengeras. Alis tebalnya bertaut rapat. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah pintu bilik ujung yang bergoyang-goyang itu.
Suara desahan yang terdengar dari dalam bilik itu... entah kenapa terdengar tidak asing di telinga Adrian. Tapi, akal sehatnya langsung menolak pikiran konyol itu. Tidak mungkin staf kantornya berbuat mesum di toilet eksekutif pada jam kerja, kan? Terlebih lagi, suara itu terdengar sangat... menderita? Lebih seperti orang yang sedang berjuang hidup dan mati daripada orang yang sedang menikmati penyaluran hasrat.
"Pak Adrian... anu... sepertinya kita harus kembali lagi nanti," bisik Pak Joko dengan suara sangat pelan, merasa tidak enak. "Sepertinya ada yang... sedang menyelesaikan urusan pribadi yang sangat... intens."
Adrian tidak bergerak selangkah pun. Sifat perfeksionis dan kedisplinannya yang tinggi membuat rasa kesalnya memuncak. Ini adalah kantor profesional, bukan tempat untuk melakukan hal-hal tidak senonoh seperti ini!
"Siapa di dalam?" tanya Adrian dengan suara dingin yang menggema di seluruh ruangan toilet.
Di dalam bilik, Clara langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar suara dingin Adrian yang terasa sangat dekat dari pintunya.
"Uhuk! Uhuk!" Clara terbatuk-batuk kecil, namun dengan cepat menahannya.
**[Peringatan! Deteksi suara melemah! Indikator Keaktifan: 38%. Sisa waktu: 2 menit!]**
*Sistem si****! Kenapa lo tega banget sama gue?!* teriak Clara dalam hati, frustrasi tingkat dewa.
Dia harus memilih. Menjawab Adrian dan membiarkan sistem menyebarkan audionya ke seluruh kantor, atau terus melanjutkan keg***an ini sampai indikator mencapai 100% tepat di depan hidung bosnya sendiri.
Pilihan kedua setidaknya hanya akan membuat Adrian menganggapnya g*** atau aneh, tapi tidak akan membuat seluruh kantor tahu suaranya!
Clara membulatkan tekad. Dengan air mata yang benar-benar menetes karena menahan malu, dia kembali mengguncang pintu bilik lebih keras.
*Gedub**k! Gedub**k!*
"Nghhh! Ahhh! Sakit... d-dikit lagi... keluar... ah!" Clara berteriak setengah mendesah, menyamarkan suaranya sebisa mungkin agar terdengar sengau seperti orang pilek berat.
Wajah Adrian yang biasanya datar tanpa ekspresi kini menunjukkan sedikit kedutan di sudut matanya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan orang di dalam bilik ini.
"Saya ulangi, siapa di dalam? Keluar sekarang, atau saya akan meminta bagian keamanan untuk mendob**k pintunya!" ancam Adrian, suaranya kini terdengar sangat tegas dan penuh penekanan.
Mendengar kata "dob**k", Clara langsung panik setengah mati. Kalau didob**k, tamat sudah riwayatnya!
"P-Pak... ini... ini saya!" sahut Clara akhirnya dengan suara yang sengaja dibuat sangat sengau dan gemetar. "S-saya... perut saya sakit banget, Pak! M-mules parah!"
Adrian tertegun sejenak. Alisnya semakin bertaut. "Clara?"
Clara memejamkan matanya rapat-rapat. *Mampus, dia ngenalin suara gue!*
"I-iya, Pak Adrian! Ini saya, Clara dari divisi kreatif!" jawab Clara dengan nada setengah menangis. Demi mempercayakan kebohongannya pada Adrian, dia terpaksa melanjutkan aktingnya. Dia kembali memukul pembatas dinding toilet perlahan agar sistem tetap mendeteksi getaran.
*Dug! Dug!*
"Aduh... perut saya... kayak d-dililit naga, Pak! Ini getarannya... m-maksud saya, rasa sakitnya getar sampai ke ubun-ubun! Ahhh... sakit banget..." Clara mendesah lagi, berpura-pura kesakitan demi memenuhi sensor sistem.
Di luar, Pak Joko memandang Adrian dengan tatapan penuh simpati kepada Clara. "Oh, ternyata Mbak-nya sedang sakit perut parah, Pak. Pantas saja tadi suaranya sampai mengerang begitu, mungkin saking menahan sakitnya."
Adrian masih menatap pintu bilik itu dengan curiga. Suara getaran ponsel yang tadi didengarnya tidak terdengar seperti orang sakit perut biasa. Tapi, melihat bagaimana Clara terdengar sangat tersiksa di dalam sana, Adrian akhirnya menghela napas pendek.
"Clara, kamu yakin tidak apa-apa? Perlu saya panggilkan tim medis kantor?" tanya Adrian, nadanya sedikit melunak meski masih terdengar kaku.
"N-nggak usah, Pak! Nggak usah!" jawab Clara panik. "Ini... ini dikit lagi selesai kok! Ahhh... m-maksudnya, sakitnya dikit lagi reda!"
Tepat saat itu, layar hologram di depan Clara berkedip hijau terang dengan bunyi denting yang sangat merdu di telinganya.
**[Misi Berhasil!]**
**[Indikator Keaktifan: 100%]**
**[Mencegah Kebocoran Audio Berhasil Diaktifkan.]**
**[Selamat, Anda mendapatkan 50 poin reputasi bertahan hidup!]**
Layar biru itu perlahan memudar dan menghilang ke udara. Clara langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding marmer, lemas seketika seolah seluruh energinya telah diperas habis. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat.
"Clara?" panggil Adrian lagi dari luar karena tidak mendengar jawaban lagi.
Clara buru-buru merapikan penampilannya yang berantakan, menyeka keringat di dahinya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan suaranya.
"I-iya, Pak! Saya sudah agak mendingan!" jawab Clara sambil perlahan membuka kunci pintu bilik toilet.
Saat pintu bilik terbuka, Clara melangkah keluar dengan langkah yang agak lemas. Wajahnya pucat pasi—sebagian karena kelelahan melakukan gerakan ekstrem, sebagian lagi karena menahan malu yang tak tertahankan.
Adrian berdiri di sana, melipat kedua tangannya di dada. Matanya langsung memindai penampilan Clara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut Clara sedikit berantakan, dan wajahnya tampak memerah dengan sisa-sisa keringat.
"Kamu... benar-benar hanya sakit perut?" tanya Adrian dengan nada menyelidik, matanya menyipit saat melihat ponsel Clara yang masih digenggam erat di tangannya.
Clara memaksakan senyum paling manis—namun terlihat sangat tertekan—yang pernah dia buat seumur hidupnya. "I-iya, Pak Adrian. Sumpah, perut saya tadi mules banget sampai rasanya mau pingsan. Makanya saya sampai... guncang-guncang pintu bilik buat nahan sakit."
Pak Joko di sebelah Adrian mengangguk-angguk setuju. "Memang begitu Pak kalau mulesnya sudah tingkat dewa. Dulu saya juga pernah begitu sampai mau nangis di toilet."
Clara dalam hati sangat berterima kasih pada Pak Joko yang polos ini. Setidaknya ada yang membela opininya yang tidak ma**k akal itu.
Adrian diam beberapa saat, membuat keheningan di dalam toilet itu terasa sangat mencekam bagi Clara. Tatapan tajam Adrian seolah bisa menembus langsung ke dalam otaknya dan mengetahui semua rahasia tentang sistem g*** yang ada di kepalanya.
"Lain kali, kalau kamu sakit, langsung ke klinik kantor. Jangan memaksakan diri, apalagi sampai membuat keributan di toilet eksekutif," ucap Adrian akhirnya dengan nada dingin yang biasa.
"Baik, Pak. Maaf mengganggu kenyamanan Bapak," jawab Clara sambil membungkukkan badannya dalam-dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah karena malu.
"Pak Joko, silakan periksa pipanya sekarang," perintah Adrian pada teknisi di sebelahnya, mengabaikan Clara yang masih berdiri kaku.
"Baik, Pak." Pak Joko segera berjalan melewati Clara menuju area belakang bilik untuk memeriksa pipa saluran air yang bocor.
Clara tidak membuang waktu lagi. "K-kalau begitu, Pak Adrian, saya permisi kembali ke ruangan saya dulu."
"Silakan," jawab Adrian singkat tanpa menoleh.
Clara langsung melangkah cepat, hampir setengah berlari keluar dari toilet eksekutif tersebut. Begitu pintu kaca toilet tertutup di belakangnya, Clara menyandarkan punggungnya ke dinding koridor dan merosot perlahan hingga terduduk di lant** yang dingin.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, berteriak tanpa suara meluapkan seluruh rasa frustrasi dan malunya yang sudah melampaui batas atmosfer bumi.
"Sistem si****... awas aja lo ya! Hari ini gue selamat, tapi harga diri gue udah hanyut ke saluran pembuangan!" gumam Clara dengan gigi gemeretak, bersumpah dalam hati untuk membalas dendam pada sistem apa pun yang sedang menjajah hidupnya saat ini.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!